Kamis, 13 November 2008

KOMEDI SATIRIS PRESIDEN PENYAIR

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sutardji Calzoum Bachri, Hujan Menulis Ayam, Magelang: Indonesia Tera, 2001, xiv + 94 halaman.

Presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, yang jabatan kepresidenannya dilekatkan sendiri, tanpa Sidang Istimewa, memang lebih dikenal lantaran kepenyairannya yang khas, cerdas dan kadangkala nyeleneh. Gebrakannya lewat antologi O Amuk Kapak (1981) telah menempatkannya sebagai pendobrak peta puisi Indonesia tahun 1970-an. Membaca antologinya itu, orang mesti berkerut dahi, mungkin juga dengan geleng kepala.

Ternyata, sebagai cerpenis, ia dapat menyesuaikan dirinya ke dalam kotak itu. Dalam kumpulan cerpennya, Hujan Menulis Ayam, Sutardji menyajikan sesuatu yang sama sekali berbeda dengan antologi puisinya. Ia kini menjadi seseorang yang sensitif dalam persoalan yang menyangkut manusia dan terasa begitu sentimental. Bahkan, ia seperti bermain-main, tak serius. Ia pun tidak liar mengumbar imajinasinya, sangat cair dalam pengisahannya, dan enteng saja mengikuti alur persoalan yang disajikannya. Jadi, meski judul antologi cerpen ini tidak mengikuti aturan logika bahasa, rupanya itu sekadar siasat belaka. Kita di situ kadang kala justru disuguhi serangkaian gurauan. Inilah komedi satiris model presiden penyair.

Bahwa dalam Pengantar Penerbit ada pernyataan: “Maka, Hujan Menulis Ayam ini merupakan pendobrakan selanjutnya dari Sutardji Calzoum Bachri terhadap sejarah sastra yang selama ini membingkai dan mengurung dirinya sendiri” (hlm. viii), kita tentu saja tidak perlu serta-merta mempercayainya. Dalam hal apa antologi cerpen ini dianggap sebagai pendobrak? Sesungguhnya, antologi cerpen ini tidak jauh berbeda dengan cerpen lain yang banyak berserakan dan dengan mudah dapat kita jumpai di mana-mana. Ia juga tampak jelas tak berpretensi hendak membangun sebuah mainstream. Tak ada pula kredo pemberontakan. Lalu, apanya yang khas?

Walaupun begitu, mesti diakui, tidak percuma Sutardji mengklaim dirinya sebagai presiden penyair jika ia tak nyeleneh. Antologi ini pun, masih memperlihatkan style yang khas, yaitu sebuah komedi satiris yang disampaikan secara enteng dan mengalir lancar. Maka, kesan kuat yang dapat kita tangkap dalam antologi ini adalah semangat bergurau melalui cerita. Lewat cara itu, kita digiring ke sana ke mari, dibawa ke berbagai peristiwa keseharian yang sebenarnya tidak begitu asing lagi. Ditarik ke dalam problem manusia yang tak penting, sangat individual, dan tidak luar biasa. Ringkasnya, secara tematis, antologi cerpen ini berbicara tentang berbagai peristiwa yang terjadi di sekeliling kita. Dalam hal ini, tampak pula, Tardji sengaja tidak mempedulikan tema. Ia sekadar bercerita; tentang apa dan bagaimana akhirnya, juga tidak menjadi persoalan penting lagi.

***

Ada sembilan cerpen dalam antologi ini. Semua berkisah tentang persoalan remeh-temeh. Meskipun begitu, manakala segala peristiwa keseharian itu ditempatkan ke dalam konteks hakikat kemanusiaan, ia menyadarkan kita, betapa di balik tetek-bengek dan persoalan sepele yang sering kita abaikan itu, tersimpan masalah manusia dan kemanusiaan yang dahsyat. Di balik tampilnya tokoh-tokoh orang biasa yang melahirkan peristiwa biasa itu, justru tersimpan persoalan manusia yang paling mendasar. Periksa saja, misalnya, cerpen “Tahi”. Bagaimana kekariban dengan lapar dan kelaparan yang memuncak, telah memporakporandakan pikiran waras seseorang. Sebuah paradoks yang mengiris berhasil disuguhkan, meski terkesan seolah-olah ia sedang bergurau.

Tema sejenis, juga tampak dalam cerpen “Ayam”. Kisah tentang bangkai ayam ini pun, pada awalnya disampaikan secara bergurau: kejengkelan memelihara ayam, kebiasaan para penghuni kompleks perumahan sampai ke orang-orang yang mengais-ngais pekerjaan. Belakangan, kita sadar, di sebalik itu, tersembunyi kegetiran luar biasa atas nasib orang-orang yang terpinggirkan. Ada nada satire di sana. Dan Tardji enteng saja bercerita, seolah-olah itu bukan persoalan yang perlu dipikirkan.

Nada komedi satiris dengan tema yang berbeda, tampak dalam beberapa cerpennya yang lain. Cerpen “Di Kebun Binatang” misalnya, mengajak kita untuk merenungi naluri-naluri aneh kita. Sepasang remaja yang bercinta, anak-anak yang gelutan, dan orang tua yang menikmati hari dengan anjingnya. Semua terjadi di kebun binatang. Ada satire di sana. Kebun binatang telah beralih fungsi: untuk bermain anak-anak, bercinta para remaja, dan orang tua yang menghabiskan waktunya. Bahkan lebih aneh lagi, orang tua itu membawa binatang ke kebun binatang.

Lain lagi dengan cerpen “Suatu Malam Suatu Warung”. Tiga anak muda berhadapan dengan dua perempuan tua; yang satu pelacur yang sudah tak laku lantaran ketuaannya dan satunya lagi apkiran pelacur yang beralih profesi dengan membuka warung. Lalu, apa yang terjadi di sana? Kekosongan! Obrolan ketiga anak muda, hidup hari-hari si tukang warung, dan harapan pelacur tua, jatuh pada muara yang sama: kesia-siaan! Itulah satire yang disajikan secara paradoksal. Kekosongan telah menyergap hari-hari kedua perempuan tua itu dan kekosongan itu pula yang mengisi rentang waktu setahun ketiga anak muda.

Cerpen “Menulis” juga disajikan dengan komedi satiris. Seperti juga cerpen-cerpen lainnya, Tardji mengawalinya dengan persoalan sederhana: tentang ayahnya yang penulis dan mesin ketiknya. Cerita kemudian mengalir begitu saja, tentang pacar, mahasiswa kutu buku tetangga kamarnya, dan Mina, anak gadis tempat si tokoh aku kost. Meski begitu, dari ke-9 cerpen dalam antologi ini, cerpen inilah agaknya yang paling menggambarkan sikap kepengarangan Tardji. “Aku mau menulis yang kecil-kecil agar aku tak kebesaran pada dunia. Aku harus kuat pada dunia tanpa menjadi kebesaran padanya.” (hlm. 60). Maka, mahasiswa kutu buku itu pun akhirnya takjub, Mina terbebas dari penjara perasaannya sendiri, dan si tokoh aku “telah memenangkan diriku di depan manusia tanpa kebesaran dan kekecilan.” (hlm. 62).

***

Di luar persoalan tematis itu, antologi cerpen ini, sungguh kaya dengan majas. Gaya bahasanya sarat dengan nada yang sangat puitis. Cerpen pertama, “Hujan” dan cerpen terakhir, “Pada Terangnya Bulan” misalnya, memperlihatkan kepiawaian Tardji dalam mengolah deskripsi-naratif menjadi deskripsi-puitik. Dengan cara demikian, tema apapun yang diangkat, sederhana atau kompleksnya persoalan, menjadi tidak penting lagi. Dalam konteks itu, barang kali juga, Tardji hendak menegaskan, bahwa apapun, dapat menjadi cerpen. Dengan kata lain, cerpen atau karya sastra apapun, dapat berangkat dari peristiwa apa saja. Masalahnya tinggal, bagaimana sastrawan mengolah dan menyajikannya menjadi sebuah karya yang cerdas, menjadi karya yang memperlihatkan kepiawaian sastrawannya.

(Maman S. Mahayana, Staf Pengajar FSUI, Depok).

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati