Selasa, 06 Desember 2011

Realisme-Mitos dalam Cerpen-cerpen Benny Arnas

Hary B Kori’un
Riau Pos, 29 Mei 2011

1
BAGI sebuah karya kreatif (dalam hal ini prosa [cerpen]), pengarang adalah “tuhan” yang bisa menentukan semuanya: mulai dari hidup-mati sang tokoh, nasib, jalan hidup, menderita-bahagia, jatuh cinta-patah hati, kaya-miskin, dan sabagainya. Pengarang punya hak mengatur semuanya, dengan karakter tokoh masing-masing, di mana setting-nya, bagaimana wajah tokoh, bagaimana prilakunya, apa yang hendak dan telah dibuatnya, termasuk sebab-akibatnya. Sebagai “tuhan” bagi karyanya, pengarang harus cerdas menciptakan tokoh-tokohnya, agar kekuatan yang dibangun dalam karya fiksinya juga terasa “hidup”.

Menurut Nietzsche, manusia adalah dewa terakhir yang masih hidup setelah Tuhan diberi batu nisan. Baginya, manusia harus mencipta tak henti-hentinya, karena ketika Tuhan telah mati, tak ada lagi yang bisa menciptakan kecuali manusia. Penciptaan merupakan pelunasan terhadap penderitaan dan cahaya yang kian terang dalam kehidupan (creation, that is the great redemption from suffering, and life’s growing light).1

Menurut JW Goethe, karya sastra harus memiliki arah. Kehidupan dunia yang eksoteris (menekankan kepuasan aspek lahiriah) telah meracuni kehidupan modern, yang mengesampinghkan esoteris, tabu, dan sakral, sehingga arahan dunia batin manusia yang suci telah terjerembab akarnya, dan kenyataan inilah yang menjadi sumber inspirasi karya-karya modern. Untuk itulah, sastrawan dalam menciptakan karya harus memiliki komitmen dimensi batin, esoteris yang bersih dan suci. Sebab karya sastra adalah bentuk pengungkapan batin yang paling dalam tentang keberadaan, eksistensi manusia sebagai ciptaan Tuhan.2

Di bagian lain, TS Elliot, seorang penyair Inggris yang dianggap sangat berpengaruh di zamannya hingga sekarang, mengatakan, ukuran nilai suatu karya sastra harus dilihat dari aspek etika dan keagamaan. Bila ada gagasan atau semacam kesepakatan dalam suatu masyarakat tentang etika keagamaan, maka karya sastra haruslah ‘baik’ sesuai dengan etika keagamaan. Sumber etika maupun budaya (dalam karya sastra) adalah agama.3 Dan dalam hal ini, Islam ternyata merupakan salah satu faktor penentu yang paling penting bagi terciptanya iklim sosial-budaya Indonesia modern. Seorang pengarang diharapkan mendalami agama sesuai dengan kepercayaan masing-masing secara intens, atau teologi sebagai inspirasi.4

Menciptakan karya yang tak henti-henti seperti Nietzsche; karya yang memiliki arah ke lebih baik seperti dalam pikiran JW Goethe; dan karya yang memiliki aspek etika dan agama seperti TS Elliot, terlihat dalam cerpen-cerpen Benny Arnas (BA) dalam buku kumpulan cerita pendek Bulan Celurit Api (BCA [Koekoesan, Jakarta: 2010]). Hampir di semua cerpen-cerpennya dalam kumpulan ini, ketiga unsur itu terlihat lekat. BA berhasil memainkan dirinya sebagai seorang penutur, tukang cerita, yang bisa membius audiensnya, dengan bahasa akar rumput –bahasa yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat di mana cerita itu berasal– meskipun mungkin banyak tak dimengerti atau harus membuka kamus bagi pembaca umum yang tak berasal dari akar cerita itu tumbuh. Di sinilah letak kekhasan dan keunikan cerpen-cerpen BA, yang kadang centil, berhura-hura dengan kata-kata, namun menukik tajam membidas hati kita saat menjelaskan ada realitas-mitos masyarakat yang dibangunkan. Realisme-mitos, inilah yang membedakan BA dengan tukang cerita lainnya –maksudnya para cerpenis lainnya.

2
Pramoedya Ananta Toer mengusung realisme dalam sastra yang menjanjikan pembebasan bagi sastrawan dan publik dari belenggu pemikiran, paham, tradisi, mitos, dan legenda yang tidak manusiawi. Dengan mengedepankan fakta-fakta sosial, berarti publik diberi hak untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu hal tanpa merasa didikte.5 Pijakan inilah, dulu, yang dipakai Pramoedya bersama Lekra-nya, dalam wujud realisme sosial yang menjadi kabar petakut bagi sastrawan non-Lekra (yang kemudian bergabung dalam Manikebu).

Lalu, ada aliran surialisme dan realisme-magis. Istilah ini biasanya dipakai di dunia sastra untuk menyebut karya penulis seperti Gabriel-Garcia Marquez (ingatlah novel dahsyatnya, One Hundred Years of Solitude [Cien años de soledad, 1967] yang diterjemahkan menjadi Seratus Tahun Kesunyian), Jose Louis Borges, atau Ben Okri. Dalam film, kritikus sastra Wendy B Faris menyebut film The Withes of Eastwick dan Field of Dreams, misalnya, sebagai film realisme-magis. Apa sebenarnya realisme-magis ini? Penggunaan istilah realisme-magis dipelopori oleh kritikus seni Franz Roh pada tahun 1925 untuk melihat kembalinya banyak pelukis kepada realisme sesudah banyak sekali yang berkarya dengan lukisan-lukisan abstrak. Roh melihat pada karya-karya pelukis seperti Dix Otto dan Giorgio di Chirio, realisme tidak tampil sebagai realisme semata, tetapi ada elemen magis di dalamnya. Elemen magis ini intuitif dan tak terjelaskan.

Dalam surealisme dan realisme-magis, respons kita seharusnya tidak sama. Manusia, ruang, waktu, dan peristiwa tak berjalan dalam logika internal yang padu layaknya film realis. Surealisme sempat menjadi gerakan seni yang penting tahun 1930-an yang dipelopori oleh Andre Breton. Kalau mengikuti sejarahnya, surealisme merupakan kelanjutan dari dadaisme yang merupakan gerakan yang mengabaikan rasionalisme dalam berkarya. Tak perlu ada alasan-alasan masuk akal dalam berkarya. Pada dasarnya dadaisme adalah sebuah gerakan anti-art, gerakan anti seni yang melecehkan rationale dalam berkarya.6

Lalu, bagaimana dengan realisme-mitos? Tak jauh berbeda dengan pemahaman kita tentang realisme-magis, realisme-mitos yang ingin saya sampaikan tentang cerpen-cerpen BA, adalah sebuah upaya menjadikan mitos sebagai bagian penting dalam karya sastra (cerpen) modern. Mitos atau mite (myth) adalah cerita prosa rakyat yang tokohnya para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain pada masa lampau dan dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Mitos pada umumnya menceritakan tentang terjadinya alam semesta, dunia, bentuk khas binatang, bentuk topografi, petualangan para dewa, kisah percintaan mereka dan sebagainya.7 Namun dalam hal ini, BA tidak hanya menjadikan cerita rakyat yang memang sebuah mitos menjadi dongengan modern dalam cerpen-cerpennya, tetapi juga kisah-kisah realis yang justru menjadi mirip mitos.

3
HARUS diakui, akhir-akhir ini nama BA sangat fenomenal dalam dunia cerpen Indonesia, terutama cerpen koran. Hampir tidak ada redaktur budaya di media-media Indonesia yang “berani” menolak cerpen-cerpen BA. Bahkan, ada sebuah media yang sampai harus antri kepada BA untuk bisa memuat cerpennya, padahal biasanya justru penulislah yang antri untuk mendapatkan kesempatan karyanya dimuat. Fenomena ini hampir sama dengan pertengahan tahun 2000-an ketika nama Raudal Tanjung Banua mencuat ke permukaan jagad cerpen Indonesia. Ketika itu, hampir tak ada media –baik media mainstream atau media biasa— yang menolak cerpen Raudal. Atau jika diurut lagi ke belakang, nama Gus Tf Sakai juga sempat menjadi fenomena cerpen koran Indonesia yang namanya hampir setiap pekan menghiasi halaman budaya media-media di Indonesia.

Yang menarik adalah, dua nama tersebut “sangat dikenal” oleh BA. Dalam catatan pengantarnya, selain beberapa nama yang menjadi teman diskusinya, Raudal dan Gus Tf adalah dua di antaranya. Entah faktor kebetulan atau tidak, ada ikatan emosional yang menghubungkan BA dengan Raudal atau Gus. Meskipun lahir dan besar di Lubuklinggau –sebuah kota di pinggir Jalan Lintas Barat Sumatera— BA menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang. Aroma ranah Minangkabau sangat berpengaruh dalam gaya cerita BA, dan –semoga tesis ini tidak salah— ada kecenderungan gaya tidak jauh beda antara gaya bertutur BA dengan Raudal8 maupun Gus Tf.9 Saya tidak ingin mengatakan bahwa BA punya kecendrungan mimikri gaya Raudal dan Gus Tf, tetapi secara tidak langsung, kesamaan alam yang membesarkan ketiganya, di beberapa sisi, menjadi latar belakang yang membuat cerpen-cerpen ketiganya memiliki benang merah. Karya sastra lahir tidak dari kekosongan. Kredo ini berlaku bagi siapa saja, bahwa sebelum karya itu ada, sudah ada karya-karya lainnya.

