Geger Riyanto
http://entertainmen.suaramerdeka.com/
BAR itu jauh dari keramaian. Jauh dari lalu lalang manusia yang bermandi peluh demi sebongkah roti, jauh dari jalan utama yang merupakan ban berjalan bagi mereka —para sekrup kecil ekonomi negara tersebut. Di ujung dalam, tampaklah seorang pria paro baya mengenakan kacamata hitam, masker, dan berjaket. Ia sedang berbicara dengan pria lain dengan topi bermoncong panjang yang nyaris menutupi matanya, dan kemeja lengan panjang bergaris-garis yang dilipat hingga siku.
Belum lima menit wiski dalam gelas kristal itu berdiri di atas meja mereka, tapi batu es yang semula seukuran bola ping-pong tinggal seukuran anggur hanya untuk menunjukkan betapa panas pembicaraan mereka.
”Apa yang salah denganmu?! Jumlah turis kita menurun pesat!” ujar pria berkacamata hitam itu.
”Kau mau tahu mengapa? Karena kau tak bisa mencegah tetangga-tetangga kita membuka atraksi yang sama!”
Beberapa lama lalu, sang Jenderal Revolusi dan pasukan gerilyanya yang bersemayam di hutan tiba-tiba kedatangan tamu yang tak diduga. Satu... dua... tiga orang turun dari sebuah bus militer yang sekonyong-konyong berhenti di perkemahan mereka. Orang-orang itu berwajah kaukasian, mengenakan celana jins dan kemeja kasual, dan menggendong tas ransel.
Sang Jenderal Revolusi agak lega karena langsung menduga mereka utusan PBB, atau pihak-pihak yang berdalih kedamaian internasional lain. Mungkin mau memberi bantuan obat-obatan atau persediaan logistik. Hanya, ia heran bagaimana orang-orang ini dapat mengetahui lokasi markasnya di jantung hutan. Ia melemparkan tanda agar anak buahnya tak menurunkan penjagaan dan senjata mereka.
Semakin banyak yang turun dari bus, sang Jenderal kian kehilangan akal untuk mengenali mereka. Betapa tidak? Sebagian di antara mereka masih anak-anak, sebagian sudah lanjut usia. Sebagian membawa minuman dan makanan dari restoran siap saji. Tapi sekumpulan orang itu tak kunjung menunjukkan tindak-tanduk yang mengancam.
”Ada apa ini? Kalian mau liburan di sini?!” sergah sang Jenderal.
Lalu, seseorang yang tampak sebagai pemimpin rombongan itu menunjukkan diri dan menghampiri sang Jenderal.
”Perkenalkan, nama saya Michael.”
Sang Jenderal tak menggubris sodoran tangannya. Ia kian bingung, orang-orang asing di sekelilingnya menatapnya ganjil dan menunjuk-nunjuk kepadanya sambil membuka selembar kertas yang telah dilipat empat dari kiri ke kanan. Sang Jenderal geram dan merebut kertas itu dari seorang pria gundul yang sampai melotot memperhatikannya.
Di kertas itu terpampang gambar dirinya yang bertuliskan ”Jenderal Besar Pasukan Revolusi, Immanuel Sanchez”. Sebelum ia semakin kebingungan karenanya, di sebelah atas kertas itu terpampang tulisan ”Panduan Wisata Revolusi Latinoamerikano”. Dan sang Jenderal naik pitam tak terkira. Turis-turis yang mengelilinginya segera mengambil kamera untuk memotret harimau yang mengaum-aum itu.
Saat sejenak tersadar, sang Jenderal segera merogoh pistol di kantungnya hendak melampiaskan amarahnya melalui desing-desing peluru yang mengoyak daging dan tulang. Namun seorang anak buahnya menahan tangannya sebelum ia mengangkat senjata.
”Dinginkanlah kepalamu, Jenderal!”
”Kau ini bodoh atau apa?! Kau lihat bukan, bagaimana mereka memperlakukan kita bagai binatang dalam kotak pajangan?!”
”Lihat Jenderal, Michael memberiku ini.”
Ajudannya itu memperlihatkan berhelai-helai uang seratus Euro di genggamannya. Sang Jenderal terkesiap sejenak. Hanya sejenak, kemudian ia merogoh senjatanya kembali. Ajudannya kembali menahan tangannya.
”Coba Jenderal pikirkan. Corrales pasti yang merancang ini. Setiap malam kita berpindah, tapi keberadaan kita dapat ditemukan seperti ini. Bukankah itu berarti dia sudah mengetahui pola perpindahan dan pengambilan logistik kita? Bukankah mereka sebenarnya bisa menggempur kita setiap saat? Dan bayangkan, Jenderal sudah menjanjikan kepada kami semua kemenangan, kesejahteraan, dan kedudukan sejak sepuluh tahun lalu. Tidakkah Jenderal melihat, kami semua sudah lelah dengan janji-janji Anda?”
Muntahan nekat anak buahnya itu mengundang sang Jenderal menodongkan senjata ke kepalanya. Turis-turis di sekelilingnya pun riuh, seperti sekumpulan anak kecil yang menemukan mainan baru.
”Silakan saja, Jenderal tembak saya. Tapi saya katakan, kami semua sudah lelah dengan kehidupan seperti ini. Setelah Jenderal menembak saya, yang lain dapat saja meledak dan menyerahkan kepala Anda ke Corrales.”
Sepi merebak tanpa kecuali. Meninggalkan pistol sang Jenderal Revolusi, Immanuel Sanchez, menuding kepala ajudannya. Sang ajudan sudah menarik urat nyalinya hingga ambang batas. Sedikit sisanya ia gunakan untuk mematri tubuhnya agar tak bergidik, dan membalas tatapan tajam sang Jenderal.
”Sudahlah! Terserah kalian...”
Itu adalah pertama kalinya kata ”terserah” menyeruak dari mulut sang Jenderal. Sesudah itu, ia melangkah kembali ke kediamannya. Langkah-langkahnya terlihat payah, tanpa daya.
Semenjak itu, nyaris setiap harinya kamp para gerilyawan yang berpindah-pindah itu dibanjiri oleh rombongan turis asal Eropa Barat, Amerika Utara, maupun Asia. Bagi para turis, menemukan kamp yang setiap hari berpindah di sekitar jantung hutan Mestizo adalah sebuah hiburan yang menantang —lebih dari mendaki gunung atau berselancar. Dengan truk militer yang disediakan, mereka mesti menaklukkan sang hutan.
Dari latihan fisik sehari-hari hingga kegiatan makan para gerilyawan menjadi atraksi yang menawan. Para gerilyawan pun menjual makanan dan minuman siap saji, yang dikotaki seolah ransum prajurit, dan berbagai oleh-oleh, seperti selongsong peluru —katanya dari peluru yang membunuh komandan musuh— atau helm gerilyawan, yang katanya gugur melindungi rekan-rekannya dari ledakan granat dengan tubuhnya sendiri.
Sang Jenderal yang tak kunjung mau keluar dan menampakkan wajahnya menjadi mitos tersendiri. Foto dan sketsa dirinya terjual dengan harga selangit. Para turis bersedia membayar berapa pun demi mendengarkan cerita kegagahannya memimpin pertempuran revolusi, meski gagal, hingga kabar mengenai pernikahannya yang berakhir tragis karena keyakinan Sang Jenderal pada revolusi.
Para gerilyawan hari ini tak lagi hidup di hutan belantara yang kejam. Mereka kembali ke hutan hanya saat pagi menjelang, ketika turis-turis mulai berdatangan. Malam hari mereka habiskan di belantara ibu kota, di bar-bar mewah yang dipenuhi musik latin dan wanita-wanita hispanik, dan beberapa wanita keturunan Eropa yang lebih mahal harga pelayanannya. Dan beberapa yang lebih sukses memiliki villa di daerah eksotis. Corrales dan pemerintahannya hanya tersenyum karena devisa yang dikeruknya.
***
DI bar itu, Jenderal Corrales yang mengenakan masker dan kacamata hitam masih terus berdebat dengan Sanchez. Wisata revolusi tak mereka monopoli lagi. Keduanya tak kunjung berhenti mencari kambing hitam.
Sempat sebuah gagasan menyeruak, bagaimana bila wisata revolusi ini dipatenkan? Tapi mereka segera menyadari, negara-negara tetangganya tak akan mengindahkan hak paten itu. Mereka juga hafal, tanpa kepentingan negara-negara maju konsep hak paten itu tak akan mampu menjangkau siapa pun. Fajar segera menjelang. Kedua sosok itu pun sudah terlihat lelah.
”Aku tahu,” ujar Corrales, ”kita buat atraksi revolusi!”
”Maksudmu?”
”Kita buat sebuah pertempuran, seolah kau hendak menggulingkan pemerintahanku. Kau sebarkan kabar ke para turis bahwa kau berencana menyerang ibu kota. Lalu mereka yang mau menonton langsung, bisa meneropong aman dari bukit. Dan pertempuran ini juga kita dokumentasikan, lantas kita angkat sebagai sebuah film layar lebar.”
”Tunggu dulu! Lalu bagaimana dengan dampaknya? Kerugiannya, serta korban yang akan berjatuhan?”
”Kau ini,” tukasnya sambil menepuk-nepuk pipi Sanchez, ”bukankah Hollywood selalu punya trik sulap untuk hal-hal semacam ini?”
Rencana besar itu pun berlangsung tiga bulan kemudian. Benar, jumlah turis kembali meroket setelah kabar-kabar diembuskan dari perkemahan Pasukan Revolusi. Tiket penerbangan ke negara itu habis sebulan sebelum pertunjukan besar itu. Para pembuat film dokumenter yang berbondong-bondong datang tidak diizinkan membawa alat perekam.
Pada hari-H, pagi-pagi buta sekitar lima ratus pasukan gerilya menyelinap melalui pinggiran ibu kota. Mereka mengendap, menghindari penjagaan, dan menyelinap dari gedung ke gedung. Dari bukit-bukit kejauhan, jutaan turis memperhatikan seksama. Bagi yang tidak membawa teropong, di lokasi dijual teropong dengan harga yang selangit. Dan bagi yang lapar atau haus, ada yang menjual makanan dan minuman dengan harga yang juga selangit.
Setelah membungkam sejumlah tentara pemerintah dalam sunyi, prajurit gerilya tiba di pos-pos strategis sekitar Istana Kepresidenan. Sebuah sinyal untuk menyerang dilemparkan Jenderal Sanchez. Hari itu para turis untuk kali pertama melihat wajah sang Jenderal Revolusi. Banyak wanita jatuh lemas melihat betapa tampan dan berkharismanya Jenderal berusia 40-an itu. Tampan layaknya Ricky Martin, hanya dagu dan hidungnya lebih tajam serta diliputi brewok. Banyak turis berdecak kagum, karena sosoknya membenarkan cerita-cerita kehebatan yang sebelumnya hanya kabar.
Desingan-desingan peluru memenuhi langit. Korban pun segera berjatuhan dari kedua belah pihak, tergeletak bergelimang cat merah. Tak satu adegan pun terlewatkan oleh kamera-kamera tersembunyi dalam gedung-gedung yang terbelalak menatap pertempuran di hadapannya.
Sekelompok kecil pasukan yang dipimpin Jenderal Sanchez berhasil menerabas masuk ke jantung kekuasaan. Skenarionya, mereka akan berhadapan langsung dengan pasukan elite Jenderal Corrales di atap Istana Kepresidenan —agar pertarungan terlihat jelas dari bukit. Dan ketika mereka nyaris mendapatkan kepala Jenderal Corrales, pasukan gerilya akan dipukul mundur oleh bala bantuan tentara pemerintah yang datang sekelebat.
Tapi pertempuran yang seharusnya seimbang berkembang ke arah yang tak terduga. Pasukan Sanchez mendesak pasukan elite istana, dan mereka tak bisa berkutik. Sehabis mereka tertembak peluru cat merah, mereka tak boleh berdiri atau akan menimbulkan keganjilan di antara jutaan audiens. Setelah banyak pasukan elite istana rubuh, Sanchez berhasil mencapai Jenderal Corrales. Lantas, menodongkan senapannya ke kepala Corrales. Bukit-bukit riuh bergemuruh. Jutaan turis menepukkan tangannya, menunjukan rasa salut dan simpati terhadap perjuangan sang Jenderal Revolusi hingga tiba di titik ini.
”Kau melakukan improvisasi ya? Bagus! Bagus!” bisik Corrales senang. ”Sekarang kita tunggu sebentar sampai pasukan bala bantuanku datang.”
Tanpa diketahui Corrales, Sanchez menyelipkan peluru asli di senapannya. Dalam hening itu, teringat di benak sang Jenderal Revolusi betapa menyebalkannya kemarin malam saat ia didandani agar tampak lebih gagah dan kharismatik. Mengapa ia tak pernah menampakkan diri terang-terangan, bukan karena ia tak tergiur uang, atau reputasi dan ketenaran, atau minuman keras, atau wanita. Atau gaya hidup kebanyakan anak buahnya sebagai orang kaya baru. Tapi setiap kali menyapa kerumunan orang, ia segera merasa berada dalam kotak etalase, bagaikan barang, atau binatang, atau barangnya binatang. Darah malunya tersirap menembus ubun-ubun setiap kali itu terbayang.
Lalu ia membayangkan, bagaimana bila ia memimpin negeri ini? Baru sesaat ia melayang karena aroma nikmat kekuasaan, kenikmatan itu terpotong oleh bayangan kelam negerinya sendiri. Dikelilingi perbukitan yang sukar dilintasi, yang tanahnya menolak benih-benih makanan pokok warganya sendiri, serta tak mengandung sebongkah pun mineral berharga.
Bagaimana bila Jenderal Revolusi tak ada lagi, dan tinggal Jenderal Penguasa? Bagaimana bila negeri ini terlempar dari lingkaran industri pariwisata dunia?
Segenap renungan Sanchez buyar oleh derap tentara bala bantuan pemerintah yang mendekat. Perhatian Sanchez terbelah. Sekelebat, Corrales merogoh pistol di kantungnya. Setengah detik kemudian, terdengar dua suara tembakan. Sanchez melepaskan tembakan, dan pelurunya bersarang di pundak kanan Corrales. Tapi Sanchez sangat terhenyak, bahwa peluru lawan mainnya itu juga mengoyak setitik daging di lengannya.
Semua kembali ke skenario awal. Sanchez dan pasukannya melarikan diri dari tempat itu. Jutaan penyaksi sungguh menyayangkan kegagalan sang Jenderal Revolusi, padahal semua tinggal selangkah lagi. Tapi Sanchez tak merasa kecewa ataupun sakit, hanya ketegangan yang berkecamuk bersama kebingungan.
Sanchez! Sanchez! Sanchez! Barisan bukit yang mengelilingi negeri itu menyobek udara. Sorak-sorai yang menggetarkan langit dan bumi. Sanchez, yang berlari membawa lengannya yang terluka melintasi gemuruh namanya sendiri, menyadari tembakan Corrales yang dilepas hanya dalam jarak puluhan senti itu meleset bukan karena kesilapannya. Begitu juga dengan Sanchez sendiri, yang dengan sengaja menyarangkan pelurunya di bagian yang tidak fatal.
Corrales pun sempat berencana mengakhiri revolusi pada hari itu. Mengkhianati revolusi. Namun, keduanya menyadari bahwa revolusi belum sepatutnya berakhir. Dan akhirnya seorang Sanchez tersenyum. Ia telah yakin bahwa dirinya seutuhnya seorang Jenderal Revolusi. Walau pada keesokan hari ia harus tampil di saluran FOX mengenakan kacamata hitam, dan jas, serta sepatu necis buatan Italia, revolusi belum berakhir.
Depok, Juli 2008
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Azis Masyhuri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.S. Laksana
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Malik
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adi Prasetyo
Afnan Malay
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Himawan
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Suyudi
Ahmad Syubbanuddin Alwy
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajip Rosidi
Akhmad Sekhu
Akmal Nasery Basral
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amalia Sulfana
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Aminullah HA Noor
Andari Karina Anom
Andi Nur Aminah
Anes Prabu Sadjarwo
Anindita S Thayf
Anindita S. Thayf
Anitya Wahdini
Anton Bae
Anton Kurnia
Anung Wendyartaka
Anwar Nuris
Anwari WMK
Aprinus Salam
APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arief Budiman
Ariel Heryanto
Arif Saifudin Yudistira
Arif Zulkifli
Arifi Saiman
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arsyad Indradi
Arti Bumi Intaran
Ary Wibowo
AS Sumbawi
Asarpin
Asbari N. Krisna
Asep Salahudin
Asep Sambodja
Asti Musman
Atep Kurnia
Atih Ardiansyah
Aulia A Muhammad
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
B. Nawangga Putra
Badaruddin Amir
Bagja Hidayat
Bakdi Sumanto
Balada
Bale Aksara
Bambang Agung
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bedah Buku
Beni Setia
Benni Indo
Benny Arnas
Benny Benke
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita Duka
Berita Utama
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bonari Nabonenar
Bre Redana
Brunel University London
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Buku Kritik Sastra
Bung Tomo
Burhanuddin Bella
Butet Kartaredjasa
Cahyo Junaedy
Cak Kandar
Caroline Damanik
Catatan
Cecep Syamsul Hari
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Chavchay Saifullah
Cornelius Helmy Herlambang
D. Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Sunendar
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
David Krisna Alka
Deddy Arsya
Dedi Pramono
Delvi Yandra
Deni Andriana
Denny Mizhar
Dessy Wahyuni
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewey Setiawan
Dewi Rina Cahyani
Dewi Sri Utami
Dian Hartati
Diana A.V. Sasa
Dianing Widya Yudhistira
Dina Jerphanion
Djadjat Sudradjat
Djasepudin
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dony P. Herwanto
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi
Dudi Rustandi
Dwi Arjanto
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi S. Wibowo
Dwicipta
Dwijo Maksum
E. M. Cioran
E. Syahputra
Egidius Patnistik
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Triono
Elisa Dwi Wardani
Ellyn Novellin
Elokdyah Meswati
Emha Ainun Nadjib
Endro Yuwanto
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Esai
Evi Idawati
F Dewi Ria Utari
F. Dewi Ria Utari
Fadlillah Malin Sutan Kayo
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Alayubi
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Faruk HT
Fatah Yasin Noor
Fatkhul Anas
Fazabinal Alim
Fazar Muhardi
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Fikri. MS
Frans Ekodhanto
Fransiskus X. Taolin
Franz Kafka
Fuad Nawawi
Gabriel GarcÃa Márquez
Gde Artawa
Geger Riyanto
Gendhotwukir
Gerakan Surah Buku (GSB)
Ging Ginanjar
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gufran A. Ibrahim
Gunoto Saparie
Gusty Fahik
H. Rosihan Anwar
H.B. Jassin
Hadi Napster
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Haris del Hakim
Hary B Kori’un
Hasan Junus
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hasyuda Abadi
Hawe Setiawan
Helvy Tiana Rosa
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Herdiyan
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman Hasyim
Hermien Y. Kleden
Hernadi Tanzil
Herry Lamongan
Heru Emka
Hikmat Gumelar
Holy Adib
Hudan Hidayat
Humam S Chudori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Suaka
I Tito Sianipar
Ian Ahong Guruh
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
IDG Windhu Sancaya
Iffah Nur Arifah
Ignas Kleden
Ignasius S. Roy Tei Seran
Ignatius Haryanto
Ignatius Liliek
Ika Karlina Idris
Ilham Khoiri
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indah S. Pratidina
Indiar Manggara
Indra Tranggono
Indrian Koto
Insaf Albert Tarigan
Ipik Tanoyo
Irine Rakhmawati
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Norman
Istiqomatul Hayati
Iswara N Raditya
Iverdixon Tinungki
Iwan Gunadi
Iwan Nurdaya Djafar
Jadid Al Farisy
Jakob Sumardjo
Jamal D. Rahman
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jay Am
Jaya Suprana
Jean-Paul Sartre
JJ. Kusni
Joanito De Saojoao
Jodhi Yudono
John Js
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi Abdul Munif
Jusuf AN
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Khairul Mufid Jr
Ki Panji Kusmin
Kingkin Puput Kinanti
Kirana Kejora
Ko Hyeong Ryeol
Koh Young Hun
Komarudin
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
Lathifa Akmaliyah
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Lenah Susianty
Leon Trotsky
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lucia Idayani
Luhung Sapto Nugroho
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lusiana Indriasari
Lutfi Mardiansyah
M Syakir
M. Faizi
M. Fauzi Sukri
M. Mustafied
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
Made Wianta
Mahmoud Darwish
Mahmud Jauhari Ali
Majalah Budaya Jejak
Makmur Dimila
Malkan Junaidi
Maman S Mahayana
Manneke Budiman
Mardi Luhung
Mardiyah Chamim
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Mariana Amiruddin
Martin Aleida
Marwanto
Mas Ruscitadewi
Masdharmadji
Mashuri
Masuki M. Astro
Media Dunia Sastra
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
Melani Budianta
Mezra E Pellondou
MG. Sungatno
Micky Hidayat
Mikael Johani
Mikhael Dua
Misbahus Surur
Moch Arif Makruf
Mohamad Fauzi
Mohamad Sobary
Mohamed Nasser Mohamed
Mohammad Takdir Ilahi
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Nanda Fauzan
Muhammad Qodari
Muhammad Rain
Muhammad Subarkah
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyidin
Mujtahid
Munawir Aziz
Musa Asy’arie
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N. Mursidi
Nafi’ah Al-Ma’rab
Naqib Najah
Narudin Pituin
Naskah Teater
Nasru Alam Aziz
Nelson Alwi
Neni Ridarineni
Nezar Patria
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Rastiti
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Noval Jubbek
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Utami Sari’at Kurniati
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurhadi BW
Obrolan
Odhy`s
Okta Adetya
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Orhan Pamuk
Otto Sukatno CR
Pablo Neruda
Patricia Pawestri
PDS H.B. Jassin
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pranita Dewi
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
Puisi Pertemuan Mahasiswa
Puji Santosa
Pustaka Bergerak
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Setia
Putu Wijaya
R. Timur Budi Raja
Radhar Panca Dahana
Rahmah Maulidia
Rahmi Hattani
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rambuana
Ramzah Dambul
Raudal Tanjung Banua
Redhitya Wempi Ansori
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Revolusi
Ria Febrina
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Richard Strauss
Rida K Liamsi
Riduan Situmorang
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Rina Mahfuzah Nst
Rinto Andriono
Riris K. Toha-Sarumpaet
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roland Barthes
Romi Zarman
Romo Jansen Boediantono
Rosidi
Ruslani
S Prana Dharmasta
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabine Müller
Sabrank Suparno
Safitri Ningrum
Saiful Amin Ghofur
Sajak
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sastra Using
Satmoko Budi Santoso
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sayuri Yosiana
Sayyid Madany Syani
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sem Purba
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Shiny.ane el’poesya
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siti Mugi Rahayu
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Sohifur Ridho’i
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sonya Helen Sinombor
Sosiawan Leak
Sri Rominah
Sri Wintala Achmad
St. Sularto
STKIP PGRI Ponorogo
Subagio Sastrowardoyo
Sudarmoko
Sudaryono
Sudirman
Sugeng Satya Dharma
Suhadi
Sujiwo Tedjo
Sukar
Suminto A. Sayuti
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susilowati
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Sutrisno Buyil
Syaifuddin Gani
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Tengsoe Tjahjono
Th. Sumartana
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus Wijanarko
Udo Z. Karzi
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Usman Awang
UU Hamidy
Vinc. Kristianto Batuadji
Vladimir I. Braginsky
W.S. Rendra
Wahib Muthalib
Wahyu Utomo
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Wiko Antoni
Wina Karnie
Winarta Adisubrata
Wiwik Widayaningtias
Yanto le Honzo
Yanuar Widodo
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yudhis M. Burhanudin
Yukio Mishima
Yulhasni
Yuli
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusmar Yusuf
Yusri Fajar
Yuswinardi
Yuval Noah Harari
Zaki Zubaidi
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zen Rachmat Sugito
Zuriati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar