Selasa, 06 Oktober 2020

Flaubert: Catatan Harian dari Mesir

Sigit Susanto

“Notes inédites… Voyage d`Egypte 1849-51” adalah salah satu karya awal Flaubert yang khusus berbicara tentang perjalanannya ke Mesir. Pada usia ke 28 tahun dia meninggalkan sanak keluarga di Perancis. Ibu Flaubert mengelus anaknya yang akan berpetualang ke negeri timur itu dengan rasa haru. Perjalanan ini dilakukan jauh sebelum dia terkenal dengan karyanya “Madame Bovary”. Flaubert bersama kawannya Maxime menumpang Kapal Nil dari pelabuhan Marseille menuju Alexandria. Petualangan itu membutuhkan waktu tiga tahun, dimulai pada hari Senin, 22 Oktober 1849 hingga tahun 1851.

Pada kapal itu ada beberapa penumpang lain yang bertugas sebagai konsul di berbagai negara. Ketika kapal tiba di Alexandria, Flaubert mulai mengadakan kunjungan ke berbagai kuil kuno di zamah Firaun. Kairo sebagai pangkal seluruh perjalanannya. Flaubert mengalami kejengkelan dengan naik keledai menyusuri lorong-lorong jalan di Kairo. Sehingga dia harus jalan kaki sepanjang 100 meter dan naik keledai lagi. Sering dia dan kawannya tidur di tenda. Di Kairo Flaubert sering jalan kaki dan naik unta. Dia mengunjungi Piramid dan Sphinx. Di depan Sphinx dia duduk di pasir serta merokok pipa. Tentang Sphink ini dia gambarkan, kepalanya abu-abu, telinganya lebar berdiri seperti orang Afrika, serta lehernya rapuh. Ketika Flaubert mendekat ke Piramid didorong dan ditarik oleh orang-orang Arab ke sana kemari. Dia menunggu giliran sampai setengah jam lamanya untuk bisa mencapai Piramid.

Pada hari Rabu, 12 Desember 1849, Flaubert genap berusia ke 28 tahun. Dia berulang tahun ketika masih berada di Mesir. Dia sempat mengalami natal di Kairo dan mengunjungi gereja dari suku Armenia. Beberapa kali Flaubert naik menara masjid di Kairo yang menjulang tinggi. Dia menggambarkan, bahwa Kairo ada di bawahnya. Di malam hari cahaya lampu di Kairo menjalar indah. Ketika Flaubert di sahara, pernah bertemu rombongan karavan yang terdiri dari 14 ekor unta datang dari Mekah. Dia menggambarkan pertemuannya dengan bocah Arab yang jalannya cepat. Serta seorang penjaga kuil yang mencium tangannya. Dia menilai bahasa Arab sangat menarik. Sungai Nil sebagai sarana air terpenting yang menghubungkan ke berbagai daerah.

Flaubert masih keluar masuk sahara di sepanjang sungai Nil. Kadang dia naik unta, keledai atau kapal. Dua kawannya Josef dan Maxim masih bersamanya. Karena aku pernah ke sungai Nil seperti jalur yang ditempuh Flaubert, maka ada sedikit bayangan yang bisa membantunya. Misal, Flaubert berhenti di kota Aswan atau ke kuil Luxor, dan Abusimbel. Aku sadari zaman itu Flaubert menemukan banyak kesulitan. Misal; hal penginapan. Sehingga dia dan kawan-kawannya harus menginap di tenda tengah lautan pasir. Dia melihat unta mati yang dimakan burung bangkai. Serta unta milik kawannya Josef menjadi buas secara tiba-tiba. Juga masalah kontak dengan keluarga dan kawan-kawannya di Paris. Flaubert menempuh cara yang unik.

Dia melakukan perjalanan dari kota ke kota lain. Pada beberapa kesempatan ketika dia tiba di sebuah kota yang dianggap baru, maka segera dia mencari konsul Perancis. Lewat konsul Perancis itulah Flaubert bisa mendapatkan surat-surat dan paket dari keluarganya dan kawan-kawannya. Mungkin zaman itu juga sulit mencari bank atau kantor pos. Apalagi dia di Mesir selama 3 tahun. Aku perkirakan isi paket dan surat dari Perancis juga ada bekal tambahan uang. Sebab aku tahu, turis-turis di Bali yang kehabisan uang sering pergi ke kantor pos. Di sana biasanya ada surat-surat untuk para traveller yang lama dalam perjalanan dan tak memiliki alamat tetap.

Di sungai Nil, Flaubert dan kawan-kawannya mandi di sungai. Dan beberapa kali dia melihat buaya buas. Aku kira ini benar sebuah petualangan yang nekad. Betapa Flaubert mencatat bertemu para pedagang yang menjual budak. Selain Flaubert bertemu warga setempat dengan berbagai perangainya, ada penari derwis. Dia juga sering kali bertemu orang-orang penting, antara lain; gubernur di Aswan atau beberapa konsul Perancis. Yang menarik, Flaubert tiba di sebuah daerah bernama Pylon. Di sini Flaubert bilang, obelisk yang di pancangkan di tengah kota Paris, tepatnya di Place de Concorde adalah dari daerah Pylon ini. Flaubert juga memperhatikan ada gadis-gadis kecil yang telanjang. Fantasi erotis Flaubert ini mengingatkan kita pada Nabokov dengan “Lolita“nya. Antara Flaubert dan Nabokov ada kemiripan, yakni dianggap sebagai: penulis borjuis. Dengan kata lain, mereka berasal dari keluarga kaya. Flaubert lebih suka menikmati istirahat di kolam renang atau duduk-duduk santai, ketimbang keluar masuk sahara dengan alam yang buas.

Dari sungai Nil Flaubert dan kawan-kawannya kembali ke Kairo. Di Kairo dia bisa bilang: Inch Allah, 4 jam lagi akan meninggalkan Kairo menuju Alexandria. Di Alexandria, dia menginap di hotel mewah bernama Orient Hotel. Dia merasa sangat kecapaian, setengah mati. Bahkan dia bilang, candi-candi di Mesir sangat menjemukanku. Hanya memamerkan zaman agama antik. Saat Flaubert makan telur rebus, dia berang, karena telurnya dianggap terlalu keras. Maklumlah biasanya telur rebus orang barat, hanya dimasak ca.3 menit, sehingga masih setengah cair. Sedang di Mesir, aku kira mirip di tanah air, telur rebus, ya direbus beneran hingga matang total. Kebiasaan Flaubert merokok dengan pipa.

Perkiraanku Flaubert akan bercerita lebih detil lagi tentang sejarah kuno Mesir, seperti dalam novelnya yang lain berjudul Salammbo. Yang begitu rinci dengan hiruk pikuknya menjelaskan keruntuhan kerajaan Karthago di Tunisia. Di Mesir ini, sepertinya Flaubert patah hati. Hal itu tertulis dalam kalimat akhirnya:

“Apakah aku akan kembali ke sini lagi?, tidak tahu. Aku ingin mati di negeriku sendiri.”

Catatan Kecil: Daya tarikku pada gaya bahasa Flaubert saat mendiskripsikan alam.

Misal:

Langit menyangga awan, udara lembap, orang hanya bisa melihat laut.

Matahari sepanjang siang tak nampak, langit pucat dan kotor.

Kairo di mataku sunyi dan bisu.

Seluruh sungai Nil mandi kabut.

Malam hari memantul beberapa bintang.

Langit merah, bumi hitam.

Pada halaman buku ini dilengkapi peta route perjalanan sungai Nil di Mesir. Kalimat-kalimat Flaubert yang menarik antara lain; Setiap masa punya tema pembicaraan yang berbeda. Tiap abad menggunakan tinta yang beda. Matahari memerah keemasan tenggelam di atas langit.

Teknik penulisan buku ini hampir mirip buku hariannya Kafka atau novelnya Camus berjudul “Pes”. Awal-awal novel “Pes”, Camus hanya menuliskan hari, tanggal dan bulan. Demikian pula pada buku perjalanan Flaubert ini. Uniknya Flaubert menulis hari dan tanggal bukan pada awal tulisan, sebaliknya pada akhir tulisan. Kemiripan dengan buku harian Kafka, bukan terletak pada pemberian waktu, melainkan pada kalimat yang pendek-pendek. Flaubert menulis dengan kalimat pendek-pendek seperti ringkasan. Seperti kita ketahui, Kafka termasuk pecinta karya Flaubert.

Kalau kita bandingkan dengan beberapa buku perjalanan karangan orang lain sangatlah berbeda. Misalnya, pada buku perjalanan berjudul “India” karangan Naipaul. Dia menuliskan dari tema ke tema secara runut dan utuh dalam bentuk narasi. Demikian pula buku berjudul “Amerika Siang dan Malam” karangan Simone de Beauvoir. Pacar Sartre ini menghabiskan waktu enam bulan malang melintang di Amerika. Dia menulis dengan bentuk cerita yang utuh. Bukan terpenggal-penggal seperti pada Flaubert. Meskipun sama-sama berbentuk catatan perjalanan. Beauvoir tetap mencantumkan tanggal, bulan pada setiap tema barunya. Ada lagi kemiripan model tulisan Naipaul dan Beauvoir ini yaitu “Catatan Perjalanan dari Itali dan Swiss” dari Goethe. Pada 30 Oktober 1775, Goethe mulai mengadakan perjalanan ke Swiss. Dia lanjutkan pada 3 September 1786 ke Italia. Teknik Goethe menulis seperti bentuk narasi panjang yang utuh. Tanggal, bulan, serta tahun ditulis secara lengkap.

Membaca buku “Catatan Perjalanan” para penulis Eropa, menyadarkan kita betapa lahan sastra begitu luas. Tak terbatas pada cerita fiksi, dongeng, dan mitos. Tak hanya “Catatan Perjalanan” saja yang sering dibahas pada dunia sastra Barat, melainkan juga “Pertukaran Surat-Surat” antar pengarang, disamping biografi tentunya.

 Salam, SS http://sastra-indonesia.com/2020/10/gustave-flaubert-catatan-harian-dari-mesir/

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati