Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2010

Pudarkah Sastra Pesantren?

Fahrudin Nasrulloh*
http://cetak.kompas.com/

Dalam riwayat orang Jawa, bahasa dan sastra Jawa biasa dijadikan medium untuk memperkenalkan ajaran Islam, dalam ruang-ruang yang disebut pesantren. Adapun dalam sastra Islam-Kejawen, anasir sufisme dan ajaran pekertinya diserap oleh pujangga Jawa untuk mengislamkan warisan sastra Jawa zaman Hindu.

Cerita bisa bermula saat imperium Majapahit dikhatamkan dengan masuknya Islam dan berdirinya Kerajaan Demak, abad ke-14 M. Demak pun berdiri pada abad ke-16 M. Banyak karya sastra Jawa yang ditulis seputar momen itu. Dua naskah di antaranya diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda: Het Boek Van Bonang dan Een Javaans Geschrift de 16e Eew (Primbon Jawa Abad ke-16 M).

Menurut Simuh, naskah yang disebut pertama berisi ”pitutur Sheikh Bari”, ihwal bagaimana mempertahankan ajaran sufisme ortodoks dan menentang setiap bentuk pembangkangan terhadap syariah. Di bagian lain, HM Rasyidi melihat dengan kritis serat-serat macam Gatoloco dan Dharmagandul, adalah kro…

Rainer Maria Rilke (1875-1926)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=321

Mawar,
ah penyangkalan belaka,
gairah pada yang tak terlelap
di sebalik begitu banyak Kelopak mata
(di batu nisan Rilke, 4 Des 1875 - 29 Des 1926).*

Sejarah hasrat riwayat tubuh, telah ada semenjak di kandungan ibu, pun jauh sebelum terciptanya bumi. Demikian penyair tidak dapat mengelak takdirnya, hadir seperti peralihan jaman, menggelinding tiada mampu menghindari. Pula insan unggul tetap berjuang keras menghadapi ruang-waktu percobaan; penjegalan, amukan warna kata-kata, musik apa saja menyerap dan disergap. Jalan hidup selempengan baja atau batu-batu dibungkus mata air, bukit disapu kabut, keluar dari ikatan indrawi. Merasuk gugusan bintang bayang-bayang jiwa, penyair tulen lebih gelap dari daging terbakar. Semua dari ketaksangkaan meski atas kesuntukan, yang diemban tidak lepas dari jeruji sejarah.

Manusia pilihan bukan segebok keisengan, ada tanjung runcing mata pedang, darah menetesi ujung pisau, embun kesepian, ketampanan malang diga…

YANG LIAN: Puisi adalah Kampung Halaman Saya

Pewawancara: Luky Setyarini
http://www.ruangbaca.com/

Ketika Revolusi Budaya dilancarkan di Cina antara 1966-1976, ada sekelompok penyair yang karena gaya puisinya yang sulit dipahami, seperti berkabut, disebut sebagai Misty Poets. Salah satu dari para penyair kritis yang aktif menulis di majalah Jintian (Today) itu adalah Yang Lian.

Lahir di Swiss pada 1955, ayah Yang seorang diplomat. Ketika keluarganya pulang kampung, Yang muda dikirim ke pedesaan Changping dekat Beijing, untuk mengikuti program reedukasi. Seorang putra diplomat yang berpendidikan tinggi memang diwajibkan belajar dari petani. Metode ini digunakan di masa Mao Zedong pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an. Selama tinggal di pedesaan, Yang mulai menulis puisi.

Sekembalinya ke Beijing, Yang bekerja di stasiun pemancar radio pemerintah. Pada 1979, Yang bergabung dengan kelompok penyair yang menulis untuk Jintian. Gaya puisi pria berusia 54 tahun ini berubah menjadi modern, eksperimental, yang jamak dipraktekkan para penyair…

Sastra dan Islam Bagai Ikan dan Air

Sutan Iwan Soekri Munaf
http://www.suarakarya-online.com/

Amat menarik membaca tulisan Damhuri Muhammad yang diberi tajuk Sastra Islami dan Ketajaman Lidah Pena (Republika, Minggu, 26 Juni 2005). Cerpenis dan pengamat sastra ini terpesona melihat limpah ruahnya karya sastra terutama cerpen dengan label Islam pada akhir-akhir ini di negeri ini. Bersaman dengan keterpesonaannya itu, agaknya Damhuri juga mempertanyakan dengan kekhawatiran: Apakah sastra islami itu sungguh-sungguh eksis? Sejauh manakah ciri khas Islam dapat terpahami pada fiksi islami?

