Minggu, 16 November 2008

MENGADA BERSAMA JOSTEIN GAARDER

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=72


“Untuk mengada, kita tidak hanya mendapat jatah tempat. Kita juga punya rentang waktu yang sudah ditetapkan.” (Jostein Gaarder).

Pun bagaimana, dunia diciptakan melewati pengadaan, semisal mengawali tulisan yang menggelora. Segala yang terbentang kemudian, ternyata bukan endapan dalam, juga tidak sedari rentetan panjang penalaran. Kadang keseluruan mendadak meloncat dari fikiran-perasaan yang sempat terbangun, yang tidak sanggup mengikuti gerakan peredarannya. Semua mengarus entah dinamai mengada, atau tidak masuk akal. Jelasnya, penambahan tiba-tiba itu tidak adanya suatu tingkat penurunan dalam. Tarian tidak pernah direncanakan, membumbung memusar bersama angin menaikkan daun-daun harapan, menuju jarak lebih tinggi tiada perhitungan. Kecuali kejadian yang sama, dapat menilai balik atas apa yang terbangun itu.

Andai diendapkan secara logis pemikiran awalnya, pun terketahui dapat dihitung melalui penalaran. Tidakkah seluruhnya berpijak di kaki realitas kerja, atau ternyata kebenaran umum seringkali tidak digunakan, dengan apa yang sebenarnya memberi harapan baik. Sisi lain, pengadaan tidak masuk akal sejenis ngelamun ke dataran logis. Kalau sampai waktunya tepat, ruang yang menebarkan bentangan mengada, menjelma gugusan kekinian. Atau suatu awalnya rahasia, tidak lagi tertutup jikalau sudah dituwangkan. Lebih jauh, kebohongan yang terus membangun sarana kenyamanan, suatu saat menjadi realitas penentu, meski tidak lagi dipercaya.

Pun kepercayaan muncul tidak semata-mata iman, kadang juga berangkat dari kebiasaan. Tepatnya dapat merealisasikan kebohongan menjadi yang bisa diterima atas tindakan pemaafan. Namun seharusnya meneruskan hal baik, menghapus kebohongan diganti realitas kebenaran. Menggagalkan perencanaan mengada-ada yang niscaya nanti terbuang. Ini sebuah kerja besar, mengembangkan misi pelestarian lebih jauh memberi manfaat, dari pemahaman umum yang kurang tepat sebelumnya.

Tidakkah berkarya itu usaha pengadaan dari sebelumnya? Meski kadangkala sama yang sudah ada, tetapi ukuran pengadaan tentu berbeda dari realitas berangkatnya. Daya mengada ialah membangun dunia lain yang sebelumnya durung tercipta, logika yang tergunakan sejenis ramalan sebagai saksi masa depan. Ia menempati diri selalu ada, dan sanggup ke tempat yang mengadakan adanya kebenaran, bukannya kerja pembenaran.

Pengadaan hadir, bermodalkan kekayaan jiwa atas agresif menelaah realitas menjadi nalar-nalar karya. Itu bertambah kuku diterima jikalau ungkapannya meleburkan ruang-waktu lampau-kekinian, serta yang sedang terkerjakan. Ini membutuhkan banyak pengalaman, mentransfer data logika kekinian, dimasukkan pada realitas masa depan tanpa adanya ketimpangan. Tentunya banyak kendala di dalam memperbaiki campuran warna realitas yang ada, dan yang sedang disuntuki.

Pengadaan dapat dinamakan kebohongan realitas ke depan, jika terlampau jauh membentangkan logika kekinian yang paling halus dan tak tertangkap. Tetapi bukan membohongi realitas kekinian dengan kerja menyamping, melepas ikatan data lain untuk dunia samping. Atau bukan kerja menutupi realitas kekinian dengan realitas masa depan yang tertandakan. Keterangan singkat di atas bisa dimengerti, tidak luput dari benang yang sedang ditarik, peganglah benang itu terus dari titik pertama menuju selanjutnya, jangan sampai luput melepaskan rasa.

Waktu-waktu yang sudah ditetapkan ini ruh kesemangatan alokasikan data pengadaan. Membangun bertempat waktu, seperti memberikan seorang yang berbakat suatu pekerjakan. Jika kita bersenyum tanggung terlampu kenes, akan mengakibatkan jalinan erat itu terlepas atas mimpi yang sedang terbangun. Maka laksanakan perjalanan, dan semua orang menyaksikanmu menjadi tuan rumah di kediaman mereka, masuk ke bilik keakraban bersama. Apa yang tergantung, ternyata telah matang untuk dipetik seusia harapan.

Keterangan ini lebih menggairahkan ketika pohon berusia tua, akar masa-masa gagasan yang tertanam semakin menancap di sela-sela tanah pemikiran insan. Kita hanya meminta sejumput cairan kesempatan, duduk sejenak mengalirkan dari yang mereka harapkan. Pengadaan telah meruang-waktu di setiap jengkal keberadaannya. Nafas nyawa membaur pada getar perasaan perindu kedatangan bertepat masa, kalau sekiranya membutuhkan tetembangan. Kita adakan perjamuan bathin, jiwa-jiwa mengisi waktu berperedaran seksama.

Nafas-nafas ingin mengada pun dapat dirasa, sejauh memburu menelusup ke jantung punya masa, generasi yang ditinggal telah lebur bersama udara semesta. Rasa syukur dirasa di segenap sendi persetubuhan ruang-waktu yang terus dijalankan kehendak realitas kerja. Pengadaan menjadi usia terus disebut kepada kurun masa dalam daerah yang dulunya tidak pernah terkira, sebab hasrat yang lalu itu pengembangan, mereka mendapati diri dalam kepenuhan memberi. Maka sebaiknya perlakukan jiwa dengan jarak dilebur pada kurun masa tak terkira, semisal senja yang tidak terbatas menenggelamnya matahari, mereka menikmati dalam kapasitas yang berbeda.

Harus terus melangkah, walau kalimat yang dipergunakan tidak lagi bermakna kentara, saat jalan-jalan dilalui, mereka tentu mendapati gerak memberi penambahan tidak sekadar banyak. Ada pelajaran menghentikan cerita ialah awal sebuah impian bersama disaat lelah, kita membaringkan kelelahan bersama mimpi-mimpi lama. Di sini tiada usaha hipnotis jika sekiranya jeli melangkah, pun dapat menerima sebagai kehendak yang harus diperturutkan. Ini hasrat menghidupi pengelana waktu, mengadakan yang benar ada dalam bingkai kepribadian. Perbaikan dilakukan bukan pembuangan maksud terselubung dari kekurangan ajaran, lebih tepatnya menumpuk persoalan, agar tambah akurat saat disantap.

Prosesi pengadaan seakan tidak tersangkakan datangnya, terus menerima sebagai kekayaan jiwa mengembangkan pengadaan. Bukan berarti menambal hal yang kurang manusiawi, tetapi berkelanjut kelenjar-kelenjar memproduksi diri, menjadi bagian semua orang bisa menikmati tanpa merasa kehilangan. Dan bernafaslah lebih dalam, agar mengetahui sejauh mana pengadaan melewati perjalanan, kini tengah menjadi realitas bersama, mengadakan diri yang telah hilang. Ini keberadan sejati, ketika tanpa sungkan menerima pengadaan yang meringankan, meski mengada di setiap waktu kedudukan yang tertanggung.

Perlu digaris bawahi, ini bukan tindakan ketidakikhlasan pamer, sebab pengadaan hadir bukan atas kehendak itu, ketulusannya tercermin pada kerja tanpa meminta. Dan kebetulan-kebetulan menghadirkan pengadaan menjadi kepemilikan lebih. Salam damai bagimu yang mengadakan ke pengadaan dunia, sebagai pengisian tak sia-sia. Pengembangan dari yang sudah ada, realitas sejarah tergenggam di tangan yang awalnya tidak siapa pun tahu kecuali yang suntuk mempelajarinya di hadapan diri mengada. Maka rayakan kesadaran terus mengada dari yang sejatinya ada. Itu jalan takdir yang terjawab, yang tampak di setiap hari terlewati. Kebiasaan hadir di depan kita, seringkali tidak diperhatikan sebagai hal yang ada. Ini usaha tidak terasa mengadakan hal lebih dari jalan realitas yang sering terlewati.

Membongkar diri mengetengahkan di depan cermin, usaha kritik menggagalkan pengadaan semu, jelas memperoleh banyak yang bukan sekadar masa depan, tetapi juga realitas kegagalan. Olehnya kudu membaca ulang atas kehadiran diri, agar kesadaran yang ada tidak selintas. Dari pembacaan ulang, menghadirkan diri di persidangan, penghakiman nampak bisa menghilangkah pengadaan. Di pihak lain, kegagalan ternyata membentuk suatu pengadaan lebih realistis dari sebuah kebenaran. Dari sini diketahui, pembentuk pengadaan kokoh dari bahan senyatanya atas pengadaan, saling topang memberi makna jalinan kerjasama, mengada realitas dari kehadiran tidak nyambung. Tiada bentuk sesalan mengada, yang tidak sambung serta abstaktif pun membentuk kesamaan ada, sedari tonjolan gagasan. Pengadaan memang ada dan senantiasa ada.

Tidak harus melepaskan waktu sedetik pun, meski kehadiran mengada tidak nyambung, dengan terus mengerjakan yang sedang diadakan, formulasi kehendak lewat diterjemahkan sebagai muatan kapal, pelestarian bentuk tanggung jawab. Daya pengadaan itu kerja kemerdekaan, membebaskan diri atas belenggu ruang-waktu kekinian, membeletat hal esok untuk dikerjakan kini. Akan menghadirkan dirinya pada rana kemenjadian, sadar membangun diri setingginya, serempak naik menjalankan pengadaan sebagai kepemilikian. Terusannya menjadi manfaat kekinian serta mendapat kedudukan esok tersebab hikmah pengadaan. Kekayaan proses menuai laba, saat diperturutkan pengadaan kesadaran merefleksi kenangan, dengan kepemilikan murni, nilai yang terbangun dengan kesungguhan.

Lebih lanjut Jostein Gaarder menuturkan (dalam novelnya The Orange Girl, bahwa): “Orang tua sering kelihatan punya waktu yang lebih banyak daripada anak kecil yang punya seluruh kehidupan di depannya.” Pengadaan sejak kanak, perumpamakan tingkah laku pengandaian mencapai dewasa. Semisal bocah-bocah bermain pasar-pasaran, atau jual beli berbahan pelepah pisang, perang-perangan, persandiwaraan dari mengambil watak-watak orang dewasa. Pengadaan bersama kegembiraan penuh dalam mengisi masa permainan, diajak suntuk melakonkan, hingga menemukan diri sebelum dikerjakan bersama usia sepantasnya. Bukan berarti pengadaan itu laku ketidakpantasan, bukan pula mengkotak-kotak dunia sebenarnya ke dalam karya. Tapi sebaliknya, pengkayaan yang sudah ada, yang belum tertemukan oleh keterbatasan nalar, akan sampai mendapati lebih jauh segar, membuka kemungkinan seluas-luasnya tanpa merasa serba salah, sebab dunia di depan menjadi penerjemah ketika langkah pengadaan.

Saat menterjemah suatu peristiwa dengan beberapa pemaknaan, di situ dunianya dikembangkan. Hasil dari jarak pandang tertempuh menjadi kepemilikan secara kejiwaan, dan kelapangan wawasan memperoleh fungsi atas pergulatan menghidupi, melengkapi realitas yang sudah ada. Melampaui tebing curam ketidakrelaan, sebab pengadaan menuntun keiklasan setiap langkah kerjanya, seperti burung mencipta sarang bagi anak-anaknya, sebagai mimpi harapan terlaksanakan. Ini kerja kegembiraan berkumandang, menari di setiap kucuran keringat berupa gagasan baru yang bertambah bening, kian masa membanjiri nalar-nalar penciptaan. Pengadaan itu dunia inti pengarang yang memegang realitas. Sebagaimana Jostein Gaarden berkata: “Meskipun aku selalu gampang dibawa hanyut imajinasiku, aku masilah seorang yang rasional.”

Pengadaan bukan menanggalkan kerja nalar, tetapi jauh menuntut kerjanya dengan sungguh-sungguh membentangi alur gagasan membumi, ini payung awan yang menurunkan hujan pencerahan. Kesuntukan nalar berkelanjutan seperti kereta api melewati relnya tidak berhenti kecuali di stasiun endapan, dilanjutkan meneruskan langkah, berfikir-merasai yang sedang diemban, mengisi masa penantian kepada akhir kematian. Pengadaan mengisi relung hidup, menggerakkan peradaban. Keseluruhan prosesi hayat sedari kecil ke pengakhiran, meniti beratkan mengunyah makna menebarkan benih hikmah.

Pengadaan mencukupkan modal yang ada, berbuat manfaat dengan merampingkan yang termiliki demi wahana memberi tanggul bertambah tangguh dari aliran yang terterima, tepatnya bukan keluar lantas muspro. Pengadaan mengencangkan ikat pinggang, membaca buku sekadarnya, jika tidak memaknai kecuali memberi warna. Pengadaan menuntut efektif-efisien kerja dalam kemanfaatan, dan roda perputaran hidup berfungsi tidak lepas rantai.

Pengadaan serupa merevisi analisa, sehingga yang terjadi nanti, masuk pada bahasan logika yang niscaya, mengikat sesuatu yang kendor sebagai acara perbaikan, sebab racun yang ditimbulkan mengada itu kadang muncul berlebihan. Olehnya harus menjembatani pengadaan dengan yang dibutuhkan. Dan pengadaan itu meramu materi-materi logis menjadi pengkayaan bathin, sehingga ketika telah digodok dalam kejiwaan, suatu saat lahir membuncak seperti hal yang tidak tersangkakan, menjelma istilah kekayaan tersembunyi.

*) Pengelana dari desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim
16 Juni 2006.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati