Jumat, 05 Oktober 2018

MEMBACA PROSES KESADARAN MANUSIA

Kesan atas Kumpulan Cerpen “Bocah Luar Pagar” 
Ahmad Syauqi Sumbawi
Lahirnya sebuah karya sastra, pada umumnya, merepresentasikan proses berkesadaran. Dimulai dengan pembacaan atas hidup dan kehidupan, manusia membuat jarak. Bukan terpisah, tetapi menjadikannya sebagai “medan makna” untuk kemudian hadir dengan kesadaran atas eksistensinya, yang termanifestasikan dalam karya. Karena itu, sebuah karya sastra tidak hanya bermakna, tetapi juga menciptakan ruang bagi tumbuhnya kesadaran pada diri manusia.

Proses di atas merupakan catatan kesan terhadap 17 karya cerpen dalam buku antologi ini. Dari keseluruhannya, tampak “potensi kesadaran” berkelindan dalam ragam gagasan dan kreativitas para penulisnya, terutama berkaitan dengan permasalahan eksistensi diri, absurditas, maupun idealitas vis a vis realitas.

Kesadaran atas Eksistensi Diri

Persoalan eksistensi diungkapkan Arul Chandrana melalui cerpen ”Bocah Luar Pagar”— yang juga menjadi judul buku antologi—, dengan menghadirkan tokoh Amar dalam upaya mewujudkan keberadaan dirinya, yakni sebagai pelajar. Diawali dengan pengungkapan ketidakberdayaan, Arul menempatkan tokoh dalam posisi bertahan. Tidak lari, melainkan berdiri di luar pagar untuk melihat keberadaan diri yang tergambar dalam kehidupan di dalamnya. Ketika mengakrabi kondisi yang “menyiksa” sekaligus merawat harapan inilah, pemahaman atas konsep diri—kepenulisan dan dunia literasi— menjadi dorongan kuat untuk menerobos pagar. Tidak hanya meraih gambaran atas keberadaan diri, tetapi juga mengeskpresikannya, dimana pada gilirannya melahirkan kesadaran baru, yakni keberadaan sebagai penulis. Dari sini, tampak bahwa kesadaran atas eksistensi diri tidak bersifat tunggal, tetapi beragam mengikuti perkembangan seluruh potensi yang dimiliki oleh manusia.

Pada cerpen “Tekad Penulis Muda” karya Agus Buchori, eksistensi diri tidak dipandang sebagai hal yang tiba-tiba, tetapi mensyaratkan adanya proses. Dalam kaitan ini, sebuah target pencapaian dianggap penting sebagai “penanda” yang menghadirkan kesadaran. Selain itu, cerpen ini juga menampilkan entitas lain yang saling mempengaruhi dengan eksistensi diri. Hal inilah yang tersirat dalam tuntutan Gayatri kepada tokoh aku. Tidak hanya sebagai calon suami, tokoh aku juga harus “menjadi sesuatu”, yakni penulis yang keberadaannya ditandai oleh karya—yang dimuat—. Secara umum, cerpen ini memproyeksikan kehidupan para penulis—sastrawan—, dimana karya merupakan penanda atas kehadirannya.

Hubungan dengan keberadaan di luar eksistensi diri, diungkapkan oleh Imamuddin SA. Melalui cerpen “Kiyai Sumeh”, kesalihan dan dimensi supranatural ditampilkan sebagai kondisi yang melahirkan kharisma dan sugesti, dimana pada gilirannya menggerakkan perubahan nilai terkait keberadaan manusia—individu—dalam kehidupan masyarakat. Penambahan sebutan Kiyai kepada tokoh Sumeh merupakan pengakuan terhadap proses kemanusiaan, yang terus berlanjut dengan lahirnya perilaku konkrit masyarakat, yaitu menitipkan anak-anaknya kepada sang Kiyai. Dalam posisinya sebagai reaksi, pengakuan tersebut melahirkan reaksi lain, yakni kehadiran tokoh aku yang berusaha melenyapkan Kiyai Sumeh. Meskipun sebuah “alibi” diciptakan melalui keberadaan dua pemuda suruhan, tetapi keberadaan sebagai pembunuh, menjadi hal yang tidak bisa disembunyikan. Keberadaan ini juga diidentifikasi oleh tujuh orang anak, yang menuntut tokoh aku untuk menghadirkan kembali Kiyai Sumeh dalam kehidupan mereka. Kiyai Sumeh yang menjadi “penanda” atas keberadaan mereka sebagai santri.

