Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2010

Puisi-Puisi Suminto A. Sayuti

http://sastrakarta.multiply.com/
GENDERANG KURUKASETRA

(UTARI)

engkau yang kini tengah berlumur darah
menyandang beban menuju Palagan
berhentilah sejenak dan dengarlah
matahari terengah menyaksikan
korban demi korban berjatuhan
dan perang
senantiasa saja akan berkepanjangan
:
lelaki yang mencoba bertahan
dan dendam tak berkesudahan
dan janji seorang manusia
tengadahlah, di atasmu matahari dan sayap semesta
sebab mereka juga akan datang menghampiri
usaikan dulu Perang dalam sanubari
:
sementara genderang bertalu-talu
anak-anak panah pun bersintuhan dan melaju
menangkan dulu peperangan yang senantiasa jaga
sepanjang engkau bilang: aku anak manusia

(ABIMANYU)

sebab setiap langkah pasti tinggakalkan jejak
perempuan, berhentilah menagis dan berucap
gerimis yang membadai dalam palaganmu
dan berhenti menjadi isak
tak kuasa lagi mampu meredakan bara
dari harga diri yang teriris
:
pandanglah ujung cakrawala, di sana
sayap semesta pasti akan kau dengar kepaknya
di sana matahari dan bulan berlabuh juga
tempat angin dan malam ak…

RONTAAN TANAH IBU

Sabrank Suparno
http://www.sastra-indonesia.com/

*** Surat surat luapan keluh

Ayah..Bunda..kalian tau gak! Sekarang aku bagaimana?, dan ada di mana? Dalam kembara rantauku, jauuuh sekali. Mengelanai ruang-ruang hampa. Ahirnya aku sampai di suatu tempat yang tak bernama. Tempat ini sunyi, pengap, pekat, sesak, berdinding plasma yang buntu, tak bercerca, tak berjendela. Berjuta tahun aku disini sendirian. Sepi..Ayah..aku takut.! Kian hari kian mencekam Bunda..!

Tak hanya tak bernama Ayah..tapi juga tak berwarna Bunda..! Seluruh hamparan tampak sringkah, kuning kemerah-merahan. Dan jika dipandangi terus, risauku kian geram, galauku numpuk berjubel berbebal-bebal. Judegku tak kunjung berujung. Ruangan ini kadar udaranya, nol koma sekian persen saja. Sesak, sengal. Nafasku sejengkal-jengkal. Hanya sebintik air dari titik nisbi uap yang mencair.

Ini bukan negeri Stepa atau Sabana, yang masih tumbuhkan kaktus dan lumut. Segala sesuatu ada disini, cuma tak bisa dijamah. Anak-anak sejawatku memang …

Menyimak Richard Strauss Membaca Nietzsche:

Berjumpa Richard Wagne dan Arthur Schopenhauer
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=398

Richard Strauss, putra dari Franz Strauss. Lahir 11 Juni 1864 di Munich, meninggal 8 September 1949, seorang komposer berkebangsaan Jerman. Masa mudanya berpendidikan musik menyeluruh dari sang ayah. Menulis musik pertama di usia 6 tahun, terus ke hampir kematiannya. Tahun 1874 mendengar opera Wagner; Lohengrin dan Tannhäuser. Pengaruh Wagner sangat mendalam, ayahnya melarang mempelajarinya: tidak sampai umur 16 tahun, telah peroleh skor Tristan und Isolde. Dalam keluarga Strauss, musik Wagner dianggap lebih rendah, tapi Strauss mengatakan dalam tulisan sangat menyesali ini. Pada 1882 masuk Universitas Munich, belajar filsafat dan sejarah seni, bukan musik. Meninggalkan satu tahun kemudian ke Berlin, belajar sebentar sebelum mengamankan posisi sebagai asisten konduktor Hans von Bülow, mengambil alih darinya di Meiningen, ketika Bülow mengundurkan diri 1885. Komposisinya kini berutang gaya R…

Sajak-Sajak Pablo Neruda

Diterjemahkan Saut Situmorang
http://sautsitumorang.multiply.com/

Nyanyian buat Sierra Maestra

Kalau biasanya keheningan yang diharapkan dari kita saat meninggalkan
tempat sanak saudara kita dikuburkan,
maka aku minta satu menit yang riuh rendah,
sekali ini saja suara seluruh Amerika,
hanya satu menit nyanyian riuh rendah
aku minta untuk menghormati Sierra Maestra.
Marilah kita lupakan sebentar manusia:
saat ini marilah kita hormati tanah ini
yang menyembunyikan dalam gunung gunungnya yang misterius
bara api yang akan membakar padang padang prairie.
Aku merayakan hutan hutan kecil perkasa
yang mendiami bukit bukit batu karang,
malam yang penuh suara bisikan tak terartikan,
dengan kerlap kerlip cahaya bintang bintang,
keheningan telanjang hutan hutan,
misteri bangsa bangsa yang tak berbendera:
sampai semuanya mulai berdenyut,
lalu meledak jadi api membara seperti api unggun.
Lelaki lelaki berjanggut gagah perkasa turun
untuk menciptakan damai di seluruh negeri,
sekarang segalanya cerah tapi dulu
segalanya sur…

Bermain Ski Di Kepala Botak Afrizal Malna

Dwi S. Wibowo
http://sastrasaya.blogspot.com/

Sehari. Aku bermimpi aku jadi manusia, Dada. Sehari.
Dada. Sehari. (Afrizal Malna: “dada”)

Naomi srikandi, dalam pengantarnya (Manusia Grogi Mebaca Puisi-Puisi Afrizal Malna) dalam acara launching buku kumpulan puisi afrizal malna yang dicetak ulang oleh penerbit omah sore menyebut bahwasanya membaca puisi-puisi afrizal malna adalah keluar dari taman bacaan sastra yang manyajikan keindahan namun memasuki tong sampah, toilet umum, dan slogan-slogan busuk yang terpampang di kota-kota. Yang justru menyajikan kesan spontan yang acak adul. Tidak seperti kebanyakan penyair lain yang betah berlama-lama membuai diri dalam kenikmatan berbahasa, afrizal justru terkesan meledak-ledak dalam ekspresi berbahasa dalam sajak-sajaknya akan kita jumpai metafor-metafor yang terlampau jauh. Bahkan bisa jadi akan sangat susah dicerna, karena memang kerap kali dalam puisi-puisi afrizal malna terdapat simbolisme-simbolisme yang bisa dibilang baru. Sehingga akan lebi…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com