Rabu, 07 Januari 2009

ME-MITOS SEJARAH SASTRA

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Memitos, istilah saya untuk menyebut kebalikan dari kata jangka (ramal, meramal). Di Jawa ada pengistilahan ngerogo sukmo, semacam meranggehnya sukma. Maka memitos sejarah, serupa ngeranggeh cerito atau merengkuh cerita lama. Sejenis membongkar ingatan di bawah sadar sejarah bathin-raga kemanusiaan. Ini semoga bukan bentuk kelebihan hormon pengarang.

Ketika waktu memberi tempat bagi manusia, maka segera hadir temuan-temuan yang berlangsung dari alam bathin fikirannya, sebagaimana tergambar pada karya patung Aguste Rodin, Homo Sapiens.
***

Saat itu, alam raya masih akrab awan-gemawan, pegunungan, embun dedaunan murni, serta gegua yang belum terjemah-jamah kemanusiaan. Sebelum jaman batu, pahat juga ukiran. Sewaktu warna menjadi tolak ukur pemaknaan, bentuk menjelma simbul pengertian, di sini peradaban mulai bergerak.

Sebelum lontar dan hitam tinta ditemukan, hitam-putih pencahayaan, menajamkan bayangan makna. Dan suara-suara mulai berkembang, bergema jeritan serta tangisan sampai menemuan vokal.

Waktu itu, pewarna hidup menjelajahi kehendak kelestarian. Betapa relief-relief dalam gua sebagai saksi pelajaran akan bebentuk pepohonan, hewan-gemewan, segala macam terus diterjemahkan ke dalam wujud huruf. Ini penyederhanaan yang sangat menakjubkan, pemadatan yang mencapai kebakuan huruf-huruf Arab, Cina, Jawa, Abjad, Romawi dan lainnya.

Hal itu terjadi serentak, Tuhan mentakdirkan gelombang seirama melingkupi gravitasi bumi, yang tercurah dari ozon Keilahian pada sap langit terendah. Apapun terjadi sebab kehendak menguasai, lagi berkuasa menentukan gerak kehidupan serta misteri dalam kuasa-Nya.

Lalu manusia mempelajari kehendak-kehendak terahasia. Inilah leloncatan menyepadankan imaji tercerah dari batu sandungan, semisal kesadaran atas kesalahan langkah. Dan manusia, makluk paling cerdas dalam memperbaiki jalannya kisah, demi langkah selanjutnya.

Sementara sejarah sastra di balik selisipan peristiwa tersebut. Terlihatlah dalam mitos, bahwa awal kali karya sastra dengan kata-kata, bukan hadir dadakan. Diawali surat-surat rahasia seorang raja kepada panglimanya, dan dari penguasa satu ke lainnya, ini yang muncul di permukaan. Sedang orang-orang bijak telah berkidung sebelum adanya alat kata, suara-suara itu terekam turun-temurun ke batok kepala anak-anaknya semacam sastra lisan.

Kiranya sampai pada tahap kelembutan budhi, manusia mulai mengkawinkan keindahan alam, kelestarian lingkungan dengan tragedi yang berlangsung di sekitar, tersimpan pada guratan di tulang, kulit bambu juga di tebing kesaksian keadaban.

Hal ini seiring lahirnya sulapan atau sihir, dan pengalaman akrobatik sebagai penghibur, menghipnotis sesamanya. Tentu dalam kepanjangan ini, status atas keahlian yang menentukan kedudukannya di mata wilayah tersebut. Menjadi sadarlah, bahwa pengolahan bathin, penajaman jiwa, mampu mengungkap kerahasiaan alam-ketuhanan, menjadikan dirinya nyala obor kemanusisan.

Ini didasari tersadarnya insan oleh sebentuk lupa, maka catatan menjelma hukum kebijakan, demi kelangsungan mata rantai peradaban. Seperti halnya catatan bisa usang pun terbakar. Tetapi akal budhi siapa menghilang? Inilah kelebihan yang dimiliki insan berpekerti. Sanggup membaca gejala alam serta dirinya, menjadi manfaat kala terjaga, menjaga nilai-nilai insani.

Serentak maju kesimpulan ini sebagai pengantar bahwa kesusastraan tak lahir tiba-tiba, tapi melewati proses, tumbuh di dalam proses, proses itu saya namai reingkarnasi puitika, atau kedalaman merengkuh, meranggeh kesempatan demi lebih baik. Dan wewarna-rupa gelombang-suara, masing-masing memiliki maksud tujuan kuat, meski impian ideal pada arti sesungguhnya, atau hakikat yang diinginkan berupa khak berbeda rasa.

Kata mitologi, karya sastra lahir dari perayu. Para perayu itu melukis kecantikan yang dirayu, dengan keindahan yang tampak di permukaan bumi, pun rayuan akan alam tak terabah, tidak terjangkau indrah. Ini kemauan luar biasa insan pada pengetahuan kegaiban, jagad ganjil di ruangan diri. Saat itu, gerak masa menimbang kekuatan akal budhi, lalu Tuhan meniup firma-Nya. Inilah waktu ditentukan, dibatasi.

