Jumat, 30 September 2011

Pelecehan Terhadap Penulis

Herman Hasyim *
http://www.kompasiana.com/herman_hasyim

“Kamu yang nulis ya. Saya jadi konseptor aja deh. Kamu kan pandai berbahasa Indonesia.”

Omongan demikian kerap menerobos telinga saya. Datangnya memang dari orang-orang berbeda, tapi bila saya cermati terdapat kesamaan di antara mereka: tulisan-tulisan mereka ruwet—susah dijangkau oleh akal sehat, apalagi oleh akal kurang waras.

Tiap kali mendengar omongan seperti itu, serta-merta saya terusik dan ingin sekali saya menyumbat mulut si empunya omongan dengan sebuah tulisan yang khusus membahas soal itu.

Terang saja, ada nada melecehkan di balik omongan seperti itu. Seakan-akan menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan merupakan aktivitas yang tanpa melibatkan otak. Seolah-olah menulis itu keterampilan remeh-temeh yang hanya pantas memperoleh acungan kelingking.

Menulis, sebagai cara berkomunikasi, memang meniscayakan penggunaan bahasa. Tetapi pada hakikatnya menulis bukan sekadar kemampuan merangkai kata sesuai Bahasa Indonesia yang baik dan benar dan sejalan dengan ejaan yang disempurnakan.

Anda yang sehari-hari menulis—entah fiksi entah non-fiksi—pasti menyadari bahwa keterampilan menulis meniscayakan lebih dari sekadar penguasaan bahasa. Menulis sangat terkait dengan penalaran. Menulis juga melibatkan daya khayal. Karena itu aktivitas menulis tak mungkin dapat dilakukan oleh mereka yang otaknya lumpuh dan hatinya mati, betapapun panca indera mereka sehat wal afiat.

Menulis juga tak sama dengan mengetik. Mengetik lebih merupakan pekerjaan mata dan tangan. Asalkan punya mata dan tangan normal, orang bisa mengetik. Tetapi tidak demikian halnya dengan menulis. Mata dan tangan saja tak cukup. Menulis adalah kerja otak dan hati—tak peduli yang dipakai menulis itu daun lontar maupun notebook. Tentu saja menulis yang saya maksud di sini bukan mencoret-coretkan tinta ke kertas.

Memang, seorang penulis mestilah menguasai aspek-aspek teknis seperti bahasa dan alat tulis, tetapi kemampuan dasar yang mesti dimiliki penulis bukan itu. Sebelum menggelontorkan kata-kata, seorang penulis harus terlebih dulu menjernihkan pikirannya. Tulisan yang ruwet adalah cermin si penulis berpikiran ruwet. Walaupun nilai Bahasa Indonesia Anda di sekolah pas-pasan, bila pikiran Anda jernih, tulisan Anda akan tetap mudah dipahami dan gampang dipetik maknanya. Sebaliknya, sehebat apapun Anda dalam menguasai teori-teori bahasa, bila pikiran Anda rancu, tulisan Anda bakal ketularan rancu.

Jadi, bolehlah dikatakan bahwa pola pikir adalah modal dasar yang pertama-tama mesti dimiliki seorang penulis.

Modal lainnya yang tak kalah penting adalah penguasaan terhadap tema atau bidang tertentu yang kita tulis. Andreas Harsono—seorang guru jurnalisme sastrawi—bahkan sampai memberi petuah lebih kurang begini: Jika Anda tak benar-benar mengetahui obyek tulisan Anda, jangan tulis obyek itu.

Saya tak menganjurkan Anda—juga diri saya sendiri—untuk sepenuhnya mengikuti petuah itu. Cukuplah buat kita untuk menasehati diri kita sendiri: Sebaiknya kita menulis sesuatu yang benar-benar kita tahu, atau paling tidak, kita yakin bahwa kita tahu yang kita tulis.

Acapkali kita terbawa arus. Berbagai media massa menghebohkan peristwa A, lalu kita ramai-ramai jadi makmum media-media itu dengan menulis tentang peristiwa A tanpa memberikan sesuatu yang bernilai tambah. Ya, menulis model begitu memang gampang. Namun, sekali lagi, kita mesti betul-betul menyadari: Aktivitas menulis tak identik dengan menjejalkan huruf demi huruf ke layar komputer kita.

Menulis memerlukan tiga proses yang ketiga-tiganya tak boleh dimutilasi seenaknya. Ketiga proses itu ialah input, internalisasi dan output. Wartawan, novelis, penulis skenario, dan siapapun yang sehari-hari berkecimpung di dunia tulis-menulis pasti selalu melewati tiga proses itu dalam berkarya.

Taruhlah Anda siang ini menonton berita tentang kasus Nazaruddin di televisi, kemudian Anda ingin membuat tulisan opini. Setelah tulisan itu jadi, Anda menyodorkannya kepada seorang teman, lalu teman Anda itu berkomentar, “Ini bukan opini. Ini lebih pas disebut omelan atau igauan.”

Mengapa bisa demikian? Pertama, input Anda terbatas. Anda mendapatkan informasi yang disajikan pihak luar yang sudah melalui proses penyuntingan sedemikian rupa dengan agenda tertentu yang Anda belum tentu menyadarinya. Ini berbeda bila Anda mendapatkan informasi itu dengan mata dan kuping sendiri, juga dengan dengkul sendiri.

Sebab kedua, bisa jadi proses internalisasi Anda lemah lantaran pola pikir Anda ruwet, tidak sistematis dan penuh paradoks. Kondisi ini semakin akut, misalnya, karena Anda rabun politik atau buta hukum atau kombinasi dua-duanya.

Dan sebab ketiga, sangat mungkin Anda kurang menguasai teknik penulisan opini. Misalnya Anda membikin judul yang disertai tiga tanda pentung (!!!). Seorang pembaca yang cerdas pasti akan menilai Anda sedang berunjuk rasa, karena judul model begitu lebih cocok untuk pamflet dan selebaran gelap. Jangankan membaca keseluruhan opini Anda, melirik paragraf pembuka saja ogah.

Nah, dengan demikian, nyatalah sekarang bahwa aktivitas menulis tidak boleh dianjlokkan derajatnya menjadi sekadar menyusun huruf demi huruf sesuai bahasa yang baik dan benar. Menulis adalah olah pikir dan olah rasa. Menafikan hal itu sama halnya dengan melecehkan dunia tulis-menulis.

Rawamangun, 22 Agustus 2011
*) Setelah gagal membangun pabrik rokok, sekarang mendirikan pabrik aksara.

Kamis, 29 September 2011

Seruan Foucault

Bandung Mawardi *
http://www.seputar-indonesia.com/

Filsafat abad XX mewarisi mozaik pikiran ganjil dan radikal ala Michel Foucault (1926–1984). Tokoh ini mengantar suguhansuguhan filsafat impresif,mendulang gagasan aneh, dan mengucap dalam bahasa pekat.

Foucault membeberkan pelbagai ihwal lakon peradaban abad XX mengacu babakbabak historis.Konon, semua gagasan itu bermula dari pandangan sejarah ala Foucault. Sejarah itu selalu berupa genealogi dan intervensi. Perubahan adalah niscaya dalam ranah pengetahuan dan model pemahaman. Arus pemikiran Foucault jadi menu signifikan untuk gairah filsafat mutakhir.

Sekian buku produksi Foucault: Madness and Civiliztion: A History of Insanity in the Age Reason,The Birth of the Clinic: An Archaeology of Medical Perception,The Order of Things: An Archaelogy of the Guman Sciences,The Archaelogy of Knowledge, Disiplin and Punish,dan The History of Sexuality.

Sekian buku ini mengguncang filsafat abad XX. Ikhtiar membaca dan menafsirkan pokok-pokok filsafat Foucault terus berlangsung sampai abad XXI.Pembacaan tak pernah rampung, eksplanasi tak pernah selesai,dan pemahaman selalu tak utuh. Publikasi buku berjudul Agama, Seksualitas,Kebudayaan ini jadi menu pelengkap atas buku-buku moncer Foucault. Pengumpulan serpihan gagasan jadi mengejutkan tatkala ditautkan dengan konstruksi gagasan-gagasan besar di zaman mutakhir.

Foucault dalam jangkauan sejarah agama abad XV dan XVI menemukan ada sikap penolakan umat terhadap iblis. Kalangan pemegang otoritas agama Kristen seru mendebatkan keberadaan dan bentuk penampakan iblis.Perdebatan berurusan dengan iman, gereja, dan nasib peradaban.Tema iblis ini mengandung sengketa kebenaran dan pemaknaan dosa. Foucault menganggap babak sejarah itu sebagai “perdebatan pelik tentang jenis kebenaran ilusi.”

Pengalaman beragama dan tafsir agama rentan dengan seteru mengandung ilusi. Klaim-klaim kebenaran agama jadi rapuh dan ringkih. Foucault juga menjelaskan makna agama dalam relasi seks, tubuh, dan dosa.Ajaran seksualitas dalam kitab suci kadang mengaburkan prosedur pemaknaan spiritualitas. Konsep tubuh dalam dosa, sinisme atas seksualitas, dan kuasa dosa tebarkan ketakutan- trauma berkepanjangan.

Penegatifan ini justru mengalpakan manusia dari kehendak mengarahkan diri menuju cinta ilahi.Tabu, larangan,dan mitos mengakibatkan laku seksualitas identik dosa: menjauhi orbit agama. Sejarah kelam pemikiran seksualitas ini direcoki Foucault melalui pembukaan selubung rasionalitas dan imajinasi. Erotisme dalam sejarah peradaban Eropa identik dengan peremehan dan stigma.

Foucault malah mengundang orang merefleksikan seksualitas sebagai basis kebudayaan. Seruan ini melampaui kegenitan filsafat erotisme dan pengekangan politik seksual. Bahasa menjadi medium ungkap kritis: mengurai dan mengalami seksualitas. Bahasa adalah undangan filosofis. Foucault menganggap kemunculan seksualitas dalam peradaban modern adalah “peristiwa” bergelimang nilai: terang dan samar.

Pandangan ini berkenaan kematian Tuhan dan kehampaan ontologis di batas pemikiran manusia. Pembungkaman sistematis atas diskursus seksualitas mirip represi kehendak untuk manusia memeriksa diri dan merasai sakralitas seksualitas. Konsekuensi telak adalah bahasa “dierotiskan” selama hampir dua abad (XIX dan XX). Semesta bahasa menyerap, mengubah,dan menempatkan seksualitas dalam kekosongan tanpa daulat manusia.

Seksualitas sebagai persoalan fundamental mendapati godaan dan pengukuhan. Kontradiksi dalam diskursus seksualitas selalu ada tanpa keterselesaian tafsiran. Foucault telaten sebarkan seruan filsafat seksualitas dalam agenda agama dan peradaban modern. Seni erotis di Barat dianggap Foucault sesak ilusi dan paradoks. Seni erotis justru membuat orang tidak belajar bercinta, tidak belajar mencurahkan diri untuk kenikmatan, tidak belajar memproduksi kenikmatan melalui orang lain, atau tidak belajar mengintensifkan-memaksimalkan kenikmatan.

Seni erotis memang memberi tendensi kemunculan ilmu seksual tapi rentan kabur oleh dominasi pemikiran- pemikiran formalistik. Masyarakat Eropa menggandrungi ilmu seksual selama sekian abad. Kebenaran seksualitas cenderung dijadikan substansi agenda ilmu seksual ketimbang prosedur memperoleh intensitas kenikmatan.Corak ini memengaruhi pandangan dunia untuk pembentukan masyarakat modern di Eropa. Seksualitas adalah basis peradaban sekaligus aib untuk kerapuhan sistem filsafat Eropa.●

25 September 2011
Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo

Selasa, 27 September 2011

Jacques Derrida: Biar Tergugat Tetap Berhala

Damhuri Muhammad
http://cetak.kompas.com/

Laku filsafat lazimnya dimaknai sebagai ikhtiar ”memburu” kebenaran. Memburu hingga ke ujung yang paling hulu. Di sanalah kapal filsuf yang setia berlayar bakal berlabuh. Bila kebenaran hulu telah direngkuh, berakhir pulakah kelananya yang jauh?

Sepertinya tidak. Tidak seorang pun yang sebenarnya sungguh-sungguh dapat menggapai kebenaran hulu itu. Makin jauh mereka bergerak menuju hulu, biduk yang mereka kayuh justru makin terseret ke hilir. Sebagaimana amsal para penggali sumur yang berharap hendak menemukan mata air. Akan tetapi, makin digali, sumur malah terasa makin dangkal. Seolah-olah mata air kebenaran itu tak pernah ada.

Kebenaran seakan-akan mengelak setiap ada upaya menghampirinya. Inilah problem rasionalitas modern yang telah melahirkan ”anak kandung” bernama logosentrisme. Cara berpikir yang selalu bergerak menuju sebuah telos dan arkhe transendental. Sebuah metafisika yang mengandalkan Pikiran (cogito), Diri, Tuhan, Ada (being) sebagai hulu kebenaran, sebagai pusat yang stabil dan kokoh.

Tabiat berpikir macam ini mendedahkan sebuah asumsi yang dalam terminologi Jacques Derrida (1930-2004) disebut metaphysics of presence (Metafisika Kehadiran), yang meniscayakan logos (kebenaran transendental) di sebalik semesta fenomena. Dalam teks, utamanya teks sastra, kehadiran logos begitu nyata dan kentara lewat hadirnya pengarang (author). Subyek yang memiliki otoritas terhadap makna. Lebih jauh, Derrida menganggap ”kehadiran pengarang” sebagai logos itu sendiri.

Inilah yang hendak dirobohkan filsuf itu dengan palu godam: dekonstruksi. Agar makna (kebenaran) tak terpasung dalam ” kuasa tunggal” pengarang. Di tangan Derrida, laku filsafat sebagai perburuan mencari kebenaran bergeser menjadi ikhtiar penafsiran terhadap teks.

Teks, seumpama tenunan kain, terbentuk dari untaian-untaian benang yang jalin-menjalin tak terhingga banyaknya. Makna (kebenaran) ada dalam kompleksitas kerumitan tenunan itu. Dalam situasi itu, tidak ada lagi pusat dan hulu. Tak ada oposisi bineriknya: pinggiran. Semua dapat berposisi pusat dapat berposisi pinggiran.

Bukan makna, tapi prosesnya

Ketaklaziman cara berfilsafat Derrida yang hendak meruntuhkan tradisi logosentrisme itu antara lain dipetakan oleh Muhammad Al-Fayyadl dalam bukunya Derrida (2005). Lewat pembacaan intens, sabar, dan hati-hati terhadap karya-karya Derrida (Of Grammatology, Writing and Difference, Dissemination, Margin of Philosophy), Fayyadl berhasil menggambarkan betapa tradisi logosentrisme filsafat pencerahan telah runtuh dan sedang di ambang kehancuran.

Selain menghadirkan Derrida sebagai ”problema”, Fayyadl juga membangun pembelaan terhadap sosok kefilsafatan Derrida yang memang tak disambut ramah kalangan pendukung logosentrisme. Keberatan utama terhadap dekonstruksi adalah karena ”metode” (sekaligus anti-metode) itu cenderung relatif.

Banyak yang menuduh proyek prestisius Derrida itu tak lebih dari intellectual gimmick (tipu-muslihat intelektual) yang tak berisi apa-apa selain permainan kata-kata. Oleh karena itu, berkali-kali Fayyadl menegaskan bahwa dekonstruksi tak bermaksud menihilkan, apalagi menafikan makna (kebenaran). Makna tetap ada, tetapi ia tidak mungkin dicapai dengan sebuah rumusan mutlak. Cuma saja, penekanan dekonstruksi bukan pada makna, melainkan pada proses meraihnya.

Bila Derrida memaklumatkan afirmasi terhadap ”yang lain” (the Other) dengan menolak kehadiran pengarang (kuasa tafsir tunggal) dalam teks, bagaimana cara menemukan makna (kebenaran) pada sebuah peristiwa pembunuhan? Bukankah Derrida meniscayakan ”tak ada sesuatu di luar teks” (il n’y a pas de hors-texte)?

Ini berarti, seluruh semesta fenomena adalah teks, termasuk peristiwa pembunuhan di atas. Bagaimana cara menemukan pelaku (makna) bila si pembunuh (pengarang) telah disingkirkan? Pelaku harus hadir, bukan? Dilema ini tak sempat ditelaah Fayyadl. Ini akibat terlalu sibuk membela pembacaan dekonstruktif Derrida, hingga abai pada ”problema” dekonstruksi yang tak kunjung terselesaikan itu.

