Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2012

Membakar Api di Kampung Pring *

Fahrudin Nasrulloh
http://sastra-indonesia.com/

Sehari Sebelum ke Mojokerto

Senin, 2 Agustus 2010, saya berangkat dari Tandes pukul 10:32 WIB, langsung meluncur ke kantor Pos Kecamatan Sumobito untuk mengambil 4 kardus buku yang dikirim Bilven dari Penerbit Ultimus, Bandung. Di blangko resi penerimaan, buku-buku Ultimus dikirim kalau tidak keliru pada 27 Juli Sampai di kantor Pos Sumobito. Pada 1 Agustus, 2 dus buku tersebut dibungkus dengan jahitan rafia. 1 dus beratnya 24,7 kg, biaya paketnya sebesar Rp. 244.555. Satunya lagi, beratnya 24,9 kg, biaya paketnya Rp. 244.535.

Tamsil Puitik Gamelan

Bandung Mawardi *
http://www.solopos.com/

Politik Indonesia sedang kisruh, sirna etika politik dan pudar sensibilitas kultural. Para politisi mirip tukang omong, saling sindir, mengecam dan mengejek. Elite membuat alibi atas dosa politik, sesama pengurus partai politik saling menebar fitnah dan hujatan, para manusia parlemen juga membuat proteksi politis agar selamat dalam sangkaan pelanggaran etika. Kondisi ini merisaukan, membuat kita alpa sejarah politik dalam bingkai selebrasi seni tradisional.

Musa Al-Hadi, Pembasmi Kaum Zindiq

Hepi Andi Bastoni
http://www.republika.co.id/

Musa Al-Hadi (785-786 M) menjabat Khalifah Abbasiyah keempat menggantikan ayahnya, Khalifah Al-Mahdi. Ia menjalankan pemerintahan hanya satu tahun tiga bulan (169-170 H). Ia dilahirkan di Ray pada 147 H.

Ketika ayahnya wafat, Musa Al-Hadi sedang berada di pesisir pantai Jurjan di pinggir laut Kaspia. Saudaranya, Harun Ar-Rasyid, bertindak mewakilinya untuk mengambil baiat dari seluruh tentara. Mendengar berita wafatnya sang ayah, Musa Al-Hadi segera kembali ke Baghdad dan berlangsunglah baiat secara umum.

KELINDAN TRAGEDI DAN EKSOTISME

Maman S Mahayana *
http://mahayana-mahadewa.com/

Hanna Fransisca, Konde Penyair Han (Jakarta: Katakita, 2010), 141 halaman.

Kwee Tek Hoay, awal tahun 1900-an. Perintis sastra Indonesia ini berhasil membangun tradisi berdiskusi di kalangan penulis peranakan Tionghoa. Ia juga kerap menghidupkan pantun dan syair dalam pesta para nyonya Tionghoa. Pada zamannya, sastrawan peranakan Tionghoa—sebagaimana dicatat Claudine Salmon—berhasil menyebarkan karya-karyanya ke seantero negeri ini. Sesungguhnya, dari situlah langkah perjalanan sastra Indonesia dalam tradisi cetak, dimulai!

Sebuah Legenda Sastra

Hasan Junus
http://www.riaupos.co/

KARYA AGUNG Rbmbyana terdiri dari 24.000 kuplet syair terhimpun dalam tujuh buku, dan pengarangnya Vblmnki yang hidup sekitar tahun 300 Sebelum Masehi ialah contoh sebuah legenda sastra. Legenda sastra dari negeri dan bangsa yang sama ialah Mahabhrata. Dasar cerita di dalam Ramayana dan Mahabharata terus tercipta turunannya dalam kebudayaan Jawa, Thailand, Sri Langka dan lain-lain.

Sanktuari: Syarah atas Caping

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Stephen Hirtenstein, yang sangat mengagumi Ibn Arabi, menyebut pemikiran sebagai “tamu dari langit yang melintasi ladang hati”. Dalam hal ini, pemikiran tak cuma mengacu kepada proses otak, atau sesuatu yang dapat kita pikirkan, atau kita renungkan. Pemikiran mengindikasikan sesuatu yang muncul dari keheningan batin, setiap saat dalam diri kita, di dalam kesadaran batin kita.

Laskar Pelangi Go International, Andrea Hirata Impikan Nobel Sastra

Heri Ruslan *
http://www.republika.co.id/

Novelis terkemuka Indonesia, Andrea Hirata mempunyai mimpi besar. Ia ingin menjadi orang Indonesia pertama yang meraih Nobel di bidang sastra melalui novel fenomenalnya, Laskar Pelangi.

"Saya seorang pemimpi dan tidak ada yang salah jika saya bermimpi," kata Andrea Hirata yang ditemui di Jakarta, Sabtu. Pernyataan laki-laki asal Belitung itu, tak hanya terucap begitu saja dari bibirnya.

[Perempuan] Inggit Putria Marga

Frans Ekodhanto
Koran Jakarta, 14 Agu 2011

PEREMPUAN ini lebih memilih puisi karena sangat misterius. Menurut dia, puisi mengundang banyak persepsi, tafsir, lebih menantang, dan lebih menuntut kompleksitas.

Di kamar hotel 317 yang terletak di salah satu jantung Kota Palembang, beberapa waktu lalu, Inggit berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang proses kreatifnya. Dari bibirnya yang basah, terucap rangkaian cerita pada masa kecil hingga menjadi penyair papan atas.

Rosihan Anwar

Djadjat Sudradjat
Lampung Post, 17 April 2011

WARTAWAN ada karena ia terus menulis! Dan, Rosihan Anwar membuktikannya dengan konsisten. Penanya tetap tajam sepanjang zaman. Hanya maut yang bisa menghentikan ketajaman pena itu. Dedikasinya pada dunia jurnalistik adalah pesan kepada wartawan yang lebih muda, “Jangan mengaku wartawan kalau ‘penanya tumpul’ karena lebih sibuk mengurus dunia lain.”

Ajip dan Kritik Sastra Sunda

Djasepudin *
Pikiran Rakyat, 6 Feb 2011

Sastra Sunda membutuhkan satu dasar kesadaran. Sebab kesadaran adalah salah satu hal yang mutlak diminta oleh semua hasil seni, begitu juga dalam seni sastra. Kesadaran mencipta. Kesadaran sastrawan dalam mereka sastra. Kedararan memilih serta menggunakan kata dalam tulisannya. Kesadaran terhadap maksud dan tujuan dalam membuat karya sastra.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com