Langsung ke konten utama

Rambut

Indrian Koto
http://www.sinarharapan.co.id/

Bagaimana mungkin rambut panjang bisa dihubungkan dengan cinta? Aku tak habis mengerti apa yang dipikirkan olehnya. Dia memintaku memotong rambut dan menghubung-hubungkannya pula dengan cintaku padanya. ”Aku tidak minta sesuatu yang berlebihan darimu. Kalau kau betul-betul mencintaiku, aku minta kau memotong rambutmu,” katanya sore itu.

”Aku mau, tapi jangan sekarang.”
”Selalu itu jawabmu. ‘Jangan sekarang...jangan sekarang’ dan aku sudah lama mendengar itu. Terlalu sulitkah permintaanku?”

”Sekadar memotongnya itu tidak sulit, hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja. Selesai. Tapi untuk memanjangkan rambut aku butuh waktu bertahun-tahun.”

Dia diam mendengar jawabanku. Begitulah selalu, hampir setiap percakapan kami –terakhir-terakhir ini, mengarah pada persoalan rambutku yang sedikit gondrong ini. Ada saja celah buatnya untuk masuk ke topik itu dan ujung-ujungnya dia memintaku memotongnya.

”Kalau kau memotong rambutmu sedikit saja, kamu terlihat lebih rapi,” katanya suatu kali. Di lain waktu dia akan berkata, ”Lihat tubuhmu, kelihatan semakin kurus. Andai saja rambutmu tidak panjang, kamu akan terlihat sedikit berisi.”

Awalnya aku tak terlalu menanggapi. Tapi lama-lama jengkel juga, sebab hampir setiap pembicaraannya mengarah ke sana. Aku yang minta dibeliin ikat rambut misalnya, akan diberondong dulu dengan kata-kata, ”kalau rambutmu pendek kan tidak usah beli ikat rambut segala.” Atau ketika dia menyisir rambutku yang sering berantakkan dia akan berkomentar dengan ringan. ”sudah, rambutnya dipotong saja biar rapi dan tidak ada kutu di kepala.”

Di lain waktu misalnya dia menatapku agak lama, lalu dengan ringan akan berkata, ”Kalau rambutmu lebih pendek, kau terlihat agak gagah.”, atau suatu kali dia akan mencak-mencak dan berkata, ”aduh, kusut sekali kamu dengan rambut seperti itu.”

Selalu ada celah untuknya masuk dan membahas soal rambut. Rambutku yang rontok saja misalnya jadi semakin ruwet oleh kata-katanya, ”makanya potong rambut, biar tidak rontok lagi.” Atau ketika dia menemukan satu dua uban di antara rambutku dia akan berkata, ”kalau rambutmu pendek, barangkali tak akan ada uban yang berani tumbuh.” Apa hubungannya, coba.

Aku cuma menjawab dengan, ”Iya..iya...”, ”masih sibuk sayang.” Atau, ”kondisi badanku sedang tidak enak.”

Dan dia akan cukup puas mendengarnya. Setelahnya dia seolah lupa dengan apa yang barusan dibicarakan. Meskipun rewel, tetapi dia begitu telaten merawat rambutku. Menyisir, mengikatnya agar tampak lebih rapi, dan membelikan aku shampoo.

”Aku suka melihat fotomu di KTP, rambutmu pendek. Tapi aku belum pernah melihatnya langsung. Aku menemukanmu saat rambutmu sudah gondrong. Aku sering membayangkan dirimu dengan rambut setengah botak.Aku ingin di sampingmu sampai rambut itu merambat melebihi bokongmu.”

Sore ini dia kembali memintaku untuk mencukur rambut. Kali ini agak sedikit memaksa. Tidak biasanya dia seperti itu, memaksakan kehendak dan mengulangnya berkali-kali.
”Kalau kau mencintaiku, maka aku minta padamu, potonglah rambutmu. Aku pikir ini tidak akan mengurangi apa pun darimu.”

Aku sedikit tersinggung mendengarnya. Bagaimana mungkin dia menghubungkan rambut panjangku dengan cintaku padanya. ”Kalau memang tak mengurangi apa pun padaku mengapa kau memaksaku memotong rambut? Apa yang membedakan aku yang gondrong dengan kepala botak? Apakah itu akan mengurangi rasa sayangmu padaku, hanya karena rambut ini?”
Dia hanya diam.

Aku tak habis pikir dengan jalan pikiran dia. Memintaku memotong rambut yang hampir dua tahun ini aku rawat. Sudah lama sekali aku ingin memiliki rambut gondrong. Ingin mencoba rasanya. Dan aku paham betul, berambut panjang bukanlah pilihan yang enak untuk orang sepemalas aku. Dan sebenarnya kalau pun ini dipotong tidak ada masalah sebenarnya. Tapi aku tidak suka pada sesuatu yang dipaksakan, seolah aku tidak bisa bersikap, seakan aku tidak diperbolehkan punya keputusan.

Sore itu kami bertengkar. Agak panjang dan bertele-tele, lebih hebat dari biasanya, sepanjang setengah tahun hubungan kami. Aku pikir memang harus demikian, agar dia paham ada bagian tertentu yang tidak boleh dimasuki orang lain, seorang pacar sekali pun. Bahwa aku punya hak untuk melakukan sesuatu, termasuk memotong rambut.

Selama kami berhubungan, inilah satu-satunya permintaannya yang paling aneh dan sulit kuterima. Terkadang aku keras kepala juga untuk sesuatu yang kurasa sangat pribadi. Untuk hal-hal tertentu aku bisa kompromi agar tidak terjadi pertengkaran di antara kami. Soal rokok, misalnya, mengatur pengeluaran, masalah tidur, jadwal makan dan sebagainya.

Beberapa hal tersebut masih bisa kutoleransi mengingat itu juga penting buatku. Bagaimana pun memanej uang itu penting, memperbaiki waktu tidur yang tidak terjadwal mungkin masih baik, rajin mandi dan mengganti pakaian dengan yang bersih masih bisa kupenuhi, tapi memotong rambut yang setahun lebih kubiarkan panjang ini? Tidak. Aku tidak harus menurut pada semua yang dimintanya. Aku tidak mau dia menjadi tukang kendali untuk semua kepribadianku. Dia kenal aku ketika rambutku sudah hampir sepanjang ini, dia tidak tahu bagaimana dulu aku merawatnya.

Dia memang agak sedikit cerewet dan suka mengomel atas apa yang dia tidak suka tapi sebetulnya dia bukan orang yang suka mengatur. Hanya saja, ketika dia punya keinginan, hal itu harus bisa terkabul. Ketika dia meminta aku datang ke rumahnya dan kebetulan aku tak bisa datang karena suatu hal, tak bisa tidak, dia pasti meledak. ketika aku bercerita kehabisan uang, dengan berapi-api dia menyuruhku menghitung ke mana saja uang itu menghilang.

Dan itu semua masih bisa kuterima, meski kadang dengan kesal juga.

Tapi soal rambut ini?

”Kau akan terlihat lebih rapi agar semua orang senang melihatmu. Kau lebih berkarakter dengan rambut yang lebih pendek.”

Ampun! Ampun! ”Dulu ketika kita bertemu, kau menyukai rambutku dan sering memujinya.”
”Dulu iya, sebelum aku tahu banyak tentangmu,” katanya dengan tenang. ”Lagipula, aku tidak punya pilihan lain.”

”Dipotong, ya?” katanya dengan manja dan sedikit memaksa.

Aku tidak suka dipaksa, aku merasa tidak punya hak dan kebebasan. ”Aku akan memotongnya kalau aku sudah bosan dengan rambut panjang.”

”Kalau rambutmu pendek akan terlihat sangat bagus,” desaknya.
”Kepalaku buruk, bagian depannya sedikit botak.”

”Itu akan terlihat lebih seksi, apalagi kalau kau benar-benar akan memasang anting di telinga kirimu seperti yang kau inginkan dulu. Sungguh, aku tidak akan melarang, selama kamu tidak gondrong.”

Aku sengaja tidak memotong rambut beberapa waktu terakhir adalah karena dua alasan. Pertama, sudah lama aku menginginkan rambut panjang. Kedua, aku paling malas berhadapan dengan tukang cukur.

Dulu, ketika rambutku panjang sedikit saja, orang rumah akan ribut dan memaksaku untuk segera memotongnya. Aku benci disuruh-suruh, aku benci dipaksa-paksa. Waktu masih sekolah, tak ada harapan untuk rambut gondrong apalagi berani mewarnainya. Sebulan sekali akan selalu ada razia rambut sekaligus pemeriksaan kuku, kadang-kadang ditambah dengan pemeriksaan celana dalam, isi tas dan buku catatan.

Aku benci sekali. Tak ada tempat untuk sedikit merdeka dan membiarkan tumbuh secara alamiah. Di rumah, di sekolah sama saja. Pernah aku membiarkan rambutku gondrong sebatas telinga dan memolesnya dengan warna. Aku disidang, digunduli, di skors seminggu lebih. Sebagai bonus, orang tua harus datang ke sekolah.

Itu belum seberapa, untuk beberapa minggu aku kehilangan uang saku.

Aku juga malas berhadapan dengan tukang cukur. Selalu, setiap rambutku selesai di potong, begitu saja aku akan terkena flu. Aku punya pengalaman jelek dengan tukang cukur waktu kecil. Tukang cukur itu amat cerewet. Dia sering mengancamku akan memotong leherku dengan pisau cukurnya, kalau aku bergerak sedikit saja. Kalau aku menangis dia akan berkata akan membawaku ke rumahnya dan disuruh menjadi tukang asah pisau cukur. Sungguh, aku takut sekali.

Bapak selalu memanggil tukang cukur keliling itu. Orangnya sudah tua, setiap Jum’at sore dia akan lewat di depan rumah. Sebelum dia singgah aku sudah menangis dan melolong-lolong.

Aku takut pada pisau cukurnya yang mengkilap. Orangnya tak banyak bicara, langsung memegang kepala dan siap-siaplah menjadi patung untuk waktu yang agak lama. ”Pisau ini tajam, dia bisa melukaimu.” Katanya. Kalau sudah begitu aku hanya diam dengan hati yang rusak. ”Pisau ini pernah memotong leher orang di jaman perang.” Katanya mengancam.

Satu-satunya gaya rambut yang bisa dibikinnya hanyalah potongan serdadu. Sekeliling kepala dibikin setengah gundul dan disisakan sedikit di bagian depan. Aku tidak suka.

”Kalau kamu tidak mau, aku suruh tukang cukur itu membawamu pulang ke rumah.” Ancam bapak tak mau kalah. Maka, aku akan membiarkan guntingnya berdesis-desis di kepala, aku tabahkan hati atas pisau cukur yang meliuk-liuk di kudukku. Sedikit busa sabun dioleskan di pinggiran sebelum pisau kembali menghabiskan segala bulu. Rasa dingin itu membuatku merasa berhadapan dengan tukang jagal.

Dia sering bercerita pada siapa saja yang ada di sana, sambil terus menggoreskan pisau cukurnya di leherku. ”Dulu, dengan pisau ini aku memotong kepala orang-orang. Sangat tajam, hampir tak terasa di leher. Kerjaku selalu dipuji oleh komandan,” ujarnya dengan bangga. Itu kalimatnya yang paling sering aku dengar. Aku sering bergidik, kalau-kalau leherku akan putus juga seperti kepala orang-orang yang diceritakannya.

Setelahnya bisa dipastikan aku akan terbaring beberapa hari oleh demam dan batuk-batuk. Selama itu pula aku selalu merasa ada rambut yang menggantung di tenggorokkanku. Aku benar-benar benci tukang cukur, sejak itu. Tapi tak bisa berkutik ketika bapak menyeretku dan menyerahkan kepalaku pada mantan serdadu itu.

Sebentar lagi aku akan berulang tahun. Aku ingin memberinya sedikit kejutan. Aku akan memotong rambutku agak lebih pendek. Rambut yang sebatas punggung ini akan kupangkas sampai sebahu. Aku berharap dengan memotong rambutku ini, dia akan tahu, betapa aku mencintai dia. Tentu dia akan percaya aku adalah laki-laki setia dan bisa dipercaya. Selama ini dia sudah cukup sabar menghadapiku. Persoalan makan dan kadang uang saku sampai perempuan-perempuan di masa lalu. Dia begitu sabar menghadapi aku yang kadang sedikit genit, menggoda perempuan lain di depannya.

Aku akan memotong sedikit rambutku, untuk dia. Membagi kebahagiaan sederhana agar dia merasa dipedulikan.

Aku harus mempersiapkan diriku sebaik-baiknya, aku datangi tukang pangkas rambut di pinggir jalan. Setelah perdebatan-perdebatan kecil tukang cukur itu memilih memenuhi segala kecerewetanku. Dengan sabar dia menunggu aku mematut-matut diri di depan kaca, berkali-kali aku memintanya berhenti untuk sekedar memastikan kepalaku baik-baik saja, sekaligus tak ada rambut yang tertelan.

”Astaga! Aku tak percaya kalau kau melakukan itu. Memotong rambutmu demi aku,” katanya terbelalak. Sejenak, dia menatap rambutku yang tinggal sebahu. Sesaat kemudian senyumnya hilang dan dengan ringan dia berujar, ”Tapi akan lebih baik kalau kau potong lebih pendek lagi. Sepertinya tidak ada yang kurang dari kemarin, hanya sedikit lebih rapi saja. Kupingmu tetap tidak kelihatan.”

Sumpah! Kali ini aku benar-benar tersinggung olehnya. Tak habis mengerti aku dengan keinginannya. Aku meninggalkannya begitu saja. Segera aku cari tukang cukur di pinggir jalan dan aku minta dia membabat habis rambutku.

”Inikah yang kau inginkan?” kataku memperlihatkan kepala botakku.
Dia ternganga tak percaya.

”Aku sudah memotong habis rambutku agar kecerewetanmu bisa hilang. Puas sekarang?” Aku mulai melemparkan kekesalan.

Tiba-tiba dia tertunduk di kursi. Lamat-lamat kudengar isaknya.

”Apa yang kau tangisi. Bukankah aku sudah memenuhi keinginanmu? Aku sudah memotong rambutku. Lihat.”

Tiba-tiba dia terisak. ”Aku ingin kau mau memotong rambutmu dengan ikhlas. Karena selalu, aku melihat masa lalumu di sana. Aku bertemu denganmu ketika kita sudah banyak mencatat peristiwa. Aku cemburu pada rambutmu yang ditumbuhi banyak kenangan. Aku ingin, bersamaku kau menulis cerita baru, di mana tak ada orang lain di antaranya.”

Aku diam, mencoba memahami kata-katanya.

”Aku ingin kau membuang seluruh masa lalumu dan hidup bersamaku dengan kisah yang baru. Ketika kau memotong rambutmu, aku ingin seluruh masalalumu ikut gugur. Dengan begitu kita bisa mencatat peristiwa lain. Aku ingin segalanya selalu baru. Itu yang tak pernah kutemukan padamu sejak dulu. Tapi, bagimu, betapa berat menghapus masa lalu dan untuk bersungguh-sungguh denganku. Aku cemburu padamu, pada rambutmu. Aku entah orang yang keberapa pernah menyentuhnya.”

Tiba-tiba kepalaku berdenyut-denyut. Aku merasa di tenggorokanku ada rambut yang tersangkut.

”Aku ingin di sampingmu, menjaga rambutmu yang tumbuh. Agar aku tak melulu cemburu.”

Yogyakarta, 2007

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel Pekik, karya Awalludin GD Mualif, penerbit SastraSewu

Wisata Buku Lawas di Yogyakarta

Fahrudin Nasrulloh
Suara Merdeka, 15 Juli 2007.

Salah satu keistimewaan ketika mengunjungi Yogya adalah menelisik toko-toko buku yang tersebar di sejumlah tempat. Ada T.B. Social Agency, T.B. Diskon Toga Mas, T.B. Tiga Serangkai, T.B. Gramedia dan komplek toko buku Taman Pintar yang bersebelahan dengan Taman Budaya dan benteng Vredeberg, dan lain-lain. Namun sekarang untuk mencari buku-buku lawas susah sudah, bahkan nyaris nggak ada. Tahun 1970-an hingga 1980-an, menurut berbagai sumber, masih banyak dijumpai buku-buku lawas yang bermutu.

Yang saya maksud dengan buku lawas (dalam arti spesifik bisa berati buku kuno, seperti naskah-naskah serat atau babad) adalah buku yang sudah tidak diterbitkan dalam jangka waktu lama oleh sejumlah penerbit tertentu. Karena itu, buku lawas dapat dikategorikan dalam empat jenis. Pertama, buku lawas umum (meliputi buku filsafat, sastra Indonesia dan Barat, psikologi, dan lain-lain). Buku lawas filsafat Barat seperti Meditation karya Rene Descartes, ata…