Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2011

Pernikahan Cahaya

S.W. Teofani
http://sastra-indonesia.com/

Cahaya kembali pada cahaya. Cahaya berkumpul bersama cahaya. Hanya cahaya yang tahu cahaya.

Aku pahat huruf-huruf itu di diding kastil. Saat lelah menerobos pualam. Mencari celah menembus kegelapan. Bilah huruf itu menjelma kekuatan. Aku terhenti mengenang. Muasal diri bukan cahaya. Tapi ada cahaya pada diri. Kepada cahaya seharusnya diri berpulang. Dengan cahaya diri berjalan. Selain cahaya, pada diri adalah kegelapan-kegelapan yang harus dimusnahkan. Selain cahaya, pada diri adalah bagian-bagian yang harus dihancurkan. Maka diri menjadi pertarungan kegelapan dan benderang.

Peluh bercucuran. Darah berceceran. Sekeliling hilang. Aku tak tahu di mana gelap, di mana terang. Diam, lelah setelah pertarungan. Hingga lesap seluruh kesadaran. Pekat setiap penglihatan. Bergeming pada bisu paling muram.

Pelan…pelan terpejam. Pelan…pelan…teredam.
Setelahnya hilang, pada kehampaan paling lenyap.

Perlahan hadir terang. Datang begitu benderang. Menyilaukan…

Menanti Tamu Lebaran

Mahmud Jauhari Ali
Koran Radar Banjarmasin 28 Sep 2008

“Coba kamu lihat kakekmu dari tadi duduk di ruang tamu! Ajaklah kakekmu Sayang makan kue bersama kita di sini!” perintah bu Hari kepada Erni dengan lembut.

“Baik Nek.”, Erni pun mengiyakan perintah neneknya itu.

Didekatinya seorang lelaki tua yang sedang memandangi pintu pagar rumah mereka.

“Kek! Ayo kita makan kue bersama dengan nenek!” pinta Erni kepada Kakek dengan ramah.

“Ayo! Siapa takut?” tantang kakeknya dengan bercanda dan mereka pun menuju ke arah bu Hari yang sedang makan kue buatan beliau sendiri.

“Sini Kek kita makan kue bersama!” kata bu Hari kepada suami tercintanya itu.

Kakek Erni itu pun makan bersama istri dan cucu beliau. Mereka terlihat sangat akrab di hari kemenangan yang suci tahun ini. Sesekali bu Hari membuat Erni tertawa karena cerita beliau yang lucu. Kakek Erni pun ikut tertawa kecil melihat cucu beliau yang bahagia mendengarkan cerita dari bibir istri beliau yang berparas cantik itu.
***

Kakek Erni biasa…

Zadig, suratan takdir Voltaire (1694-1778) menjajal Leibniz (1646–1716)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/2011/05/zadig-scripture-destiny-of-voltaire-1694-1778-tested-the-leibniz-1646-1716/

Pengarang ini mungkin awalkali pembentuk alam cerita di kepalaku. Sastrawan produktif berkualitas filosof atas pilihan kata tepat di antara rerongga ruang-waktu takdir telah ditentukan, dalam setiap karyanya.

Tulisan ini, bentuk kegembiraan setelah berpisah sepuluh tahun lebih dengan bukunya “Zadig ou la Destinée.” Diterjemahkan dipengantari Ida Sundari Husen, terbitan Pustaka Jaya, cetakan pertama 1989 bertitel “Suratan Takdir.”

Mulanya kuperoleh di toko buku loakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), tetapi lenyap saat ngontrak di daerah Gedong Kuning Jogjakarta 2001. Kini kubaca ulang, selepas mendapatkan dari kritikus Maman S. Mahayana. Di sini kuucapkan terimakasih, pula pada buku-buku Voltaire yang lain atasnya.

Nama aslinya François-Marie Arouet. Adalah dunia bawah sadar, di tengah pula di atas, ia bangun hikayat Zadig berkesungguhan filsuf, tak lupa menghi…

Llosa Menggairahkan Sastra

Bandung Mawardi
Suara Karya, 21 Mei 2011

GABRIEL Garcia Marquez dalam pidato penerimaan Nobel Sastra 1982 mengabarkan bahwa Amerika Latin adalah dunia kekerasan, konflik ideologi, kemiskinan, perang saudara, politik diktaktor, dan rezim militeristik.

Dunia semrawut ini membuat Marques melawan dengan kata-kata. Sastra adalah pilihan untuk menguak labirin aib. Sastra menjalankan peran sebagai mikrofon pencerahan, penyadaran, dan pembebasan dengan pertaruhan bahasa, imajinasi, dan ideologis. Publik dunia pun menerima pukau dari kerja sastra Marquez.

Amerika Latin telah menjelma pancaran sastra untuk dunia. Marquez tampil dengan pergulatan estetika realisme-magis dan menebar sihir sastra bagi pembaca. Pikat sastra Latin mengenalkan dunia pada kerja sastra dari Pablo Neruda, Octavio Paz, Miguel Asturias, Jorge Luis Borges, Alejo Carpentier, Carlos Fuantes, dan Mario Vargas Llosa. Sastra Amerika Latin semakin memberi takjub pada dunia dengan penerimaan Nobel Sastra 2010 pada Mario Vargas Ll…

Membaca Nurel, Membaca Sutardji *

Fanani Rahman
http://sastra-indonesia.com/

“ akulah Jala Suta, memberontak
adalah siasatku menghormati nenek moyang.”

Kutipan di atas adalah penggalan dari larik terakhir puisi panjang Nurel Javissyarqi, Balada Jala Suta, yang ditulisnya lebih 10 tahun lampau, dalam kembara kreatifnya di Yogyakarta. Dari larik puisi itu pula saya mencoba silaturahmi “mengenal” proses kreatifnya, sebab akan terkesan sok akrab kalau saya mengistilahkan “menyelami” atau “mengupas” atau istilah lain — yang malah kurang nyaman.

Saya belum pernah bertemu langsung dengan Nurel, hanya sekali bersapa via sms, seminggu lalu, atas budi baik Sabrank Suparno yang berbagi nomor HP, yang telah duluan jadi teman bersastra. Sementara dari catatan Fahrudin Nasrulloh, saya mendapatkan sekilas gambaran sosok Nurel, yang digelari sebagai penulis pemberontak, yang nekad dan gede nyali bikin penerbit sendiri, Pustaka Pujangga.

Sayapun akhirnya berkenalan juga dengan situs sastra-indonesia.com, situs yang konon dibuat dengan…

Buku Driyarkara, Sebuah Tonggak Baru Proses Pencerahan

Erwin Edhi Prasetya
http://www2.kompas.com/

Homo homini socius, manusia adalah kawan bagi sesamanya. Kalimat itu dikenal luas sebagai ajaran pokok Driyarkara (1913-1967), seorang filsuf yang asli Indonesia.

Dalam setiap periode sejarah, manusia memang bisa menemukan dimensi kemanusiaan baru, tetapi sekaligus juga bisa kehilangan aspek-aspek tertentu dari kemanusiaannya. Manusia bisa kehilangan empati terhadap sesama lebih-lebih yang menderita, kehilangan sikap toleran ketika berhadapan dengan perbedaan, kehilangan kepekaan mengenai manusia dan lebih cenderung pada kekerasan. Karena itu, manusia membutuhkan visi baru mengenai manusia, yang diharapkan dapat memberi arah dalam membangun kemanusiaan. Menurut Sastrapratedja SJ, Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, itulah yang ditawarkan oleh Driyarkara.

Menurut Romo Sastra, panggilan akrab Sastrapratedja, dengan refleksi filsafatnya, Prof Dr Nicolaus Driyarkara SJ, demikian nama lengkapnya, mencoba mengeksplisitkan dimensi-dimens…

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ACHDIAT KARTA MIHARDJA

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Achdiat Karta Mihardja (AKM), lahir di Cibatu, Garut, 6 Maret 1911 dan meninggal di Canberra, Australia, 8 Juli 2010. Ia pergi meninggalkan kita, tetapi karyanya tetap hidup sebagai monumen bagi perjalanan kesusastraan Indonesia. Pada tahun 2005, ia menerbitkan novel Manifesto Khalifatullah (MK). Dengan begitu, AKM satu-satunya sastrawan di dunia yang masih berkarya dalam usia lebih 94 tahun. Dalam sastra dunia, Sophocles (496—406 sebelum Masehi, dramawan Yunani klasik) menerbitkan karyanya lima tahun setelah kematiannya, dan George Bernard Shaw (1856—1950, dramawan Inggris) menerbitkan karya terakhirnya dalam usia 93 tahun.

Secara tematik, MK mengingatkan kita pada gagasan Mohammad Iqbal dalam magnum opus-nya: Javid Namah. Namun, kita kehilangan tokoh Hasan yang peragu (Atheis) atau tokoh Rivai dalam Debu Cinta Bertebaran (DCB) yang diterjang godaan cinta. Dalam MK, sikapnya lebih tegas dan lugas. Itulah estetika yang diusung AKM. Itulah…

Pertanyaan untuk Maman S. Mahayana, Kritikus Sastra Indonesia

Maman S. Mahayana
Pewawancara: Dony P. Herwanto
http://mahayana-mahadewa.com/

Kembali ke Akar Tradisi

Di sini (Korea.red) sudah jam sembilan malam Don. Begitu jawab Maman S. Mahayana, Kritikus Sastra Indonesia ketika wartawan Jurnal Bogor, Dony P. Herwanto menyapanya lewat jaringan pertemanan Facebook (FB). Maman yang tercatat sebagai warga Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor itu, kini tinggal di Korea. Alumnus Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) tahun 1986 itu juga tercatat sebagai Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Depdiknas sejak 2000-sekarang, Konsultan Penerbit Balai Pustaka, Pembaca Ahli Jurnal Mahawangsa, Universiti Putra Malaysia, Pembaca Ahli Jurnal Asia Tenggara Hankuk University Korea, dan konsultan Jurnal Asia, jurnal dwibahasa Inggris-Korea, memuat khazanah sastra dari negara-negara Asia. Lantas, bagaimana Maman menilai perkembangan sastra dan peran sastrawan dalam pembentukan kebudayaan Indonesia? Berikut petikan wawancaranya.

{ margin…

Goenawan Mohamad: Tentang Puisi dan Pemikiran

Asarpin
http://asarpin.blogspot.com/

Dua hal akan dengan gampang dikorbankan dalam krisis ekonomi yang seberat ini, di samping tenaga buruh, itu adalah seni dan pemikiran. Keduanya sudah pasti bukan termasuk bahan pokok. Keduanya juga lebih sering memakan beaya ketimbang menjadi sumber dana. Keduanya tak jarang merisaukan.

–GOENAWAN MOHAMAD, “Menangkis Negara, Menangkal Pasar”, dalam Utan Kayu Tafsir Dalam Permainan, Kalam, Jakarta : Agustus 1998, h. ix

Seni—termasuk puisi—memang tak sepenuhnya bisa diharapkan untuk mengubah dunia. Sebab puisi lebih bersifat pribadi, mungkin juga kemewahan terselubung seperti sering disinggung banyak orang beberapa tahun lalu, dan posisinya akan terus terpencil dari kehidupan yang mengejar serba-besar lewat perjuangan dan tanggungjawab.

Maka, ketimbang terus berharap agar puisi bisa mengubah dunia, lebih baik “menatap dan menampung dunia sebagai kemungkinan-kemungkinan”, kata Hasif Amini dalam pengantar jurnal Prosa No.3/2003. Dan Leo Tolstoy pernah j…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com