Senin, 23 Januari 2012

HALIM HD: Perahu Bahan Refleksi Kita

Halim HD/ Anton Bae (Pewawancara)
http://www.beritamusi.com/

PADA Senin, 20 Juli 2009 lalu, penerbit Pustaka Melayu, Teater Potlot, dan BeritaMusi.Com, bertempat di kantor redaksi BeritaMusi.Com, Jalan Basuki Rachmad No.1608-I, Palembang, mengadakan peluncuran dan diskusi novel Perahu karya Conie Sema. Sebagai pembicara dalam diskusi tampil budayawan Halim HD, peneliti sastra dari Balai Bahasa Palembang Dian S, dan Sutrisman Dinah, seorang aktifis pers yang kini bekerja untuk Sriwijaya Post.

Banyak hal yang dibahas pada diskusi novel Perahu tersebut. Baik yang berkaitan dengan alur dan penokohan dalam cerita, hingga fakta-fakta social-politik yang menjadi tema utama dari novel yang ditulis lelaki kelahiran Palembang, 24 April 1965.

Diskusi mengenai tema politik ini menjadi perhatian peserta diskusi, yang sebagian besar adalah aktifis prodemokrasi, pers, mahasiswa, dan pekerja seni. Diskusi ini pun berlanjut hingga ke ruang lainnya, seperti warung makan, kamar hotel, dan ruang tamu.

Berikut petikan pemikiran Halim HD mengenai novel perdana dari Conie Sema, seorang jurnalis yang bekerja buat RCTI, yang sebelumnya dikenal sebagai penggiat Teater Potlot, dan aktifis mahasiswa di Palembang.

Halim HD: Novel Perahu ini bisa menjadi bahan refleksi kita. Novel ini menyangkut satu perspektif sejarah, masa kontemporer tahun 1990-an, pra, reformasi dan postreformasi, yang bisa menjadi bahan refleksi kita untuk melihat. Dan dalam pengertian ini bahwa “harta” yang disampaikan dalam fakta sastra ini bisa memungkinkan kita untuk melihat ke mana arah Indonesia ini, ke mana arah aktivis LSM, arah kalangan jurnalis, kalangan birokrat, dan aktivis lingkungan hidup, dan bagaimana kondisi sosial, politik, ekonomi, akibat Orde Baru itu menciptakan ketertindasan sebagian besar masyarakat.

Sisi lainya novel Perahu ini kompleksitas masalahnya menyimpulkan satu sisi transgender yang sangat menarik sekali. Terlepas dari persoalan transgender itu dalam kaitan konstruksi ideologinya, ada yang menarik yakni masalah kontemporer Indonesia yang belakangan ini, dalam satu dekade sangat kuat sekali. Masalah Aids, homo dan lesbian itu, dan tanpa menyebut dengan jelas tetapi tampil dengan jelas lewat putusan persoalan.

Keputusan transgender itu ternyata bisa secara ideologis, tetapi juga bisa secara individual atau personal dilakukan orang lain.

BM: Karakter politiknya juga demikian?

Halim HD: Karakter hampir semua tokoh di dalam novel itu adalah korban. Kata kunci novel Perahu Conie Sema, kekuasaan dan penaklukan, penundukan atau penindasan khususnya di kalangan pesisir. Sebenarnya ini bisa kita tarik dalam satu benang merah kalau kita melihat Indonesia sebagai negara maritim dan bahari. Wilayah pesisir dan laut itu sebenarnya telah hancur sama sekali. Ironisnya, dan sangat memalukan sekali, di dalam novel ini digambarkan bagaimana kekuatan pesisir menjadi kekuatan yang sangat rapuh sekali akibat setruktur kekuasaan politik dan ekonomi, yang tidak bisa melihat secara adil pesisir sebagai jembatan kebudayaan, jembatan ekonomi.

BM: Ini menggugah juga bagi para politikus?

Halim HD:Ya, kalau mereka mau membacanya. Jika pun mereka mau membacanya, apa mereka juga bisa sadar. Saya meragukan hal itu. Jika para politisi kita membacanya, karya sastra menjadi jembatan pemikiran mereka untuk menjadi refleksi seperti perkataan awal saya tadi. Begitu pun para aktivis, mereka seharusnya membaca karya sastra seperti novel ini. Karena ketika fakta social, katakanlah analisa sosial di tengah kebuntuan, maka karya sastra bisa menjadi resolusi bahkan solusi dari kebuntuan tersebut. Sebagai suatu resolusi pemikiran, perenungan terhadap fakta yang terjadi saat ini. Dan coba merumuskan yang akan datang.

Saya tidak tahu apakah politisi kita saat ini betul-betul berkeinginan membangun ekonomi. Yang saya lihat cenderung membangun kepentingan mereka, berhubungan dengan satu bentuk lain yang lebih ekstrem lagi, yakni kekuasaan uang itu.

Sistem ekonomi seperti itu bukan hanya di Indonesia, tetapi juga secara global. Kehancuran sistem ekonomi ini terjadi akibat politik uang. Dalam sistem politik uang itu, kehancuran itu terjadi karena moneterisasi politik, dan ini yang mengakibatkan dimana transaksi kekuasan politik, deal, dan segala macam itu. Dan ini adalah bentuk ekstrim dari yang paling tinggi di bawah sistem kapitalisme juga mengalami krisis ini. Seperti di Amerika, semacam itu, transaksi uang itu. Dan itu menjadi persoalan kita saat ini.

22.07.2009

Tidak ada komentar:

Pengikut