Judul Novel : Pucuk Cinta Bougenville
Penulis : Sitta Wulandari
Penerbit : Akoer, Jakarta
Cetakan : I Oktober 2008
Tebal : 202 Halaman
Peresensi : MG. Sungatno *
cawanaksara.blogspot.com
Bersama besutan cerita Wulandari ini, pembaca akan menemukan oase emajinasi yang menakjubkan. Dengan sebuah cerita berbingkai yang dicampurkan olehnya, menjadikan novel ini lebih berwarna dan membuai pembaca. Kita akan diajak memasuki dimensi-dimensi kehidupan waktu dan tempat yang berbeda. Namun, belum sampai kita terlalu tenggelam, dengan gesit Wulandari segera menggulung emajinasi pembaca dan mengembalikannya dalam cerita pertama.
Selanjutnya, cerita diarahkan kembali pada kelanjutan cerita yang berbeda dan digulung hingga kesekian kalinya untuk menjemput cerita yang pertama. Lebih asyik, fluktuasi cerita diiringi bahasa yang renyah, unik dan kocak serta dipadu dengan diskripsi khazanah budaya masyarakat desa pegunungan hingga muncul suatu kesan yang mengharukan.
Adalah Aura Meydiana Supit, sebuah nama yang dijadikan pemeran utama dalam novel ini. Semenjak kecil, Aura hanya sempat bertemu satu kali dengan kakek-neneknya. Ketika hendak berangkat ke Bali bersama beberapa rekannya untuk mengikuti suatu acara, ibunya mengingatkan bahwa Aura memiliki kakek- nenek yang tinggal disebuah pegunungan Trenggalek.
Dalam perjalanan, Aura berada dalam satu mobil bersama Mike. Memasuki kota Solo, mereka terjebak dalam kemacetan lalulintas yang cukup panjang. Akhirnya mereka mengambil jalur jurusan Madiun. Sialnya, macet terulang kembali. Mengetahui hal itu, Mike mengajak rekan-rekannya melalui jalan alternatif yang menyusuri jalan-ajalan pegunungan. Namun, belum sampai keluar dari kawasan pegunungan, perjalanan mereka kembali terganggu. Ban mobil yang ditumpangi Mike dan Aura tiba-tiba bocor. Dari sinilah Wulandari mengajak pembaca untuk mengalihkan perhatian pada tujuan Aura dan rekan-rekannya menuju Pulau Dewata.
Dengan segera, Mike yang dibantu Tristan dan rekan yang lain mengganti ban dengan ban cadangan. Aura yang sejak memasuki perjalanan di pegunungan terbuai dengan keindahan panorama alam yang ada, tanpa sepengetahuan rekan yang lain, berjalan-jalan sendirian. Langkahnya pun terhenti didepan rumah tua yang dihalaman depannya dipenuhi dengan indahnya bougenville. Tanpa sadar, Aura mendekati banyaknya bougenville yang mengayomi rumah itu. Sedangkan rekan-rekannya, baru sadar kalau Aura tidak bersama mereka setelah mobil siap untuk digunakan kembali. Mike dan rekan yang lain pun menjadi kebingungan dan mencari-cari Aura.
Sementara, Aura yang sedang terpesona dengan bougenville yang rindang dan mengayomi rumah, akhirnya dipergoki oleh sang pembantu. Setelah menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya, Aura diizinkan untuk menikmati keinginannya. Sambil bercakap-cakap dan mengitari taman, Aura pun mengenalkan diri. Sungguh terkejut, setelah kenal, ternyata rumah itu adalah rumah kakek neneknya yang pernah diceritakan sang ibunya. Aura pun dipertemukan dengan neneknya, Catherine, oleh si pembantu.
Sungguh bahagia ketika Catherine dipertemukan dengan Aura yang telah sekian lama tidak dipeluk oleh sang nenek. Tidak hanya menikmati keindahan bougenville yang ada, Aura juga dijamu dengan jajanan khas desa serta dipersilahkan melihat-lihat koleksi almarhum kakeknya, Nugroho Sastrodarsono. Sastrodarsono adalah seorang sastrawan yang lumayan terkenal di masanya. Anehnya, diantara barang-barang kenangan yang ada, hanya naskah sastra yang berjudul Bougenville karya kakeknya yang menjadikan Aura terpesona. Mengingat bahwa kedatangannya bersama rekan yang lain, Aura segera menghubungi salah satu rekannya dan mengajak mereka untuk mampir ke rumah nenek Catherine.
