Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2012

Bagian 23: Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia

(bagian XXIII kupasan kedua dari paragraf lima dan enam dari esainya Dr. Ignas Kleden) Nurel Javissyarqi
Sastra-indonesia.com
Saya tidak tahu, wallahualam bissawab. Setelah diperjalankan dari Lamongan ke Jombang, Kediri, lalu berhenti di dataran bumi Reog Ponorogo, saya lanjutkan kini. Kenapa disebut ‘diperjalankan?’ Lantaran langkah kaki ini kehendaknya damai di tanah kelahiran, tapi air hayati menghempaskannya. Kurang lebih sebelum 5 April 2012, saya seakan menghadapi canangan nasib, namun setelahnya diringkus takdir besar berbeda. Mungkin ini ‘terapi’ tersingkapnya Kun Fayakun walau sekelumit. Di dalam periode tersebut, perangainya bisa dilihat bagian XX (4 Juni 2012), XXI (25 Juli 2012), XXII (14 Agustus 2012) serta sekarang.

100 Tahun Mohammad Yamin Pujangga Perumus Dasar Negara

Hendra Makmur
Media Indonesia Online 22 Agustus 2003

POPULARITAS sosok Mr Mohammad Yamin sering tenggelam dibanding Bung Karno, Bung Hatta, dan bapak-bapak bangsa Indonesia lainnya.

Catatan-catatan tentangnya hanya terselip di lipatan tebal buku sejarah yang jarang dibuka. Agaknya, hal ini menggambarkan sifat Yamin yang tak suka menonjolkan diri dan lebih suka berkiprah di balik layar pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Pertemuan Pengarang Membangun Kekuatan Sastra di Indonesia

Lusiana Indriasari
Kompas, 25 Nov 2012

Kesusateraan Indonesia belum memiliki kekuatan menghadapi berbagai tekanan sosial di sekitarnya. Sejarah membuktikan kesusasteraan dan para pengarangnya menjadi korban kesewenangan.

Di masa lalu pengarang ditindas oleh penguasa, baik politik maupun militer. Di masa sekarang, kesusasteraan berhadapan dengan kekuatan pasar dan organisasi fundamentalis.

Membaurkan Gradasi Sejarah

Beni Setia
Lampung Post, 25 Nov 2012

BANYAK mata acara di Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2012, meskipun fokus utamanya mengarah pada ?Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat dan Sejarah Nusantara?, yang diselenggarakan di Awadana Manohara Hotel, Borobudur, Magelang, 28?31 Oktober. Acara di mana para penulis bertemu. Kreator–menurut Yoke Darmawan–tak habis-habisnya mengeksplor berbagai kenyataan dengan mengaktifkan imajinasi. Si yang mengamati, mengumpulkan bahan-bahan dengan riset dan melihat dunia?baik hari ini, di masa silam, bahkan yang dibayangkan mungkin ada di masa depan?bersua. Namun, apa terjadi silaturahmi di antara para kreator itu?

Sekularisme Religius sebagai Kritik

–Sekularisme sebagai Kritik–
Asarpin
Sastra-indonesia.com

Kawan, perdebatan tentang apa yang disebut sekular dan sekularisasi—ada yang menulis sekuler dan sekularisasi—memang belum memperlihatkan tanda-tanda melelahkan. Padahal kurang apa kerasnya polemik yang pernah terjadi antara kelompok Bung Karno-Bung Hatta dengan kelompok Natsir-Hamka–Siradjudin Abbas—A.Hasan tentang soal ini. Kedua polemik ini memiliki pengikut, dengan corak dan gayanya masing-masing.

Jurnal Sastra dan Masyarakat yang Terbuka

Cecep Syamsul Hari
Bali Post, 21 Okt 2012

SETELAH melewati masa-masa transisi yang limbung pada dasawarsa pertama sejak runtuhnya rezim yang berkuasa tiga puluh tahun, kita merasakan dan melihat bahwa lima tahun terakhir, yang lima tahun terakhir ini mungkin akan menjadi akar atau embrio dari suatu kehidupan sosial yang lebih menjanjikan keterbukaan di masa depan, saluran-saluran kontrol sosial dan politik tidak lagi dimonopoli oleh suara tunggal partai atau pemerintahan yang berkuasa, juga tidak oleh mesin perwakilan atau parlemen.

SASTRA “VERSI IKLAN KECAP” INDONESIA *

Nurel Javissyarqi
Sastra-indonesia.com

“Nun, demi kalam (pena) dan apa yang mereka tuliskan.” [QS. al Qalam (68) ayat 1].
Judul makalah ini mengambil olok-olokkannya kritikus Dami N. Toda kepada A. Teeuw dalam esainya “Mempertanyakan Sastra Itu Kembali” di bukunya “Apakah Sastra?” Cetakan Pertama, IndonesiaTera 2005. Yang juga ‘versi iklan kecap’ menurut saya!

Sastra Digital

Ni Putu Rastiti
Bali Post, 16 Sep 2012

Tidaklah salah jika dikatakan bahwa perkembangan sastra sebanding dengan dinamika zaman. Hal ini jelas terlihat di era sekarang, di sebuah zaman di mana teknologi menguasai segala lini. Internet dengan beragam kecanggihannya menawarkan suatu perubahan sosial yang tak tertolak, termasuk juga di bidang sastra. Maraknya karya-karya sastra yang bisa dibaca melalui internet merupakan bukti nyata sekaligus sehembus harapan bahwa sastra akan lebih memasyarakat.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com