Derrida tetap berhala

Cara berpikir Fayyadl tampaknya sangat terpengaruh oleh ”pola permainan” Derrida. Padahal, istilah ”permainan” tanda-tanda dalam teks itu masih problematis. Bukankah dalam sebuah permainan masih ada logika kalah-menang?

Derrida belum terbebas dari perangkap oposisi biner yang hendak ditolaknya. Mungkinkah laku penafsiran teks ditempuh tanpa pretensi (tanpa tujuan, tanpa telos)? Tendensi penafsiran mutlak ada, yakni; makna (kebenaran). Meski, makna itu bukan sosok kebenaran tunggal. Bukan makna yang stabil dan tak sumbing.

Maka, laku pembacaan dekonstruktif Derrida ibarat permainan sepak bola paling ironis sepanjang sejarah. Semua pemain dari kedua kesebelasan dilarang keras menciptakan gol. Para pemain hanya boleh menggiring bola, men-dribling, mengoper dan memberi umpan-umpan silang. Misalkan Fayyadl salah satu pemain dalam pertandingan itu, tentu ia akan bermain secantik mungkin.

Sialnya, ia akan selalu terhalang untuk memasukkan bola ke gawang lawan. Sebab, dalam logika dekonstruksi tak boleh ada gol (telos). Bila ceroboh dan tidak mampu ”menjinakkan” hasrat ingin menang, dikhawatirkan pemain akan melakukan gol bunuh diri, menendang bola ke gawang sendiri. Senjata makan tuan. Dekonstruksi (yang berperilaku meruntuhkan) akhirnya merobohkan tatanan analisis komprehensif yang bersusah-payah dibangun Fayyadl sejak mula.

Sia-sia ia menghadirkan Derrida sebagai ”problema”. Ujung-ujungnya, Derrida malah tegak sebagai ”berhala”….

Damhuri Muhammad, Cerpenis, Alumnus Program Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada, berkhidmat di Bale Sastra Kecapi, Jakarta.

Senin, 26 September 2011

Dua Penyair Indonesia Modern: Saut Situmorang dan Nirwan Dewanto

Asep Sambodja
http://sastra-indonesia.com/

Puisi Saut Situmorang:
surat bawah tanah

bukan rasa perih peluru yang membakar
darah kami yang memaksaku
menulis surat ini, kawan

bukan rasa takut di mata mata hitam itu
di suara jeritan jeritan kematian di sekitar kami
yang mengingatkanku padamu

bukan rasa puas di wajah wajah baret hijau baret merah itu
tangan tangan coklat yang kokoh yang kejam yang menggenggam
senapan senapan marah mereka
yang menembakku untuk mengangkat penaku, kawan

bukan matahari, matahari yang dingin dan buta itu
bukan kebiruan diam mencekam langit yang cuma menonton itu
bukan kebisuan yang tak termaafkan ini
yang membuat marah jiwa kami yang frustrasi

tapi kewajiban untuk berdiri tegak
melawan ketidakadilan binatang
kemunafikan bau kentut
dan kebenaran diri sendiri yang berkarat berlumut
yang membuat kami berani beraksi
rasa sakit yang tak tertahan di hati kami
yang terluka membuat kami sadar
dari candu politik sehari-hari

marah kami adalah marah kupu kupu
di malam bulan purnama
karena mawar merahnya ternoda
diperkosa ketawa pelacur pelacur tua ibukota

kawan, masih kudengar mereka menembak
dan menembak dan menembak
waktu akhirnya berhasil kuselesaikan
surat duka ini
sebagai saksi
bagi kita semua


Puisi Nirwan Dewanto:
Semu

Puisiku hijau
seperti kulit limau
Kupaslah, kupaslah
dengan tangan yang lelah
temukan daging kata
bulat sempurna, merah jingga
terpiuh oleh laparmu
Junjunglah urat kata dengan lidahmu
sampai menetes darah kata
manis atau masam
atau dendam yang lama terpendam
melukaimu ingin
kecuali jika
lidahmu hampa seperti angin
Puisiku putih kabur
seperti cangkang telur
Pecahkanlah, pecahkanlah
dengan tangan yang hampir alah
temukan cairan kata
meradang, bening sempurna
tak berinti
mampu mengalir ke seluruh bumi
Tapi kau mencari jantung kata
kuning yang kau anggap milikmu
dan pernah nyala di lidah ibumu
Maafkan aku
tak bisa kuceritakan diriku
dengarlah, cangkang telur atau kulit limau
hanya samaranku
Aku sayap kata
terbang sendiri, birahi sendiri
hingga hancur aku
kau tak bisa menjangkauku
jika pun kau seluas langit lazuardi
sebab kata sesungguh kata
tak bisa mengena
jika kau masih juga
separuh membaca
separuh buta

2005

Rendra pernah mengatakan bahwa di dunia persilatan tidak ada yang nomor dua, sementara di dunia persuratan tidak ada yang nomor satu. Hal-hal yang berkaitan dengan otot, kekuatan, seperti dalam dunia pencak silat, pemenangnya adalah yang bisa mengalahkan lawannya. Sementara dunia persuratan yang bergerak di bidang kebudayaan, yang ada hanyalah keberagaman. Demikianlah saya menilai penyair Saut Situmorang dan Nirwan Dewanto sama-sama memiliki ilmu yang tinggi di dunia persuratan, dunia perpuisian Indonesia modern.

Dari dua puisi yang saya perlihatkan di atas, kedua penyair ini memiliki gaya dan muatan isi yang berbeda. Bahasa yang dipergunakan Saut Situmorang adalah bahasa yang familiar dengan pengguna bahasa Indonesi, sementara bahasa yang digunakan Nirwan Dewanto adalah bahasa yang terekam dalam kamus bahasa Indonesia, namun terkadang tidak familiar bahkan oleh pengguna bahasa Indonesia sehari-hari.

Meskipun demikian, kedua penyair ini menciptakan makna dalam puisinya secara utuh. Keduanya sama-sama merahasiakan motif penciptaan puisi; penciptaan suatu karya. Dalam puisi “Surat Bawah Tanah”, Saut Situmorang pada mulanya merahasiakan proses penulisan surat bawah tanah itu. Namun, dalam baris-baris sajaknya kemudian terbaca bahwa ia menulis “surat duka ini” untuk dijadikan “sebagai saksi bagi kita semua”.

Dalam puisi “Semu”, Nirwan Dewanto merahasiakan kata-kata dalam puisinya. Ia menyebut “puisiku hijau seperti kulit limau” dan “puisiku putih kabur seperti cangkang telur”, namun dalam baris-baris puisinya, ia mengungkapkan bahwa “cangkang telur atau kulit limau hanya samaranku”. Penyair seperti memberi teka-teki kepada pembacanya. Meskipun ia mengaku “Aku sayap kata” yang “terbang sendiri, birahi sendiri”, Nirwan Dewanto merasa yakin bahwa pembaca “tak bisa menjangkauku”.

Ada yang terlintas ketika membaca kedua puisi penyair papan atas Indonesia ini. Pertama, ketika membaca puisi “Surat Bawah Tanah” karya Saut Situmorang, yang berkelebat dalam kepala saya adalah puisi Subagio Sastrowardoyo yang berjudul “Mata Penyair”. Saya menilai kedua puisi itu memiliki visi yang sama, yakni mengungkapkan kejujuran dan melawan ketidakadilan. Penyair, dalam hal ini Saut Situmorang dan Subagio Sastrowardoyo, memiliki fungsi atau tugas mulia sebagai pembawa kabar derita; seolah-olah penderitaan rakyat itu berada di pundak kedua penyair itu.

Kedua, ketika membaca puisi “Semu” karya Nirwan Dewanto, yang berkelebat di kepala saya adalah puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Pada Suatu Hari Nanti” dan “Sajak-sajak Empat Seuntai”. Menurut saya, baik Nirwan Dewanto dan Sapardi Djoko Damono sama-sama bermain kata dan makna kata. Jika dalam puisinya Nirwan Dewanto mengatakan “kau tak bisa menjangkauku jika pun kau seluas langit lazuardi”, maka dalam puisi Sapardi Djoko Damono terbaca “jika suatu hari nanti mereka mencapaimu, rahasiakan, sia-sia saja memahamiku.”

Jika dalam puisi Saut Situmorang yang menjadi “lawan” adalah penguasa atau penindas, maka yang menjadi “lawan” dalam puisi Nirwan Dewanto adalah pembaca dalam arti luas. Keduanya sama-sama mencoba sembunyi dari “lawan”-nya. Dari judul masing-masing puisi terbaca makna bahwa aku-lirik dalam puisi Saut Situmorang berada dalam posisi memperjuangkan kemerdekaan dari rasa takut. Sementara aku-lirik dalam puisi Nirwan Dewanto bersembunyi dari pemahaman publik. Ia seperti seorang empu atau begawan yang berada di menara mercusuar. Tak seorang pun diperbolehkan mendekatinya, apalagi memahaminya. Kalaupun ada yang ingin disampaikannya kepada pembaca, maka yang disampaikannya hanyalah semu. Hanya tipu daya. Bisa jadi hanya sekadar permainan kata belaka.

Yang menarik dari kedua penyair ini adalah muatan isi pada puisi mereka. Puisi Saut Situmorang terlihat jelas bermuatan politik. Ada relasi kuasa yang tengah bernegosiasi dan Saut Situmorang memposisikan dirinya berada di pihak korban, kaum tertindas. Sikap politik semacam ini muncul dalam puisi-puisinya yang mengangkat kasus Marsinah, Wiji Thukul, dan Munir dalam Otobiografi. Kalaupun dibandingkan dengan sastrawan-sastrawan Lekra yang berprinsip “Politik sebagai Panglima”, misalnya dibandingkan dengan puisi Putu Oka Sukanta dan Amarzan Ismail Hamid, maka puisi Saut Situmorang berada dalam garis politik seperti itu. Hanya saja persoalan yang diangkat sudah jauh berbeda, dan masing-masing penyair memiliki kekhasannya masing-masing.

Nirwan Dewanto sedikit banyak meneruskan garis politik sastrawan Manikebu yang apolitis. Prinsipnya “seni untuk seni” yang mengutamakan bentuk pengucapan. Apakah seorang pembaca seperti Anwar Holid mengerti atau tidak terhadap puisi itu, tampaknya itu tak menjadi soal. Puisi menjadi semacam klangenan yang meninabobokan. Jika kita perhatikan puisi-puisi Joko Pinurbo, tampak jelas ia memanfaatkan kata “celana” dan segala yang terkait dengannya untuk menghasilkan sebuah puisi yang memikat. Kalau kita perhatikan betul-betul puisi Nirwan Dewanto, ternyata ia memanfaatkan kata “payudara” atau “susu” untuk memikat pembacanya.

Joko Pinurbo bekerja keras mengolah kata “celana” yang tidak puitis itu menjadi puitis di mata pembaca. Nirwan Dewanto pun bekerja keras mengolah kata “payudara” dan “susu” dalam puisi-puisinya. Sedikitnya ada 13 puisi yang menggunakan kata “payudara” dalam buku Jantung Lebah Madu. Dan itu adalah pilihan. Bisa juga pencapaian. Joko Pinurbo mendapat berbagai penghargaan karena puisi “Celana”. Nirwan Dewanto juga dianugerahi penghargaan karena jasa kata “Payudara” dalam 13 puisinya.

Baik Saut Situmorang maupun Nirwan Dewanto layak diberi penghargaan. Keduanya harus dicatat, keduanya dapat tempat, sebagaimana kata Chairil Anwar.

Citayam, 24 Oktober 2009
Dijumput dari: http://manuskripdody.blogspot.com/2011/06/dua-penyair-indonesia-modern-saut.html

Sabtu, 24 September 2011

Wisata Buku Lawas di Yogyakarta

Fahrudin Nasrulloh
Suara Merdeka, 15 Juli 2007.

Salah satu keistimewaan ketika mengunjungi Yogya adalah menelisik toko-toko buku yang tersebar di sejumlah tempat. Ada T.B. Social Agency, T.B. Diskon Toga Mas, T.B. Tiga Serangkai, T.B. Gramedia dan komplek toko buku Taman Pintar yang bersebelahan dengan Taman Budaya dan benteng Vredeberg, dan lain-lain. Namun sekarang untuk mencari buku-buku lawas susah sudah, bahkan nyaris nggak ada. Tahun 1970-an hingga 1980-an, menurut berbagai sumber, masih banyak dijumpai buku-buku lawas yang bermutu.

Yang saya maksud dengan buku lawas (dalam arti spesifik bisa berati buku kuno, seperti naskah-naskah serat atau babad) adalah buku yang sudah tidak diterbitkan dalam jangka waktu lama oleh sejumlah penerbit tertentu. Karena itu, buku lawas dapat dikategorikan dalam empat jenis. Pertama, buku lawas umum (meliputi buku filsafat, sastra Indonesia dan Barat, psikologi, dan lain-lain). Buku lawas filsafat Barat seperti Meditation karya Rene Descartes, atau Suluk Awang-awung (antologi puisi) karya Kuntowijoyo, sudah hampir tidak ada. Saya pernah dapat satu karya Salman Rushdie, The Satanic Verses (Viking Penguin Inc., 1988). Semula si penjual mematok harga 250 ribu, tapi saya bisa membelinya dengan harga 50 ribu. Juga Tatanegara Majapahit (Yayasan Prapantja: Jakarta, 1962) karya Muhammad Yamin. Buku ini terdiri dari 7 jilid — yang konon seharga 300-an ribu — sudah sulit dilacak. Meski sebagian kecil buku-buku semacam ini mungkin terdapat di perpustakaan, semisal di perpustakaan Kolese Ignatius di Kota Baru yang, kabarnya, koleksi bukunya terbilang lengkap. Tapi jangan terlalu banyak berharap.

Kedua, buku lawas cerita silat dan komik. Buku cerita silat (cersil) semisal karya-karya S.H. Mintardja sudah sulit dicari. Ada sekitar belasan judul cersilnya. Kebanyakan dari karyanya pernah dimuat di koran Kedaulatan Rakyat, seperti Nagasasra Sabuk Inten. Karya ini sekarang telah diterbitkan oleh koran tersebut sebanyak 3 jilid (satu jilid seharga 100 ribu). Sementara karyanya yang lain masih terserak di banyak penggemarnya dahulu. Jika di Taman Pintar bisa ditemukan, ada sebagian yang terjilid rapi, tapi ada juga yang tercecer dalam bentuk serial. Dahulu, saya pernah bertemu di Taman Pintar, pada 2004, dengan Pak Muhlis; yang memiliki koleksi lengkap S.H. Mintardja. Saya pun membuktikan ke rumahnya, di Bantul. Lengkap memang. Mulai Nagasasra Sabuk Inten, Api di Bukit Menoreh hingga Misteri Kembang Kecubung. Saking gandrungnya, Pak Muhlis ludes membaca semua karya Mintardja itu. Bahkan dia nekat menjelajahi kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya untuk melengkapi koleksinya. Meski, ketika butuh uang, dia terkadang juga menjualnya sebagian. Dia pernah menawarkan kepada saya (boleh ke orang lain) untuk membeli seluruh karya S.H. Mintardja tersebut dengan harga 10 juta.

Welahdalah! Ini rumah apa kolong tikus? Seolah mata tiba-tiba bolong, saat saya melihat ruang tamu yang disesaki timbunan majalah, buku-buku dijejer bersap-sap, dan berkardus-kardus cersil sampai nyaris menyentuh genteng yang telah disisir dan dikelompokkan berdasar judul, jilid, dan serinya. “Seluruh karya Mintardja lengkap, Nak Udin. Jika sampeyan berminat, semua akan saya lepas 10 juta saja. Jangan lama-lama mikirnya!” Mendengar tawaran itu, saya cuma tertegun dan tersenyum kecut. Yang terlintas di benak: peristiwa apa saja dalam puluhan tahun hingga ia dapat mengumpulkan seluruh cersil Mintardja? Belum lagi cersil dari pengarang lain yang juga seabrek koleksinya. “Saya nggak berduit sebanyak itu, Pak. Tapi saya yakin, suatu hari, akan datang sang pembeli ke rumah ini,” pungkas saya.

Wow! Sementara cersil lain dari pengarang lain juga memenuhi koleksinya. Yang pasti, Di Taman Pintar sekarang jarang ada. Kalaupun ada, mahal sekali harganya. Ada pun buku komik lawas, makin jarang lagi, seperti karya-karya lama Ganes TH , Hans Jaladara, dan lain-lain.

Ketiga, buku lawas jenis keislaman. Satu sisi, buku jenis ini sudah banyak diterbitkan. Lebih-lebih oleh penerbit yang konsern pada tema-tema keislaman yang ragamnya, terkait dengan pertimbangan laku-jual di pasar, memang tak terhingga banyaknya. Seperti buku Durratun Nashihin, Riyadus Shalihin atau Bulughul Maram telah berkali-kali dicetak ulang oleh banyak penerbit. Dan memang laris manis. Tapi untuk mencari buku semisal Al-Atsarul Baqiyah Anil Qurunil Khaliyah karya Al-Biruni, saya pastikan tak ada di Yogya (baik di toko buku atau di perpustakaan UIN sekalipun). Atau karya-karya monumental dari Ibnu Haitam (Risalah Sina’at Syi’ir), Ibnu Arabi (Futuhul Makkiyah), Al-Baqli (Masrab Al-Arwah), As-Sulami (Tabaqatus Shufiyya), Al-Maki (Qut al-Qulub) dan lain-lain, jelas kelabakan untuk mencari mereka. Kecuali sejenis kitab tersebut, mungkin, dimiliki kiai-kiai yang gandrung baca kitab. Untuk mencari yang agak ringan saja; tentang madharat dan manfaat rokok dan kopi, karya Kiai Ihsan Jampes berjudul Irsyadul Ikhwan fi Syarhil Qahwa wa al-Dukhan, Anda musti memburunya ke Jampes, atau ke Lirboyo, atau ke T.B. Firdaus di Pare. Bukan di toko kitab kuning, di Yogya.

Keempat, buku lawas Jawa kuno. Menyusuri jenis buku ini sebenarnya mudah, tapi jangan harap bisa dibawa pulang. Anda cukup cari buku hasil suntingan T.E. Behrend berjuluk Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Museum Sonobudoyo (Djambatan, 1990, Jakarta). Buku ini ada di perpustakaan Sonobudoyo, Yogya. Atau di penerbit Djambatan. Di Taman Pintar? setahu saya, nggak ada. Buku katalog itu memuat 1350 naskah Jawa kuno yang mencakup tema sejarah, silsilah, hukum, ihwal wayang, sastra wayang, sastra Jawa kuno dan sastra Islam kejawen, piwulang, primbon, bahasa, musik, tari-tarian, perkerisan, adat-istiadat, dan lain-lain.

Pengalaman tak terlupakan saya ketika, pada Desember 2005, di toko buku loak, milik Mas Widodo (di komplek Lt. II pasar Bringharjo), saya pernah menemukan sebuah buku lawas berisi kumpulan cerita ringkas dari para sastrawan Indonesia tempo doeloe berjudul Maleise Bloemlezing: Uit Hedendaagse Schrijvers, bertarikh 1947, terbitan J.B. Wolters-Batavia dan Sevire-Den Haag, yang disusun oleh Dr. G.W.J. Drewes (harga: 30 ribu). Ada belasan cerita unik, dengan ejaan lama, dari beberapa sastrawan semisal, M. Kasim, S. Hardjosoemarto, A. Datuk Madjoindo, Hersevien M. Taulu, S. Takdir Alisjahbana, H.A.M.K. Amrullah, Habib Sutan Maharadja, Seoman H.S., Ardi Soma, A. Soetan Pamoentjak N.S., A. Moeis, Selasih, Hamidah, N. St. Iskandar, Toelis Soetan Sati, I. Gusti Njoman P. Tisno dan H.S.D. Moentoe.

Tentu jika bukan pencinta dan pemburu buku yang bandel, sangatlah kerepotan melacak buku-buku tersebut. Bagi mereka yang sudah lama menyusuri jagat pernak-pernik buku pastilah memiliki kepuasan tersendiri ketika mereka telah menemukan buku yang mereka inginkan. Kendati ada juga pemburu buku lawas yang tidak begitu getol membaca, tapi semata hanya ingin mengoleksi saja. Ya, apa pun alibinya, kita layak untuk menghargainya. Sebab, buku adalah jendela dunia, dan peradaban manusia, salah satunya, dibangun dari tradisi membaca. Karena, “Sebuah buku”, ujar Cervantes, “adalah halte sejarah; tetirah abadi segala ingatan dan pengetahuan, meski tanpanya, kehidupan akan tetap berjalan apa adanya.” Memang, sebuah buku bukan sekadar lembaran kertas dan rekatan lem. Melainkan di dalamnya menyimpan sebentang peradaban, di mana manusia hidup bersamanya, dengan harapan dan cita-cita.
***

Ensiklopedia Sastra Kalsel dalam Kritik

(Tanggapan terhadap Kritik Ivan Denisovitch)
Mahmud Jauhari Ali
–Radar Banjarmasin

Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Allah swt atas adanya kritik terhadap sebuah buku yang baru saja diterbitkan oleh Balai Bahasa Banjarmasin. Buku yang disusun oleh sebuah tim ini telah berhasil menjadikan masyarakat Kalimantan Selatan membaca isinya. Bahkan, saya berani mengatakan bahwa buku ini telah berhasil menciptakan proses berpikir kreatif dari para pembacanya. Hal ini terbukti dengan adanya kritik membangun dari salah seorang pembacanya yang notabene adalah sastrawan Kalimantan Selatan di kolom Cakrawala Radar Banjarmasin terbitan Minggu, 14 September 2008. Penulis turut menyampaikan terima kasih kepada bung Ivan atas kritik yang telah membuat otak penulis bekerja membuat sebuah coretan untuk sekadar berbagi pengetahuan walau sedikit. Semoga pula kritik tersebut membangunkan pemikiran dari pihak tim penyusun buku Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan untuk merevisi hal-hal yang menjadi kelemahan dan menambahkan kekurangan dalam buku tersebut sebagaimana telah diungkapkan bung Ivan dalam tulisannya itu.

Buku berisi bersih 206 halaman ini merupakan hasil kerja keras tim penyusunnya untuk mendokumentasikan kehidupan sastra dalam bentuk cetak. Penulis sengaja tidak menyebut Balai Bahasa Banjarmasin yang menyusunnya, tetapi dengan sebutan tim penyusun. Hal ini penulis maksudkan untuk menghindarkan anggapan bahwa seluruh orang Balai Bahasa Banjarmasin yang menyusunnya. Padahal hanya beberapa orang saja atau hanya segelintir manusia saja yang terlibat dalam penyusunan buku tersebut. Dalam program kerja Balai Bahasa Banjarmasin, untuk penyusunan buku tersebut hanya melibatkan delapan orang tenaga penyusun, yakni Drs. Saefuddin, M.Pd., Dahliana, S.Pd., Musdalipah, S.S., Siti Akbari, S.S., Rodisa Edwin Abdine, S.Pd., Sri Wahyu Nengsih, S.Pd., Nidya Triastuti Patricia, S.S., dan Yoga Sudarman.

Menanggapi kritik atas buku ini, memang tidak dapat kita bantah bahwa buku ini memiliki kelemahan. Mungkin wajar bahwa sebuah buku memiliki kelemahan karena pada hakikatnya ciptaan manusia jauh dari sempurna. Buku sebagai ciptaan manusia tidak pernah ada yang hanya memiliki kelebihan. Di balik kelebihan, tentu ada kelemahan sebagai bukti bahwa kita hanyalah makhluk, bukan Tuhan Yang Maha Pencipta. Inilah salah satu kesadaran yang harus kita miliki sebagai hamba Tuhan.

Meskipun demikian, tentulah kita harus semaksimal mungkin menciptakan sesuatu dengan sebaik-baiknya agar dapat menghasilkan manfaat bagi diri kita dan orang lain. Melihat dan membaca serta mengoreksi buku yang baru terbit ini, penulis mengatakan dengan jujur bahwa tim penyusunnya memang harus merevisi dan menambah isinya agar kualitasnya lebih baik dan lebih legkap isinya daripada saat ini. Penulis melihat adanya sedikit kesalahan dan kekuranglengkapan dalam buku ini.

Penulis mengibaratkan buku ini seperti ember plastik yang tidak penuh berisi air dengan sedikit bintik hitam. Artinya, masih ada kekosongan yang harus dilengakapi dan diperbaiki sebagiannya yang masih salah dalam buku ini. Sebagai contoh, masih banyak sastrawan kreatif dan produktif yang belum dimuat dalam buku ini, baik angkatan dahulu maupun angkatan terbaru. Sastrawan angkatan dahulu yang biodata lengkap dan karya-karya serta akivitas-aktivitas sastranya tidak dimuat dalam lema tersendiri pada buku ini, misalnya adalah Abdul Karim Amar yang merupakan sastrawan Kalsel angkatan 70-an asal Kertak Hanyar. Padahal dalam buku itu disebutkan nama beliau, tetapi tidak sebagai lema tersendiri, yakni pada kalimat pertama paragraf ketiga di halaman 195. Seharusnya jika sudah disebutkan namanya, berarti beliau diakui sebagai sastrawan Kalsel. Karena itulah, seharusnya biodata, karya-karya, dan segala aktivitas sastrawan yang bersangkutan dimuat dalam lema tersendiri.

Begitu pula dengan sastrawan-sastrawan muda saat ini banyak tidak disebutkan dalam lema-lema tersendiri dalam buku ini. Seperti kasus Abdul Karim Amar, kasus Sandi Firly sebagai sastrawan muda yang produktif saat ini namanya hanya dimuat pada lema lain, yakni misalnya dalam kalimat kedua pada paragraf kedua di halaman 23. Dapat kita katakan bahwa perkembangan sastra terkini (mutakhir) dalam segala hiruk-pikuknya tidak disertakan di dalamnya. Selain itu, penjelasan sebagian besar lema yang sudah ada juga harus diperbanyak. Sebagai contoh, penjelasan lema Amanah Ibu pada halaman 25 sangat kilat. Sinopsis novel tersebut sama sekali tidak dituliskan walau hanya sekilas info.

Penggunaan bahasa Indonesia dalam buku ini pun masih ada yang salah. Sebagai contoh, kesalahan yang nyata terdapat pada kalimat kedua dalam paragraf keempat halaman 24, yakni kata mempublikasikan. Seharunya kata itu ditulis memublikasikan dan bukan mempublikasikan (lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga halaman 902). Dalam morfologi bahasa Indonesia, jika prefiks meng- diimbuhkan pada kata berawal huruf p, tentulah huruf p itu mengalami peluluhan. Jadi, prefiks meng- yang diimbuhkan pada kata publikasikan menjadi memublikasikan.

Hal-hal di atas perlu direvisi dan ditambahkan karena dengan adanya revisi dan penambahan, buku ini akan lebih memberikan manfaat dalam dunia sastra di Kalimantan Selatan khususnya dan di alam jagat raya pada umumnya. Satu catatan penting yang harus dilakukan oleh tim penyususn buku ini adalah kerja sama dengan para sastrawan, bukan sebagian sastrawan saja. Selama ini memang dalam penyusunannya hanya melibatkan beberapa sastrawan sebagai pengumpul naskah. Ini merupakan salah satu akar dari kesalahan yang menyebabkan kelemahan dalam buku ini. Seharusnya pihak penyusun buku ini melibatkan sastrawan-sastrwan Kalimantan Selatan sebagai rekan kerja dalam penyusunannya. Saya sependapat dengan bung Ivan yang menyebutkan bahwa jadikan sastrawan Kalimantan Selatan sebagai penyunting, narasumber, dan konsultan dalam penyusunan buku Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan. Hal ini sangat perlu karena yang lebih mengetahui seluk-beluk dunia sastra di Kalimantan Selatan adalah para sastrawan Kalimantan Selatan.

Pihak Balai Bahasa Banjarmasin selama ini telah menjadikan guru-guru besar Bahasa FKIP Unlam sebagai konsultan dalam penyusunan buku-buku bahasa oleh para bahasawan di Balai Bahasa Banjarmasin. Jadi, selain berguru dengan para pakar bahasa di pusat, seperti Dr H. Mahsun, M.S (pakar dialektologi), Prof. Dr. Nadra, M.S (pakar dialektologi), Prof. Dr. Ahyatroheidi (pakar dialektologi/adik Ayiprosidi), dan Prof. Dr. Anton M. Mulyono (pakar leksikografi), para bahasawan di Balai Bahasa Banjarmasin juga melibatkan diri dengan pakar-pakar bahasa di Kalimantan Selatan. Dalam penyusunan buku-buku sastra seharusnya para penggawa sastra dan para perajurit mereka di Balai Bahasa Banjarmasin juga menjadikan para sastrawan sebagai konsultannya, penyunting, dan narasumber primer dalam setiap penyusunan buku dan lainnya.

Saya salut dengan para tenaga teknis bahasa di Balai Bahasa Banjarmasin yang selama ini bekerja sama dengan para pakar bahasa di Kalimantan Selatan untuk menciptakan buku-buku yang bermutu. Bahkan, ada rencana akan dibentuknya cabang HPBI (Himpunan Pembina Bahasa Indonesia ) di Kalimantan Selatan oleh mereka. HPBI Pusat bermarkas di Jakarta. Kini saatnya para tenaga teknis sastra di Balai Bahasa Banjarmasin bekerja sama dengan para sastrwan di provinsi ini. Saya juga sependapat dengan bung Ivan bahwa Balai Bahasa Banjarmasin dan sastrawan Kalimantan Selatan harus mendekat. Antara keduannya memang haruslah rekat dalam satu keharmonisan guna menciptakan masyarakat madani dalam hal sastra di Negara kita ini. Jika perlu, para tenaga teknis sastra di Balai Bahasa Banjarmasin harus melibatkan diri aktif dalam setiap acara sastra di provinsi ini, seperti acara Aruh Sastra V yang insya Allah diadakan di Balangan pada bulan Oktober mendatang. Menurut penulis, Balai Bahasa Banjarmasin juga harus berlangganan Surat Kabar Radar Banjarmasin khusus terbitan Minggu yang memuat perkembangan sastra terkini di Kalimantan Selatan. Dengan berlangganan Radar Banjarmasin terbitan Minggu itu, orang-orang Balai Bahasa Banjarmasin, baik tenaga teknis sastra maupun tenaga teknis bahasa dapat mengikuti perkembangan sastra sekaligus ikut aktif di dalamnya.

Menutup tulisan ini, saya menyarankan agar buku Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan diwujudkan para tim penyusunnya dalam bentuk yang lebih baik lagi daripada saat ini terhadap isinya. Akhirnya, marilah kita tidak saling menjauhkan diri apalagi memutuskan tali persaudaraan di antara kita. Marilah kita saling membantu di dalam kebaikan termasuk dalam hal sastra di Kalimantan Selatan ini. Fastabiqulkhairat!

Ki Pandjikusmin, Misteri yang Dibawa Mati

Seno Joko Suyono
http://majalah.tempointeraktif.com/

AMPLOP itu lusuh. Sudah sejak 1968 dia terjepit di dalam sebuah map karton kuning. Amplop itu dialamatkan kepada majalah Sastra, Jalan Kramat Sentiong 43, Jakarta. Nama pengirimnya hampir tak terbaca—karena tertutup sebuah klip map. Bila kita mencabut klip itu, terbacalah nama pengirimnya dengan alamat 2-nd Floor Maritime Building Collyer Quay, Singapore.

Sepintas ini bukan amplop istimewa dan nama yang tercantum bukanlah nama yang istimewa. Rak tempat amplop itu adalah rak yang memuat ratusan dokumentasi H.B. Jassin, tempat dia menyimpan surat para sastrawan, coret-coretan surat cinta pribadi, notes-notes kecil, serangkaian kuitansi, bahkan kertas undangan perkawinan sejak 1940-an.

Amplop lusuh itu berusia 32 tahun. Dan nama pengirimnya, Soedihartono, disamarkan. Tetapi ini nama penting, karena itulah nama asli Ki Pandjikusmin, penulis cerpen Langit Makin Mendung. Peneliti Ulrich Kratz di dalam buku daftar nama sastrawan Indonesia juga mencantumkan nama itu sebagai nama asli Ki Pandjikusmin. Inilah penulis cerpen—yang sebenarnya dari segi artistik sangat tidak menarik—yang pada 1968 mengundang reaksi umat Islam dan menyeret H.B. Jassin ke muka pengadilan. Cerpen ini pula yang mengakibatkan pecahnya sebuah polemik sastra berkepanjangan hingga dua tahun lamanya yang meributkan soal fantasi, kebebasan mencipta, dan agama .

Jassin bersikukuh tak mengungkap nama pengarang ataupun identitas lainnya. Dia maju ke meja pengadilan sebagai penanggung jawab, dan hingga akhir hayatnya 40 hari silam, nama Ki Pandjikusmin tetap misterius. Kekukuhan H.B. Jassin untuk tak membeberkan identitas Ki Pandjikusmin bahkan kepada istrinya adalah konsistensi. Tetapi karena unsur misterius itu pula muncul berbagai dugaan yang ganjil, bahkan lucu, tentang identitas penulis ini. Siapakah Ki Pandjikusmin?

Marilah kita melakukan kilas balik. Cerpen Langit Makin Mendung dipublikasikan di majalah Sastra bulan Agustus 1968. Tidak lama setelah cerpen itu dipublikasikan, pihak Kejaksaan Tinggi Sumatra melarangnya karena dianggap menghina kesucian agama Islam. Ratusan eksemplar majalah Sastra disita pihak berwajib dari agen-agen dan toko-toko buku di Kota Medan. Tindakan itu menimbulkan reaksi kalangan sastrawan di Jakarta ataupun Medan.

Di Medan, Zakaria M. Passe, Sori Siregar, dan Rusli A. Malem membuat stensilan protes. Di Jakarta, Trisno Sumardjo, D. Djajakusuma, Umar Kayam, Taufiq Ismail, dan Slamet Sukirnanto menandatangani pernyataan protes.

Pada 22 Oktober 1968, lewat redaksi Harian Kami, Ki Pandjikusmin mencabut cerpennya dan menganggap tak pernah ada. “Sebermula sekali bukan maksud saya untuk menghina agama Islam, tujuan sebenarnya adalah semata-mata hasrat pribadi saya untuk mengadakan komunikasi langsung dengan Tuhan, Nabi Saw, sorga dll. Di samping menertawakan kebodohan di masa regime Soekarno. Tapi rupanya saya telah gagal, salah menuangkannya dalam bentuk cerpen; alhasil mendapat tanggapan di kalangan umat Islam sebagai penghinaan terhadap agama Islam,” demikian Ki Pandjikusmin.

Tapi, kehebohan berlanjut di Jakarta. Kantor majalah Sastra di Kramat Sentiong 43 didatangi sekitar 50 pemuda. Mereka mencorat-coreti dinding: HB Jassin Kunjuk, HB Jassin tangan kotor Gestapu PKI, Ini Kantor Lekra, Majalah Sastra Anti Islam. Penanggung jawab majalah Sastra, Darsjaf Rachman dan H.B. Jassin, pada 28 Oktober 1968 akhirnya mengeluarkan surat pernyataan maaf. Tapi suasana bertambah panas ketika Menteri Agama K.H. Mohd. Dahlan menyatakan bahwa cerpen Langit… menghina Tuhan, agama, para nabi, malaikat, kiai, Pancasila, dan UUD 1945, dan menganggap penulisnya atau penanggung jawabnya patut diajukan ke muka pengadilan.

Setelah melalui silang pendapat seru, akhirnya H.B. Jassin diajukan ke pengadilan. Di persidangan, Jassin menolak membeberkan identitas Ki Pandjikusmin. Sikap itu berpegang pada Undang-Undang Pers 1966—yaitu bila sang pengarang sendiri tidak membuka identitasnya, redaksi mempunyai hak tolak untuk memberitahukan identitas pengarang sesungguhnya. Tak tampilnya Ki Pandjikusmin mengundang banyak spekulasi. Setahun sesudah peristiwa, tajuk rencana Indonesia Raja masih menulis: Ki Pandjikusmin, Tampillah Engkau Sekarang Sebagai Ksatria. Belum lagi banyak tafsiran tentang Ki Pandjikusmin. Ada anggapan Ki Pandjikusmin adalah singkatan dari “kibarkan panji-panji komunis internasional”. Ada yang menduga Ki Pandjikusmin tak lain adalah H.B. Jassin sendiri. Dalam tanya-jawab persidangan, H.B. Jassin mengatakan bahwa sang pengarang adalah pelaut. Alamatnya berpindah-pindah. Sampai saat pengadilan saja, Jassin mengaku hanya mengenal dia melalui surat-menyurat.

Setelah meneliti surat-surat H.B. Jassin dan menemukan beberapa kertas lusuh tulisan tangan asli Ki Pandjikusmin, TEMPO berkesimpulan alamat “pengarang misterius” ini memang berpindah-pindah dan terkesan menutup diri. Tanggal 31 Juli 1967, saat mengirim cerpen berjudul Bintang Maut, alamatnya di Kebonkosong Bunderan No. 94 F, Jakarta. Dalam surat pengantarnya ia mengatakan bila tak memenuhi syarat, mohon cerpen dikembalikan. Oktober 1967, H.B. Jassin menjawab ke alamat itu: “Cerpen saudara, Bintang Maut, yang dikirim dengan nama samaran Ki Pandjikusmin, sedianya telah kami setujui untuk dimuat dalam majalah Horison. Kebetulan, bulan November, Sastra akan terbit kembali. Dengan seizin redaksi Horison, bolehkah kami memuat cerpen Saudara itu dalam majalah Sastra?” Di akhir surat, Jassin melampirkan formulir daftar pengarang dan meminta Ki Pandjikusmin mengisinya untuk dokumentasi. Sekaligus, Jassin meminta ia melampirkan foto.

Surat itu dijawab oleh Ki Pandjikusmin pada 12 Oktober 1967 ke rumah Jassin, Jalan Siwalan 3 Mahoni. Anehnya, alamatnya berbeda dan dikirim dari Jawa Timur, yakni Jalan Krida No. 5, Probolinggo. Isinya adalah dia tak berkeberatan apabila naskahnya dimuat di majalah Sastra, tapi dia tidak mau mengisi lampiran dan foto. Alasannya, sebagai pengarang, karya-karyanya dianggap belum memadai dan memuaskan hati.

Bintang Maut akhirnya dimuat dalam majalah Sastra pada November 1967. Cerpen Domba Kain selanjutnya dimuat di majalah Sastra edisi Mei 1968. Artinya, sebelum Agustus 1968, sudah dua cerpen Ki Pandjikusmin yang dimuat di Sastra. Dalam dokumentasi H.B. Jassin, TEMPO juga menemukan naskah Ki Pandjikusmin berjudul Hujan Mulai Rintik, yang merupakan naskah sambungan cerpen Langit Makin Mendung dan belum pernah dipublikasikan.

Syahdan, pada 1970, majalah Ekspres pimpinan Goenawan Mohamad menurunkan laporan utama tentang H.B. Jassin dan Ki Pandjikusmin. Adalah Redaktur Pelaksana Usamah yang berhasil menemuinya. Artikel majalah Ekspres, yang antara lain ditulis oleh redaktur Taufuq Ismail, itu tak menyebut nama asli Ki Pandjikusmin dan juga tak menampilkan foto Ki Pandjikusmin. Majalah ini juga kemudian menulis identitas sang “misterius” ini agak lengkap.

Pandjikusmin lahir dari keluarga Islam. Nama Kusmin diambil dari nama ayahnya saat kecil, sementara Pandji nama kakeknya dari pihak ibu. Ayahnya menikah lagi dalam pengungsian pada 1945, di Malang. Sejak berumur lima tahun, ia ikut ibu tiri. Ibu tirinya adalah seorang Protestan. Ia disekolahkan di sekolah Kristen di Malang dan oleh ibunya dan dididik sebagai Protestan.

Semasa sekolah dasarnya di Malang, ia sering tak naik kelas. Tingkah lakunya bandel, sehingga ibu tirinya mengirim ke Asrama Katolik Boro di Kulonprogo, Yogya. Selama tiga tahun dia diasuh oleh Pastor Harsosusanto dan Bruder Themoteus. Di sinilah ia kemudian dibaptis menjadi seorang Katolik. Setamat SD di Bruderan Boro, Kulonprogo, ia melanjutkan studi ke SMP Kanisius Salatiga.

Tahun 1956, lulus dari SMP Kanisius, ia pergi ke Semarang. Di Semarang, ia masuk SMA Protestan—yaitu SMA Masehi, tapi ia tetap Katolik. Beberapa bulan kemudian, ayahnya, yang telah menetap di Jakarta, menikah kembali. Ibu tirinya meninggal. Upacara pernikahan secara Islam ini mengetuk hatinya. Penghulu dan doa-doa yang dibaca membuat ia terkenang akan masa kecilnya. Sejak itu, Ki Pandjikusmin memutuskan kembali masuk Islam. Ia meninggalkan SMA Masehi Semarang, lalu akhirnya pindah ke Akademi Pelayaran Nasional. Selama enam tahun ia menjalani wajib dinas di Jakarta.

Setelah heboh cerpen Langit Makin Mendung, Ki Pandjikusmin ternyata masih mengirim naskah ke Horison. Pada 1970, ia mengirim cerpen berjudul Petasan dalam Sampah. Naskah itu tidak dimuat karena tidak lolos kriteria Taufik Ismail. “Kalau saya jadi redaktur Sastra, Langit Makin Mendung pun tidak saya loloskan. Itu cerpen jelek. Metafora Ki Pandjikusmin sangat sederhana dan kekanakan. Tuhan melayang di atas, memakai kacamata seperti orang tua. Imajinya begitu miskin,” tutur Taufiq kepada Dharmawan Sepriyossa dari TEMPO. Pada 20 Oktober 1971, sang pengarang misterius mengirim cerpen berjudul Dia Tidak Tidur. Yang ini dimuat di Horison edisi Desember 1972. Bila kita tilik alamat suratnya, kini ia berpindah lagi, yaitu Jalan Perhutani I Jalan Rajawali 40 Surabaya. Jadi, semenjak 1967, berdasarkan surat-surat lusuh itu, Ki Pandjikusmin tampaknya telah berpindah empat kali: Jakarta, Probolinggo, Singapura, dan Surabaya.

Selepas tahun 1972, kiriman karya-karyanya tak dapat ditemukan lagi pada arsip-arsip perpustakaan Jassin. Adakah kemampuan menulisnya punah? Bila demikian, berarti Ki Pandjikusmin hanya berhasil menulis segelintir cerita. “Dia tak terus-menerus menulis. Dia hanya meletup sekejap saja,” demikian komentar Taufiq Ismail. Ataukah ia memakai nama samaran lain? Sesungguhnya, seperti jawabannya kepada majalah Ekspres, kala itu tak ada niatan dalam dirinya untuk menjadikan dirinya misteri. Ia mengatakan, sebenarnya ia bersedia tampil saat itu. Tapi karena melihat Jassin sudah mengatasi sendiri, ia merasa tak pantas melangkahi orang tua.

Bila masih sehat, pengarang misterius itu kini umurnya sekitar 55 tahun. Adakah saat 40 hari peringatan meninggalnya Jassin kemarin di TIM dia diam-diam menyelinap di antara pengunjung? Atau, akankah dia datang pada acara “In Memoriam H.B. Jassin” yang akan diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, dan Fakultas Sastra UI bulan depan? Ataukah dia sudah betul-betul lepas dari dunia sastra—melupakan masa lalunya sehingga saat kematian Jassin pun ia tak menyempatkan diri menghormatinya?

24 April 2000

Pledoi Sejarah Kebudayan Indonesia

Diana A.V. Sasa
http://dianasasa.blogspot.com/

“Sejarah senyap adalah sebuah metode dan usaha menggali kuburan ingatan kolektif dari persemayaman yang dipaksakan; sebuah ikhtiar mencabuti kembali patok-patok nisan tanpa nama dan mendengarkan tutur dari alam kubur kebudayaan Indonesia tentang apa yang sesungguhnya terjadi”

Emboss palu-arit tercetak samar di kertas putih bersih itu menghadirkan kembali rasa getir trauma masa lalu. Judul dengan warna merah menyala di samping logo penerbit bak darah mengalir, mengingatkan pada betapa banyak darah tertumpah yang menjadi tumbal gambar itu.

Desain sampul Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 yang disusun Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan ini dibuat jelas bukan tanpa alasan. Selain peraturan pelarangan gambar itu masih belum dicabut, Lekra (Lembaga kebudayaan Rakyat) dalam sejarah memang selalu berada dalam bayang-bayang partai berlambang dua benda tajam senjata kaum tani itu, PKI (Partai Komunis Indonesia). Jika Lekra maka PKI, karena PKI maka (pasti) jahat, kejam, sadis, dan layak digorok. Sebuah peng-gebyah uyahan-yang keblinger berpuluh tahun.

Rhoma dan Muhidin adalah dua orang muda yang usianya belum juga genap 30, tapi kepeduliannya pada dokumentasi sejarah bangsa begitu besar. Rhoma adalah periset muda yang telah melahirkan pelbagai karya sejarah seperti Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007), Seabad Pers Perempuan (1908-2008), Almanak Partai Politik Indonesia, dan Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia (1908-2008). Muhidin adalah penulis muda yang namanya wira-wiri di media nasional dan telah melahirkan berpuluh buku sastra maupun esai. Dialah pemimpin riset Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia yg ditulis 25 penulis muda yang usianya masih di bawah 25 tahun. Mereka berdua ini selama 17 bulan dengan getih menyusuri kembali lembar demi lembar Harian Rakjat dalam lembab almari perpustakaan sunyi di pusat kota Jogjakarta dengan satu semangat: selamatkan aset sejarah sebelum kalah dengan rayap!

Sebanyak 15 ribu artikel budaya Harian Rakjat dalam ejaan lawas dan tulisan kecil-kecil mereka baca dengan tekun, mereka catat bagian-bagian pentingnya (karena tidak boleh menggunting apa lagi menfotokopi karena merusak kertas yang sudah rapuh itu), untuk kemudian menuliskannya kembali dengan beberapa tambahan intepretasi. Mereka menyuguhkan dengan apa adanya peristiwa-peristiwa kebudayaan yang terjadi sepanjang rentang waktu revolusi 1950-1965. Fakta demi fakta diuraikan. Dan hasilnya: Lekra tak hanya mengurusi soal sastra yang selalu diperdebatkan dengan Manikebu, tapi juga film, musik, seni tari, seni pertunjukan (ketoprak, wayang, ludruk, drama, reog), buku, pers, dan kebudayaan secara umum.

Buku ini, meski disebut sebagai “buku putih”, tapi bukanlah sebuah pledoi buta terhadap Lekra. Ia adalah ikhtiar memberi kesempatan bagi mereka untuk berbicara apa sesungguhnya yang telah mereka lakukan semasa kurun 15 tahun yang bergemuruh itu.
Jika boleh disandingkan, buku ini adalah jawaban paling serius dari Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI yang disusun DS Moeljanto (DSM) dan Taufik Ismail (TI) sekira tahun 1995 silam.

TI dalam pengantarnya mengatakan bahwa Prahara Budaya disusun dengan ketulusan hati ingin meluruskan sejarah. Buku itu ditujukan bagi pembaca muda yang tak mengalami peristiwa tersebut. Sementara Muhidin dan Rhoma dalam pengantarnya mengatakan bahwa Lekra Tak Membakar Buku ditujukan untuk mengingat kembali peran Lekra dalam kebudayaan Indonesia pada masa itu dengan apa adanya agar generasi yang tak mengalami peristiwa tersebut memperoleh informasi sejarah yang berimbang.

Jika Prahara Budaya bersampul “merah” itu disusun oleh dua budayawan lanjut usia (baca: tua) yang sangat antipati terhadap Lekra, maka buku ini disusun dua orang muda enerjik dari masa yang sudah sangat jauh berbeda tatkala Lekra berdiri kukuh. Meski ketebalan hanya berbeda kurang dari 60 halaman, tapi perbedaan di antara keduanya terlihat prinsipil.

Dalam Prahara Budaya, tak jelas disebutkan posisi DSM dan TI sebagai apa selain nama mereka tercantum disampul—mungkin lebih tepat jika disebut editor jika bukan kolektor—dari kliping koran, majalah, dan makalah kebudayaan di seputar tahun 60-an. Dokumen-dokumen itu disajikan mentah, sedikit pengantar dan komentar di bawah, yang kadang tak ada kaitannya dengan bahasan di atasnya, dan perubahan judul (tanpa penjelasan mengapa diubah dari aslinya) di sana sini.

Tulisan pengantar yang dibuat TI pun lebih banyak mengungkap ketaksetujuannya atas dasar iman dan pengalaman subjektif; tak terungkap argumen yang sifatnya ilmiah. Sistematika penyusunan dan kronologi peristiwanya juga tak tertata dengan baik. Sehingga buku ini sangat jauh dari ilmiah—lebih tepat disebut buku pembunuhan telak Lekra. Lebih banyak menyajikan konflik, saling tuduh, saling tuding, dan maki bak prahara seperti judulnya. Hasilnya: Lekra adalah organ kebudayaan kaum preman yang tak berotak, tukang keroyok, dan pembuat onar panggung kebudayaan.

Sementara Lekra Tak Membakar Buku, dihadirkan dengan sistematika dan kronologi yang runtut. Mulai dari apa dan bagaimana Lekra, riwayat Harian Rakjat, dan satu demi satu diuraikan bagaimana kerja Lekra dalam sastra, film, senirupa, seni pertunjukan, seni tari, musik, buku dan penerbitan. Melalui riset mendalam (seperti yang selalu diajarkan seniman organik Lekra), sepak-terjang seniman dan pekerja budaya Lekra menghalau serangan imperialisme budaya dan modal yang bersekutu dengan kekuatan feodalisme lokal diulas ulang. Sambil sesekali memasukkan kutipan-kutipan dari sumber asli disertai catatan rujukannya. Juga dilampirkan keterangan akronim, berikut data-data hasil rapat, susunan pengurus, anggota pimpinan pusat, pengumuman, dan keputusan-keputusan penting Lekra dari rapat-rapatnya.

Dalam “panggung” Lekra Tak membakar Buku ini, terungkap banyak realitas menarik yang banyak tak diketahui publik. Di antaranya adalah instruksi pada semua utusan Kongres I Lekra dari seluruh cabang di Indonesia pada Januari 1959 agar tak hanya membawa bahan untuk diperdebatkan, tetapi juga membawa alat musik, mainan anak-anak, kerajinan tangan, pakaian daerah, cerita-cerita, ornamen-ornamen, penerbitan, dan lagu-lagu daerah masing-masing. Semua itu digelar dalam sebuah bazar besar sehari sebelum hingga kongres berakhir. Pengunjung pameran mencapai 15000/malam; sebuah jumlah yang tak kecil pada masa itu.

Tak sekadar memajangnya, mereka juga mematok program untuk menginventariasi kekayaan-kekayaan cipta budaya Nusantara yang terserak ribuan jumlahnya itu sehingga tak dicaplok bangsa lain seperti kasus lagu Rasa Sayange beberapa waktu lalu.
Seniman-seniman Lekra juga giat menyerukan agar pemerintah memperkeras sikap dengan gambar-gambar dan lukisan cabul dalam bentuk dan kegunaan apa pun seperti ilustrasi, poster, dekor, ornamen, tekstil, dan sebagainya. Kita tak perlu ribut dengan kontroversi RUU pornografi hari ini jika saja mendengarakan apa kata seniman Lekra puluhan tahun silam.

Lekra tak membiarkan anggotanya menempuh jalan kebudayaan dengan ugal-ugalan. Setiap seniman mesti bertanggung jawab pada rakyat yang menjadi basis dayaciptanya. Lekra juga menekankan agar dalam proses mencipta (seperti sastra) selalu melalui riset ilmiah bukan ongkang-ongkang kaki sambil merokok dan menenggak alkohol. Sikap Lekra Jelas di sini bagaimana Lekra berpihak dalam peran budayanya dengan memundaki tiga asas: bekerja baik, belajar baik, dan bermoral baik.

Lekra Tak Membakar Buku adalah sebuah pembelaan atas tuduhan yang sering dilontarkan “lawan” budayanya pada masa itu. Salah satunya adalah bahwa Lekra organ budaya pembakar buku. Buku ini bersikap jelas dan tegas: TIDAK! Lekra percaya bahwa buku mampu mengubah dunia, tapi tidak sembarang buku. Buku yang mampu “mengubah” adalah buku yang isinya digali langsung dari perikehidupan rakyat melalui gerakan turun ke bawah dan bukan mimpi-mimpi kosong yang melulu menjual kepalsuan hidup dari kamar salon. Lekra memang melakukan “teror” atas buku-buku penandatangan Manikebu dan juga pentolan-pentolan Masjumi dan PSI yang terlarang. Tapi Rhoma dan Muhidin ini memberi dalih bahwa tak ada bukti Lekra mengorganisasi pembakaran buku yang mereka tak sukai yang kemudian menjadi judul bagi buku ini.

Terlepas dari beberapa kesalahan ketik di sana sini, buku ini adalah dokumen sejarah yang disusun anak muda generasi sekarang dengan “semangat ilmu pengetahuan” dan keseriusan di atas rata-rata. Muhidin dan Rhoma menasbihkan buku ini sebagai sebuah dokumen sejarah kebudayaan kita yang hilang dan terputus atas nama dendam politik yang terus diwariskan pada generasi muda.

KUMPULAN PUISI INDONESIA, PORTUGAL DAN MALAYSIA

Imamuddin SA
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Memang benar jika sebuah karya ditentukan oleh zaman. Siapa yang suntuk dengan karya, dialah yang kelak tercatat dalam buku besar kesusastraan dan melegenda. Dan penyair besar itu tidaklah sebuah proses yang dadakan layaknya undian tabanas. Atau sekadar audisi. Tapi mereka yang benar-benar menyuntuki karyalah yang kelak bakal menemukan nama besarnya. Mereka senantiasa berproses untuk mencapai kekentalan tertentu dalam karya. Membubuhkan puitika dalam ruang kosong yang masih tersedia.

Ahasveros

Dody Kristianto
Bangka Pos, 20 Mar 2011

ADIK, kau tahu jika langkah kakiku ini kian berat. Terasa ada bandul yang mengikat dan memberatinya. Pandanganku juga semakin buram, menatap kota-kota yang kulalui. Kota-kota itu adik, terus membuatku merasa serupa orang yang mengejar halusinasi. Ya, halusinasi. Aku benar merasa sendiri di tengah kota ramai itu. Adik, jika kau mendengarnya, aku meminta kau segera menanggalkan sayapmu itu.

Sepasang sayapmu itu adik, membuatku merana sekian tahun ini. Aku bagai menahan suatu kutukan yang harus kutanggung selama hidupku, sisa hidupku. Dan dalam sisa hidupku ini adik, aku harus mencarimu yang telah pergi entah ke mana. Dengan sepasang sayapmu itu. Aku sungguh benci pada sepasang sayap yang telah tumbuh di punggungmu. Adik, percayalah, jika aku dan anak kita selalu menunggu kau kembali. Bagaimana si kecil terus merengek, menanyakan di mana kau pergi.

Aku tak tahu, aku bingung, harus aku jawab seperti apa pertanyaan anak itu. Dia sudah mulai pintar. Bila dulu aku bisa mengatakan jika kau sedang berada di sebuah kota nun jauh. Kau mencari mainan dan segala baju-baju indah untuknya. Aku selalu mengatakan hal itu padanya. Dan sungguh, aku hanya bisa menunjukkan setumpukan kartu pos bergambar yang pernah kau berikan untukku agar perhatiannya teralihkan. Aku mengatakan padanya, kau berada di salah satu tempat pada kartu pos bergambar itu kini. Sejenak ia terdiam, melupakan tangisnya, lalu ia teringat dan terus mencecarku dengan pelbagai pertanyaan, mengapa kau mesti berada di situ.

Aku harus memutar otakku untuk menjawab pertanyaannya. Kadang ia juga menemukan dan memandangi sebuah kartu pos bergambar yang selalu kusembunyikan dari tatapannya, kartu pos bergambar kota yang rusuh. Di mana-mana kekacauan terjadi. Ada asap yang menyelimuti kota. Kota dengan penduduk yang bermata menyala, seperti api. Apakah mungkin kau berada di situ, tanyanya padaku.

Aku sungguh terkaget-kaget. Dari mana ia menemukan kartu pos bergambar itu. Aku terdiam, lidahku kelu. Ia terus mendesakku. Aku pun menjawab mungkin kau berada di atas kota itu, sedang terbang di antara kepungan asap yang mengerumuni kota. Bagiku kau tak mungkin berada di tempat semacam itu.

Atau mungkinkah justru kau kini tengah terkepung pada kota yang tengah menyimpan dendam di setiap jendela rumahnya? Aku sungguh berharap hal itu tidak terjadi. Aku takut adik, aku takut bila hal itu terjadi. Kau dan sayap mungilmu pasti direnggut oleh asap hitam jahat yang membuat semua orang menjadi nanar.

Ah, jika ia bertanya kembali, lekas-lekas aku sembunyikan kartu pos bergambar yang satu itu dan kualihkan pandangannya pada kartu pos bergambar lain. Kartu pos dengan gambar yang lebih indah. Perihal semua kartu pos bergambar itu, aku pernah teringat pada saat kita berdua memandangi gambar-gambar yang kau berikan itu. Terkadang kau bercerita padaku tentang harapanmu untuk tinggal pada salah satu gambar itu.

Setumpukan kartu pos bergambar itu mungkin saja bergambar tempat dari mana kau berasal, seperti pernah kau bercerita padaku. Adik, mungkinkah, kau sedang berada pada salah satu tempat dalam setumpukan kartu pos bergambar itu? Ya, kartu pos bergambar yang masih kusimpan. Kau mengatakan jika kartu pos bergambar itu adalah pemberian ayahmu. Ternyata kau selalu meyakini jika ayahmu kini tengah tinggal pada salah satu tempat dalam setumpukan kartu pos bergambar itu.

Kau paling berharap dan bermimpi jika ayahmu tinggal pada salah satu tepian pantai, tempat senja kerap muncul. Senja yang benar-benar kau idamkan selama ini. Kau bercerita jika kau memang terlahir ketika senja menjelang dan yang selalu kau ingat, kau ingin menyatu dengan senja itu. Dan perjumpaan pertama kita, perjumpaan ketika senja tiba. Tentu saja ketika itu kau mengatakan semua itu hanya kebetulan saja.

Kulupakan sejenak tentang setumpukan kartu pos bergambar adik. Aku menyesali dan mengutuk mengapa sepasang sayap itu tumbuh di punggungmu. Kau benar-benar menjelma lain ternyata. Aku sebenarnya tak pernah yakin pada ceritamu. Kau meyakini jika kelak sepasang dapat tumbuh di punggungmu. Akhirnya, sepasang sayap itu memang tumbuh di punggungmu, melebihi apa yang aku percayai dan yakini. Adik, mengapa harus kusangkal semua yang kau ceritakan perihal sepasang sayap tumbuh di punggungmu.

Terkutuklah aku kini.
Jika aku dapat mengulang waktu, aku tentu ingin sekali memotong sepasang sayap yang tumbuh di punggungmu itu. Aku ingin memotongnya ketika malam tiba, ketika kau tengah terlelap dan sepasang sayap itu tengah menguncup. Aku mau merenggut sayapmu itu diam-diam. Diam-diam pula aku merasa ingin memilikinya. Aku ingin memindah sepasang sayap di punggungmu ke punggungku.

Ah, mengapa tiba-tiba harus terbersit keinginan demikian? Kau tahu adik, aku sangat ingin terbang dari satu kota ke kota lain. Aku benar-benar bosan terpenjara dalam rumah kecil ini. Aku juga ingin bepergian ke tempat dalam setumpukan kartu pos yang kau tunjukkan padaku. Aku sungguh iri padamu. Kenapa harus kau yang memiliki sepasang sayap di punggungmu itu. Adik, dalam waktu semalam saja, dengan sepasang sayap di punggungku, aku akan berkeliling mencari tempat-tempat yang ada dalam setumpukan kartu pos itu. Hanya dalam semalam saja adik.

Akan tetapi, ternyata kau mendahuluiku. Aku memang berkelana dari satu kota ke kota lain, namun kuperlukan waktu yang entah untuk berapa lama. Adik, setiap malam aku juga menyaksikan kota-kota yang ajaib. Kota-kota penuh dengan sorot cahaya lampu yang menyilaukan mataku. Kota yang dipenuhi tempat-tempat bercahaya yang bernama diskotek, kafe, atau hipermarket.

Aku harus selalu memendam kecewa akhirnya. Ternyata kau memang tak berada di kota itu. Aku sangat yakin dan percaya kalau cahaya silau itu menyembunyikan tubuhmu. Mungkin kini aku bisa membenarkan, mengapa dulu kau sangat mencintai keremangan.

Kau tak pernah membiarkan rumah kita bermandi cahaya. Cukuplah satu dua lampu saja sebagai penerang. Asal tidak gelap menyelimuti rumah mungil ini. Keremangan akan selalu melindungi kita dari kelelahan. Sesudah seharian kita dihinggapi penat. Keremangan ini akan membuat kita terlahir kembali. Aku juga akan kata-katamu, keremangan akan mengingatkan kita pada saat-saat di dalam rahim. Saat-saat paling hangat dalam kehidupan kita. Sungguh aku tercengang ketika mendengar penjelasanmu itu. Ada sedikit cahaya dalam rahim ibu kita. Itulah mengapa kita dapat bertahan hidup di dalam sana.

Adik, kota-kota silau cahaya ini makin mengurungku. Tubuhku tidak tahan lagi. Aku menyaksikan banyak perempuan dengan wajah yang dipoles sedemikian rupa. Wajah mereka serupa boneka dengan baju yang sedikit terbuka. Aku ngeri menyaksikan itu. Baru sekali ini aku menyaksikan manusia-manusia semacam itu. Adik, semoga kau tidak berada di antara mereka. Aku sangat berharap jika kau segera di depanku malam ini. Aku sungguh ingin terbang meninggalkan kota mengerikan ini bersamamu.

Malam terus saja memanjang. Aku masih setia dengan pencarian ini. Aku kini tak tahu batas antara tidur dan sadar. Kurasakan dalam tidur aku berjalan, begitu juga sebaliknya. Aku sungguh tak pernah menghitung seberapa jauh aku telah berjalan. Hanya kau yang ada dalam pikiranku. Aku abai meski setiap orang menganggap aku sebagai mahluk asing. Mereka selalu menertawakanku setiap aku bertanya mengenai dirimu. Mana ada perempuan bersayap di kota ini, jangan-jangan aku sedang bermimpi, seru mereka. Adik, benarkah semua orang memang seperti itu. Apabila demikian, aku akan sangat damai berada di sisimu.

Ah adik, apakah kau akan mengirimiku setumpukan kartu pos lagi? Aku kini juga tak tahu bagaimana keadaan anak kita. Kutinggalkan ia di rumah. Semoga ia tidak seperti aku yang terus mengikutimu. Adik, aku khawatir jika dia menjadi pejalan jauh seperti aku. Jika di sayapmu tumbuh sepasang punggung, mungkin kakiku ini sudah melebihi sayap dan aku terbang tanpa sayap untuk mencarimu. Aku merayap dari kota ke kota. Kadang dalam kesepianku, aku menulis surat untukmu. Kutitipkan ia bersama angin atau kularung ia jauh, ke sungai, ke laut. Semoga surat itu sampai padamu.

Sepasang sayapmu adik, apakah kau memang bukan manusia seperti kami? Entah mengapa aku jadi berpikir seperti itu. Entah, aku mulai terpengaruh oleh orang-orang yang kujumpai selama perjalanan. Sepanjang perjalanan, aku selalu melihat patung perempuan bersayap. Mereka menamainya sebagai bidadari. Apakah kau mungkin mahluk langit yang diciptakan untuk turun ke bumi.

Terkutuklah aku karena telah mendekati mahluk langit yang suci. Oh adik, maafkan aku. Akan tetapi aku tetap akan mencarimu. Aku tak peduli jika harus ke langit untuk mencarimu. Aku tak takut kalau para dewa harus menghukumku. Aku berpikir jika perjalanan ini memang ditakdirkan padaku. Aku harus mencarimu ribuan mil, ribuan tahun.

Adik, sekarang aku tidak tahu, apakah aku sedang tertidur. Sementara keriuhan kota-kota terus menenggelamkanku. Aku terjebak oleh lanskap kota penuh cahaya ini. Suatu waktu, aku terkepung oleh asap kota. Ya, kota dalam kartu pos. Kota yang dipenuhi kekacauan, persis gambar yang selalu kusembunyikan dari si kecil. Kota yang penuh kekacauan adik. Aku menyaksikan lebih dahsyat dari gambar dalam kartu pos itu. Sepanjang hari adik, orang-orang berlari dengan tatap nanar. Tatapan yang menakutkan. Bangkai-bangkai tergeletak di jalanan. Bau kota jadi amis.

Adik, jika kau mendengarkanku, selamatkan aku. Bukannya aku takut, tapi aku tak tahan dengan bau anyir ini. Bau yang tak pernah kujumpai di rumah kita. Adik, perjalanan di kota kacau ini sungguh memilukan. Jerit tangis mereka yang dicekam ketakutan amat menyayat-nyayat hatiku. Tumpukan bangkai terus bertambah di depan mataku. Aku tak dapat berbuat sesuatu. Yang dapat kulakukan adik, hanyalah mencarimu.

Aku sangat berharap perjalanan di kota kacau ini akan segera berakhir. Aku berdoa semoga ini hanya mimpi buruk. Adik, aku sangat ingin kau kini berada di depanku dan segera membawaku pergi dari kekacauan ini. Adik di tengah kota yang porak-poranda ini, aku rentangkan dua tanganku. Aku pejamkan mata. Aku sudah benar-benar memasrahkan tubuh ini. Lamat-lamat di tengah kekacauan, aku bayangkan suaramu lembut terdengar. Aku merasakan kau menyambut tanganku.

Benar, sentuhan lembut ini memang tanganmu. Aku sangat ingin membuka mataku, tapi aku tak ingin menyaksikan kota yang perlahan hancur ini. Adik, izinkanlah aku membuka mataku. Aku ingin memandang kembali wajahmu. Aku ingin segera mengakhiri perjalanan panjang ini.

Adik, kubuka mataku untuk kali pertama sepanjang perjalanan ini. Aku merasakan terbebas, akan tetapi tetap tak kujumpai di mana dirimu. Padahal, sentuhan tanganmu masih lembut kurasakan. Kota di sekitarku masih sibuk dengan kekacauannya. Puing-puing bangunan mulai terlihat di mana-mana. Aku tak menangkap kehadiranmu, hanya saja bebauan anyir itu kini tak lagi tercium.

Hanya bau wangi kehadiranmu, seperti saat kali awal kita berjumpa.
Adik di mana dirimu. Mengapa setelah perjalanan jauh ini tak dapat melihatmu? Aku tak merasakan apa-apa selain menyaksikan kekacauan di bawah sana. Aku tak menyaksikan dirimu ada di sini, meski perlahan aku merasa kau tengah membimbingku terbang dengan sepasang sayap di punggungmu. Semua kini begitu kosong. Aku menyaksikan tubuhku tengah pulas tertidur di bawah.

Dijumput dari: http://manuskripdody.blogspot.com/2011/04/ahasveros.html

KISAH MAJALAH “KISAH” DAN “LANGIT MAKIN MENDUNG”*)

http://sastra-indonesia.com/

PADA tahun 1967, HB Jassin yang waktu itu sudah menjadi redaktur Horison, kembali menerbitkan Sastra. Dengan demikian di Indonesia, selain Horison saat itu beredar dua majalah sastra sekaligus. Sastra gaya baru ini terbit bulanan dan menamakan diri sebagai “bimbingan pengertian dan apresiasi”. HB Jassin menjadi pemimpin redaksinya sedang orang bernama Darsyaf Rachman menjadi pemimpin umumnya. Penerbit majalah itu, PT Mitra Indonesia. Adapun kantor redaksinya berlokasi di Jalan Kramat Sentiong Jakarta.

Seperti galibnya majalah Sastra gaya lama, majalah Sastra gaya baru ini pun setiap terbit menampilkan sejumlah cerita pendek, puisi dan esei. Namun dalam perkembangannya, nasib majalah ini tak terlampau bagus. Pada tahun 1969, Sastra berhenti terbit, menyusul perkara yang menimpa HB Jassin. Pasalnya, dalam edisi Agustus 1968, majalah itu telah memuat cerita pendek berjudul “Langit Makin Mendung” karya Ki Panji Kusmin[1] yang dianggap menghina perasaan umat Islam karena “melukiskan suatu penghinaan terhadap abstraksi dari ketuhanan serta kemuliaan Nabi Muhammad”.

Cerita itu mengisahkan ketika situasi Indonesia porak poranda di zaman Nasakom. Diceritakan, Rasullullah gelisah di sorga dan minta izin pada Tuhan untuk turun ke bumi meninjau umat-Nya. Izin diberikan, dan melayanglah turun Rasullullah bersama malaikat Jibril. Mereka melihat keadaan Indonesia yang kacau balau, yakni praktik-praktik kejelekan di zaman pra-Gestapu.

Jusuf Abdulllah Puar, seorang sastrawan misalnya, menuding,

“Cerpen itu tidak diragukan lagi telah menghina Nabi Muhammad SAW, telah melecehkan dan mencemoohkan dengan penuh tendensi, sinisme terhadap junjungan 500 juta kaum Muslimin”. [2]

Akibat dimuatnya cerpen tadi, Kejaksaan Tinggi Medan, Sumatra Utara, melarang peredaran Sastra dan melakukan perintah penyitaan terhadap majalah itu di wilayahnya.[3] Bahkan ada yang mengkait-kaitkan nama Ki Panji Kusmin sebagai kependekan dari “Kibarkan Panji Komunisme Internasional”.

Atas pelarangan itu, sejumlah pengarang dan seniman membuat pernyataan protes dan menganggap pelarangan itu sebagai pukulan dan ancaman terhadap kemerdekaan mencipta. Di antara penandatangan itu terdapat Trisno Sumardjo dan Dirjen RTF Umar Kayam. Sejumlah reaksi dari pengarang, yang umumnya membela Jassin, juga dimuat di sejumlah media massa. Bur Rasuanto, misalnya menulis,

“Dan ia bukan mengritik umat Islam, Tuhan atau Nabi Muhammad, ia mengritik orang-orang yang katanya penganut-penganut Islam, dan ia mengritik Indonesia, mengritik berbagai kejadian blunder di tanah air ini, ia mengritik sebagaimana juga sem.ua kita mengritik berbagai hal yang kita rasakan tidak wajar, ia mengritik sebagaimana juga koran-koran dan pojok-pojok koran mengeritik, ia bahkari sedang mengeritik keputusan Kejaksaan Tinggi Medan yang telah melarang beredar majalah yang memuat tulisan ini sendiri. Ia tidak menghina….”[4]

HB Jassin mencoba menjelaskan,

“Bagi saya pengarangnya mencoba mengatakan, bagaimana seandainya para Nabi menyaksikan kebobrokan yang ada di sekitar kita. la menggambarkan suatu ide, bukan Tuhan dan bukan nabi sendiri. Kembali pada soal cerita Ki Panji Kusmin saya anggap tuduhan menghina agama Islam tidak bisa dikatakan secara mutlak. Pengertian penghinaan itu relatif sekali. Bagi saya, ‘Langit Makin Mendung’ tidak menghina agama”.[5]

Beberapa hari kemudian, orang bernama Ki Panji Kusmin menulis surat terbuka menyatakan pencabutannya atas karangannya itu sekaligus memohon maaf di Harian Kami.

“Sebenarnya sekali-kali bukan maksud saya untuk menghina agama Islam. Tujuan sebenarnya adalah semata-mata hasrat pribadi saya untuk mengadakan komunikasi langsung dengan Tuhan, Nabi SAW, sorga dan Iain-lain, di samping menertawakan kebodohan di masa regime Soekarno. Tapi rupanya saya telah gagal, salah menuangkannya dalam bentuk cerpen. Alhasil mendapat tanggapan di kalangan umat Islam sebagai penghinaan terhadap agama Islam”.[6]

Betapa pun usaha Jassin untuk menjelaskan persoalan bahwa cerpen itu tidak menghina agama, tetap sia-sia. Bahkan ada yang menduga –melihat kegigihan H.B. Jassin dalam membela Ki Pandji Kusmin– Ki Pandji Kusmin merupakan nama samaran H.B. Jassin sendiri. [7] Jassin kemudian diseret ke pengadilan serta dijatuhi hukuman percobaan satu tahun.[8]

Pada tahun 1969, Sastra mati untuk kedua kalinya.***

[1] http://kangpanut.wordpress.com/2007/11/20/langit-makin-mendung/

[2] Operasi Minggu , 20 Oktober 1968

[3] Antara, 8 Oktober 1968

[4] Angkatan Bersenjata, 20 Oktober 1968

[5] Harian Kami, 24 Oktober 1968.

[6] Harian Kami , 26 Oktober 1968

[7] Pada tahun 1970, Usamah Redaktur Pelaksana Majalah Ekspres, berhasil mewawancarai pengarang aslinya. Pengarang misterius itu ternyata mengaku bernama asli Soedihartono yang menempuh pendidikan di Akademi Pelayaran Nasional dan selama 6 tahun menjalani wajib dinas di Jakarta.

[8] Untuk mengetahui lebih jauh tentang peristiwa ini baca buku HB Jassin, “Heboh Sastra 1968 dan Polemik: Suatu Pembahasan Sastra dan Kebebasan Mencipta Berhadapan dengan Undang-undang dan Agama.”

*) Secuplik dari “Bab: Majalah Sastra dan Kebudayaan: Kemerdekaan Berangan-Angan”, dikutip dari naskah buku “SEJARAH MAJALAH DI INDONESI ABAD 20″, karya Kurniawan Junaedhie. Segera beredar tahun ini.

Dijumput dari: http://manuskripdody.blogspot.com/2011/04/kisah-majalah-kisah-dan-langit-makin.html

Langit makin Mendung (Ki Panji Kusmin)

Ki Panji Kusmin
http://sastra-indonesia.com/

Lama-lama mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di sorga loka. Petisi dibikin, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba ke bumi, yang konon makin ramai saja.

“Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang bisa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal dan kejang memuji kebesaranMu; beratus tahun tanpa henti.”

Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala. Tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia….Dipanggil penanda-tangan pertama: Muhammad dari Madinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad S.A.W.

“Daulat, ya Tuhan.”

“Apalagi yang kurang di sorgaku ini? Bidadari jelita berjuta, sungai susu, danau madu. Buah apel emas, pohon limau perak. Kijang-kijang platina, burung-burung berbulu intan baiduri. Semua adalah milikmu bersama, sama rasa sama rata!”

“Sesungguhnya bahagia lebih dari cukup, bahkan tumpah ruah melimpah-limpah.”

“Lihat rumput-rumput jamrud di sana, bunga-bunga mutiara bermekaran.”

“Kau memang maha kaya. Dan manusia alangkah miskin, melarat sekali.”

“Tengok permadani sutera yang kau injak. Jubah dan sorban cashmillon yang kau pakai. Sepatu Aladdin yang bisa terbang. Telah kuhadiahkan segala yang indah-indah!”

Muhammad tertunduk, terasa betapa hidup manusia hanya jalinan-jalinan penyadong sedekah dari Tuhan. Alangkah nista pihak yang selalu mengharap belas kasihan. Ia ingat waktu sowan ke sorga dulu dirinya hanya sekeping jiwa telanjang.

“Apa sebenarnya kau cari di bumi? Kemesuman, kemunafikan, kelaparan, tangis dan kebencian sedang berkecamuk hebat sekali.”

“Hamba ingin mengadakan riset.” jawabnya lirih.

“Tentang apa?”

“Akhir-akhir ini begitu sedikit umat hamba yang masuk sorga.”

“Ah, itu kan biasa. Kebanyakan mereka dari daerah tropis kalau tak salah?”

“Betul, Kau memang Maha Tahu.”

“Kemarau lewat panjang di sana. Terik matahari terlalu lama membakar otak-otak mereka yang bodoh ” kata Tuhan sambil meletakkan kacamata model kuno dari emas yang diletakkannya di atas meja yang terbuat dari emas pula.

“Bagaimana, ya Tuhan?”

“Umatmu banyak kena tusukan sinar matahari. Sebagian besar berubah ingatan, lainnya pada mati mendadak.”

“Astaga! Betapa nasib mereka kemudian?”

“Yang pertama asyik membadut di rumah-rumah gila.”

“Dan yang mati?”

“Ada stempel Kalimat-Syahadat dalam paspor mereka. Terpaksa raja iblis menolak memberikan visa neraka untuk orang-orang malang itu.”

“Heran, tak pernah mereka mohon suaka ke sini!” (kening sedikit mengerut)

“Tentara neraka memang telah merantai kaki-kaki mereka di batu nisan masing-masing.”

“Apa dosa mereka gerangan? Betapa malang nasib umat hamba, ya Tuhan!”

“Jiwa-jiwa mereka kabarnya mambu Nasakom. Keracunan Nasakom!”

“Nasakom? Racun apa itu, ya Tuhan? Iblis laknat mana meracuni jiwa mereka?”

Muhammad S.A.W nampaknya gusar sekali. Sambil tinjunya mengepal ia memberi perintah,

“Usman, Umar dan Ali! Asah pedang kalian tajam-tajam!”

Tuhan hanya mengangguk-angguk, senyum penuh pengertian penuh kebapaan.

“Carilah sendiri fakta-fakta yang otentik. Tentang pedang-pedang itu kurasa sudah kurang laku di pasar loak pelabuhan Jeddah. Pencipta Nasakom sudah punya bom atom, kau tahu!”

“Singkatnya, hamba diizinkan turba (turun ke bawah- red )ke bumi?”

“Tentu saja. Mintalah surat jalan pada Soleman yang bijak di sekretariat. Tahu sendiri, dirasai polisi-polisi dan hansip paling sok iseng, gemar sekali ribut-ribut perkara surat jalan.”

“Tidak bisa mereka disogok?”

“Tidak, mereka lain dengan polisi dari bumi. Bawalah Jibrail serta supaya tak sesat!”

“Daulat, ya Tuhan.” kata Muhammad sambil bersujud penuh sukacita.
***

Sesaat sebelum mereka berangkat sorga sibuk sekali. Timbang terima jabatan ketua kelompok grup muslimin di sorga telah ditandatangani naskahnya. Abu Bakar tercantum sebagai pihak penerima. Dan masih banyak lainnya.

“Wahai yang terpuji, jurusan mana yang paduka pilih?” Malaikat Jibrail bertanya dengan takzim.

“Ke tempat jasadku diistirahatkan; Madinah, kau ingat? Ingin kuhitung jumlah musafir-musafir yang ziarah. Disini kita hanya kenal dua macam angka, satu dan tak terhingga.”

Seluruh penghuni sorga menghantar ke lapangan terbang. Lagu-lagu padang pasir terdengar merayu-rayu, tapi tanpa tari perut dan bidadari. Entah dengan berapa juta lengan Muhammad S.A.W harus berjabat tangan. Nabi Adam a.s sebagai pinisepuh tampil depan mikropon. Dikatakan bahwa penurbaan Muhammad merupakan lembaran baru dalam sejarah manusia. Besar harapan akan segera terjalin saling pengertian yang mendalam antara penghuni sorga dan bumi.

“Akhir kata Saudara-saudara, hasil peninjauan on the spot oleh Muhammad S.A.W harus dapat dimanfaatkan secara maksimal nantinya. Ya, Saudara-saudara kita di bumi melawan rongrongan iblis-iblis neraka beserta antek-anteknya. Kita harus bantu mereka dengan doa-doa dan sumbangan-sumbangan pikiran yang konstruktif agar mereka semua mau ditarik ke pihak Tuhan; sekian. Selamat jalan Muhammad! Hidup persatuan Rakyat Sorga dan Bumi!”

“Ganyang!!!” (Berjuta suara menyahut serempak).

Muhammad segera naik ke punggung buraq – kuda sembrani yang dulu jadi tunggangannya waktu ia mi’raj. Secepat kilat buraq terbang ke arah bumi dan Jibrail yang sudah tua terengah-engah mengikuti di belakang. Mendadak, sebuah sputnik melayang di angkasa hampa udara.

“Benda apa di sana?” tanyanya keheranan.

“Orang bumi bilang sputnik! Ada tiga orang di dalamnya, ya Rasul.”

“Orang? Menjemput kedatanganku?” (Gembira)

“Bukan, mereka justru rakyat negara kapir terbesar di bumi. Pengikut Marx dan Lenin yang ingkar Tuhan. Tapi pandai-pandai otaknya.”

“Orang-orang malang. Semoga Tuhan mengampuni mereka. Aku ingin lihat orang-orang kapir itu dari dekat. Ayo buraq!”

Buraq melayang deras menyilang arah sputnik mengorbit. Dengan pedang apinya Jibrail memberi isyarat sputnik berhenti sejenak. Namun, sputnik Rusia memang tidak ada remnya. Tubrukan tak dapat dihindarkan lagi. Buraq beserta sputnik hancur jadi debu; tanpa suara, tanpa sisa. Kepala-kepala botak di lembaga aeronautic di Siberia bersorak gembira.

“Diumumkan bahwa sputnik Rusia berhasil mencium planet tak dikenal. Ada sedikit gangguan komunikasi…” terdengar siaran radio Moskow.

Muhammad dan Jibrail terpental ke bawah. Mujur mereka tersangkut di gumpalan awan yang empuk bagai kapas.

“Sayang-sayang. Neraka bertambah tiga penghuni lagi.” Bisik Muhammad sedih. Sejenak dilontarkan pandangannya ke bawah. Hatinya tiba-tiba berdesir ngeri.

“Jibrail, neraka lapis ke berapa di sana gerangan?”

“Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi baigan bumi yang paling durhaka, Jakarta namanya. Ibu kota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh. Tapi ngakunya sudah bebas buta huruf.”

“Tak pernah kudengar nama itu. Mana lebih durhaka, Jakarta atau Sodom dan Gomorah?”

“Hampir sama.”

“Ai, hijau-hijau di sana bukankah warna api neraka?”

“Bukan, Paduka! Itulah barisan sukwan dan sukwati guna mengganyang negara tetangga, Malaysia.”

“Adakah umatku di Malaysia?”

“Hampir semua, kecuali Cinanya tentu.”

“Kalau begitu, kapirlah bangsa di bawah ini!”

“Sama sekali tidak, 90% dari rakyatnya orangnya Islam juga.”

“90% (sambil wajah Nabi berseri), 90 juta ummatku! Muslimin dan muslimat tercinta. Tapi tak kulihat masjid yang cukup besar. Di mana mereka bersembahyang Jum’at?”

“Soal 90 juta hanya menurut statistik bumiawi yang ngawur. Dalam catatan Abu Bakar di sorga, mereka tak ada sejuta yang betul-betul Islam!”

“Aneh! Gilakah mereka?”

“Memang aneh!”

“Ayo Jibrail, segera kita tinggalkan tempat terkutuk ini. Aku selalu rindu kepada Madinah!”

“Tidak inginkah paduka menyelidiki sebab-sebab keanehan itu?”

“Tidak, tidak di tempat ini. Rencana risetku di Kairo.”

“Sesungguhnya Paduka nabi terakhir, ya Muhammad?”

“Seperti telah tersurat di kitab Allah.” Sahutnya dengan rendah hati.

“Tapi bangsa di bawah sana telah menabikan orang lain lagi.”

“Apa peduliku dengan nabi palsu?”

“Umat Paduka hampir takluk pada ajaran nabi palsu: Nasakom!”

“Nasakom, jadi tempat inilah sumbernya. Kau bilang umatku takluk, nonsens!”

“Ya, Islam terancam. Tidakkah Paduka prihatin dan sedih?”

(Terdengar suara iblis, disambut tertawa riuh rendah)

Nabi tengadah ke atas.

“Sabda Allah tak akan kalah. Betatapun Islam, ia ada dan tetap ada walau bumi hancur sekalipun!”

Suara nabi mengguntur dahsyat, menggema di bumi; di lembah-lembah, di puncak-puncak gunung, kebun karet dan berpusat-pusat di laut lepas. Gaungnya terdengar sampai ke sorga disambut takzim ucapan serentak:

“Aamin, amin, amin.”

Neraka guncang. Iblis-iblis gemetar menutup telinga. Guntur dan cambuk petir bersahut-sahutan.

“Baiklah, mari kita berangkat ya, Rasulullah!”

Muhammad tak hendak beranjak dari awan tempatnya berdiri. Hatinya bimbang pedih dan dukacita. Wajahnya gelap, segelap langit mendung di kiri kanannya. Jibrail menatap penuh tanda tanya, namun tak berani bertanya.

Musim hujan belum datang-datang juga. Di Jakarta banyak orang kejangkitan influenza, pusing-pusing dan muntah-muntah. Naspro dan APC sekonyong-konyong melonjak harga. Jangan dikata lagi pil vitamin C dan ampul penstrip. Kata orang sejak pabriknya diambil alih bangsa sendiri, agen-agen naspro mati kutu. Hanya apotik-apotik Cina dan tukang catut orang dalam leluasa mencomot jatah lewat jalan belakang.

Koran sore Warta Bhakti menulis: di Bangkok 1000 orang mati kena flu tapi terhadap flu Jakarta Menteri Kesehatan bungkam. Paginya Menteri Kesehatan yang tetap bungkam dipanggil menghadap Presiden alias PBR (Pemimpin Besar Revolusi).

“Zeg, Jenderal. Flu ini bikin orang mati apa tidak?”

“Tidak, Pak. Komunis yang berbahaya, pak.”

“Ah, kamu. Komunisto phobi ya?”

Namun, meski tak berbahaya flu Jakarta tak sepandai polisi-polisinya, flu tak bisa disogok, serangannya membabi buta tidak pandang bulu. Mulai dari pengemis-pelacur-Nyonya Menteri-sampai Presiden diterjang semna-mena. Pelayan istana geger. Menko-Menko menarik muka sedih dan pilu, Panglima terbalik petnya karena gugup menyaksikan sang PBR muntah-muntah seperti perempuan bunting muda.

Sekejab mata dokter-dokter dikerahkan, kawat telegram sibuk minta hubungan rahasia ke Peking:

“Mohon segera dikirim tabib-tabib Cina yang kesohor, pemimpin besar kami sakit keras. Mungkin sebentar lagi mati.”

Kawan Mao di singgahsananya tersenyum-senyum. Dengan wajah penuh welas asih ia menghibur kawan seporos yang sedang sakratul maut.

“Semoga lekas sembuh. Bersama ini rakyat Cina mengutus beberapa tabib dan dukun untuk memeriksa penyakit Saudara. Terlampir obat kuat akar Jinsom umur 1000 tahun. Tanggung manjur. Kawan nan setia: tertanda Mao.”

(Pada tabib-tabib ia titipkan pula sedikit oleh-oleh untuk Aidit.)

Rupanya berkat khasiat obat kuat si sakit berangsur-angsur sembuh. Sebagai orang beragama tak lupa mengucap syukur pada Tuhan yang telah mengkaruniai seorang sahabat sebaik kawan Mao. Pesta diadakan. Tabib-tabib Cina dapat tempat duduk istimewa. Untuk sejenak tuan rumah lupa agama, hidangan daging babi dan kodok ijo disikat tandas-tandas. Kiai-kiai yang hadir tersenyum-senyum kecut.

“Saudara-saudara, pers Nekolim gembar-gembor, katanya Soekarno sedang sakit keras. Bahkan hampir mati katanya. (hadirin tertawa mentertawakan kebodohan Nekolim). Wah, Saudara-saudara. Mereka itu selak kemudu-mudu (keburu jamuran/keburu nunggu sampai berjamur-red) melihat musuh besarnya mati. Kalau Soekarno mati mereka pikir Indonesia akan gampang digilas, mereka kuasai seenak udelnya sendiri, seperti negerinya Tengku.

Padahal, (sambil menunjuk dada) lihat badan saya, Saudara-saudara! Soekarno tetap segar bugar. Soekarno belum mau mati, kataku. (tepuk tangan gegap gempita, tabib-tabib Cina tak mau ketinggalan) Insya Allah, saya belum mau menutup mata sebelum pojok Nekolim Malaysia hancur lebur jadi debu!” (tepuk tangan lagi)

Acara bebas dimulai. Dengan tulang-tulangnya yang sudah tua Presiden menari lenso bersama gadis-gadis daerah Menteng yang spesial diundang. Patih-patih dan Menteri tak mau kalah gaya. Tinggal para hulubalang cemas melihat Panglima Tertinggi bertingkah seperti anak kecil urung disunat.

Dokter pribadinya berbisik,

“Tak apa. Baik buat ginjalnya. Biar kencing batu PJM tidak kumat-kumat.”

“Menyanyi! Menyanyi, dong Pak!” (gadis-gadis merengek)

“Baik, baik. Tapi kalian yang mengiringi, ya!” (sambil bergaya burung onta)

Siapa bilang Bapak dari Blitar
Bapak ini dari Prambanan
Siapa bilang rakyat kita lapar.

Malaysia yang kelaparan…!

Mari kita bergembira! (Nada-nada sumbang bau aroma champagne).

Di sudut gelap istana tabib Cina berbisik-bisik seorang Menteri,
“Gembira sekali nampaknya dia.”

“Itu tandanya hampir mati.”

“Mati?”

“Ya, mati. Paling tidak lumpuh. Kawan Mao berpesan sudah tiba saatnya.”

“Tapi kami belum siap.”

“Kapan lagi? Jangan sampai keduluan klik Nasution.”

“Tunggu saja tanggal mainnya!”

“Nah, sampai ketemu lagi!” (Tabib Cina tersenyum puas.)

Mereka berpisah.

Mendung makin tebal di langit, bintang-bintang bersinar guram (berpendar-red) satu-satu. Pesta diakhiri dengan lagu langgam Kembang Kacang yang dibawakan nenek-nenek kisut 68 tahun.
“Kawan lama Presiden.” (bisik orang-orang)

Tamu-tamu permisi pamit. Perut kenyangnya mendahului kaki-kaki setengah lemas. Beberapa orang muntah-muntah mabuk di halaman parkir…Sendawa mulut mereka berbau alkohol. Sebentar-sebentar kiai mengucap ‘alhamdulillah’ secara otomatis.

Menteri-menteri pulang belakangan bersama gadis-gadis, cari kamar sewa. Pelayan-pelayan sibuk kumpulkan sisa-sisa makanan buat oleh-oleh anak istri di rumah. Anjing-anjing istana mendangkur kekenyangan-mabuk anggur Malaga. Pengemis-pengemis di luar pagar istana memandang kuyu, sesali nasib kenapa jadi manusia dan bukan anjing!
***

Desas-desus Soekarno hampir mati-lumpuh cepat menjalar dari mulut ke mulut. Meluas seketika, seperti loncatan api di kebakaran gubuk-gubuk gelandangan di atas tanah milik Cina. Sampai juga ke telinga Muhammad dan Jibrail yang mengubah diri jadi sepasang burung elang. Mereka bertengger di puncak menara emas bikinan pabrik Jepang. Pandangan ke sekeliling begitu lepas-bebas.

“Allahuakbar, nabi palsu hampir mati.” Kata Jibrail sambil mengepakkan sayap.

“Tapi ajarannya tidak. Nasakom bahkan telah mengoroti jiwa prajurit-prajurit. Telah mendarah daging pada sebagian kiai-kiaiku.” Kata Muhammad sambil mendengus kesal.

“Apa benar yang Paduka risaukan?”

“Kenapa kau pilih bentuk burung elang ini dan bukan manusia? Pasti kita akan dapat berbuat banyak untuk ummatku!”

“Paduka harap ingat; di Jakarta setiap hidung harus punya kartu penduduk. Salah kena garuk razia gelandangan!”

“Lebih baik sebagai ruh, bebas dan aman.”

“Guna urusan bumi wajib kita jadi sebagian dari bumi.”

“Buat apa?”

“Agar kebenaran tidak telanjang di depan kita.”

“Tapi tetap di luar manusia?”

“Ya, untuk mengikuti gerak hati dan pikiran manusia justru sulit bila satu dengan mereka.”

“Aku tahu!”

“Dan dalam wujud yang sekarang mata kita tajam. Gerak kita cepat!”

“Ah, ya. Kau betul, Tuhan memberkatimu jibrail. Mari kita keliling lagi. Betatapun durhaka kota ini mulai kucintai.”

Sepasang elang terbang di udara senja Jakarta yang berdebu menyesak dada dan hidung mereka tercium asap knalpot dari beribu mobil. Diatas Pasar Senen tercium bau timbunan sampah menggunung, busuk dan mesum. Kemesuman makin keras terbau di atas Stasiun Senen. Penuh ragu Nabi hinggap di atas gerbong-gerbong kereta daerah planet.

Pelacur-pelacur dan sundal asyik berdandan. Bedak penutup bopeng, gincu merah murahan dan pakaian pengantin bermunculan. Di bawah gerbong beberapa sundal tua mengerang-lagi palang merah-kena raja singa. Kemaluannya penuh borok, lalat-lalat pesta menghisap nanah. Senja terkapar menurun diganti malam bertebar bintang di sela-sela awan. Pemuda tanggung masuk kamar mandi berpagar sebatas dada, cuci lendir. Menyusul perempuan gemuk penuh panu di punggung, kencing dan cebok. Sekilas bau jengkol mengambang. Ketiak berkeringat amoniak, hasil main akrobat di ranjang reot.

Di kamar lain, bandot tua asyik main pompa di atas perut perempuan muda 15 tahun. Si perempuan tak acuh dihimpit, sibuk cari tuma dan nyanyi lagu melayu. Hansip repot-repot mengontrol, cari uang rokok.

“Apa yang Paduka renungkan?”

“Di negeri dengan rakyat Islam terbesar, mereka begitu bebas berbuat cabul!” (menggelengkan kepala).

“Mungkin pengaruh ajaran Nasakom! Sundal-sundal juga soko guru revolusi,” kata si Nabi palsu.

“Ai, binatang hina yang melata. Mereka harus dilempari batu sampai mati. Tidakkah Abu Bakar, Umar dan Usman teruskan perintahku pada kiai-kiai disini? Berzina, langkah kotor bangsa ini. Batu mana batu!”

“Batu-batu mahal disini. Satu kubik dua ratus rupiah, sayang bila hanya untuk melempari pezina-pezina. Lagipula….”

“Cari di sungai dan di gunung-gunung!”

“Batu-batu di seluruh dunia tak cukup banyak guna melempari pezina-pezinanya. Untuk dirikan mesjid saja masih saja kekurangan. Paduka lihat?”

“Bagaimanapun tak bisa dibiarkan!” (Nabi merentak).

“Sundal-sundal diperlukan di negeri ini ya, Rasul.”

“Astaga! Sudahlah Iblis menguasai dirimu Jibrail?”

“Tidak Paduka, hamba tetap sadar. Dengarlah penuturan hamba. Kelak akan lahir sebuah sajak, begini bunyinya:

Pelacur-pelacur kota Jakarta
Naikkan tarifmu dua kali
dan mereka akan kelabakan
mogoklah satu bulan
dan mereka akan puyeng
lalu mereka akan berzina
dengan istri saudaranya

“Penyair gila! Cabul!”

“Kenyataan yang bicara. Kecabulan terbuka dan murah justru membendung kecabulan laten di dada-dada mereka. (Muhammad membisu, wajah muram durja). Di depan toko buku Remaja suasana meriak kemelut, ada copet tertangkap basah. Tukang-tukang becak mimpin orang banyak menghajarnya ramai-ramai. Si copet jatuh bangun minta ampun meski hati geli mentertawakan kebodohannya sendiri: hari nahas, ia keliru jambret dompet kosong milik kopral sedang preman kosong milik Kopral setengah preman. Hari nahas selalu berarti tinju-tinju, tendangan sepatu dan cacian tak menyenangkan. Tapi itu rutin belaka. Polisi-polisi Senen tak acuh melihat tontonan sehari-hari: orang mengeroyok orang sebagai kesenangan. Mendadak sosok baju hijau muncul, menyelak di tengah. Si copet diseret keluar dibawa entah kemana. Orang-orang merasa kehilangan mainan kesayangannya, melongo.

“Dia jagoan Senen; anak buah Syafii, raja copet!”

“Orang tadi mencuri tidak?” (pandangan Nabi penuh selidik).

“Betul. Orang sini menyebutnya copet atau jambret.”

“Kenapa mereka hanya sekali pukul si tangan panjang? Mestinya dipotong tangan celaka itu. Begitu perintah Tuhan kepadaku dulu.”

“Mereka tak punya pedang, ya Rasul.”

“Toh, bisa diimpor!”

“Lalu dengan apa bangsa ini berperang?”

“Dengan omong kosong dan bedil-bedil utangan dari Rusia.”

“Negara kapir itu?”

“Ya, sebagian lagi dari Amerika. Negara penyembah harta dan dolar.”

“Sama jahat keduanya pasti!”

“Dunia sudah berobah gila!” (mengeluh).

“Ya, dunia sudah tua!”

“Padahal kiamat masih lama.”

“Masih banyak waktu ya, Nabi!”

“Banyak waktu untuk apa?”

“Untuk mengisi kesepian kita di sorga.”

“Betul-betul, sesungguhnya tontonan ini mengasyikkan, meskipun kotor. Akan kuusulkan dipasang TV di sorga.”

Kedua elang jelmaan terbang Nabi dan Jibrail itu terbang di gelap malam.

“Jibrail! Coba lihat! Ada orang berlari-lari anjing ke sana! Hatiku tiba-tiba merasa tak enak…”

“Hamba berperasaan sama. Mari kita ikuti dia, ya Muhammad.”

Sebentar kemudian diatas sebuah pohon pinang yang tinggi mereka bertengger. Mata tajam mengawasi gerak-gerik orang berkaca mata.

“Siapa dia? Mengapa begitu gembira?”

“Jenderal-jenderal menamakannya Durno, Menteri Luar Negeri merangkap pentolan mata-mata.”

“Sebetulnya siapa dia menurut kamu?”

“Dia hanya Togog, begundal-begundal raja angkara murka.”

“Ssst! Surat apa di tangannya itu?”

“Dokumen.”

“Dokumen?”

“Dokumen Gilchrist, hamba dengar tercecer di rumah Bill Palmer.”

“Gilchrist? Bill Palmer? Kedengarannya seperti nama kuda!”

“Bukan, mereka orang-orang Inggris dan Amerika.”

“Ooh.”

Di bawah sana Togog melonjak kegirangan. Sekali ini betul-betul makan tangan, nemu jimat gratis. Kertas kumal mana ia yakin bakal bikin geger dunia. Tak henti-henti diciuminya jimat wasiat itu. Angannya mengawang, tiba-tiba senyum sendiri.

“Sejarah akan mencatat dengan tinta emas: Sang Togog berhasil telanjangi komplotan satria-satria pengraman baginda raja.”

Terbayang gegap gempita pekik sorak rakyat pengemis di lapangan Senayan.

“Hidup Togog, putra mahkota! Hidup Togog, calon baginda kita!”

Sekali lagi ia senyum-senyum sendiri. Baginda tua hampir mati, raja muda togog segera naik takhta, begitu jenderal selesai-selesai dibikin mati kutunya. Pintu markas BPI (badan pusat intelijen) ditendang keras-keras tiga kali. Itu kode!

“Apa kabar Yang Mulia Togog?”

“Bikin banyak-banyak fotokopi dari dokumen ini! Tapi awas, top secret. Jangan sampai bocor ke tangan dinas-dinas intel lain. Lebih-lebih intel AD.”

“Tapi ini otentik apa tidak, Pak Togog? Pemeriksaan laboratoris?”

“Baik, baik yang mulia” (pura-pura ketakutan)

“Nah, kan begitu. BPI Togog harus disiplin dan taat tanpa reserve pada saya tanpa hitung-hitung untung atau rugi. Semua demi revolusi yang belum selesai!”

“Betul, Pak; eh, yang mulia.”

“Jadi kapan selesai?”

“Seminggu lagi, pasti beres.”

“Kenapa begitu lama?”

“Demi security, Pak. Begitu saya baca dari buku-buku komik detektif.”

“Bagus, kau rajin meng-up-grade diri. Soalnya begini saya mesti lempar copy-copy itu depan hidung para panglima waktu briefing dengan PBR (Pemimpin Besar Revolusi-red). Gimana?”

“Besok, juga bisa asal uang lembur dibayar dimuka.”

Togog meluruskan seragam dewanya. Dan gumpalan uang puluhan ribu keluar dari kantong belakang. Sambil tertawa senang ditepuk-tepuknnya punggung pembantunya.

“Diam! Diam! Dokumen ini bakal bikin kalang kabut Nekolim dan antek-anteknya dalam negeri.”

“Siapa mereka?”

“Siapa lagi? Natuurlijk de zogenaamde ‘our local army friends’. Jelas toh?”

Sepeninggal Togog jimat ajaib ganti berganti dibaca jin-jin liar atau setan-setan bodoh penyembah Dewa Mao nan agung. Mereka jadi penghuni markas Badan Pusat Intelijen secara gelap sejak bertahun-tahun. Syhadan, desas-desus makin laris seperti nasi murah. Rakyat jembel dan kekerlak baju hijau rakus berebutan, melahap tanpa mengunyah lagi.

“Soekarno hampir mati lumpuh; Jenderal kafir mau kup, bukti-bukti lengkap di tangan partai!”
***

Sayang, ramalan dukun-dukun Cina sama sekali meleset. Soekarno tidak jadi lumpuh, pincang sedikit Cuma. Dan pincang tak pernah bikin orang mati. Tanda kematian tak kunjung tampak, sebaliknya Soekarno makin tampak muda dan segar.

Kata orang dia banyak injeksi H-3, obat pemulih tenaga kuda. Kecewalah sang Togog melihat baginda raja makin rajin pidato, makin gemar menyanyi, makin getol menari dan makin giat menggilir ranjang isteri-isteri yang entah berapa jumlahnya.

Hari itu PBR dan Togog termangu-mangu beruda di Bogor. Briefing dengan Panglima-panglima berakhir dengan ganjalan-ganjalan hati yang tak lampias.

“Jangan-jangan dokumen itu palsu, hai Togog.” (PBR marah-marah).

“Ah, tak mungkin Pak. Kata pembantu saya jimat tulen.”

“Tadinya sudah kau pelajari baik-baik?”

“Sudah pak. Pembantu-pembantu saya bilang siang malam mereka putar otak dan bakar kemenyan.”

“Juga sudah ditanyakan pada dukun-dukun klenik?”

“Lebih dari itu! Jailangkung bahkan memberi gambaran begitu pasti!”

“Apa katanya?”

“Biasa, de bekendste op vrije voeten gesteld, altjid!”

“Ah, lagi-lagi dia. Nasution sudah saya kebiri dengan embel-embel Menko Hankam-Kasab. Dia tidak berbahaya lagi.

“Ya, tapi jailangkung bilang CIA yang mendalangi ‘our local army friends’.”

“Gilchrist toh orang Inggris, kenapa CIA campur adukkan?”

“Begini, Pak. Mereka telah berkomplot. Semua gara-gara kita nuruti kawan Mao buka front baru dengan konfrontasi Malaysia.”

“Dunia tahu, Hanoi bisa bernapas sekarang. Paman Ho agak bebas dari tekanan Amerika.”

“Kenapa begitu?”

“Formil kita berhadapan dengan Inggris Malaysia. Sesungguhnya Amerika yang kita rugikan: mereka harus memecah armadanya jadi dua. Sebagian tetap mengancam RRT lainnya mengancam kita!”

“Mana lebih besar yang mengancam kita atau RRT?” (RRT= Republik Rakyat Tjina; ejaan lama dari ‘Cina’-red).

“Kita. Itu sebabnya AD ogah-ogahan mengganyang Malaysia. Mereka khawatir Amerika menjamah negeri ini. ”

Soekarno tunduk. Keterangan Togog membuatnya sadar telah ditipu mentah-mentah sahabat Cinanya. Kendornya tekanan Amerika berarti biaya pertahanan negeri Cina dapat ditransfer ke produksi. Dan Indonesia yang terpencil jadi keranjang sampah raksasa buat menampung barang-barang rongsokan Cina yang tak laku di pasaran. Kiriman bom atom, upah mengganyang Malaysia tak ditepati oleh Chen-Yi yang doyan omong kosong. PBR naik pitam.

“Togog, panggil Duta Cina kemari, sekarang!”

“Persetan dengan tengah malam. Bawa serdadu-serdadu pengawal itu semua kalau kamu takut.”

Seperti maling kesiram air kencing Togog berangkat di malam dingin kota Bogor. Angan-angan untuk seranjang dengan gundiknya yang di Cibinong buyar. Dua jam kemudian digiring masuk seorang Cina potongan penjual bakso. Dia Cuma pakai piyama mulutnya berbau ang ciu dan daging babi.

“Ada apa malam-malam panggil saya? Ada rezeki nih!” (Duta Cina itu sudah pintar ngomong Indonesia. Dan PBR senang pada kepintarannya).

“Betul, kawan. Malam ini juga kau harus pulang ke negeri leluhur. Dan jangan kembali kemari sebelum dibekali oleh-oleh dari Chen Yi. Ngerti toh?”

“Buat apa bom atom, sih?” (Duta Cina menghafal kembali instruksi dari Peking. Tentaramu belum bisa merawatnya. Jangan-jangan malah terbengkalai jadi besi tua dan dijual ke Jepang. Ah, sahabat Ketua Mao; lebih baik kau bentuk angkatan kelima. Bambu runcing lebih cocok untuk rakyatmu.”

“Gimana ini, Togog?”

“Saya khawatir bambu runcing lebih cocok untuk bocorkan isi perut Cina WNA disini.” (Togog mendongkol).

“Jelasnya?” (tanya PBR dan Duta Cina serentak).

“Amerika mengancam kita gara-gara usul pemerintah kamu supaya Malaysia diganyang. Ngerti, tidak?” (Cina itu mengangguk).

“Dan sampai sekarang pemerintahmu Cuma nyokong dengan omong kosong!”

“Kami tidak memaksa, bung! Kalau mau stop konfrontasi, silakan.”

“Tak mungkin!” (PBR meradang). Betul or tidak, Gog?”

“Akur, pak! Konfrontasi mesti jalan terus. Saya jadi punya alasan berbuat nekad.”

“Nekad bagaimana?” (Cina menyipitkan matanya yang sudah sipit.)

“Begitu Amerika mendarat akan saya perintahkan potong leher semua Cina-Cina WNA.” (menggertak).

“Ah, jangan begitu kawan Haji Togog. Anda kan orang beragama!”

“Masa bodoh. Kecuali kalau itu bom segera dikirim.”

“Baik, baik. Malam ini saya berangkat.”

PBR mau tak mau kagum akan kelihaian Togog. Mereka berangkulan.

“Kau memang Menteri Luar Negeri terbaik di dunia.”

“Tapi Yani jenderal terbaik, kata Bapak kemarin.”

“Memang ada apa rupanya? Apa dia ogah-ogahan juga ganyang Malaysia?”

“Maaf PJM hal ini kurang jelas. Faktanya keadaan berlarut-larut hanya menguntungkan RRT.”

“Yani ragu-ragu?”

“Begitulah. Sebba PKI ikut jadi sponsor pengganyangan. Sedangkan mayoritas AD anggap aksi ini tak punya dasar.”

“Lalu CIA dengan ‘our local army friends’ nya mau apa?”

“Konfrontasi harus mereka hentikan. Caranya mana kita bisa tebak?

Mungkin coba-coba membujuk dulu lewat utusan diplomat penting. Kalau gagal cara khas CIA akan mereka pakai.”

“Bagaimana itu?”

“Unsur-unsur penting dalam konfrontasi akan disingkirkan. Soekarno-Subandrio-Yani dan PKI harus lenyap!”

Sang PBR mengangguk-angguk karena ngantuk dan setuju pada analisa buatan Togog. Hari berikutnya berkicaulah Togog depan rakyat jembel yang haus sensasi. Seperti penjual obat pinggir jalan, ia sering lupa mana propaganda jiplakan dan mana hasil gubahan sendiri.

“Saudara-saudara, di saat ini ada bukti-bukti lengkap di tangan PJM Presiden/PBR tentang usaha Nekolim untuk menghancurkan kita. CIA telah mengkomando barisan algojonya yang bercokol dalam negeri untuk menyingkirkan musuh-musuh besarnya. Waspadalah saudara-saudara Soekarno-Subandrio-Yani dan rakyat progresif-revolusioner lainnya akan mereka musnahkan dari muka bumi. Tiga orang ini justru dianggap paling berbahaya untuk majikan mereka di London dan Washington.

“Tapi jangan gentar, Saudara-saudara! Saya sendiri tidak takut demi Presiden/PBR dan demi revolusi yang belum selesai. Saya rela berkorban jiwa raga. Sekali lagi tetaplah waspada. Sebab algojo-algojo tadi ada di antara Saudara-saudara.”

Rakyat bersorak kegirangan. Bangga punya Wakil Perdana Menteri berkaliber Togog yang tidak gentar mati. Sejenak mereka luput perut-perut lapar ditukar dengan kegemasan dan geram meluap-luap atas kekurangajaran nekolim.

Rapat diakhiri dengan membakar orang-orangan berbentuk Tengku sambil menari-nari. Bendera-bendera Inggris dan Amerika yang susah payah dijahit perempaun-perempuan mereka di rumah, diinjak-injak dan dirobek penuh rasa kemenangan dan kepuasan luar biasa.

Setelah bosan mereka bubar satu-satu. Tinggal pemuda-pemudanya yang melantur kesana kemari, bergaya tukang copet. Mereka ingin mencari tahu algojo-algojo Nekolim yang dikatakan Togog barusan.

Di Harmoni segerombolan tukang becak asyik kasak-kusuk, bicara politik. Kalau di Rusia Lenin bilang koki juga mesti milik politik, di Jakarta tukang-tukang becak juga keranjingan ngomong politik.

“Katanya Dewan Jenderal mau coup. Sekarang Yani mau dibunuh, mana yang benar?”

“Dewan Jenderal siapa pemimpinnya?”

“Pak Yani, tentu.”

“Jadi Yani akan bunuh Yani. Gimana, nih?”

“Aaah! Sudahlah. Kamu tahu apa.” (Suara sember.)

“Untung menteri luar negeri kita jago. Rencana nekolim bisa dibocorin.”

“Dia nggak takut mati?”

“Tentu saja kapan dia sudah puas hidup-hidup. Berapa perawan dia ganyang!” (suara sember menyela lagi).

Yang lain-lain tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak Menteri mengganyang perawan dan isteri orang.
***

Pengganyangan Malaysia yang makin bertele-tele segera dilaporkan PBR ke Peking.

“Kawan-kawan seporos, harap bom atom segera dipaketkan, jangan ditunda-tunda. Tentara kami sudah mogok berperang: Jenderal-Jenderal asyik ngobyek cari rezeki dan prajurit-prajurit sibuk ngompreng serta nodong. Jawaban dari Peking tak kunjung datang. Yang datang membanjir hanya textil, korek api, senter, sandal, Pepsodent, tusuk gigi dan barang-barang lain bikinan cina.

Soekarno tiba-tiba kejatuhan ilham akan pentingnya berdiri di atas kaki sendiri. Rakyat yang sudah lapar dimarahi habis-habisan karena tak mau makan lain kecuali beras. Ubi, jagung, singkong, tikus, bekicot dan bahkan kadal, obat eksim paling manjur.

“Saya sendiri dikira makan nasi tiap hari? Tidak! PBR-mu ini Cuma kadang-kadang makan nasi sekali sehari. Bahkan sudah sebulan ini tidak makan daging. Tanya saja Jenderal Saboer!”

“Itu Pak Leimena disana (menunjuk seorang kurus kering) dia lebih suka makan sagu daripada nasi. Lihat Pak Seda bertubuh tegap (menunjuk seorang bertubuh kukuh mirip tukang becak), dia tak bisa kerja kalau belum sarapan jagung.”

Paginya ramai-ramai koran memuat daftar menteri-menteri yang makan jagung. Lengkap dengan potretnya sekali. Sayang, rakyat sudah tidak percaya lagi, mereka lebih percaya pada pelayan-pelayan istana. Makan pagi Soekarno memang bukan nasi, tapi roti panggang bikinan Perancis di Hotel Indonesia. Guna mencegah darah tingginya kumat, dia memang tidak makan daging. Terpaksa hanya telor goreng setengah matang dicampur sedikit madu pesanan dari Arab sebagai pengiring roti. Menyusul buah apel kiriman Kosygin dari Moskow.

Namun rakyat tidak heran atau marah. Seakan sudah jamak seorang presiden harus bohong dan buka mulut seenaknya. Rakyat Indonesia rata-rata memang pemaaf dan baik hati. Kebohongan dan kesalahan pemimpin selalu disambut dengan dada lapang. Hati mereka bagai mencari, betapa pun langit makin mendung, sinarnya tetap ingin menyentuh bumi.

Dijumput dari: http://manuskripdody.blogspot.com/2011/04/langit-makin-mendung.html

Pengikut