Waktu pencarian akan kesejatian hidup berketuhanan. Kenapa harus bertuhan? Secara singkat dapat dijawab, kegaiban ruh siapa sanggup menjangkau? Ini permasalahan yang mengikut-lingkup perjalanan, kelemahan tak sempurna. Dan kesadaran akan ketidakmutlakan dirinnyalah, yang mengharuskan bersandar pada kata kepasrahan.

Kenapa pasrah? Manusia bisa pegal-membosan serta berlalu sia-sia, ketaksadaran yang sanggup membuyarkan kehidupan, minimal meruntuhkan sejarah dirinya. Maka tidur istirah, merupakan penghimpun kekuatan demi langkah selanjutnya lebih mantap. Dan kesusastraan, semacam tanah belum terolah, kata-kata kaku yang kudu digemburkan, agar menjadi ladang subur demi menyegarkan pepadian, tampak indah dipandang dan harumnya dinanti semua orang.

Ini daya rayu terhimpun -menjadi penikmat tersedot dalam grafitasi- hasil penciptaan. Mungkin ini bersamaan ditemukannya magnit pertamakali di Megnesia. Para perayu diawali para utusan. Kenapa mengembangkan jiwa rayuan? Sebab dengan itu, umat manusia taat mengikuti, dan sifatnya berupa kasih sayang.

Tuhan mengembangkan cinta kasih ke bumi, demi cahaya pewarnaan dalam kehidupan. Ini perangkat rindu pun kidungan menjelma nyanyian yang dikumandangkan demi menyembuhkan haus-dahaga alam spiritual, bersamaan kemakmuran alam material. Lalu orang-orang setelahnya mencontoh jiwa utusan, demi mendapati umatnya menerima aturan, dengan rindu diselesaikan lewat ketaatan, peribadatan.

Terompet keimanan menghibur telinga, yang tidak curiga tetapi kecemburuan yang menajamknannya. Kecemburuan ingin dikasihi elusan lembut ayat-ayat sahaja. Ini lirikan mata bathin memandang kecantikan warna spiritual. Lirik yang meyelaraskan jalannya penceritaan keindahan, segar diteguk ketika dalam kepahitan. Atau menambah sedap saat tidak dalam selera makan.

Suasana lagulah menajamkan rindu, serupa perayaan kala kerjanya cinta berjalan terngiang-ngian, membangkitkan dinaya dzikir menghidupkan kalbu senantiasa. Sebab perjalanan insan memiliki daya tangkap berbeda, yang sampai menyesuaikan karakter pendengarannya. Ini menghadirkan lahirnya pelbagai aliran, sebab daya tangkap perasaan yang menentukan sikap-warna bilamana diwujudkan lewat karya.

Semacam anak-anak sungai filsafat dari tujuannya, awan menjelajah pada laut pengertian, obyektivitas kenyataan musti ke sana. Di sini tergantung kelincahan arus sungai melompati bebatu, mengajak reranting ide dilayarkan. Atau daun-daun terjatuh ke sungai ide, sesegar asal kesakitan yang dialaminya.

Itulah jalan belajar perayu atas kehendak Perayu. Dan nurani bermekaran di taman pemilik kalbu yang tak terpagari keangkuhan, sebab rerambatan dedahan mempercantik jiwa bunga-bunga. Atau harapan akhir sang dahan, menanti dipersembahkan di telinga perkawinan budaya, serta untuk permandian suci, pun demi rangkaian belasungkawa pada yang dicintai.

Ini alam perjuangan insan, perjumpaan hangat dunia kasmaran. Layunya sang bunga seperti kematian insan -kepasrahan karya. Maka kerelaan yang membangkitkan putik-putik sari bermunculan di musim semi pasurgan. Kebahagiaan itu niscaya setelah melewati kematian, sebab kebanggaan hidup takkan kekal -berserakan.

Tidak bias padanan ini, jika digayuh bersama jalannya penciptaan yang telah ada dan seterusnya. Ini sebanding melayang jatuh mensejarah. Serpihan ini, ibarat dedaunan yang diambil kawanan burung untuk sarangnya. Dan masih berusaha mencari pasangan, demi meneruskan keturunan. Menyedot sayap gemawan, tanpa mengepak pun jauh beterbangan. Semacam pengapungan logis, tanpa sayap tanpa warna tanpa kata, ibarat angin berhembus di kulitan-(ter)rasa. Maka kekulit hati paling sensitif yang cepat merasuk, terserbuki pancaran ini cahaya.

Saya kira sudah cukup, semoga tidak membuang waktu juga mengotori kertas percuma, pun menghabiskan tinta tiada guna. Semoga kepasrahan yang kudu ditindak-lanjuti setelah membaringkan diri mengapungkan badan. Tersebab angin terus mengitari bumi menghitung usianya. Demikian saya tutup dengan perkataan Muhammad Iqbal;

Tujuan warna, bukanlah hanya keadaan kesadaran kita sekarang, tetapi juga membuka arah masa depannya. (dari buku Annemarie Schimmel. Berjudul, Gabriel’s Wing; A Study into the Religious Ideas of Sir Muhammad Iqbal).
***

*) Pengelana dari desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, Jatim, Okt 2004.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati