Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2011

SENIMAN SENEN

Reiny Dwinanda
Republika, 4 Nov 2007

Jauh hari sebelum Jakarta berdenyut cepat seperti sekarang, kawasan Senen sudah menjadi pusat beragam aktivitas. Mulai dari perniagaan hingga kesenian. Ya, di sanalah tempat berkumpulnya para Seniman Senen. Dulu, saban hari Seniman Senen berseliweran di sekitar Bioskop Grand, pagar Proyek Senen, dan Gelanggang Olah Raga Senen.

Di Senen, sejatinya para seniman tak memiliki tempat yang mewah untuk bertemu. Meski begitu, mereka tetap saja datang ke Pasar Senen. ”Tempat mangkal yang utama adalah sekitar restoran padang ‘Merapi’, kedai kopi Tjau San, dan tukang kue putu dekat pompa bensin,” urai Misbach Jusa Biran, sutradara kenamaan, ketika berbicara pada acara diskusi bertema Kehidupan Seniman Tahun 50-an Seri Tokoh Lintas Sejarah Berbicara yang digelar The Habibie Center, Kamis, 1 November 2007.

Konon, bertandang ke Senen tak ubahnya melanjutkan tradisi semasa para seniman masih menetap di daerah asalnya. Seperti yang dilakukan seniman asal Medan ata…

Sastra, Planet Senen, dan Potret Buram Bangsa

Ahmadun Yosi Herfanda*
Republika, 7 Sep 2008

MESKI bergerak ke arah perbaikan, negeri ini masih banyak menyisakan potret buram. Dan, itulah yang disorot oleh sastrawan Taufiq Ismail pada orasi sastranya dalam acara Nongkrong Sastra dan Musik Merdeka di plasa Gelanggang Remaja Jakarta Pusat, di Planet Senen, Jumat, 29 Agustus 2008, yang lalu.

"Sesudah enam puluh tiga tahun merdeka, apabila kita berharap akan keadilan, masih bisakah saudaraku menemukan keadilan di Indonesia hari ini, setelah pincang, tersaruk digebrak krisis, dihantam bencana, dan kehabisan angka kita menghitungnya," katanya. Ungkapan Taufiq itu tentu bukan untuk membuat kita pesimis, tapi menyadarkan kita betapa masih banyaknya pekerjaan yang harus kita selesaikan untuk mengisi kemerdekaan, betapa masih banyak tugas para pemimpin bangsa untuk membawa negeri ini ke arah kemajuan, keadilan dan kemakmuran.

Setelah dilanda krisis dan berbagai kerusuhan pada masa akhir kekuasaan Soeharto, bertubi-tubi negeri ini …

FLP Hong Kong dan Sastra Perempuan di Negeri Beton

Helvy Tiana Rosa
http://helvytr.multiply.com/

"Menulis, mencipta sastra, membuatku merasa menjadi orang yang lebih berarti," itulah yang dikatakan Wina Karnie, Syifa Aulia dan Swastika Mahartika, tiga TKW di Hong Kong, yang meluncurkan dua buku kumpulan cerpen mereka: Perempuan di Negeri Beton (Haniya Press) dan Hong Kong Topan Badai ke 8 (Doyan Baca Publishing House), di Masjid Tsim Sha Tsui, 4 Juni 2006. Dalam kesempatan tersebut, di hadapan sekitar seribu rekan sesama TKW, ketiganya yang tergabung dalam komunitas Forum Lingkar Pena Hong Kong sempat membaca cuplikan cerpen mereka yang banyak terinspirasi dari apa yang mereka alami serta kental dengan warna lokal Hong Kong. Hadir sebagai pembahas buku adalah Helvy Tiana Rosa, sastrawati yang juga dosen sastra di Universitas Negeri Jakarta serta dari kalangan selebritis Cheche Kirani dan suaminya dai muda: Aa Hadi.

Membanggakan sekaligus mengharukan bahwa dalam keterbatasan sebagai domestic helper, mereka masih bisa menulis …

APA untuk Ditulis, Bukan Sekedar Apa

Wawan Eko Yulianto
http://sastra-indonesia.com/

Jadi ingat saya, bagaimana ketika itu saya ingin sekali menjadi penulis. Sebagai konsekuensi, saya pun membaca Seno Gumira Ajidarma dengan serius. Beberapa saat kemudian, tanpa sadar saya membuat cerpen yang ke-Seno-senoan (menurut saya sih). Selanjutnya saya membaca serius Jorge Luis Borges, setelah lama sebelumnya saya membaca penulis Argentina ini sambil lalu, dan kemudian membuat cerpen yang, menurut teman saya sih, ke-Borges-borges-an (andai teman saya sekarang bilang begitu lagi, pasti saya langsung syukuran!). Semacam itulah. Hari-hari itu saya semangat sekali menulis. Ditambah lagi kemudian saya rutin menempuh perjalanan dari kota M ke kota K, dua kali seminggu! Maka saya pun menulis banyak cerpen.

Tapi, ketika kemudian saya melihat istri saya mati-matian menggemari Para Priyayi, Ronggeng Dukung Paruk, Canting, Burung-burung Manyar, dan sama sekali tidak pernah menyentuh Borges, Seno, dan penulis lain yang saya agung-agungkan, sa…

MENIMBANG KEPENYAIRAN SUTARDJI CALZOUM BACHRI (SCB) DARI BUKU NUREL: MENGGUGAT TANGGUNGJAWAB KEPENYAIRAN *

Aguk Irawan MN**
http://sastra-indonesia.com/

Penyair-penyair itu diikuti orang-orang yang sesat. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah khayalan dan kata. Dan mereka sering mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan. Kecuali mereka yang beriman, beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika didzalimi. (QS As-Syu’ara, 224-227).

Saya merasa perlu mengutip ayat diatas, karena selain SCB sendiri yang membawanya dalam kredo keduanya “Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair”, Pidato Kebudayaan dalam acara Pekan Presiden Penyair, yang dimuat di HU Republika, 9 September 2007, Nurel Javissyarqi (NJ) sendiri penulis buku “Menggugat Tanggungjawab Kepanyairan SCB” (Penerbit Sastrenesia, 2011) juga secara nyinyir mencoba mengurai, mengupas dan merefleksikan nilai-nilai dan pesan ayat tersebut untuk memaknai kredo kedua SCB.

Setelah khatam menghabiskan buku NJ tersebut yang menyorot isi pidato SCB yang dilampirkan dalam buku tersebut, se…

Bung Tomo Bersajak

http://tempointeraktif.com/
Catata terkait: http://sastra-indonesia.com/2009/01/bung-tomo-pahlawan-penyair-indonesia/

Pu, Pu Garpu.
Mungkinkah wartawan menipu?
Sampai pembaca terbius bisu?
Yang dhalim tidak disapu,
4 sal wartawan bemandi susu. ***

BAIT di atas adalah salah satu bagian sajak yang kemudian populer dari Bung Tomo. Malam 2 Agustus itu ia mebacakan sajak-sajaknya Kepada Bangsaku (1946). Terali Sutera, dan KAMI (1966). Yang paling mendapat banyak sambutan adalah Kelompok Dinner-Set Saling Bertanya, tentang perilaku sebagian kaum wartawan kini.

Setelah dua tiga bait, selalu muncul ulangan:

“Petani-petani kecil cengkeh.
Tertawa sinis terkekeh-kekeh.
Pengisap-pengisap kretek,
Ikut protes merengek-rengek.”

Selesai bait ini, bendera merah dari kertas yang ada di tangannya dinaikkannya ke atas dan seperti yang telah diminta, hadirin meneriakkan:

“pungli, pung, pungli, pung.”

Sajak dinner-set ini dinyatakan ditujukan kepada Persatuan Wartawan Indonesia, yang beberapa waktu lalu me…

Sastra dan Identitas

Elisa Dwi Wardani
http://www.kr.co.id/

Pada umumnya, pembicaraan mengenai identitas dipandang perlu ketika identitas berada dalam suatu krisis. Hal ini mengingatkan kita kepada dua pandangan yang bertentangan mengenai identitas.

Pandangan yang pertama adalah pandangan essentialism yang percaya bahwa identitas bersifat tetap, universal, dan tidak terpengaruh oleh wacana dari luar.

Dari sudut pandang tersebut, identitas menjadi tidak mungkin untuk berubah sehingga pengaruh-pengaruh dari luar dianggap sebagai ancaman terhadap keutuhan sebuah identitas. Pandangan inilah yang melahirkan berbagai stereotip yang beredar di sekitar kita.

Sebaliknya, pandangan anti-essentialism meyakini identitas sebagai sesuatu yang bersifat cair, terbentuk oleh wacana-wacana dari luar yang kemudian diinternalisasi dan menjadi bagian dari diri seseorang, serta bahwa identitas merupakan penstabilan makna secara temporer.

Pandangan anti-essentialism yang postmodernis tersebut melihat identitas sebagai sebuah ko…

Utopia Pesan dalam Botol

Putu Fajar Arcana
Kompas, 10 April 2011

SEBUAH pertanyaan besar: seperti apakah seni jika ia berbicara tentang hal-hal di luar estetika? Meski tidak mengeduk sampai ke relung kebrutalan, pameran Sin City, an Exhibition of Sustainable Art, mencoba menyodorkan seni dalam bingkai etika sosial pada masyarakat urban kota.

Foto dokumentasi dalam proses pembuatan video art karya Heri Dono yang bertajuk Scapegoat Republic ikut menyemarakkan pameran seni Sin City di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Jumat (8/4). Kegiatan ini akan berlangsung hingga 17 April mendatang. (Kompas/Wawan H Prabowo)

Rumusan tentang etika sosial itu diterjemahkan dalam sebuah proyek seni oleh seniman Hendra Bayu Hermanto bertajuk ”Wishes in the Bottle Project”. Ia menyiapkan satu bingkai cerita bahwa seseorang sedang berada di sebuah pulau saat zaman tak menentu, adakah yang bisa menyelamatkannya? Silakan tuliskan harapan-harapan di atas kertas, lalu masukkan ke dalam sebuah botol dan kirimkan (doa).

Hendra sedang m…

Mengimarahkan Sasterawan Negara

Mohamed Nasser Mohamed
—Utusan Malaysia Online

BARU-BARU ini, kerajaan mengumumkan Anugerah Sastera Negara yang dianugerahkan kepada Datuk Dr. Ahmad Kamal Abdullah atau nama penanya Kemala. Sasterawan Negara ke sebelas ini telah diangkat dan diiktiraf sebagai penerima anugerah berprestij dalam bidang kesusasteraan.

Pengiktirafan seumpama ini sebenarnya lebih signifikan jika kerajaan dapat memanfaatkan ketokohan beliau untuk generasi muda. Tidak kiralah dalam apa jua bentuk program yang berkaitan dengan kesusasteraan tanah air.

Sejak Anugerah Sastera Negara yang pertama pada tahun 1981, seramai sebelas orang sasterawan telah diangkat dan diiktiraf sebagai Sasterawan Negara dimulai dengan Keris Mas. Kemudian disusuli oleh Shahnon Ahmad, Usman Awang, A. Samad Said, Arenawati, Muhammad Haji Salleh, Noordin Hassan, Abdullah Hussain, S. Othman Kelantan dan Anwar Ridhuan.

Ilham Anugerah Sastera Negara sebenarnya timbul daripada gesaan bekas Perdana Menteri, Tun Hussein Onn yang menginginkan …

Pasca Diskusi Sastera Sabah Sudah Mati

Dr. Ramzah Dambul
http://ikatan-penulis-sabah2u.blogspot.com/

Wacana sastera semalam berjalan lancar. Dari segi teknikal dan logistik. Dari segi pengisian, saya tidak mau komen. Sebab saya adalah panelnya. Tentu tidak telus (bahkan tidak adil!) kalau kita menghakimi diri sendiri, kan?

Tetapi ada juga rakan yang telah membuat catatan awal tentang acara tersebut: i.e. Hasyuda Abadi. Gambar-gambar pula boleh dinikmati bersama Pena Alam. Lihatlah para panel yang tampan!

i
Rupanya perkataan ‘mati’ telah mengundang rasa tidak senang dalam kalangan beberapa aktivis sastera Sabah. Ia ditanggap sebagai ungkapan yang tiada estetik sastera (mungkin bunyinya terlalu gasar?). Atau kononnya bernada pesimis dan negatif.

Bagi kumpulan individu ini, kata kunci wacana semalam (iaitu ‘mati’) secara umumnya dilihat sebagai destruktif (membinasa), dan bukan konstruktif (membina). Bila ia diguna dalam konteks memperkatakan aspek kesusasteraan Sabah.

Saya fikir itu satu pandangan yang wajar dihormati. Keran…

Kematian Sastera di Sabah: sebuah penilaian

Hasyuda Abadi
http://ikatan-penulis-sabah2u.blogspot.com/

DUNIA sastera mengalami evolusinya. Sementelahan orang tidak faham bahawa sastera sebagai mekanisme kehidupan yang telah wujud semenjak manusia dilahir di dunia. Ia lahir bersama tangisan pertama bayi. Ia wujud terus hinggalah pada satu tahap kita sudah boleh berkata-kata dengan baik, mendengar suara merdu alam, menikmati makna setiap kata berdasarkan acuan yang dia ada, semua ini menjadi pengalaman dan menyebabkan dia bermakna dalam kehidupannya dan kehidupan manusia yang lain malah semakin ia matang dan dewasa, fikiran dan tingkahlakunya menjadi cermin orang lain dan masyarakat yang besar. Kini mereka menjadi pemimpin dirinya, bangsanya, agama dan negaranya. Namun sastera diberikan jenama yang lain yang dikeluarkan daripada jati diri seseorang hingga sastera itu sendiri telah mati. Satu kesedihan dan elegi ini untuk kita semua.Tapi benarkah ia telah mati? Selagi kita masih boleh berkata-kata dengan indah, selagi kita masih me…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com