Pemahaman atas keberadaan sebagai santri, juga diungkapkan oleh Luluk Dianah dalam cerpen “Gus Fahmi Cairkan Kebekuan Mawar Melatiku”. Dengan latar belakang hubungan antara santri dan Kyai—juga keluarganya—, lahir kesadaran baru pada tokoh aku. Tidak hanya sebagai santri, tokoh aku juga seorang perempuan yang mencintai putra Kyai-nya. Sayangnya, keberadaan sebagai santri menjadi “pagar” bagi perasaan dan harapannya sebagai perempuan. Secara umum, kesan cerpen ini mengarah pada proses “berkah” yang umumnya dibuka dengan kesadaran atas eksistensi diri dan perjuangan nilai-nilai.

Sementara dalam cerpen “Islah Pengabdian”, Jadid El Farisy menampilkan kenangan sebagai entitas yang mempengaruhi keberadaan diri dalam hubungan dengan yang lainnya. Dimulai dari kematian ayah, tokoh aku kemudian hidup di pesantren. Tidak seperti santri yang lain, tokoh aku tinggal di ndalem kyai, mengingat persahabatan antara ayah dan kyai. Di sinilah, hubungan santri dan kyai “tidak mandiri”, tetapi dibalut oleh kenangan seorang ayah. Kemudian setelah Bu Nyai meninggal dunia—pasca 1000 hari—, seluruh hubungan memperlihatkan proses rekonsiliasi, yakni ketika kyai berniat melamar ibu dari tokoh aku. Terkait hal tersebut, sebuah kesan memperlihatkan bahwa segala perbuatan yang didasari oleh niat dan tujuan yang baik, tidak akan merusak hubungan di antara manusia. Bahkan mempererat keberadaannya.

Kenangan sebagai ruang kesadaran manusia, menjadi kesan penting dari cerpen “Mozaik Rindu” karya Pradhini HK. Barangkali, karena berada di wilayah bawah sadar manusia, serta kehadirannya yang mensyaratkan entitas lain, maka wajar jika keberadaannya dianggap utopis. Dalam cerpen ini, foto keluarga merupakan entitas tersebut, yang tidak hanya menghadirkan kenangan pada tokoh aku, tetapi juga menghadirkan kesadaran tentang keberadaan dirinya, yakni seorang anak yang lama tidak bertemu dengan orang tuanya, disebabkan kesibukan sebagai dosen. Demi mendamaikan rasa rindu, maka tokoh aku pun mengubah rencana. Pulang, untuk bertemu dengan keberadaan yang memberi makna keberadaan dirinya sebagai seorang anak.

Kenangan pada cerpen “Berkunjung” karya Fitri Areta, dimunculkan dalam kaitannya dengan kepentingan manusia. Selain itu, berkunjung juga menghadirkan kesadaran terkait keberadaan tokoh aku sebagai sahabat. Dalam posisi dilematis antara persahabatan dan kepentingan, maka wajar jika kegamangan menjadi ekspresi umum dari tokoh aku saat bertemu dengan Rani, sahabat masa kecilnya. Kegamangan yang juga ditangkap oleh Rani. Hal yang menarik dari cerpen ini, adalah posisi dilematis yang dijelaskan di bagian akhir cerpen, yakni ketika map merah dihadirkan. Map merah berisi berkas dokumen yang disiapkan untuk menjadi tanda terima penjualan sawah peninggalan orang tua sahabatnya, yang tampaknya dimaksudkan oleh Fitri sebagai suspens. Dan sebagai pilihan solusinya, kesadaran atas persahabatan yang dijalin secara emosional dan senantiasa tersimpan dalam kenangan, tidak bisa dibandingkan dengan hubungan apapun yang didasarkan pada kepentingan.

Berbeda dengan kenangan yang sudah “jadi” di atas, Haris del Hakim menampilkan peristiwa-peristiwa “potensial” untuk tidak mudah dilupakan dalam kehidupan tokoh saya. Barangkali, hal ini bisa menjadi alasan terkait pemilihan judul “Sang Guru” dalam cerpennya kali ini. Karena itu, wajar jika beberapa peristiwa yang dihadirkan mengarah pada hubungan yang sifatnya personal dan emosional. Hal ini bisa dibaca pada kesan pertemuan pertama dan juga reaksi tokoh saya ketika Sang Guru meninggal dunia. Begitu juga peristiwa di sekitar munculnya dialog-dialog di antara keduanya. Kesan yang tampak dalam cerpen ini, yakni peristiwa di atas tidak hanya tertancap kuat dalam memori, tetapi potensial dalam membentuk diri manusia.

Kesadaran dan Absurditas Manusia

Persoalan terkait absurditas hidup manusia diungkapkan oleh A. Rodhi Murtadho dalam cerpen “Abadi”. Keinginan untuk hidup selama mungkin dengan cara melakukan penindasan dan sebagainya, menyiratkan kehampaan makna atas keberadaan manusia. Hal inilah yang terjadi pada tokoh aku, yang semakin terjerumus dalam absurditas ketika segala peristiwa berjalan menguatkan asumsinya. Karena berpijak pada materialisme, maka tidak heran jika hal tersebut akan sampai pada kondisi kering spiritual, kendati tidak diakui, sebagaimana perbuatan tokoh aku yang lebih merupakan pelarian. Semakin jauh dalam keterasingan, tokoh aku kemudian mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terkait hidupnya pada sosok Pak Kirman yang mewakili kesadaran spiritualitas. Satu kesan penting yang dapat diungkapkan, bahwa hidup bukan menunda kematian, tapi perjalanan kembali dengan kesadaran atas hidup dan kehidupan. 

Kekalahan hidup menjadi kesan penting dalam cerpen berjudul “Bang Mandor” karya Ahmad Zaini, yang diarahkan untuk menghidupkan kesadaran baru dalam setiap perubahan. Di sini, menjadi tua, tampaknya menjadi satu-satunya absurditas yang dihadapi oleh manusia yang cenderung mengandalkan kekuatan fisik. Begitu juga yang terjadi pada tokoh Darmo, yang tidak menyangka bahwa posisi sebagai mandor perusahaan, dirampas dari tangannya. Tentu saja, Darmo tidak percaya dan menggugat. Karena tidak ada kesadaran lain terkait keberadaan dirinya, selain menjadi mandor. Bahkan hingga akhir hidupnya. Kondisi ini yang kemudian mengantarkan Darmo pada keterasingan hidup. Kalaupun ada kesadaran, maka hal itu adalah ketidakberdayaan yang semakin kentara bersama tubuh yang semakin renta.

Keterasingan menjadi kesan yang kuat dalam cerpen “Mukjizat dalam Cerita yang Meragukan” karya Atho’illah. Hal inilah yang melatarbelakangi lahirnya cerita seorang tamu yang datang ke rumah Romo Yai di malam hari yang hujan. Keterasingan hidup yang disebabkan kondisi yang tidak sejalan antara harapan dan kenyataan pada diri Kamidi. Tidak seperti empat orang kyai pengasuh pesantren, Kamidi tidak menemukan makna keberadaan dirinya, selain adanya itu sendiri. Begitu juga cerita membanggakan yang diulang-ulangnya, yang tidak lebih sebagai tempat pelarian bagi kehidupannya yang tidak berarti. Kondisi ini juga yang tampaknya dialami oleh mereka yang melestarikannya secara turun temurun. Lantas, apa kondisi yang mewakili keberadaan orang-orang yang mengetahui kebenaran, namun tetap melestarikan versi bualannya?!

Kondisi absurd ditampilkan Yuana Fatwallah dalam cerpen berjudul “Gelap”, yang menceritakan nonton bareng pertandingan sepakbola di halaman rumah Pak Lurah. Akan tetapi, berbeda dengan cerpen “Bang Mandor”, setiap permasalahan dalam cerpen ini disikapi secara sederhana. Menunggu pertandingan bola dengan bercengkerama bersama tetangga. Menghidupkan televisi tepat pada waktunya, sebagai solusi atas kondisinya yang bermasalah. Juga, tidak ada kekecewaan yang berlebihan ketika televisi tiba-tiba mati di saat pertandingan bola sedang berlangsung. Di sini, absurditas dimaknai sebagai hal yang biasa, sebagaimana tokoh Iqbal yang akrab dengan gelap. Hal yang menjadi kesan dalam cerpen ini, bahwa ketidakcocokan antara harapan dan kenyataan, perlu diakrabi secara sederhana. Dan ini hanya bisa dilakukan ketika kehidupan manusia didasarkan pada nilai-nilai spiritual.

Kesadaran dan Idealitas versus Realitas

Persoalan terkait idealitas dunia kesusastraan diangkat oleh Saiful Anam Assyaibani alam cerpen “Belajar Sastra.” Didorong oleh keinginan untuk mengikuti lomba menulis cerpen, tokoh Aluna memberanikan diri untuk mengadakan percakapan lebih intens dengan tokoh ustadz—yang menjadi narasumber diskusi literasi—. Kehidupan para sastrawan dan karya-karyanya yang merepresentasikan idealitas dunia kesusastraan disajikan oleh tokoh ustadz. Begitu juga pemahaman dalam berkarya, dimana pada gilirannya merubah mindset tokoh Aluna. Pragmatisme untuk mengikuti lomba, berevolusi menjadi proses berkesadaran. Hal yang menarik, sekaligus menjadi suspens cerpen ini adalah hadirnya realitas—yakni permasalahan ekonomi—, yang tampaknya sengaja dimunculkan untuk menjadi ruang-ruang bagi lahirnya kesadaran dalam pembacaannya.

Jika dunia kepenulisan dalam cerpen Saiful menunjuk pada proses kesadaran atas kemanusiaan, cerpen berjudul “Impian” karya Nur Sholihah menghadirkan nilai-nilai yang menjadi dasar orientasinya. Bahwa menulis harus dimaknai sebagai dakwah bil qalam. Pemahaman ini sangat efektif, sebagaimana yang dialami oleh tokoh Firman ketika dihadapkan dengan “realitas yang mengganggu”. Baik permasalahan ekonomi dan asumsi negatif yang diwakili oleh pandangan tokoh ibu, “narasi yang terpenggal” tentang kepenyairan, maupun rasa tidak percaya diri. Dengan pemahaman menulis sebagai bagian dari melaksanakan perintah Allah, maka dapat dikatakan bahwa menulis adalah proses ideologis. Hal positif yang bisa didapatkan, yaitu gairah dan ekspresi akan tersalurkan secara wajar, dimana secara perlahan turut merubah stigma masyarakat terhadap para sastrawan yang akrab dengan “kegilaan”.

Proyeksi idealitas “yang kalah” ketika berhadapan dengan realitas, dalam cerpen “Balada Warung Kopi” karya Nuruddin Zanki, secara spesifik menunjuk pada harapan sosial. Bukan hasil yang menjadi ukuran, tetapi kehendak baik dan usaha maksimal. Dalam pembacaan sederhana, cerpen ini menghadirkan kritik terhadap “kebandelan” manusia ketika berada pada kondisi yang tidak ideal. Keberadaan warung kopi yang hanya menjual kopi, tidak lain merupakan pelarian dari kondisi kekurangan ekonomi pada tokoh Jiwo. Bukan untuk menghadapi kenyataan, warung kopi adalah tempat untuk menghadirkan berbagai dalih atas kekalahan hidup secara sosial.

Posisi saling berhadapan antara idealitas versus realitas dalam kehidupan manusia menjadi kesan paling kuat dari cerpen “Mbok Nem dan Kelulusan” karya Atafras. Keberadaan orang tua yang tidak ditemukan oleh tokoh Claverico, membuatnya yakin bahwa keduanya adalah orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Berbeda dengan tokoh Mbok Nem—orang lain—yang terus mencurahkan kasih sayang kepadanya. Mbok Nem yang selalu membela ibunya, ketika mereka berdebat. Mbok Nem yang terus bekerja, membiayai sekolahnya, meskipun dengan tubuh renta. Kondisi inilah yang menjadikan Mbok Nem digambarkan sebagai sosok yang ideal oleh Claverico. Dan, rahasia pun terbuka. Mbok Nem mengemis untuk memenuhi segala kebutuhan, termasuk biaya sekolah Claverico. Kenyataan ini membuatnya kaget. Idealitas terkait keberadaan Mbok Nem, seketika hancur. Termasuk juga, kelulusannya. Hancur bersama jasad Mbok Nem yang terkubur. Dalam kesendirian bersama kenangan tentang Mbok Nem, Claverico terus berusaha memperjuangkan idealitas. Tidak lagi pada sosok, melainkan pada nilai-nilai.

Kesadaran idealitas terkait identitas diungkapkan oleh Ahad Bee dalam cerpen berjudul “Hujrahku dan Hijabku”. Hal yang digarisbawahi dalam cerpen ini, bahwa menjadi pribadi yang ideal mensyaratkan kehendak yang kuat untuk melakukan perubahan. Namun, hal itu belum cukup, tanpa kesadaran terhadap nilai-nilai religius yang menjadi pijakannya, sebagaimana digambarkan dalam episode tokoh aku yang berada pada posisi dilematis. Karena itu, setiap perubahan untuk menjadi lebih baik harus dimaknai sebagai hijrah. Begitupun dengan berhijab, yang tidak cukup dipandang sebagai upaya menutup aurat jasmaniah, tetapi harus bermakna ketakwaan. Pada tataran yang lebih khusus, berhijab pada hakikatnya adalah menutup segala sesuatu kecuali Dzat-nya.

Ulasan di atas merupakan catatan kesan penulis terhadap 17 cerpen yang terkumpul dalam buku Bocah Luar pagar ini. Karena lebih diarahkan untuk mencari pesan umum dan kategorisasinya, tentunya catatan ini memiliki banyak kekurangan. Juga belum mewadahi seluruh unsur yang terkandung di dalamnya. Sebagai karya yang sudah jadi, maka inilah “Bocah Luar pagar” yang setidaknya dapat diharapkan sebagai ruang-ruang bagi lahirnya kesadaran. [*]

