Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

Bahasa dan Kebudayaan Nasional

Ajip Rosidi *
Pikiran Rakyat, 3 Jul 2010

Pada 1930-an terjadilah di kalangan para intelektual muda Indonesia polemik tentang masa depan bangsa Indonesia. Polemik itu berlangsung bertahun-tahun serta dimuat dalam berbagai majalah dan surat kabar. Sekarang kita sebut sebagai polemik kebudayaan karena sebagian besar polemik itu dikumpulkan oleh Achdiat K. Mihardja yang diberinya judul “Polemik Kebudayaan” (Balai Pustaka, Jakarta, 1950). Yang terlibat dalam polemik itu kemudian kita kenal sebagai pendiri bangsa dan negara Indonesia, antara lain S. Takdir Alisjahbana, Sanoesi Pane, Dr. Soetomo, Ki Hadjar Dewantara, dan Dr. Poerbatjaraka.

Semisal Resensi Ini-Itu Berthold Damshäuser

Nurel Javissyarqi
Sebenarnya ingin ngelenceki bukunya, namun belum ada kesempatan jauh, maka sekadarlah ucapan terima kasih, sebab bahasa Indonesia sudah diperkenalkan di Jerman dengan ketekunan penuh piawai, atau ini ikut-ikutan bijak seperti tulisannya; “Sebagai dosen bijaksana saya suka sekali kalau mahasiswa banyak bertanya.”

Sulitnya Bahasa Indonesia

Agus R. Sarjono *
Majalah Tempo, 24 Mei 2010

Setiap orang asing yang pernah tinggal di Indonesia dengan cepat akan dapat bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Di Bonn, Jerman, para mahasiswa semester awal di jurusan bahasa Indonesia selalu bikin cemburu mahasiswa jurusan bahasa Cina, Arab, dan Jepang. Sebab, saat mereka masih terbata, para mahasiswa jurusan bahasa Indonesia sudah mulai pandai bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Namun, begitu mereka lulus dan makin memperdalam bahasa Indonesia, tahulah mereka betapa peliknya bahasa ini.

Saya, Aku

Sapardi Djoko Damono *
Majalah Tempo, 7 Sep 2015

Ketika pertama kali dibawa sopir kantor yang baru saja diangkat sebagai pegawai negeri, saya sempat kaget ketika anak muda itu menggunakan kata “aku” sebagai kata ganti orang pertama. Saya, tentu saja, berharap dia menyebut dirinya “saya” seperti kalau saya menyebut diri saya sendiri. Waktu itu, saya merasa dia tidak sopan, tidak tahu unggah-ungguh. Namun saya sama sekali tidak menyinggung apa-apa tentang hal itu.

Pinurbo Memeluk Agama

Samsudin Adlawi *
Majalah Tempo, 2 Mei 2016

Manusia religius lazimnya memiliki kecenderungan untuk bisa sedekat mungkin dengan Tuhan, terutama ketika menjalankan ritual berdoa. Hal itu wajar. Sebab, dalam pendekatan ilmu bahasa, antara Tuhan dan manusia sebagai ciptaan-Nya memang sangat dekat. Keduanya berasal dari satu akar kata dalam bahasa Arab yang sama, yakni khalaqa. Dari khalaqa berkembang kata Khaliq (pencipta). Dalam ejaan Indonesia ditulis “Khalik” dengan huruf “K” menggunakan huruf kapital karena merupakan sebutan untuk Tuhan. Di depan kata “Khalik” biasanya didahului dengan kata “Sang”. Dari khalaqa juga lahir kata “makhluk” (ciptaan/yang diciptakan).

Evolusi Bahasa dan Manusia Indonesia

Berthold Damshauser *
Majalah Tempo, 23 Jun 2013

Seseorang mengirim surat elektronik yang mengatakan kolom Bahasa saya dirindukan. Tentu saya gembira membacanya, meski heran juga, mengapa laporan saya tentang diskusi mata kuliah bahasa Indonesia di Universitas Bonn diminati, bahkan dirindukan.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com