Namun, di luar persoalan itu, BA telah mampu mengembalikan sebuah cerpen benar-benar menjadi sebuah cerita asalnya yang dekat dengan penuturnya. Berbeda dengan Seno Gumira Ajidarma10 –salah satu cerpenis kuat Indonesia— atau Hamsat Rangkuti, Yanusa Nugroho, Triyanto Triwikromo, Linda Christanty, dll, yang banyak mengupas persoalan manusia modern dengan segala problematikanya, BA justru mengambil cerita-cerita masyarakatnya, masyarakat di mana dia hidup dan tinggal yang juga mempengaruhi secara pribadi dirinya.

Dalam cerpen “Bulan Celurit Api” yang menjadi judul kumpulan ini, BA berkisah tentang kepercayaan masyarakat tempatan tentang sesuatu yang akan terjadi ketika bulan merah berbentuk celurit (bulan baru atau bulan akhir?) yang seolah-olah menantang atap sebuah rumah limas. Mak Muna, sang tokoh utama, memiliki firasat bahwa akan ada hal buruk yang akan terjadi di kampungnya. Masyarakat sudah lupa akan tanda-tanda itu, tetapi Mak Muna masih ingat, meski akhirnya dia harus menghadapi kenyataan ketika justru rumahnya yang menjadi korban amukan massa ketika anak kandungnya melakukan perzinahan. Kisah cerpen ini amat sederhana dengan bahasa sehari-hari penuturnya. Kemampuan BA menyerap bahasa penutur inilah yang tak banyak dikuasai oleh cerpenis lainnya yang terbiasa dengan bahasa dan diksi lebih modern. Kita akan menemukan bahasa-bahasa renyah, termasuk bekacuk, misalnya, bahasa kasar masyarakat Lubuklinggau dan lebih luas masyarakat Sumatera Selatan dan Jambi. Ada nilai-nilai religius yang disampaikan BA dalam cerpen ini, termasuk kritik terhadap masyarakat pedesaan yang sok modern. Dalam pemilihan nama anak-anak mereka misalnya.

BA juga sangat fasih sebagai tukan cerita dalam cerpen “Hari Matinya Ketip Isa”. Di luar serapan lokalitas yang diambil BA, pilihan karakter antagonis sebagai tokoh utama (Mak Zahar), juga suatu hal yang menarik. Banyak cerpenis kita yang tak suka memakai tokoh utamanya karakter antagonis. Mak Zahar dalam cerpen ini mewakili sisi hitam karakter masyarakat pedesaan yang berpura-pura lugu, tapi judes, suka berutang, dan gagal memberikan nilai dan etika dalam mendidik anak-anaknya, padahal dia istri seorang ketib, seorang tokoh masyarakat yang amat dihormati. Mak Zahar menjadi prototipe masyarakat kelas bawah, yang selama ini dianggap sebagai masyarakat yang santun, lugu dan jujur.

Cerpen lainnya, “Kembang Tanjung Kelopak Tujuh”, adalah sebuah cerpen yang diserap dari mitologi masyarakat tentang munculnya hantu perempuan, dengan latar belakang bunga tanjung yang ditakuti orang. Jelas, dalam cerpen ini, BA tidak hanya sekadar menjadi tukang cerita, tetapi melakukan riset yang baik ketika mampu mengembangkan tokoh-tokoh berbau mitos dan mistis seperti Dayang Torek, Putri Selendang Kuning, Dayang Jeruju, dll. Banyaknya catatan kaki dalam cerpen ini, memperlihatkan bahwa BA sangat serius menggarap mitos ini.

Sementara dalam “Malam Raja”, BA juga tak bisa lari dari mitos tentang perempuan hantu yang bisa membunuh mantan kekasihnya. Sebenarnya, cerpen ini agak keluar dari mainstream BA dalam buku ini. Dia bercerita tentang keperawanan yang hilang akibat kerja keras, terjerengkang, terpeleset dan sebagainya, sama seperti manusia modern yang kehilangan keperawanannya karena menjadi atlet senam atau sering naik sepeda. Mitos tentang keperawanan dalam cerpen ini, sebenarnya amat sederhana dan sudah banyak ditulis banyak pengarang. Tentang tokoh “kau” yang anak tunggal orang kaya di mana si “aku” yang miskin dan papa bekerja sebagai pembantu, dengan gambaran keluarga rusak, mulai dari sang ayah yang haji berkali-kali tapi suka meremas (maaf) pantat si “aku”, juga seorang ibu yang pemarah, khas cerita sinetron kita hari ini. Tetapi BA berhasil mengubahnya menjadi cerita yang menarik dengan teknik yang berbeda dan membuat kita jadi memahami sisi-sisi lain dalam dunia yang melibatkan mitos keperawanan itu.

Cerpen-cerpen lainnya, seperti “Tukang Cerita”, “Surat-sajak yang Mengantarmu Pulang”, “Bujang Kurap” dan yang lainnya, memiliki rasa yang sama: tentang kearifan lokal yang dikisahkan dengan penuturan tempatan sehingga ada kekayaan bahasa dan kerenyahan bertutur yang pasti jarang kita temui dalam cerpen-cerpen pengarang lainnya. Saya menduga, gaya bertutur inilah yang disukai banyak editor/redaktur sastra kita saat ini, karena gaya seperti ini banyak ditinggalkan. Juga penyerapan mitologi lokal, menjadi daya tarik tersendiri.

Hanya saja –untuk yang ini saya harus meminta maaf kepada BA— bahwa di luar segala keseriusan dan menariknya cerpen-cerpennya, kadang-kadang setelah selesai membaca cerpen-cerpen tersebut, tak banyak yang istimewa yang tertinggal di ingatan kita. Ini jamak terjadi, karena cerpen-cerpen yang bercerita seperti ini memang gampang dilupakan, meskipun tak bisa dilupakan.

Saya tak bisa mendedah terlalu panjang-lebar cerpen-cerpen BA dalam ruang yang pendek ini. Tetapi, seperti di awal saya jelaskan, bahwa cerpen-cerpen BA mewakili pemikiran Nietzsche, JW Goethe, dan TS Elliot. Bahwa karya sastra mestinya dibuat serius, memiliki makna, dan berguna bagi kebaikan.***

Catatan:

1. Lihat Supaat I Lathief, Sastra: Eksistensialisme-Mistisisme Religius (Pustaka Ilalang, Lamongan: 2008), hal. 165.
2. Ibid, hal. 166.
3. Opcit, hal.166.
4. Hal ini diungkapkan oleh seorang Belanda non-muslim, J Harris Proctor. Lihat Supaat I Lathief, Opcit, hal. 166-167.
5. “Realisme dalam Sastra Janjikan Pembebasan”, http://www.kompas.com/, Sabtu, 3 Januari 2004.
6. Eric Sasono, “Banyu yang Takut Air”, http://manuskripdody.blogspot.com, Rabu, 7 Mei 2008
7. Lihat id.wikipedia.org.
8. Raudal Tanjung Banua adalah salah satu cerpenis terbaik Indonesia yang kahir di ranah Minangkabau, yakni di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Salah satu kumpulan cerpen penting yang pernah diterbitkan oleh Raudal adalah Parang Tak Berulu (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2005).
9. Gus Tf Sakai adalah sastrawan kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat, yang juga alumni Fakultas Perternakan Unand. Salah satu buku cerpen Gus Tf adalah Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (Grasindo, Jakarta: 1998) yang memenangkan SEA Write Award 2001 dari Kerajaan Thailand. Dalam sebuah obrolan, Benny Arnas pernah menjelaskan bahwa Gus pernah mengatakan beberapa cerpennya jelek, namun justru cerpen-cerpen itu mampu menembus media nasional seperti Koran Tempo, Kompas, Jawa Pos, Jurnal Nasional, Republika, dll.
10. Cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma seperti “Paus Merah”, “Patung”, “Sepotong Senja untuk Pacarku”, “Saksi Mata”, “Tujuan: Negeri Senja”, atau “Partai Pengemis” banyak mempengaruhi cerpenis Indonesia lainnya. Bahkan salah seorang cerpenis yang dianggap papan atas di Indonesia saat ini, Agus Noor, dalam buku Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (Bentang, Jogjakarta: 2010), banyak terpengaruh oleh cerpen-cerpen Seno. Lihat cerpen-cerpen itu dalam beberapa bukunya, antara lain Saksi Mata (Bentang, Jogjakarta: 1999), Sepotong Senja untuk Pacarku (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2002), Iblis Tak Pernah Mati (Galang Press, Jogjakarta: 2001), atau Dunia Sukab (Kompas, Jakarta: 2001), dll.
_____________
*) Hary B Kori’un, wartawan Riau Pos. Telah menerbitkan beberapa novel dan menulis cerpen. Tinggal di Pekanbaru.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/05/realisme-mitos-dalam-cerpen-cerpen.html

Tidak ada komentar:

Pengikut