Sayang, setelah bertemu dengan rekan-rekannya, Aura menjadi berubah pikiran. Ia hendak menunda keberangkatanya ke Bali bersama rekannya. Aura lebih memilih untuk bertempat di rumah Catherine dan menikmati kerinduan sekaligus peninggalan-peninggalan Sastrodarsono. Meski dengan berat hati, akhirnya rekan-rekan Aura mengabulkan permintaannya.
Aura semakin terpukau dengan cerita Catherine bahwa naskah itulah yang mempertemukan cinta antara Catherine dengan Sastrodarsono. Dikisahkan, sewaktu membuat naskah Bougenville, Sastrodarsono bertabrakan dengan Catherine yang kebetulan sama-sama membuat cerita yang judulnya sama. Sejak peristiwa itulah yang kemudian menjadikan keduanya berkenalan hingga menjalin hubungan cinta. Uniknya, sejak itu juga keduanya sepakat sama-sama tidak melanjutkan cerita yang diangkat dalam naskah itu.
Sembari memegang dua naskah Bougenville karya Sastrodarsono dan Catherine, Aura mengungkapkan rasa tertarik pada naskah yang belum selesai itu. Ketika ditawari Catherine untuk melanjutkan perjalanan kisah Bougenville, ia pun dengan cepat menyetujuinya. Dengan rasa gembira, Aura segera memilih salah satu Bougenville itu. Akhirnya, pilihan Aura jatuh pada Bougenville karya kakeknya.
Dengan imajinasi yang cukup tajam dan berliku, Aura menulis Bougenville yang diadaptasi dari Bougenville Sastrodarsono. Untuk menambah keleluasaannya dalam mengumbar emajinasi, Aura menulis disetiap tempat yang menurutnya mendukung kepenulisan, termasuk dipuncak bukit yang tidak jauh dari rumah kakek neneknya itu.
Selama empat hari berturut-turut, Aura selalu mendatangi tempat duduk diatas bukit yang tidak jauh dari rumah neneknya. Namun, pada hari keempat, disaat asyik menulis, tiba-tiba Aura teringat dengan keluarga di Yogyakarta. Ia pun memutuskan untuk turun bukit dan segera pamitan kepada neneknya untuk diberi izin pulang ke Yogyakarta untuk sementara. Dengan jalan tergesa-gesa, disaat mendekati jalan yang dilalui kendaraan umum, tiba-tiba selembar tulisan terakhir yang dipegangnya terlepas dan terbang menghampiri seorang pemuda, Briant. Tanpa tahu bahwa secarik kertas itu dikejar-kejar oleh Aura, pemuda yang sedang kehabisan ongkos untuk pulang ke Yogyakarta itu memungutnya. Melihat hal itu, dengan basa-basi dan memberanikan diri, akhirnya Aura meminta kertas itu.
Sejak saat itulah Aura mulai kenal dan tahu tentang masalah yang sedang menimpa Briant. Akhirnya, Aura mengajak Briant untuk mampir ke rumah Catherine dan berharap ada bantuan untuknya. Sesampai dirumah, tiba-tiba rekan-rekan Aura berdatangan untuk mengajak Aura pulang. Selain itu, Briant juga diajak Aura dan rekan-rekan untuk pulang bersama-sama.
Setelah berpisah dan sampai dirumah masing-masing, Aura kebingungan mencari naskah bougenville-nya yang berada dalam map merah. Setelah beberapa hari, Aura menemukan naskah Bougenville yang ditulis Briant dalam map merah sama dengan milik Aura. Naskah yang juga belum selesai itu ternyata hasil tulisan Briant sewaktu masih melanjutkan studi di Australia. Aura pun tersadar bahwa sewaktu bertemu dengan Briant, Aura melihat map merah yang sama dengan map naskah Bougenville-nya Aura. Map itu tertukar sewaktu Briant pindah dari mobil yang ditumpangi Aura dan Mike menuju mobil yang lain.
Cerita dalam novel ini belum selesai, bahkan ending dari cerita Wulandari ini seakan diserahkan sepenuhnya kepada pembaca. Tentang akhir dari naskah Bougenville itulah yang kemudian menyiksa pembaca dalam indahnya penasaran. Meski begitu novel ini cukup asyik untuk dinikmati sembari mengumbar imajinasi yang romantis.***
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel García Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar