Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2013

Jepang dari Syibumi, Tsunami, dan Teks Sastra

Tjahjono Widijanto
Suara Karya, 29 Juni 2013

Jepang adalah sebuah dunia yang penuh paradoksal. Di Jepang, teknologi yang demikan canggih bersilang sengkarut dengan kesemestaan, dimana mesin bersanding mesra dengan laut dan danau. Nun di sana pula kekerasan dan kelembutan berkelindan, kesunyian dan keramian dapat bersintesa, alam suatu saat dapat dikendalikan teknolgi sekaligus kesadaran persatuan manusia dengan alam yang tak kikis oleh zaman. Di Jepang wujud keindahan tertinggi adalah syibumi, sesuatu yang menyimpan amanat alam yakni kesejatian sifat alam itu sendiri. Syibumi menjadi citra keindahan tertinggi.

“TRAGEDI CANTOI” SULAIMAN JUNED: EKSTERNALISASI AGROPHOBIA

Wiko Antoni S.Sn *)
http://sjuned.blogspot.com

Struktur lakon adalah partitur bagi seorang sutradara dalam `konser` peristiwa yang akan dipentaskan. Sebagai seorang penulis lakon tanggungjawab utama yang terpenting adalah membangun konsep dasar yang menjadi tempat berdiru teguhnya struktur pertunjukan, dari drama yang baik lahirlah pertunjukan yang luar biasa. Memang seorang sutradara mestilah kreatif dalam membangun realitas panggung namun drama yang baik akan menjadi pijakan kreatifitas yang baik bagi seorang sutradara dalam mempersiapkan pertunjukan berkualitas.

Kecerobohan Sang Kritikus atau Plagiarisme Sang Penyair Nobel?

Malkan Junaidi
http://www.facebook.com/malkan.junaidi

Dalam bukunya yang berjudul Octavio Paz, Puisi dan Esai Terpilih, diterbitkan oleh Yayasan Bentang Budaya, pada sub-kumpulan Puisi-Puisi (1995-1996), Arif Bagus Prasetyo mencantumkan sebuah puisi yang berjudul Nyanyian Diri:

Mungkin aku bisa berkelok untuk hidup bersama satwa,
Mereka begitu lembut lagi penuh percaya diri,
Aku berdiri memandang mereka begitu lama.
Mereka tidak berkeringat meratapi nasibnya,

Membaca Pipa Air Mata

Romi Zarman
http://www.riaupos.com/

Hampir setiap koran di negri ini memiliki halaman sastra. Masing-masingnya tentu memiliki cara yang berbeda dalam mengapresiasi penulisnya. Ada yang mengapresiasi dengan cara memberikan honor yang layak bagi penulisnya. Ada yang mengapresiasi penulisnya dengan cara mengumpulkan sejumlah karya dalam satu buku. Kompas, misalnya, mereka menyeleksi cerpen-cerpen yang dimuat selama setahun dan mengumpulkannya dalam bentuk buku. Begitu pun puisi dan esai yang dimuat di rubrik “Bentara”.

Ibu, Mengertilah Aku

Amalia Sulfana *
http://sastra-indonesia.com/

Perjuangan yang luar biasa, engkau tinggalkan istri dan tiga malaikat kecilmu, untuk menggapai cita-cita adi luhur di Semarang, demi mencerdaskan anak bangsa yang telah diamanahkan kepadamu di sebuah lembaga pendidikan, sebutlah itu Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Dengan berjuta rasa yang tiada mungkin terungkap dan tertulis kata, dini hari kau kayuh Honda Gren biru kesayanganmu dari Ponorogo ke Semarang,

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com