Tulisan ini disampaikan pada acara Launching dan Bedah buku kumpulan cerpen "Bocah Luar Pagar" , jumat, 5 oktober 2018 di PERPUSTAKAAN DAERAH LAMONGAN.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Azis Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.S. Laksana Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Malik Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adi Prasetyo Afnan Malay Afrizal Malna Afthonul Afif Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Suyudi Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Almania Rohmah Alunk Estohank Amalia Sulfana Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Aminullah HA Noor Andari Karina Anom Andi Nur Aminah Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Anindita S. Thayf Anitya Wahdini Anton Bae Anton Kurnia Anung Wendyartaka Anwar Nuris Anwari WMK Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arief Budiman Ariel Heryanto Arif Saifudin Yudistira Arif Zulkifli Arifi Saiman Aris Kurniawan Arman A.Z. Arsyad Indradi Arti Bumi Intaran Ary Wibowo AS Sumbawi Asarpin Asbari N. Krisna Asep Salahudin Asep Sambodja Asti Musman Atep Kurnia Atih Ardiansyah Aulia A Muhammad Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar B. Nawangga Putra Badaruddin Amir Bagja Hidayat Bakdi Sumanto Balada Bale Aksara Bambang Agung Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Beni Setia Benni Indo Benny Arnas Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Duka Berita Utama Bernando J Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bonari Nabonenar Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Buku Kritik Sastra Bung Tomo Burhanuddin Bella Butet Kartaredjasa Cahyo Junaedy Cak Kandar Caroline Damanik Catatan Cecep Syamsul Hari Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Chavchay Saifullah Cornelius Helmy Herlambang D. Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Sunendar Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Dante Alighieri David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Pramono Delvi Yandra Deni Andriana Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewey Setiawan Dewi Rina Cahyani Dewi Sri Utami Dian Hartati Diana A.V. Sasa Dianing Widya Yudhistira Dina Jerphanion Djadjat Sudradjat Djasepudin Djoko Pitono Djoko Saryono Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Donny Syofyan Dony P. Herwanto Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi Dudi Rustandi Dwi Arjanto Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwicipta Dwijo Maksum E. M. Cioran E. Syahputra Egidius Patnistik Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendrawan Sofyan Eko Triono Elisa Dwi Wardani Ellyn Novellin Elokdyah Meswati Emha Ainun Nadjib Endro Yuwanto Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Esai Evi Idawati F Dewi Ria Utari F. Dewi Ria Utari Fadlillah Malin Sutan Kayo Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Alayubi Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Faruk HT Fatah Yasin Noor Fatkhul Anas Fazabinal Alim Fazar Muhardi Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Frans Ekodhanto Fransiskus X. Taolin Franz Kafka Fuad Nawawi Gabriel García Márquez Gde Artawa Geger Riyanto Gendhotwukir Gerakan Surah Buku (GSB) Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gunoto Saparie Gusty Fahik H. Rosihan Anwar H.B. Jassin Hadi Napster Halim HD Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Haris del Hakim Hary B Kori’un Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hasyuda Abadi Hawe Setiawan Helvy Tiana Rosa Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Herdiyan Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman Hasyim Hermien Y. Kleden Hernadi Tanzil Herry Lamongan Heru Emka Hikmat Gumelar Holy Adib Hudan Hidayat Humam S Chudori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Tito Sianipar Ian Ahong Guruh IBM. Dharma Palguna Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi IDG Windhu Sancaya Iffah Nur Arifah Ignas Kleden Ignasius S. Roy Tei Seran Ignatius Haryanto Ignatius Liliek Ika Karlina Idris Ilham Khoiri Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indah S. Pratidina Indiar Manggara Indra Tranggono Indrian Koto Insaf Albert Tarigan Ipik Tanoyo Irine Rakhmawati Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Norman Istiqomatul Hayati Iswara N Raditya Iverdixon Tinungki Iwan Gunadi Iwan Nurdaya Djafar Jadid Al Farisy Jakob Sumardjo Jamal D. Rahman Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jay Am Jaya Suprana Jean-Paul Sartre JJ. Kusni Joanito De Saojoao Jodhi Yudono John Js Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Abdul Munif Jusuf AN Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Ki Panji Kusmin Kingkin Puput Kinanti Kirana Kejora Ko Hyeong Ryeol Koh Young Hun Komarudin Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Lenah Susianty Leon Trotsky Linda Christanty Liza Wahyuninto Lona Olavia Lucia Idayani Luhung Sapto Nugroho Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lusiana Indriasari Lutfi Mardiansyah M Syakir M. Faizi M. Fauzi Sukri M. Mustafied M. Yoesoef M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki Made Wianta Mahmoud Darwish Mahmud Jauhari Ali Majalah Budaya Jejak Makmur Dimila Malkan Junaidi Maman S Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Mardiyah Chamim Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Mariana Amiruddin Martin Aleida Marwanto Mas Ruscitadewi Masdharmadji Mashuri Masuki M. Astro Media Dunia Sastra Media: Crayon on Paper Mega Vristian Melani Budianta Mezra E Pellondou MG. Sungatno Micky Hidayat Mikael Johani Mikhael Dua Misbahus Surur Moch Arif Makruf Mohamad Fauzi Mohamad Sobary Mohamed Nasser Mohamed Mohammad Takdir Ilahi Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Qodari Muhammad Rain Muhammad Subarkah Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyidin Mujtahid Munawir Aziz Musa Asy’arie Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N. Mursidi Nafi’ah Al-Ma’rab Naqib Najah Narudin Pituin Naskah Teater Nasru Alam Aziz Nelson Alwi Neni Ridarineni Nezar Patria Ni Made Purnamasari Ni Putu Rastiti Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Noval Jubbek Novelet Nunung Nurdiah Nur Utami Sari’at Kurniati Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurhadi BW Obrolan Odhy`s Okta Adetya Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Otto Sukatno CR Pablo Neruda Patricia Pawestri PDS H.B. Jassin Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pranita Dewi Prosa Proses Kreatif Puisi Puisi Pertemuan Mahasiswa Puji Santosa Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Setia Putu Wijaya R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Rahmah Maulidia Rahmi Hattani Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rambuana Ramzah Dambul Raudal Tanjung Banua Redhitya Wempi Ansori Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Revolusi Ria Febrina Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Richard Strauss Rida K Liamsi Riduan Situmorang Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Rina Mahfuzah Nst Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roland Barthes Romi Zarman Romo Jansen Boediantono Rosidi Ruslani S Prana Dharmasta S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabine Müller Sabrank Suparno Safitri Ningrum Saiful Amin Ghofur Sajak Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sastra Using Satmoko Budi Santoso Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sayuri Yosiana Sayyid Madany Syani Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sem Purba Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Shiny.ane el’poesya Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siti Mugi Rahayu Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sonya Helen Sinombor Sosiawan Leak Sri Rominah Sri Wintala Achmad St. Sularto STKIP PGRI Ponorogo Subagio Sastrowardoyo Sudarmoko Sudaryono Sudirman Sugeng Satya Dharma Suhadi Sujiwo Tedjo Sukar Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susilowati Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Buyil Syaifuddin Gani Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theresia Purbandini Tia Setiadi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udo Z. Karzi Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Urwatul Wustqo Usman Arrumy Usman Awang UU Hamidy Vinc. Kristianto Batuadji Vladimir I. Braginsky W.S. Rendra Wahib Muthalib Wahyu Utomo Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weni Suryandari Wiko Antoni Wina Karnie Winarta Adisubrata Wiwik Widayaningtias Yanto le Honzo Yanuar Widodo Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yudhis M. Burhanudin Yukio Mishima Yulhasni Yuli Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusmar Yusuf Yusri Fajar Yuswinardi Yuval Noah Harari Zaki Zubaidi Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zen Rachmat Sugito Zuriati