Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2014

Likurai dan Pendidikan Cinta Tanah Air

Judul Buku: Likurai Untuk Sang Mempelai (Sebuah Novel)
Penulis: Robert Fahik
Pengantar: Yohanes Sehandi
Epilog: Mezra E. Pellandou
Penerbit: Cipta Media Yogyakarta
Cetakan I: Desember 2013
Tebal Buku: xx + 124 halaman
Peresensi: Ignasius S. Roy Tei Seran, Fransiskus X. Taolin *
robertusfahik.blogspot.com

Sastra Indonesia Pascakolonial, Timah, Lada dan Mangan (4 Habis)

(Dari Temu Sastrawan Indonesia II, Pangkal Pinang, 30 Juli – 2 Agustus 2009)
Mezra E.Pellondou *
Pos Kupang 13 Sep 2009

Sasando ke Seratus Tanpa Lada dan Timah

BEBERAPA sastrawan dipilih panitia untuk mengisi malam apresiasi, yakni Joni Ariadinata, Mezra E. Pellondou, Tan Lioe Ie, Ragil, Nur Wahida Idris, Irmansyah,Willy Siswanto dan lain- lain.

Dan pada hari ketiga, 1 Agustus 2009 malam apresiasi dimulai dari pukul 20.00 WIB setelah Tan Lioe Ie membawakan musikalisasi puisinya yang teaterikal, tiba giliran Joni Ariadinata membacakan cerpennya dengan gaya khasnya yang memukau.

Sastra Indonesia Pascakolonial, Timah, Lada dan Mangan (3)

(Dari Temu Sastrawan Indonesia II, Pangkal Pinang, 30 Juli – 2 Agustus 2009)
Mezra E.Pellondou
Pos Kupang 6 Sep 2009

TANGGAL 30 Juli 2009, TSI (Temu Sastra Indonesia) II pun dibuka secara resmi oleh gubernur Kepulauan Bangka Belitung Eko Maulana Alli dengan meriah.

Selain diisi dengan berbalasan pantun oleh Saad Toyib dan Kario, sang juara pantun pada Festival Berpantun Serumpun Kuala Lumpur, juga musikalisasi Gurindam Dua Puluh Satu yang dikarang oleh gubernur yang jago menulis puisi ini.

Sastra Indonesia Pascakolonial, Timah, Lada dan Mangan (2)

(Dari Temu Sastrawan Indonesia II, Pangkal Pinang, 30 Juli – 2 Agustus 2009)
Mezra E.Pellondou
Pos Kupang 30 Agu 2009

HATIKU sudah memastikan akan membidik dampak dari penambangan timah terhadap lingkungan. Sebelum tiba di Sungai Liat, mataku terpaku pada sebuah “sungai” yang luas dan lebar di Kecamatan Merawang. Eh, ternyata itu bukan sungai atau bukan sekadar sungai, namun cerukan tanah yang dipenuhi air tersebut disebut Kolong oleh masyarakat Bangka.

Sastra Indonesia Pascakolonial, Timah, Lada dan Mangan (1)

(Dari Temu Sastrawan Indonesia II, Pangkal Pinang, 30 Juli – 2 Agustus 2009)
Mezra E Pellondou
Pos Kupang, 23 Agu 2009

APA yang membuatku bergairah sekali ketika diundang mengikuti Temu Sastrawan Indonesia II (TSI II) di kepulauan Bangka Belitung? Apakah karena cerpenku masuk dalam buku Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia II dan akan segera diluncurkan pada acara tersebut? Atau karena aku akan melakukan sebuah perjalanan imajiner ke negeri Laskar Pelanginya Andrea Hirata?

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com