Selasa, 18 November 2008

SELIR, OH… SELIR

karya almarhum KRT. Suryanto Sastroatmodjo
pada Jurnal Kebudayaan The Sandour, II 2006

Omong soal selir, pikiran pastilah langsung istri banyak. Paling tidak lebih dari satu. Tetapi istri lebih dari satu pastilah selir? Inilah yang menarik untuk disimak dan diperhatikan. Itu adalah gejala yang ada di masyarakat, yang kadang mengundang pro dan kontra. Biasa, seperti halnya hidup itu sendiri mengundang pro dan kontra. Lantas bagaimana tentang selir di tanah Jawa ini atau khususnya di seputaran kalangan kerabat raja yang disebut ningrat atau priyayi yang sering dijadikan panutan masyarakat.

Masih ingat Douwes Dekker yang nulis Max Havelaar? Ia menyebutkan, ada empat hal yang dominan dalam kehidupan priyayi. Pertama, bahwa dalam kehidupan lahir-batin bangsa berkulit coklat (pribumi), para priyayi banyak yang ambigous atau mendua. Misalnya, di satu pihak setia terhadap Gubermen van Nederlandsch-Indie, di lain pihak haruslah setia pada raja atau ratu pribumi sendiri yang ketika itu dalam lingkungan Praja Kejawen atau Vorstenlanden (yakni 4 kerajaan Jawa, yakni Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualaman). Ambiguitas dan dualisme ini dibedakan menurut kutub-kutub adat istiadat lokal yang tak lepas dari ikatan etika dan politik, antara setia pada penjajah dan juga loyal terhadap raja sebagai penguasa trah Mataram.

Kedua, masih menurut Dekker, ada perbedaan hakiki dan konvensional antara pejabat yang merasa tentang adanya hak-hak administratif mereka sebagai abdi gubermen yang otomatis selaku priyayi-ambtenar yang feodalistik dan patuh terhadap perangkat yang membawahi mereka selaku pegawai negeri yang memiliki hak-hak istimewa.

Ketiga, dalam hal ini maka tidak hanya lingkungan kerja yang serba berbeda dan serba berkecukupan, namun juga mempunyai kelimpahan dalam berbagai hal yang sifatnya kenikmatan manusiawi termasuk kenikmatan seksual yang hanya mereka yang berhak merasakannya. Sedang lapisan rakyat jelata tak berhak merasakan. Lapisan rakyat jelata tak boleh merasakan dengan pertimbangan bahwa mereka “tak berkelas.”

Keempat, dalam kaitan tentang keharuman yang melimpah tersebut, orang ternyata boleh meresapkan limpahan dan keistimewaan dalam perkawinan yang subtil yang sengaja hendak berlebih-lebihan. Beberapa yang patut dipakai sebagai alasan pemberkatan trah ini:

1. Perkawinan bukan mengambil corak satu lawan satu atau monogami melainkan polygami yang mewartakan bahwa dalam hal ini maka ada banyak pasangan wanita di samping satu pria ada banyak istri diperlukan buat memperkokoh status penguasa tunggal. Ini disebut sebagai suatu warasandamani yang tak boleh diganggugugat.

2. Antara para istri tersebut, harap dibedakan antara garwa padmi atau garwa utama, istri prima bagi sang suami, sementara istri-istri lainnya disebut selir atau garwa ampeyan dan hak-hak istimewa dalam politik, ekonomi, sosial hanya tertuju kepada sang first lady yang begitu kharismatik. Sistem ini disebut “lamdaruwinaya” atau bahwa apa yang dikehendaki istri pinilih tak boleh didesak oleh istri-istri sampingan saja.

Pada hakikatnya konsep perseliran dalam adat priyayi, yang dicontoh adalah teladan dewa, seperti misalnya Raden Panji Inu Kertapati (Asmarabangun) mengikuti teladan Dewa Kamajaya (strirandapalupi), kemudian ide Raden Arjuna yang sanggup berpoligami sempurna (pranundradipta), kemudian teladan Raden Soma tatkala mengawini Dewi Angnyawati (strilaku-tambulinari) dan tak lupa mengikuti jalur kesempurnaan kasih Rama dan Sinta (dwiparandacihna) yang diperteguh kekuatan Dewa Semar Ismaya (datunalajigja) yang potensial.

Dalam hal inilah maka konsep tersebut langsung dibumbui oleh jaminan langkah-laku-asmara menurut Asmaradana dan Kamasutra yang merupakan pasukan klasik India. Asmaradana dipenggal dari ajaran Asmarandana Yadnyatanti dalam ujaran Dwipara Patayadnya Puranasangka yang dalam dasar-dasar poligami yang teratur ini maka orang pun terpacu dalam perimbangan sebagai berikut:

Utara: Devatalistu – maka garwa padmi atau permaisuri dominan tetapi para selir hendaknya bertindak sebagai pelayan. Di sini aroma biologis menjadi pedoman bertindak riil.

Timur: Pradiptamani – maka peranan selir pertama dari para selir diunggulkan, sedang permaisuri jangan terlibat dalam pemainan kamasutra-asmaragama tersebut. Maka, senioritas memegang peranan pada laku-laku.

Selatan: Jalanidiksetra – maka selir kedua dan ketiga mendapat peluang sebagai kreator dalam seni senggama, pria hanya menurut. Harus ada apresiasi dalam melaksanakan kiprah cinta sejati.

Barat: Indivatidevi: selir-selir saling bergantian melayani pria sebagai sentranya.
Sedangkan mengikuti: barat laut (paranidenta), timurlaut (ulayuwideha), barat daya (citraprajeki) dan tenggara (winantuwarih) masih terikat poros unggulan semesta yang disebut: widhisutra wiwaha.

Keyakinan tentang indogami dan eksogami adalah ditentukan oleh nilai-nilai paternalistik Sang Raden – yang kemudian bergelar Tumenggung, Adipati, pangeran dan Susuhunan. Bahwa Selir dan tragedi perseliran sifatnya tantramuni-anjali, bahwa siapa calon istri utama (garwa padmi) siapa selir (ampeyan) itu hak sepenuhnya dan mutlak di tangan pria yang identik dengan Dewa Kama Rajamandala.

Sedang dalam dua buku bergengsi Over de Oorsprong van hey Javaansche Toneel dan Panji, The Cultural Hero, A structuralstudy of Religion in Java, William Huibert Rassers, menegaskan: bahwa selain masalah selir berdasarkan konsep negararatuweni, yakni bahwa potensi dari akar problema kerumahtanggaan berdasarkan pepakem alur-winih-jalanti yang dipetik dari dasar pemikiran sedari zaman Kediri dan Jenggalamanik yang kemudian dileluri oleh Singasari dan Majapahit.

Alur-winih-jalanti tadi termaktub dalam Anglur Estri Wijayanti, yang dasarnya adalah stri-Nareswari yang telah ditulis oleh Raja Erlangga sendiri (948-1003) yang dibantu Mpu Bharada. Pada zaman ketika Jayanegara hendak wafat 9 tahun 1292) maka ia mengirim ekspedisi Pamalyu ke negeri sekitar Selat Malaka dam Lautan Hindia dan kitab “Hariharandaru-murti” telah disebarkan luas antara lain mengatur perkawinan raja-raja Jawa dan Melayu, kepahlawanan Panji dilukiskan saat Raja Kediri Kameswara bertahta, maka Permaisuri bernama Dewi Sekartaji (Kirana Ratu) dan di samping itu terdapat sejumlah istri: Angreni, Waragamit, Tulungtaris dan lain-lain.

Sex Para Selir: Kesepakatan yang diterima oleh para putri yang diatur agar posisi mereka harmonis dan stabil, maka perantara itu bernama: Hannuradikawineya-matik-pranantitis atau bagaimana raja perwira sanggup menempatkan tata letak yang harmonis para istri, dan bagaimana semua itu menjadi hambangun-turut susilastuti adiwiwaha.

Sementara itu di Tanah Jawa yang semula terangkum dalam Javantara, Jambudipa, Swarnadwipa (Sumatra) dan Lokandayawerti (daerah luar jawa) maka kita melihat konsep selir cenderung pada nilai-nilai demokratis yang saling membutuhkan demi terselenggaranya asmaragama (hubungan seksual).

Apabila di atas tersingkap wawasan Douwes Dekker yang melihat bahwa konsep perkawinan (di mana selir-menyelir tak bisa ditinggalkan) maka nilai-nilai kepuasan personal menjadi suatu harapan total dan prinsip buat awetnya program tata sastra yang harus berlangsung secara sempurna.

Dengan demikian, adanya komposisi-komposisi kepuasan hati, kegembiraan sukma dan bukan hanya kenikmatan seksual sudah barang tentu mengikuti bagaimana wacana spiritual haruslah lebih berbobot ketimbang hasrat birahi, hasrat tubuh daging semata. Dengan demikian dikehendaki adanya keselarasan dari sukma, olah tubuh, rasa rindu, regenerasi utuh, otot yang tentunya dapat mengarut arah lajunya poligami ini. Aktivitas apa pun yang didorong oleh sebuah kemuliaan prima insani lebih menonjol, ketimbang hanya persepsi sensasional yang naif semata.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati