Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2009

Puisi-Puisi Goenawan Mohamad

http://www.korantempo.com/
HOLOGRAM

Dari berkas cahaya
yang mungkin tak ada,
kulihat kau:
sebuah hologram,

srimpi tak berjejak,
dari laser yang lelah
dan lantai
separuh ilusi.

Di lorong itu dinding-dinding
kuning gading,
kebun basah hijau,
dan kautaburkan biru

dari kainmu. Bangsal kraton memelukmu.
Waktu itu sore jadi sedikit dingin
karena tak putih lagi
matahari.

Aku tahu kau tak akan
menatapku. Mimpi tiga dimensi
akan cepat hilang,
juga sebaris kalimat yang kulihat

di almari yang gelap:
"Aku tari terakhir yang diberikan,
aku déjà vu
sebelum malam dari Selatan."

Aku tahu kau tak akan
menyentuhku.
Seperti pakis purba di taman itu
kau tawarkan teduh,

juga sedih. Tapi aku merasa
kaupegang tanganku,
seperti dalam kehidupan kita dahulu,
sebelum kau ingatkan

bahwa aku juga
mungkin pergi.
"Bukankah itu yang selamanya terjadi.
Aku seperti waktu, karunia itu."

2009



DI MEJA ITU

Jangan-jangan hijau teh
telah meyakinkan aku: aku melihatmu
di sebuah adegan remeh
di kafe kosong itu.

Rambutmu hitam terlepas,
dan karet gela…

Cinta dan Kebencian terhadap Buku

Saiful Amin Ghofur*
http://www.jawapos.com/

SELUBUNG asap terasa menyesakkan dada ketika pertengahan Februari lalu sekerumunan anak muda yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Kiai (AMPK) dengan amarah yang meradang membakar buku Kiai di Tengah Pusaran Politik: Antara Kuasa dan Petaka karya Ibnu Hajar, di Alun-alun Sumenep. Saya yang mengunjungi serambi kota itu beberapa waktu lalu masih merasakan geram yang mencekam itu.

Tragedi pembakaran tersebut disulut oleh kontroversi substansi buku Ibn Hajar yang dinilai mendiskreditkan eksistensi kiai hanya gara-gara terjerumus ke dalam kubangan politik. Tapi setelah menelaah sendiri, sebenarnya buku itu tak terlalu frontal. Jika ditimbang dengan seksama, buku itu tak lebih kritis dari buku Runtuhnya Singgasana Kiai karya Zainal Arifin Thoha atau Menabur Kharisma Menuai Kuasa, Kiprah Kiai dan Blater sebagai Rezim Kembar di Madura karya Muhammad Rozaki. Tapi, yang jelas, kejadian itu tentu kian memperpanjang gejolak sosial yang disuluh selo…

Cermin Manusia Seutuhnya

Rahmah Maulidia*
http://www.jawapos.com/

Salah satu tujuan pengembangan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah tercapainya manusia Indonesia seutuhnya. Tujuan ini telah menjadi acuan utama bagi setiap proses pendidikan di Tanah Air. Namun sayangnya, konsep manusia Indonesia seutuhnya saat ini kian ''absurd'' di tengah dominasi SDM asing yang merajalela. Indikasi yang terlihat nyata adalah HDI (Human Development Index) manusia Indonesia semakin merosot dari tahun ke tahun.

Buku Full Circle yang ditulis Y.W. Junardy, praktisi profesional yang berpengalaman lebih 35 tahun di dunia korporasi besar, tampaknya ingin menjawab persoalan di atas. Profil dan kompetensi seperti apakah manusia Indonesia seutuhnya itu dikupas Pak Jun (sapaan Junardy) lewat buku ini. Semua dirangkum dalam konsepsi falsafah hidup yang sangat apik, yaitu learn-lead-serve yang sebenarnya hampir sama dengan konsep asah-asuh-asih.

Membuka buku ini ki…

Lukisan Istanbul yang Melankolik

Imam Muhtarom*
http://www.jawapos.com/

Istanbul dan Pamuk merupakan satu kesatuan yang saling membentuk dalam proses kepengarangan Orhan Pamuk. Istanbul dengan latar sejarahnya yang pernah gemilang di bawah Kesultanan Usmani berabad lampau dan mengalami kemunduran di abad ke-20, pada saat Turki perlahan mengubah menjadi republik dan berkiblat ke Eropa; sementara di sisi lain Orhan Pamuk yang mengambil jalan hidup yang berseberangan dengan rata-rata keluarga kaya dengan memilih menjadi pelukis kemudian pengarang. Antara kota yang membentang kesejarahannya dan pilihan hidup Pamuk tersebut bisa dikatakan paduan yang memukau bagi novel-novel karya Orhan Pamuk di kemudian hari.

Apa yang membedakan seseorang yang menjalani kehidupannya sebagai seorang pengarang dan yang bukan pengarang terletak pada kemampuannya menghayati tempat di mana mereka hidup. Bagi yang bukan pengarang, kota sebatas panggung kontestasi ekonomi-politik yang berujung pada seseorang menjadi penghuni kelas yang bermartabat…

Sajak-Sajak Arsyad Indradi

http://www.republika.co.id/
http://arsyadindradi.blogspot.com/
SYAIR GURHAH

Siapa membaca syair gurdah
Di tengah malam ketika bulan memancar
Rumahrumah dan pepohonan pada tafakur
Menyingkap liriklirik yang dihampar angin

Mataku berlinangan membaca diri
Di alun terbang
Dalam dendang doa dan pujian

Bulan memancar
Bulan penuh di dalam dada
Memancar Subhanallah

Kemana kita menyempurnakan harapan
Ke sana kita menghadap menyerahkan diri

Banjrbaru, 2006



SENJA LURUH

Dangau sesak dengan cahaya redupredup
Persawahan yang lama terbengkalai
Dia terhampar di atas tumpukan jerami
Duhai lama nian menunggu
Cepatlah lepaskan tali kehidupan
Cepat ambili

Ruh yang turun di atas bumi
Yang mengandung bau cendana
Menghembus liar di padang banta
Langit berawan habiskan selaksa belalang
Terbang menjelajahi padang ilalang
Ambil daku yang membuat cinta
Yang aku sendiri merindu
Penat tiada terkira
Menanggung dalam raga

Duhai ambilkan semua warna ruhku
Ciuman kasih dan nista
Aku silau dalam cahayaku yang lelah
Burungburung kehilangan pengepak saya…

Sajak-Sajak Acep Zamzam Noor

http://www2.kompas.com/
Sungai dan Muara

Kesepian telah meyakinkan kita
Bahwa setiap sudut bumi menyimpan sisi gelap
Yang berbeda. Dari getar tanganmu aku dapat meraba
Musim dingin tak pernah memadamkan matahari sepenuhnya
Sedang dari mataku kau melihat hujan segera menyusut
Lalu kita berpelukan seperti dua musim yang bertemu
Dalam kesepian yang sama. Kita menyalakan tungku di kamar
Sambil membakar seluruh pakaian dan keyakinan kita
Menjadi asap yang memenuhi ruang dan waktu
Kita tak mengundang salju turun membasahi ranjang
Tapi detik-detik menggenang dari cucuran keringat kita
Kuraba setiap lekuk tubuhmu seperti meraba setiap sudut
Bola dunia. Aku tergelincir di belahan bumi yang landai
Atau terengah di belahan lain yang berbukit-bukit
Lalu kausentuh kemarauku dengan tangan musim semimu
Hingga rumput-rumput menghijau di seluruh tubuhku
Dan kita berciuman seperti bertemunya sungai dan muara
Yang saling mengisi dan sekaligus melepaskan



Menjadi Penyair Lagi

Melva, di Karang Setra, kutemukan helai-helai ramb…

Pagar Emas

A Rodhi Murtadho
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Pagar di depan rumah mulai berkarat. Entah sejak kapan karatan itu mulai menyelimuti besi pagar. Daun yang ada di atasnya selalu saja bergerak. Sejak kapan daun itu berada di sana. Aku tak tahu pasti. Setahun yang lalu, seingatku, belum ada daun yang berada di atas pagar. Selalu saja aku bertanya dalam hati. Daun itukah yang menyebabkan pagar berkarat? Aku semakin bingung dengan pertanyaan yang muncul dalam benakku.

Aku mulai menyentuh pagar. Megingat kembali pemasangan pagar. Besi yang berkilat dan terbaluri cat warna hitam. Dan semua itu aku kerjakan sendiri.

“Pak sedang apa?” Tanya istriku sambil menggendong Rani, anak kami.

Aku mau menjawab. Apa yang sebenarnya kulakukan dan kupikirkan saat itu. Tapi aku ingat Rani, anak perempuanku, yang berada dalam gendongannya. Ingat kebutuhan susunya yang akhir bulan ini belum terpenuhi. Paling tidak, akhir bulan ini, aku harus membeli susunya.

“Tidak apa-apa, hanya menikmati udara segar.”…

Peluncuran Buku “Menoleh Silam Melirik Esok”

Dari Buku ke Perdebatan Lekra-Manikebu

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id

Jakarta-Pertemuan itu sebenarnya bukan pertemuan yang pertama kali sehingga tidak lagi menjadi pertemuan luar biasa.

Mereka, para pembicara, berbeda latar belakang. Seorang di antaranya adalah sastrawan yang aktif di Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, ikatan seniman yang berideologi realisme sosialis) dan kini tinggal di Prancis, JJ Kusni. Seorang lagi, sastrawan penandatangan Manifestasi Kebudayaan di Indonesia, Taufiq Ismail. Moderatornya, Ikranegara, penyair dan penulis–belakangan berperan dalam film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel Andrea Hirata, yang disutradarai Mira Lesmana dan Riri Riza.

Agenda di Teater Utan Kayu (TUK), Jl Utan Kayu, Jakarta (18/2), adalah “Dialog Manifes Kebudayaan dan Lekra” menandai peluncuran buku JJ Kusni bertajuk Menoleh Silam Melirik Esok, terbitan Ultimus Bandung Februari 2009. Buku ini berisi komentarnya di milis selama dia bekerja dan tinggal di Paris, kisa…

Sajak-Sajak Deddy Arsya

http://m.kompas.com/
Toko Serba Lima Ribu

”aku masuki dirimu seperti memasuki toko serba lima ribu. aku
satu set mainan anak-anak, tusuk gigi, dan satu pak pengorek
telinga. ibuku boneka hiu gergaji, ayahku kampak bermata dua
seperti dalam cerita silat di televisi. kau ingin menyebut nama-
nama pemilik bibir yang pernah mengucapkan cinta dan hidup
dalam kenanganmu. tapi orang-orang masuk dan keluar
membawa apa saja menjauh dari pintu.”
”aku pendingan ruangan yang menempel di sudut toko itu.
seseorang, mungkin pelayan yang mengerti isyarat hati, akan
mengganti lagu dari tape di meja kasir dan menyembunyikan
satu peristiwa bunuh diri di kantong belakang. menyalakan
kipas angin di sudut lain dan menggumamkan kematian yang
dingin. tidakkah pendingin ruangan, kipas angin, dan tape di
meja kasir juga bagian yang akan dijual dari dirimu?”
”termasuk yang ingin kau lupakan: peristiwa bunuh diri itu!”
”aku membawa pacarku ke dalam dirimu suatu petang,
berbelanja boneka anjing bermata besar dengan uang pas-
pasan,…

Dipandang Sebelah Mata

Dwi Fitria
http://jurnalnasional.com/

Hingga kini pendidikan sastra belum mendapat perhatian semestinya.

Ada beberapa bacaan wajib yang harus dibaca oleh para siswa sekolah menengah di Amerika. Selain Shakespeare yang tentu saja tak akan dilewatkan, karya-karya klasik semisal A Tale of Two Cities buah pena Charles Dickens, The Scarlett Letter karya Nathaniel Hawthorne hanya sedikit dari bacaan yang wajib dibaca para pelajar sekolah menengah berusia 12-18 tahun di sana.

Tahun 2007 American Library Association (Asosiasi Perpustakaan Amerika) bahkan punya ide untuk menyandingkan buku-buku sastra klasik itu dengan karya-karya sastra yang lebih kontemporer semisal Life of Pi karya Yann Martel, The Kite Runner yang ditulis oleh Khaled Hosseini, atau Night oleh Ellie Wiesel.

Ini mereka lakukan untuk terus memupuk minat baca para siswa, dengan pemikiran bahwa para siswa akan lebih mudah mendalami materi bacaan yang lebih berhubungan dengan kondisi zaman mereka.

Di Indonesia, kondisi pengajaran sas…

Sastra di Antara Komoditas Ilmu

Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/

Lembaga pendidikan formal yang seharusnya memayungi kegiatan pembelajaran sastra di Indonesia nampaknya mengalami stagnansi. Sunu Wasono, Kepala Lektor Fakultas Pengetahuan Ilmu Budaya Universitas Indonesia menguraikan sastra di tingkat sekolah menengah dihimpit oleh sejumlah mata pelajaran yang tidak dapat dikatakan sedikit.

“Lihat anak-anak sekolah sekarang, mereka tiap hari menggendong tas yang berisi buku ke sekolah sampai kelelahan. Mereka harus mengikuti mata pelajaran yang bermacam-macam hingga beban mereka berat. Akibatnya, mereka tidak dapat melahap karya sastra secara maksimal. Mereka harus berbagai waktu dengan mata pelajaran lain yang jumlahnya banyak,” ujarnya saat diwawancarai oleh Jurnal Nasional.

Menurut kritikus sastra Kris Budiman, kondisi pengajaran sastra sejauh ini sangatlah mengecewakan banyak kalangan seperti para sastrawan, pemerhati sastra, masyarakat, siswa dan bahkan juga kalangan guru sastra itu sendiri. Pendidik…

CROWD dan Horizontalisasi di Dunia Sastra

Wahyu Utomo
http://jurnalnasional.com/

SEBUAH media ibu kota beberapa waktu lalu memuat sebuah artikel panjang mengenai fenomena “boom sastrawan”. Media itu menengarai munculnya para sastrawan dalam jumlah yang sangat besar dalam beberapa tahun terakhir. Menariknya, para sastrawan baru itu datang dari berbagai lapisan mulai dari pelajar SMA, mahasiswa, ibu rumah tangga, pembantu rumah tangga, buruh-buruh pabrik, anak jalanan, pedagang pasar, dan sebagainya. Pokoknya semua kalangan, tak hanya para sastrawan kelas pujangga macam: WS Rendra, Danarto, Sutradji Calzoum Bachri, atau Putu Wijaya.

Fenomena munculnya para sastrawan andal dari berbagai kalangan dalam jumlah besar inilah yang saya sebut “horizontalisasi dunia sastra”. Walaupun media tersebut tidak menggunakan istilah tersebut namun fenomena yang ada di dalamnya persis sekali dengan fenomena “Horizontalisasi” yang saya gambarkan di buku saya CROWD “Marketing Becomes Horizontal”.

Tulisan itu dibuka dengan sebuah lead menggelitik seba…

Ramadhan, Menikmati (Lagi) Puisi Ajamuddin Tifani, Sang Sufi dari Alam...

Raudal Tanjung Banua*
http://www.balipost.co.id/

RAMADHAN, saya pikir tidak harus berkutat sebatas kitab suci, tapi sesekali perlulah membongkar kembali koleksi buku-buku dan menikmati muatannya sebagai pesan ilahiah juga. Alhamdulillah, setelah memilih dan memilah beberapa buku, saya dapatkan buku puisi Ajamuddin Tifani, ''Tanah Perjanjian'' (Hasta Mitra-YBS 78, 2005) yang tebalnya hampir 300 halaman. Wah, ini klop, pikir saya, mencari-cari sembarang bacaan akhirnya dapat puisi sufi!

Ketika membuat catatan ini, tentu saja saya sadar sudah cukup sering karya-karya Ajamuddin Tifani dibahas, khususnya oleh sastrawan/ kritikus di Kalimantan Selatan, dan lebih khusus lagi dalam konteks nilai sufistiknya. Tapi tak apa, pikir saya, setidaknya saya menuliskannya selagi bulan Ramadhan, di mana pembacaan ulang atas puisi-puisi sufi Tifani terasa khas, kalau bukan aktual. Walaupun secara muatan, risikonya saya hanya sekadar mengulang. Maafkan.

Sembari membolak-balik buku hard-cover …

Puisi-Puisi Abidah El Khalieqy

http://sastrakarta.multiply.com/
KERAJAAN SUNYI

Syair malamku
ke Sinai aku menuju
Tak terbayang kerinduan melaut
tak terpermai kesunyian memagut

Seperti bumi padang sahara
haus dan lapar mengecap di bibir
merengkuh mimpi saat madu terkepung lebah
kekosongan dalam tetirah

Padang padang membentang
melahap tubuhku tanpa tulang
dan kesana alamat kucari

Kerajaan Sunyi

2000



AKU HADIR

Aku perempuan yang menyeberangi zaman
membara tanganku menggenggam pusaka
suara diam
menyaksikan pertempuran memperanakkan tahta
raja raja memecahkan wajah
silsilah kekuasaan

Aku perempuan yang merakit titian
menabur lahar berapi di bukit sunyi
membentangkan impian di ladang ladang mati
musik gelisah dari kerak bumi

Aku perempuan yang hadir dan mengalir
membawa kemudi
panji matahari

Aku perempuan yang kembali
dan berkemas pergi

1991



PEREMPUAN YANG IBU

Perempuan yang ibu tak kan lahir
dari rahim bumi belepotan lumpur dan nanah
nurani berselubung cadar kegelapan
dan pekat bersama harapan
terkapar

Perempuan yang ibu lahir
dari buaian cakrawala
dari uk…

DASA KANTA; Puisi-Puisi Bakdi Sumanto

http://sastrakarta.multiply.com/
DASA KANTA

1. TIKAR

Dengan tegas tegar
Kita menyatakan
Bahwa kita ini tikar
Orang-orang tua duduk berdoa
Orang-orang muda bercanda
Mudi-muda ciuman
Yang berselingkuh berdekapan
Dan berbadan
Pencuri menghitung curian
Koruptor berbagi hasil
Dengan kroni dan koleganya
Guru menilai pekerjaan siswa
Ahli bahasa mencari kesalahan karya-karya
Bayi-bayi ngompol
Balita-balita ek-ek
Penyair-penyair jongkok sambil ngrokok
Aktor-aktor latihan gerak indah
Pelukis-pelukis nglamun
Politikus cari akal mendepak teman seiring
Anggota DPR bikin rencana naikkan gaji
Dan studi banding ke luar negeri
Lalu, para penjudi membanting kartu-kartu

Kita ini tikar
Ketika datang kasur
Tikar akan segera digulung-gusur
Dibakar atau dibuang ke tong sampah
Dan dilupakan oleh sejarah

Oberlin, Okt 1986



2. HUJAN

Hujan tak turun
Ketika petani memerlukan air
Tetapi air tetap mengucur
Dari pori-pori tubuhnya
Membasah pada kaos
Yang sudah tiga hari
Tak dicuci air

Sekali air disuntak dari langit
Dan di sawah & ladang
Terjadi banjir…

Lintang Widodareni

Rita Zahara
http://oase.kompas.com/

Lintang Widodareni M.Hum menikah dengan Rangga Pakusadewo M.A. 15 Februari 2003 pukul 08.00 WIB. Kupandangi tulisan bertinta emas itu di atas kertas undangan berwarna coklat muda.

“Ehmmmm”, kucium kertas itu dalam-dalam. Aroma parfum menyegarkan menusuk saraf-saraf hidungku. Kututup mata, kulambungkan khayalan. Diam-diam aku menikmati angan-angan. Ya, angan-angan, yang sebentar lagi menjadi kenyataan. Angan-angan yang indah dan wangi seperti kertas undangan itu.

Rangga Pakusadewo, Mas Dewo aku memanggilnya. Akhirnya akan menjadi suamiku. Dulu aku nyaris berputus asa kalau aku tak kan pernah memperoleh laki-laki seperti dia.

Cerdas, kritis, tidak neko-neko, sederhana, dan tidak sombong. Entah apa yang bisa menyatukan kami, yang jelas kami punya kesukaan yang sama yaitu berdiskusi.

Bagiku ini keputusan yang terlalu cepat. Menikah, setelah kami saling kenal kurang lebih enam bulan. Selama itu pula tak ada ritual khusus bagi kami sebagaimana biasanya orang …

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com