Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2015

BERMULA DARI OBSESI *

Bambang Kempling

Ernest Hemingway dalam novelnya, The Sun Also Rises mempertanyakan mengapa laut tidak pernah penuh. Albert Camus lewat beberapa karya abadinya, terus menerus mempertanyakan tentang kenisbian dunia. Dalam periode tertentu, Rendra mempertanyakan tentang ketidakadilan, Afrizal Malna mempertanyakan ketimpangan sosial. Melalui proses dan jalan panjang, serangkaian pertanyaan itu kemudian mereka perjuangkan jawabannya dalam wujud karya outentik.

Hendak ke Mana Sastra Indonesia?

Korrie Layun Rampan
Harian Analisa, 31 Mei 2015

Apakah sastra Indonesia itu? Siapakah sastra Indonesia itu? Di manakah sastra Indonesia itu? Apakah rumah sastra Indonesia itu? Mau apa sastra Indonesia itu? Hendak ke mana sastra Indonesia itu?

Saya tidak akan menjawab pertanyaan saya sendiri. Saya akan menelusuri sastra Indonesia mutakhir dalam konteks arah atau kecenderungannya pada masa akhir-akhir ini dan masa akan datang. Diakui, sastra futurisme pun juga tidak akan mungkin meramalkan kemana sesungguhnya arah sastra suatu komunitas, suatu etnik, atau sastra suatu bangsa.

Puisi Dunia, Sastra Terjemahan

Marhalim Zaini
riaupos.co

UNESCO, menetapkan Word Poetry Day pada tanggal 21 Maret. Jika penetapan itu, penanda ingatan, untuk petanda bagi sebuah momentum kelahiran, kita (penyair dan bukan penyair) mestinya bahagia. Sama bahagianya ketika Hari Puisi Indonesia dideklarasikan di Riau tahun lalu, diperingati setiap tanggal 26 Juli (mengacu hari kelahiran Chairil Anwar). Sama bahagianya juga, saya kira, ketika Taufiq Ismail (kalau tak salah 24 Maret ini) memaklumatkan Hari Sastra Indonesia, jatuh pada tanggal 3 Juli, yang merujuk pada hari lahirnya sastrawan Abdoel Moeis.

Nobel Sastra dan Kutukan Tiga Persen

Eka Kurniawan *
pekanbaca.blogspot.com

Nobel Kesusastraan 2014 dianugerahkan kepada penulis Prancis Patrick Modiano. Kabar itu ditanggapi banyak pembaca, tak hanya di Indonesia, tapi juga di mana-mana (tentu saja kecuali di Prancis dan negara-negara berbahasa itu), dengan gumaman, "Siapa dia?"

Sastra dan Kepemimpinan Bangsa

Asep Salahudin *
Media Indonesia 17 Mei 2014

SESUNGGUHNYA dari karya sastra ada hal yang jauh lebih menarik ketimbang `kreasi’ kerumunan politisi yang bikin puisi penuh polusi. Puisi partisan sekadar berisi caci maki. Puisi jelek model seperti itu alih-alih dapat membersihkan ruang sosial yang kotor, justru menjadi bagian yang memberikan andil tergelarnya kegaduhan politik yang tidak bermutu.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com