Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2010

Henry Lawson (1867-1922)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=503

NYANYIAN DAN KELUH
Henry Lawson

Kali meluncur dengan nyanyi tertegun,
Di bawah pohonan tinggi;
Air mengaruskan nyanyian lalu:
Keluh-kesah pohonan tinggi.

Meliku lewat keluh kesah dan nyanyi,
Melenggok ke bawah;
Mengitari kaki gunung yang tinggi
Dan lereng bukit jingga.

Mereka redup di rawa “Dosa-si-Mati”
Di mana lonceng melulung;
Tapi mereka serentak sampai di sungai
Dan di sana menghilang.

Dan kali hidup pun tak henti meliku,
Mengembara lalu;
Dan di atas arusnya mereka dukung selalu:
Nyanyian dan keluh.

Henry Lawson (17 Juni 1867 - 2 Sep 1922), penyair penutup suatu kurun jaman dalam kesusastraan Australia, dimulai dengan Henry Kendall (1839 - 1883). Jaman para penyair menyanyikan kesukaran-kesukaran yang dihadapi kaum pelopor, sewaktu awal mencoba membangunkan benua tersebut. Dalam hidup Lawson banyak mempunyai pengikut, tapi tidak seorang pun dari mereka sanggup menandingi. Hipunan sajaknya yang terkenal Winnowed Verses. {dari buku Puisi Dunia, jilid…

POTRET SOSIAL DALAM PENGAMATAN CERPENIS

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Ketika saluran komunikasi mengalami hambatan, dialog konstruktif tak lagi jalan, kritik diterima sebagai hasutan, dan kontrol sosial dianggap pemberontakan, maka sastra (di dalamnya tentu saja termasuk cerpen) sering kali dijadikan sebagai pilihan; alternatif untuk memainkan peran-peran itu. Kebolehjadian, keserbamungkinan, dan kesadaran estetik dengan dalih hendak mengusung licentia poetica kemudian menjadi alat guna menyembunyikan sikap ideologis atau amanat sosialnya.

Demikianlah, dengan cara itu, kritik sosial atau bahkan caci-maki yang setajam apapun, dapat terterima sebagai sentuhan moral yang bersifat universal. Ia tidak akan diperlakukan sebagai berita hasutan atau provokasi murahan. Ia seolah-olah mengangkat peristiwa tertentu yang mungkin ada, mungkin juga tidak ada, atau sekadar rekaan. Boleh jadi ia akan dipandang sebagai peristiwa orang lain yang mungkin sama sekali tidak berkaitan dengan diri kita. Boleh jadi pula ia memantul …

Publikasi Sastra: Surat Kabar, Tabloid, Laman, dan Majalah

Mahmud Jauhari Ali
www.radarbanjarmasin.com/

Hari ini, tanggal 29 Maret 2009, saya tercengang dengan adanya tulisan berjudul Bengkel Sastra di Kotabaru yang terbit di SKH Radar Banjarmasin. Tulisan itu merupakan sebuah tanggapan terhadap tulisan berjudul Sastrawan Palgiat Vs Sastrawan Gila Hormat karangan M. Nahdiansyah Abdi dengan tanggal terbit 22 Maret 2009 di surat kabar harian yang sama. Mengapa saya tercengang? Hal itu disebabkan dalam tulisan itu terdapat pemublikasian kegiatan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan yang bernama bengkel sastra. Pemublikasian ini sebenarnya juga merupakan dokumentasi pertama kalinya yang dapat dibaca oleh khalayak ramai atas kegiatan UPT Pusat Bahasa tersebut di Kalimantan Selatan oleh seorang Helwatin Najwa. Mengapa pula saya katakan sebuah dokumentasi yang pertama kalinya? Karena, selama ini Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan belum pernah mendokumentasikan sendiri kegitan-kegiatannya di media massa yang disaksikan oleh masyarakat luas di…

Ulat Dalam Sepatu

Arman A.Z.
http://www.lampungpost.com/

Apa yang saya apungkan dalam esai Cek Kosong Kesenian di Lampung (Lampost, [3-1]) sebenarnya bukan ihwal baru. Sayang, esai yang dimuat tak utuh itu (mungkin karena kepanjangan), direspons beberapa pihak bahwa fokusnya hanya anggaran. Mungkin karena istilah “cek kosong” yang kupakai. Padahal, titik tekan yang kuarah adalah regulasi atau kebijakan terhadap seni budaya di Lampung. Mungkin sejalan dengan apa yang disampaikan Iswadi Pratama tentang strategi kebudayaan di Lampung tahun 2010. Ihwal anggaran dan lain-lain adalah dampak susulan, turunan, atau akibat dari regulasi itu.

Kalaupun tetap menafsirkan sebagai anggaran, saya bukanlah yang pertama. Seniman (bukan cuma sastrawan) daerah lain sudah lebih dulu membahasnya. Telusurilah arsip sejumlah media massa daerah (Serambi Indonesia [30-11-2008], Surya [4-2-2007], atau Lampost [27-10-2008], dll). Atau yang kebetulan berdekatan (Pikiran Rakyat, [24-1]). Kalau dibilang ganjil jika seniman “merengekka…

Quattordici

Benny Arnas
http://www.jawapos.com/

Grekia

DAN di hadapanku tiba-tiba terbentang almanak raksasa. Di sana, dalam kurungan kotak-kotak yang berwarna hijau tahi kuda, angka-angka bersembunyi di balik lambang-lambang yang tak kupahami. Tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku. Laki-laki yang berjanggut putih lebat berombak. Ia mengucapkan selamat datang di Grekia. O, daerah apa itu? Sungguh, aku tak mengerti apa yang tengah menimpaku. Bagaimana aku dapat terpelanting ke tempat yang asing ini. Aku bagai berada dalam kastil yang berpilar lebih dari 14. Bagian dasar dan atas pilar, dihiasi ukiran orang-orang setengah telanjang. Mereka mengenakan kain yang dililitkan di badan. Semacam sari bagi wanita India, atau pakaian ihram bagi jamaah haji. O bukan, sepertinya ia terbuat dari bahan yang agak keras. Semacam kulit. Mungkin kulit kambing. Mereka (dalam ukiran itu) memegang busur dan anak panah yang siap dilesatkan. Aku bagai pernah mendapati motif ukiran-ukiran itu. Entah di mana, aku lupa.

“Kita…

Kabar Rupa dari Sakato

Afnan Malay
http://www.jawapos.co.id/

LEBIH dari seratus perupa Minang yang tergabung dalam Komunitas Seni Sakato Jogjakarta, selama 17-23 Februari 2010 bertempat di JNM (Jogja National Museum) dengan tajuk BAKABA memamerkan karya lukis, patung, dan instalasi. Jim Supangkat, Suwarno Wisetrotomo, serta Yasraf Amir Piliang yang menulis dalam katalog setebal 355 halaman berupaya mengajak kita menyelami para perupa Sakato.

Bahasan utama tentulah perihal bakaba. Secara rinci dengan perspektif akademis yang mumpuni, Yasraf berhasil memaparkan tema pameran yang berasal dari budaya (sastra) lisan yang hidup di Ranah Minang: kaba. Sekalipun, hasrat Yasraf untuk menarik korelasi berujung pada kesimpulan yang sangat terbuka untuk dikritisi.

Transformasi Kedua?

Yasraf yang bekerja sebagai staf pengajar FSRD ITB Bandung adalah pembedah post-modernisme paling produktif, intens, dan impresif. Ia menahbiskan bakaba yang dikerjakan perupa Sakato sebagai bentuk transformasi kedua terhadap bentuk kaba yang a…

Satu Gus Mus Seribu Gelar

Judul: Gus Mus, Satu Rumah Seribu Pintu
Penulis: Taufiq Ismail, dkk
Penerbit: LkiS dan Fak Adab UIN Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Mei 2009
Tebal: xxiv+290 halaman
Peresensi: Ahmad Maltup SA
http://suaramerdeka.com/

BEGITU sulit menilai Gus Mus —panggilan akrab KHA Mustofa Bisri— dengan beribu gelar yang dia sandang. Jadi tidak berlebihan, Hamdy Salad dalam esainya menilai Gus Mus sebagai ”satu rumah seribu pintu”.

Gus Mus adalah seorang kiai, pengasuh pondok pesantren, ustaz, mubaligh, cendekiawan, penulis, kolomnis, budayawan, atau seniman. Dan ketika orang pun memilih hendak menyebutnya seniman, masih terbuka dua jalan untuk melihatnya: sebagai pelukis atau sastrawan. Begitu selanjutnya, sebagai sastrawan juga dia telah ditahbis menjadi cerpenis, penyair, dan sekaligus pembaca puisi yang tak kalah artikulasinya dari juara deklamasi.

Bahkan semakin lengkap lagi, sekarang Gus Mus dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga berkat jasa-jasanya yang m…

Miniatur Puisi Dunia

Judul: Pesta Penyair: Antologi Puisi Jawa Timur
Editor: Ribut Wijoto, S Yoga, Mashuri
Penerbit: Dewan Kesenian Jawa Timur
Tebal: viii + 288 halaman
Cetakan: Cetakan I: 2009
Peresensi: Risang Anom Pujayanto
http://www.surabayapost.co.id/

Jawa Timur. Sebagai kawasan kaya aneka seni-budaya, sungguh celaka apabila tidak memiliki semacam monumen suaka pencatat segala gilang-gemilang. Sebagai pemilik kultur sosial terbuka sekaligus tidak adanya identitas pusat-pinggiran, telah berimplikasi pada kemudahan pencerapan informasi dari luar. Sehingga bersamaan dengan kemudahan informasi tersebut, dialektika wacana lokal dan ’dari luar’ merupakan hal yang tak terelakkan dalam dinamika pendewasaan warna seni-budaya yang berkarakter Jawa Timur.

Dalam setiap periode persinggungan wacana lokal dan ’dari luar’, setidaknya salah satu seni yang terlibat di dalamnya niscaya sempat menduduki posisi puncak kejayaan. Namun jangan dibayangkan tahta itu akan bertahan lama di Jawa Timur. Tidak. Semua cekat melesat. Sil…

Afrizal Malna dan Revolusi Kesenian

Fahrudin Nasrulloh*
http://www.jawapos.co.id/

”Puisi tiba-tiba jadi
kayak penyakit
harus ditulis terus-menerus”
– Afrizal Malna –

SIAPA kini yang membutuhkan puisi dan kenapa penyair terus menuliskannya? Tentu pertanyaan itu tampak klise, tapi sejarah kesusastraan Indonesia adalah kenyataan. Ia tidak lahir dari omong kosong. Bagi Afrizal Malna, puisi mungkin sudah mati. Ia mati atau dapat lebih menguar ketika terus dibenturkan dalam konteks filsafat. Misalnya, ketika pertarungan estetis dan eksistentialis tak menemukan ujungnya. Ada perkara subversif lain menggerogoti, katakanlah teknologi dan dampak dehumanisasi, yang lebih ajaib dan menggila menerobos kehidupan sehari-hari. Tak ada lagi keindahan, yang ada hanyalah kekacauan.

Alasan itulah yang kiranya membuat Afrizal kerap diburu cemas pada apa yang selama ini dikenalinya: rumah, keluarga, tradisi, benda-benda, hegemoni politik, kemanusiaan yang labil, bahkan pada problem bahasa itu sendiri. Kecemasan-kecemasan tersebut, tanpa tahu alasan…

Yasunari Kawabata (1899-1972)

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=313

Yasunari Kawabata, lahir di Osaka 14 Juni 1899, meninggal di Kamakura 16 April 1972. Novelis Jepang yang prosa liriknya memenangkan Nobel Sastra 1968. Usia dua tahun yatim, lantas tinggal bersama kakek-neneknya. Neneknya meninggal ketika ia berusia 7 tahun, kakak perempuannya hanya sekali dijumpai setelah kematian orangtuanya, meninggal ketika Kawabata berusia 10 tahun, dan kakeknya ketika ia berusia 15 tahun. Pindah ke keluarga ibu, Januari 1916 ke asrama setara SMP, yang bolak-balik menaiki kereta api. Setelah lulus 1917, ke Tokyo berharap ujian masuk Dai-ichi Koto-gakko’ di bawah Universitas Kekaisaran Tokyo. Berhasil lulus tahun yang sama, masuk Fakultas Sastra Inggris. Juli 1920 lulus SMA, mulai di Universitas Kekaisaran Tokyo. Selain menulis sebagai wartawan Mainichi Shimbun di Osaka dan Tokyo. Menolak semangat militer yang menyertai Perang Dunia II, juga tidak terkesan pembaruan politik sesudahnya. Kawabata bunuh diri 1972, mer…

MENGGUGAT SEJARAH, MENGGUGAT JAKARTA

CATATAN PERJALANAN SASTRA MELAYU KEGELISAHAN CERPEN RIAU KONTEMPORER

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Rangkaian Pertanyaan
Di manakah letak (Melayu) Riau dalam peta kesusastraan Indonesia? Ketika kita mencoba memetakan posisi Riau dalam peta sastra Indonesia, bolehlah pertanyaan itu kita hadirkan, di tengah kemunculan (atau kebangkitan) kembali gejolak dan dinamika kesusastraan di berbagai kota di Air Tanah kita. Muncul pula pertanyaan lain yang dapat dikemukakan: Apakah popularitas sastra (Melayu) Riau sama populernya dengan bahasa yang digunakannya, bahasa Melayu yang sudah punya sejarah panjang dan dikenal di mancanegara? Di sinilah uniknya. Di sini pula politik kerap ikut menentukan nasib sebuah bahasa, nasib kesusastraan sebuah komunitas, bahkan nasib komunitas itu sendiri. Untuk memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai persoalan tersebut, ada baiknya kita coba menelusuri peta perjalanannya.

Sejak abad ke-7, bahasa Melayu telah memainkan peranan penting di kepulauan N…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com