Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2012

Sam Pik – Ing Tay, Satu-satunya pengaruh Sastra Cina dalam Sastra Bali

IDG Windhu Sancaya
http://balipost.com/

…., pegat jani caritayang, dadi nampi dina Cing Bing// Masan anak masembahyang, ka kuburan, muride telah mapamit, kewala sang kalih enu, Sam Pik sareng Ni Nyonyah, madabdaban jani lwas manganggur, ada taman, kema lakuna malali.

Demikianlah bunyi salah satu adegan dalam Geguritan Sam Pik,–sebuah cerita yang berasal dari negeri China. Cerita tersebut digubah ke dalam bahasa Bali oleh Ida Ketut Sari dari Grya Sanur pada tahun 1915, hampir satu abad yang silam. Sumber penulisan Geguritan Sam Pik tersebut adalah sebuah cerita yang ditulis dalam bahasa Melayu oleh Boen Sing Hoo pada tahun 1885 Masehi,

Membo-membo Jadi Iblis di Kediri *

: Membaca Buku ‘Sekumpulan Sajak Pesantren’ bertitel “Jadzab”
Nurel Javissyarqi **
http://sastra-indonesia.com/

Dua tahun lalu pertengahan Ramadhan saya ke sini, tepatnya mengikuti kawan-kawan Kutub (para santrinya almarhum Gus Zainal Arifin Thoha); Muhammadun AS, Salman Rusydie Anwar, A. Yusrianto Elga, di antaranya agak lupa siapa saja pengisi pelatihan kepenulisan di Lirboyo, setelah itu ziarah ke makam Gus Zainal. Mungkin sepuluh tahun lampau saya di sini sekadar ngopi, seperti ke pesantren lain menikmati alam damainya. Ini mengingatkan saya masuk Pon-Pes. Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang, dua belas tahun lewat, kala menghadap Mbah Mad (Kiai Ahmad Abdul Haq) disaat beliau masih sugeng. Ditanyalah, ‘Kenapa ke pesantren?’ ‘Ingin merasai hawa pesantren,’ ; jawab saya. Dan tiga minggu lalu, ke sana kembali untuk meresapi ketenangan tersebut.

DEMOKRASI TOLOL VERSI SARIDIN

Emha Ainun Nadjib
http://sudisman.blogspot.com/

Saridin bukan tidak sadar dan bukan tanpa perhitungan kenapa dia memilih nyantri ke pondoknya Sunan Kudus. Saridin itu tipe seorang murid yang cerdas dan mengerti apa yang dilakukannya.

Harap dimengerti murid itu bukan padanan kata dari siswa atau student, sebagaimana manusia zaman modern memaknainya secara tolol. Memang manusia dalam kebudayaan dan peradaban modern kerjanya selalu melawak. Mereka lucu, dan bahkan sangat lucu karena mereka sendiri tidak sadar bahwa mereka lucu.

Pengantar Cerpenis Syekh Bejirum dan Rajah Anjing

Fahrudin Nasrulloh
http://sastra-indonesia.com/

Menulis pengantar cerpen? Saya rasa ini lebih berat dibanding membikin cerpen atau tulisan lainnya. Seperti saya dipaksa menapaktilasi detik perdetik dalam ruang dan waktu di setiap cerpen. Menguruti jejak sungguh sesuatu yang rumit dan melelahkan. Tapi itu tampaknya perlu dibuat. Agar saya tidak menciderai pembaca. Meski sebelas cerpen dalam kumpulan ini masih terasa menggeret-geret saya ke entah. Ada rasa longsor. Tenggelam. Gelap dan melenyap pelan-pelan. Cerita-cerita itu seringkali terasa merangsek di malam-malam ketika saya dilimbur kosong. Tapi biarlah mereka terus mengerubungi saya dan sisanya saya serahkan pada waktu dan semacam iman yang saya teguhi dalam berkarya.

RAGAM MANUSKRIP: STUDI MAKNA DAN FUNGSI TEKS SYAIR KANJENG NABI

Agus Sulton
http://sastra-indonesia.com/

Keberagaman isi dari naskah-naskah Nusantara tersebut bisa dijadikan sumber yang otentik dengan merekontruksi situasi dan kondisi yang ada pada peristiwa masa lampau untuk dijadikan jembatan penghubung bagi pemikiran masa kini. Dalam hal ini, naskah lama merupakan dokumen kebudayaan yang merekam berbagai data dan informasi tentang kesejarahan dan kebudayaan daerah yang juga sarat dengan nilai-nilai kehidupan manusia.

Sastra dari Bahasa Yang Rapuh

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Diam-diam, bahasa Indonesia menyimpan problem unik bagi sastra, mirip dongeng: problem kerapuhan. Sejak ditahbiskan sebagai bahasa nasional, terhitung sejak 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia makin hari semakin dewasa, dan megah. Selebihnya adalah kecemasan, kebimbangan, dan pergeseran tiada henti-henti. Penyair W. Haryanto, sarjana lulusan Sastra Indonesia Unair, ikut terlibat di dalamnya. Dan kampungku telah menolak semua peralihanledakan angin, sebentuk sabit; dimana bahasaku (mungkin) tak memberi ruang pada semua lambang, semua kehadiraan (puisi “Peralihan”, 2002).

Sastra dan Sepakbola

Asarpin *
http://sastra-indonesia.com/

Dalam sebuah cerita tentang bola, Ugoran Prasad—cerpenis dan penulis naskah teater kelahiran Lampung—menampilkan sebuah kisah amat sederhana, namun menggugah dan kena. Ugoran begitu pintar mengolok-olok dengan bahasa yang tak terduga, dan mengejutkan.

Sepanjang kompetisi antarkota, sepasang ujung tombak kembar Gunung Terang mengamuk, demi membentang cita-cita tinggi-tinggi. 7 gol untuk sepatu Kaisar, 13 untuk sepatu Tuhan. Begitu juga Asan, yang sebenarnya cukup membuat satu gol saja.

The Beautiful Past: Avant-Garde

Hasan Junus
http://www.riaupos.co/

Keindahan itu seyogianya berada di mana? Di sana dan lusa, di situ dan dulu, atau di sini dan kini? Orang yang mengamalkan The Beautiful Past tentulah seorang yang memeluk erat-erat sikap nostalgia yaitu kerinduan dan keinginan amat besar kepada milik masa lalu. Apabila amalan ini terus dilakukan tiada mengenal henti maka muaranya akan mengerikan sekali. Apa? Nostalgia yang berakumulasi akan mengubah dirinya menjadi neonostalgia, nostalgia kolektif yang akan merempuh apa dan siapa saja yang merintangi jalan demi kerinduan yang entah apa gunanya itu.

Politik Sastra: Sastra Sebagai Barang Biasa

Muhammad Taufiqurrohman *
http://bahas.multiply.com/

Sastra adalah sebuah produk kebudayaan ‘biasa’. Ia adalah makhluk biasa-biasa saja yang lahir dalam sebuah rentang peradaban umat manusia. Sebagaimana produk-produk kebudayaan yang lain —sebut saja politik, ekonomi, hukum dan lain sebagainya— ia datang ke dunia dengan segala karakteristik, kodrat, keperluan, kepentingan, kelemahan juga kekurangan yang dibawanya. Juga saya pikir, sebagai barang ia tak ubahnya tempe penyet, busway, batu-nya ponari, dan laptop.

Perkawanan, Kawabata, dan Novel Terjemahan

Zakky Zulhazmi
http://www.kompasiana.com/zakkyzulhazmi

Di penghujung 2010 yang lalu, pada akhirnya, saya berhasil menamatkan satu novel terjemahan: Keindahan dan Kesedihan (Beauty and Sadness/Utshukushisa To Kanashimi To) karya Yasunari Kawabata. Novel terbitan Jalasutra dengan cover yang menurut saya eksotik ini saya khatamkan kurang dari seminggu. Atas novel ini saya punya cerita tersendiri bagiamana cara memperolehnya. Tapi sebelumnya izinkan saya bercerita bagiamana pandangan saya teradap novel terjemahan.

Dari Korea hingga “ayam” Riau

Fazar Muhardi
http://m.antarariau.com/

Pembukaan acara pertemuan penyair Korea-ASEAN atau Korean-ASEAN “Poets Literature Festival” (KAPLF) ke II di Pekanbaru, Provinsi Riau, Selasa malam, diwarnai paduan penyair dengan ragam bahasa, dari Korea hingga bahasa “ayam” khasnya orang Riau.

Diawal pembukaan, dengan kental sang penyair kawakan asal Korea, Ko Hyeong Ryeol, menguntai kata-kata “mutiara” yang membuat ratusan hadirin dari berbagai negara mulai dari Thailand, Malaysia, Vietnam, Birma, Filipina dan Singapura terpukau dengan sendu.

Leila Chudori Tampil di Festival Sastra Belanda

Ging Ginanjar
http://www.tempo.co/

Dinginnya udara tak menghalangi orang berduyun-duyun mendatangi festival sastra internasional Winternachten di Theatre aan het Spui, Den Haag, Belanda. Festival yang berlangsung empat hari, 19-22 Januari 2011, ini diisi beragam acara mulai dari pertunjukan film, musik, pembacaan puisi, hingga diskusi.

Sastra Cyber Eksklusivitas Apa?

TS Pinang
http://www.facebook.com/ca.fes1

Membaca tulisan penyair Binhad Nurrohmat (BN), Sastra Cyber: Menulis Puisi di Udara (Republika Minggu, 22 Juli 2001), mengingatkan saya pada beberapa tulisan interogatif dan asertif, kadang iritatif, yang muncul menanggapi kehadiran sastra cyber di kehidupan sastra Indonesia kontemporer. Meskipun dalam tulisannya BN juga mengakui potensi medium cyber, kelihatannya BN memposisikan dirinya dalam kelompok yang sinis terhadap sastra cyber dan cuma mengulang asersi-asersi yang telah ditulis orang sebelumnya. Tulisan kecil ini akan mencoba menanggapi tulisan BN tersebut dengan melihat sastra cyber secara lebih positif dan, kalau bisa, tanpa paranoia.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com