Apakah label islami yang ditempelkan di sampul buku serta justifikasi quranik dalam setiap karya-karya mereka, sudah cukup memadai untuk menyandang predikat sastra islami? Adakah parameter konstan yang dapat mengukur derajat keislaman karya sastra?

Kekhawatiran ini, apa pasal? Damhuri menyatakan : Kesimpangsiuran pemahaman terhadap sastra islami seperti dipertanyakan di atas, nampaknya masih menjadi problem mendasar yang belum terselesaikan bag…

Fakta dalam Fantasi

Indah S. Pratidina
http://www.ruangbaca.com/

Kalau ada yang bertanya kepada kita, sebenarnya buku fantasi itu apa sih, benak kita mungkin akan langsung menyusun jawaban yang terdiri atas kata-kata seperti: mustahil benar-benar terjadi, hasil khayalan tingkat tinggi, dunia lain di luar dunia “nyata”, dan sebagainya. Tapi justru keyakinan bahwa elemen-elemen magis dalam karya fantasi sangat berkaitan erat dengan realitalah yang membuat saya menulis skripsi saya (Analisis Wacana pada Sastra Anak: Ideologi J.K. Rowling dalam Dunia Sihir Harry Potter, 2001).

Walau sudah terbit sejak tahun 1997 di negeri asalnya, saya pertama kali mengenal Harry Potter pada tahun 2000. Setelah sekian lama tidak membaca sesuatu yang bisa membuat saya begitu bersemangat mengikuti cerita sampai akhir, J.K. Rowling menjawab kerinduan itu dengan Harry Potter dan Batu Bertuah, yang tak lama kemudian disusul Harry Potter dan Kamar Rahasia. Saking tersentuhnya, saya memutuskan menjadikan dua buku itu bahan penelitian.

Masa Depan Sastra (oleh) Perempuan

Kingkin Puput Kinanti
http://www.surya.co.id/

Saat ini dunia sastra booming dengan karya-karya berbau feminisme. Dapat dilihat di toko-toko buku berjejer nama-nama pengarang perempuan yang telah melahirkan karya sastra yang fenomenal dan spektakuler.

Sebut saja Ayu Utami yang telah berhasil menerobos pakem-pakem dalam karya sastra klasik. Keberaniannya mengangkat tema yang dianggap tabu dan diungkapkan dengan bahasa yang lugas dan menantang, menyebabkan Ayu Utami mendapat sanjungan sekaligus cacian. Ada beberapa kalangan yang kurang setuju dengan apa yang disampaikan Ayu lewat karyanya.

Ada anggapan, sisi seksualitas yang ditonjolkan Ayu Utami akan mencemari dunia sastra. Namun ada pula yang memberikan dua jempol pada Ayu lantaran kekhasan karyanya yang ditampilkan secara apa adanya. Berbeda dengan Ayu Utami, Dewi Lestari lihai mengombinasikan antara sastra dan ilmu pengetahuan.

Dewi Lestari lewat “Supernova”nya berhasil menyedot perhatian masyarakat dengan karya yang unik. Agaknya ia term…

Mencari Bangsa di Dalam Sastra

Manneke Budiman
http://www.pikiran-rakyat.com/

Dalam berbagai diskusi dan perdebatan tentang sastra dan kebangsaan, kerap terbentuk opini atau kesan bahwa dalam khazanah sastra Indonesia modern, novel-novel Pramoedya Ananta Toer adalah contoh terbaik sekaligus klasik karya sastra yang berbicara tentang kebangsaan. Lebih jauh lagi, “derajat” kebangsaan karya-karya lain yang lahir pasca-Pram pun diukur dengan tetralogi Pram untuk dinilai kekentalan minat kebangsaannya.

Ini tentu saja bukan fenomena khas Indonesia. Dalam kancah sastra dunia, Salman Rushdie nyaris menjadi ikon bagi sastra tentang bangsa, dan ini dapat dimengerti mengingat kisah-kisah Rushdie kerap menjadi alegori bagi kisah-kisah tentang lahir dan matinya suatu bangsa.
Dalam Midnight`s Children (1981), misalnya, kisah hidup tokoh utamanya yang sureal berlangsung paralel dengan kisah terpecahnya India menjadi dua bangsa.

Uncle Tom`s Cabin (1852), karya Harriet Beecher Stowe, meski bertutur tentang nasib para budak kulit hitam,…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com