Kamis, 13 Desember 2012

Membeli Puteri Indonesia

Sartika Dian Nuraini
Suara Merdeka, 3 Nov 2010

PEREMPUAN yang berdiri meriung kamera adalah jerit dan tangis feminisme. Mereka dilihat, dikonsumsi, dan dijadikan objek ideologi yang bangga akan kecantikan awam dan kepribadian. Jasmani mereka bertekuk lutut pada nalar patriarki yang hegemonik. Identik dengan perayaan dan kemewahan. Perhelatan setahun sekali yang mengungkap jelas kebodohan perempuan.
Puteri Indonesia dijadikan budaya dan ikon bagi perempuan. Mereka dikonstruksi dalam tiga aspek, yakni beauty, brain, dan behavior. Itu melanggengkan mekanisme yang modernis dan hedonis. Beauty berarti perempuan harus selalu cantik dan itu berarti selalu berhubungan dengan rias wajah, baju mewah, kulit putih, anggun, lenggak-lenggok, rambut panjang tergerai, dan menakjubkan. Brain menuntut perempuan bisa berbahasa asing dan bisa menjawab pertanyaan. Behavior menuntut perempuan bersikap menjilat, sopan, dan takut pada lelaki.

Ironis. Perempuan seperti itu telah merusak dan dirusak. Tak berdaya menggugat dan mencintai kebebasan. Tubuh mereka terus diracuni kosmetik dan obat-obatan pengurus badan. Mereka belajar mencintai budaya Barat dan dibaratkan. Itulah kehancuran tradisi dan ideologi orisinal dan rasional.

Ikon ke Male Gaze

Hasrat menuai perhatian publik termanifestasi dari iklim paternalistik. Dorongan memenuhi kriteria kecantikan melukiskan destruksi prinsip diri yang bahagia. Kontrol diri terhadap makanan makin ketat. Sering pergi ke salon kecantikan dan “membantai” tubuh. Nalar keperempuanan membeku. Subjektivitas tak berlaku. Perempuan rela diperkosa oleh kultur tontonan dan pertunjukan diri.

Stereotipe perempuan berkulit sawo matang asli Indonesia tak laku di mata mancanegara. Perempuan harus berkulit putih dan berwajah kebarat-baratan. Itu tak langsung mempermudah kapitalis kosmetik dan konfeksi. Puteri Indonesia yang terpilih pun perempuan yang lama bermukim di Inggris dan tak fasih berbahasa Indonesia. Itu indikasi, nasionalisme tergagalkan dalam misi pembangunan martabat bangsa ke mancanegara.

Tak ada yang tergugat. Perempuan terus jadi korban ikon kecantikan. Potensi perlawanan terhadap produk terus melemah dan menghilang. Perempuan tak pernah resah dan malah bangga menunjukkan diri memakai bedak tebal. Berdandan menor supaya mendapat perhatian kaum maskulin.

Perempuan diajari “menawarkan” kecantikan sebagai “penukar” kenyamanan ragawi dan pada laki-laki, seperti dihadirkan dalam citra Puteri Indonesia. Seksualitas perempuan dileburkan dalam seksualitas lelaki. Atau lebih lugas, satu-satunya seksualitas adalah seksualitas lelaki. Perempuan seperti itu senang jadi male gaze. Mereka, secara tak sadar, melanggengkan dan menumbuhsuburkan budaya patriarki yang menundukkan perempuan dalam kuasa lelaki.

Teknologi dan Reproduksi Kebutuhan

Puteri Indonesia jadi ikon kecantikan untuk ditiru perempuan lain. Dari gaya rambut, gaya hidup, gaya berjalan, sampai gaya tutur. Semua berkait dengan upaya menjadikan mereka trend setter. Itu berimplikasi pada penggunaan teknologi dan eksploitasi diri.

Leiss (1990) dalam esai “Under Technology’s Thumb” menyatakan segala sesuatu berkait dengan teknik “menjadi cantik” yang berarti pemecahan masalah praktis atau teoretis yang muncul dari kekuatan lingkungan yang memaparkan organisme. Dan teknologi, menurut pendapat Leiss, punya efek transformatif lebih besar terhadap perilaku perempuan.

Teknologi sesuatu yang kultural, sedangkan teknik berkait dengan hal “teknis” seperti ketika perempuan meniatkan diri mengencangkan payudara dengan suntikan botox. Lebih lanjut Leiss menyatakan teknologi yang digunakan perempuan “mengubah diri” sebagai “modus reproduksi sosial” yang di masyarakat modern berarti “totalitas berkenaan dengan sistem ideologi, yakni kapitalisme dan hedonisme”.

Ketika mekanisme penyerapan ideologi yang dibawa ikon Puteri Indonesia sampai ke perempuan di negeri ini, modus sosiokultural akan ternaturalkan. Secara teknologis dan teknis mereka terkunci dan terus mendorong perempuan mengonsumsi produk yang ditawarkan. Itu akan menjadi kultur repetitif sekaligus masif.

Melalui Puteri Indonesia, cit(r)a rasa lelaki terhadap tubuh perempuan akan berubah-ubah pula. Kategorisasi kecantikan akan makin kompleks dan terus berkembang sesuai dengan selera pemilihan Puteri Indonesia. Featherstone (dalam Prabasmoro, 2006) menuturkan, para lelaki seperti itu distimulasi petite bourgeoisie dalam citra yang dibawa para putri. Mereka jadi agen yang “membentuk” sekaligus “mengadopsi” modus pemilihan perempuan.

Hidup keseharian kita adalah pernyataan keseharian diri. Pilihan atas sampo, sabun, dan perawatan tubuh adalah juga pernyataan identitas. Representasi yang dibawa Puteri Indonesia dengan produk yang dikenakan dalam iklan juga menentukan jalan kehidupan. Transformasi pilihan terhadap mutu dan kualitas perempuan juga tertentukan. Cita rasa terhadap tubuh perempuan juga terpatenkan. Fesyen dan kosmetik seolah-olah menjamin kelanjutan hidup perempuan.

Itu persitegangan kultural yang semestinya diluruskan. Perempuan jangan mau jadi barang yang dipilih-pilih dan dipajang. Tunjukkan identitas dengan harga diri tinggi serta kemapanan intelektual. Itu lebih mulia ketimbang rela diperbudak kecantikan yang tak abadi.

*) Sartika Dian Nuraini, bergiat di Pengajian Senin dan Bale Sastra Kecapi Solo
Dijumput dari: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/11/03/128899/Membeli-Puteri-Indonesia

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati