Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2010

Ben Okri Dan Penyair Tulen

Nurel Javissyarqi
http://sastrarevolusioner.blogspot.com/

Penyair dipertentangkan dengan dunia, karena ia tak dapat menerima segala yang tampak sebagaimana apa adanya (Ben Okri).

Penyair hadir dari kegelisahan menggila atas beban lingkungannya; ladang di mana dirinya menemukan benturan hebat, di hadapannya rumusan hidup tiada yang becus, wewarna sengkarut. Namun tatkala melihat langit biru peroleh rongga pernafasannya lega, awan beterbangan sewujud pergerakan sosial, peradaban bertumpuk-tumpuk. Dan saat angin menghampiri didapati abad silam-semilam memberi kabar, lantas turun balik peroleh kekacauan yang sedikit jinak.

Maka diteruskan kembara memasuki gelombang hayati mengendarai ombak perasaan sesama, bertemu tebing curam mata-mata di tengah laluan pun jurang terjal pandangan sinis antar manusia. Ia melangkah seolah tak berjejak juga tiada bayangan, dalam keadaan itulah mengenal kata-kata.

Ia bayang-bayang berlarian dari awan tubuhnya, menggembol kesedihan teramat sangat akan nasib bermak…

Jalan Teater, Ketunggalan atau Keberagaman?*

Halim HD**
http://www.kompas.com/

KENAPA teater tidak pernah surut dari kehidupan kaum muda, dan kenapa pula jalan itu yang menjadi pilihan bagi mereka untuk mencari dan menyatakan diri mereka? Hidup tampaknya bukan hanya untuk mencari pengisi sejengkal perut di antara kesulitan hidup dan jejalan iklan konsumtif yang selalu menggoda yang ada pada semua ruang. Namun, di situ pula saya menyaksikan, dengan rasa heran yang tak pernah selesai, luapan energi yang menggelegak yang tak pernah sirna dari kedalaman diri kaum muda yang menggabungkan energi mereka ke dalam berbagai grup teater: pencarian diri. Maka, teater menjadi suatu kawah yang menggodok diri mereka ke dalam gabungan arus energi yang tak pernah henti, yang mereka salurkan pula ke dalam kehidupan kemasyarakatan dan dalam proses kebudayaan.

Secara individual dan secara psikologis, teater bisa menjadi suatu proses dari pematangan seseorang kepada pilihan hidupnya yang akan datang; dia menjadi rentangan waktu dalam proses pengujian b…

Memerdekakan Teater Indonesia

Cornelius Helmy Herlambang
http://m.kompas.com/

Eksistensi teater payung hitam kembali diuji dalam pementasan Puisi Tubuh yang Runtuh di Gedung Kesenian Sunan Ambu, Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung, akhir pekan lalu. Teater hitam kembali mengekplorasi gerakan tubuh minim kata-kata sebagai pamungkas perayaan ulang tahun y ang ke-27 bertema Memerdekakan Teater Indonesia.

Kali ini, teater yang didirikan Sis Triaji, Nandi Riffandi, Budi Sobar, dan Rachman Sabur ini mengajak penonton bangga dengan produksi mandiri dengan mengesampingkan naskah teater asing. Teater ini kembali mengekplorasi gerakan tubuh minim kata-kata sebagai pamungkas perayaan ulang tahunnya yang ke-27. Hal itu ditunjukan dengan hentakan kaki, pukulan berulang-ulang pada tubuh, dan sentuhan antar pemain.

Selain pementasan teater, diadakan juga diskusi bertema Memerdekakan Teater Indonesia, Pementasan Zetan karya Putu Wijaya, dan Tubuh Ruang Meja Merah Tumbuh Batu Bunga karya Tony Broer.

Adegan dibuka dengan kerlap kerli…

Dari Tubuh Menuju Teks

Grathia Pitaloka
http://jurnalnasional.com/

Seorang perempuan menelungkupkan kepala di atas meja. Dari mulutnya terlontar igauan-igauan keras mengenai grafik pemeliharaan, grafik penghancuran, rencana regional, rencana tata ruang, konstruksi pembangunan negara-negara miskin.

Perempuan bernama Fitri itu seolah menjadi potret kegilaan kehidupan kota besar. Tekanan hidup membuat dia dan sebagian besar manusia urban lainnya merasa teralienasi bahkan oleh masa lalunya sendiri.

Untuk mengisi ceruk hati yang kosong mereka membentuk sebuah percintaan banyak segi. Meski tahu itu bukan bentuk ideal, namun mereka yang tercerabut dari akar tak sanggup untuk menolaknya.

Fenomena sosial seperti kegamangan sikap dan situasi psikologis masyarakat modern itu menggelitik naluri kreatif Teater Kami untuk mengangkatnya ke atas panggung. Kemudian dari tangan dingin seorang Harris Priadie Bah lahirlah sebuah pertunjukan teater yang mengharmonisasikan antara tubuh dan teks.

Lahir di Jakarta 20 tahun silam, Teater…

Tubuh Kota dalam Representasi Seni Pertunjukan ”Outdoor”

Sepotong Catatan dari Journal of Moment Arts 2003 di Makassar
Yanto le Honzo
http://www.sinarharapan.co.id/

Journal of Moment Arts (JOMA) adalah program rutin tahunan yang diadakan Sanggar Merah Putih Makassar. Tahun ini adalah kali keempat mereka mengadakannya, mulai tanggal 20-25 Oktober 2003. Untuk tahun ini, mereka memilih wilayah kesenian outdoor sebagai pernyataan dan ekspresi berkesenian, dengan tema ”Kota dalam Tubuhku”. JOMA menempatkan visinya pada ruang-ruang publik kota dalam memandang seni pertunjukan sebagai representasi dari kebudayaan kota.

Selain peserta dari Makassar dan sekitarnya, mereka juga mengundang beberapa seniman untuk meramaikan acara tersebut. Semua peserta dari luar Makassar kemudian mereka inapkan di dalam kompleks Benteng Fort Rotterdam(FR) yang dulunya pusat Kerajaan Makassar dan menjadi tempat pengasingan P. Diponegoro. Benteng itu langsung berhadapan dengan pantai Biring Kassi (BK), yang juga tidak terlalu jauh dari gedung kesenian Societeit de Harmonie.

Kerusuhan Mei 1998 di Mata Seno

Budi Darma
http://majalah.tempointeraktif.com/

IBLIS TIDAK PERNAH MATI
Kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Yayasan Galang, Yogyakarta, 1999

Bahwasanya Seno Gumira Ajidarma pengarang cerpen, dan rata-rata cerpennya enak dibaca, kita semua tahu. Maka, berhadapan dengan Iblis Tidak Pernah Mati, kumpulan cerpen terbaru Seno, kita bisa menduga bahwa kumpulan ini juga enak dibaca. Apalagi, tentunya, sebagian kita pernah membaca beberapa cerpen dalam kumpulan ini, karena semua cerpen sebelumnya pernah dimuat di berbagai media.

Bahwasanya Seno bisa menulis cerpen yang enak dibaca, tentu ada resepnya. Dan resep dia sederhana: cerpen dekat dengan pers, dan pers dekat dengan cerpen. Pers memuat fakta, berita, pendapat, kesaksian, kesan, dan hal-hal semacam itu, dan cerpen juga begitu.

Pada zaman frekuensi munculnya peristiwa rata-rata tinggi, sementara sekian banyak kepentingan dengan sekian banyak versi kesaksian terhadap semua peristiwa juga sangat beragam, ditambah pula dengan k…

Kisah “Besar” Keluarga Toer

Nirwan Ahmad Arsuka*
http://cetak.kompas.com/

• Judul: Bersama Mas Pram: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer • Penulis: Koesalah Soebagyo Toer dilengkapi Soesilo Toer • Penerbit: KPG, Jakarta, 2009 • Tebal: 505 halaman (termasuk lampiran)

Sebagai karangan yang banyak bertumpu pada ingatan, memoar adalah ragam karya yang bergerak di antara dua kutub: sejarah dan sastra. Jika ingatan itu ditopang sekaligus dijaga ketat oleh catatan kejadian nyata, disusun mengikuti arus waktu yang bergerak lurus kronologis, karangan itu akan menjadi biografi atau otobiografi penting.

Jika ingatan tak harus tunduk sepenuhnya pada catatan ketat kejadian sejarah dan karangan disusun tak harus mengikuti aliran waktu yang lurus, tak jarang bahkan membiarkan diri terseret oleh arus kesadaran yang berkelok-kelok, karangan itu bisa menjadi novel besar.

Memoar ini memang disusun mengikuti arus waktu linier, tetapi terasa agak menjauh dari ”riwayat hidup” Pramoedya Ananta Toer yang ”seharusnya” menjadi pusat cerita …

Perjalanan batin yang puitis

H.B. Jassin
http://majalah.tempointeraktif.com/
DARI MOCHTAR LUBIS HINGGA MANGUNWIJAYA
Oleh: Th. Sri Rahayu Prihatmi
Penerbit: Balai Pustaka, Jakarta, 1990, 131 halaman

DALAM kumpulan pembahasan ini dibicarakan karya Mochtar Lubis, Nasjah Djamin, Umar Kayam, Nh. Dini, Putu Wijaya, Kuntowijoyo, Achdiat Kartamihardja, Mangunwijaya, dan beberapa yang lain.

Pembicaraan yang kritis mengenai karya-karya itu didahului dengan pembicaraan mengenai cerita rekaan pada umumnya, yang sekaligus memperingatkan cara pendekatan penulis terhadap karya-karya yang dibicarakan.

Dijelaskan apa cerita rekaan, alur. Juga apakah yang dimaksud dengan kenyataan, pengaluran, penokohan, apakah latar dan pelataran, pusat pengisahan, dan segala hal yang bertalian dengan pengertian-pengertian tersebut. Seperti tikaian, gawatan, leraian, alur erat, alur longgar, alur tunggal, alur ganda, alur lurus, alur balik, sorot balik, pendramatisasian, tegangan, dan stream of consciousness.

Namun, Prihatmi tidak hanya bicara tentang te…

Octavio paz, amerika latin, dan senjakala modernisme

Nirwan Dewanto*
http://tempointeraktif.com/

BERTAHUN-TAHUN lalu saya mengenal nama Octavio Paz melalui sebuah sajaknya dalam terjemahan Indonesia. Baris-baris sajak itu tidak dapat saya ingat lagi, tetapi yang tertinggal pada saya adalah "inti"-nya: aku yang melihat perlahan-lahan berubah menjadi aku yang dilihat, aku yang menyatakan bermetamorfosis menjadi aku yang dinyatakan.

Bertahun-tahun kemudian saya sadar, ketika itu saya tengah dan telah terpesona oleh nada tragis dan sentimental pada sajak-sajak Indonesia -- mulai dari Amir Hamzah sampai para penyair tahun 1970-an -- yang justru terjadi karena sang aku telah memisahkan diri dan memberontak dengan serta-merta, aku yang menguasai "kenyataan" yang telah dimurnikan dari kenyataan sehari-hari.

Modernisme Indonesia, sebutlah demikian, telah memuncak dengan cara seperti itu. Saya, yang begitu tergoda oleh lirikisme Indonesia, tidak sampai pada penglihatan kritis pada sajak Paz itu. Untuk selanjutnya, Paz adalah nama …

TARIAN LANGKAH KECIL

M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/

Sore, ketika matahari telah mulai menjadi ramah, Lelaki Pendosa melangkah memburu di jalan-jalan padat Kota Tua yang menyimpan jasat para raja-raja. Setelah menggali ke dalam diri, dia menemukan selingkar putih yang memutih dengan satu mata jernih di tengahnya. Sang Lelaki Pendosa memacu langkahnya yang semakin gemetar ketika langit menurunkan jarum-jarum air mata.

“Melambatlah untukku!” bisik si Lelaki Pendosa pada langkah waktu yang berada di depannya, “Aku memohon!” lanjutnya setelah perjalanan waktu tidak juga melambat.

Tiba-tiba saja, si Lelaki Pendosa memacu langkahnya. Semakin cepat untuk mengejar waktu yang berjalan biasa. Namun tidak juga ia mampu untuk mendahului, sampai akhirnya si Lelaki Pendosa pun kini ganti memburu matahari yang akan segera menghilang di balik bumi. Di ufuk barat sana, langit sudah bersemburat merah, dan Lelaki Pendosa terus menerobos kegelapan yang semakin padat membungkus.

Sementara itu, di atas perut si Lelaki …

KULTUR ETNIK DALAM KEINDONESIAAN

:KEGELISAHAN MELAYU DALAM HEMPASAN GELOMBANG

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sastra sejatinya bukanlah sekadar menampilkan sebuah dunia rekaan, bukan pula semata-mata menghadirkan peristiwa-peristiwa imajinatif. Ia dapat diperlakukan sebagai potret sosial jika di dalamnya terungkap problem dan kegelisahan yang terjadi di dalam kehidupan kemasyakaratan. Dengan demikian, sastra dapat dipandang sebagai dokumen sosial; sebagai cermin masyarakat atau pantulan hasrat terpendam dan semangat individu atau komunitas yang (mungkin) menjadi harapan sastrawannya.

Meskipun begitu, ada pula yang memperlakukan sastra sebagai buah pemikiran, karya filsafat, catatan sejarah, pandangan moral dan ideologi, atau bahkan pergulatan kultural sastrawannya. Oleh karena itu, sastra tidak hanya dapat dimasuki wilayah kajian dan pendekatan apa saja, tetapi juga dapat digunakan untuk keperluan yang berbagai-bagai. Dalam konteks itulah, dibandingkan disiplin lain, sastra dapat memainkan peranan secara …

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com