Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2010

Kenapa Jean-Paul Sartre tetap Eksis?

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/

Terus terang matahari terang, aku menimba kenekatan darinya. Salah satu tulisanku yang terinspirasi olehnya bertitel “Realitas Masa Depan” di dalam buku “Trilogi Kesadaran”, pun ke bentukan lain mewarnai jiwaku.

Sedari angin ribut fenomenologi atau problematik filosofis Husserl dan metafisika tukang kisah Hegel, sampai hasrat selingkuh Heidegger. Sartre menciptakan kitab berlabel “The Psychology of Imagination” yang dituntaskan dalam tahanan Nazi, lantas mengarahkan pandanganya kepada Karl Marx, demi menjejakkan Eksistensialisme di muka bumi.

Yang diterbitkan Bentang di tahun 2000, diindonesiakan Silvester G. Sukur dengan judul Psikologi Imajinasi. Ialah gugusan gagasan yang menggerakkan diriku, menggemuli realitas dibalik kebendaan. Mendorongku menghatamkan soal-soal kerahasiaan pribadi, yang kian penuh percaya.

Jean-Paul Sartre lahir di Paris 12 Juni 1905, ayahnya perwira angkatan Laut Prancis, meninggal ketika Sartre berusia 12 tahun, s…

Mazhab Sastra Facebookiyah

Fahrudin Nasrulloh**
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Sarang teknologi telah pecah. Menyebar ke pedalaman renik manusia. Buku, tradisi membaca, dan perjalanan kepengarangan telah dipadatkan jadi arca di kamar facebook. Kemanakah gelombang kesusastraan dan kepengarangan kita sekarang, ketika tentakel teknologi dan gerak perubahan berada di tubir ketidakpastian?

Dunia maya terkini telah menghadirkan produk terbaru yang kita sebut “facebook”. Terkait dengan dunia penulis, tak dapat ditampik, mereka juga menggunakan teknologi tersebut yang berdaya-guna praktis, cepat, dan berbagai kepentingan apa pun bisa digentayangkan di dalamnya secara serius maupun main-main. Inilah bagian dari ekses “guncangan media”, seperti yang disinyalir Afrizal Malna, di mana percepatan bersilang-salip, muncul-tenggelam, dalam aras gigantis yang terus merangsek keseharian manusia. Di sanalah dirayakan segala keterbukaan dan ketakterbatasan itu. Beberapa penulis yang terbilang berduit, pasti memiliki l…

Bila Puisi Menggugat Cinta

Ach. Muchlish Ar
http://www.kr.co.id/

PUISI adalah suara hati nurani melalui mediasi kata yang sarat dengan makna. Bahkan setiap kata dalam puisi diisi roh oleh penyairnya, agar pembaca dapat masuk ke ruang rasa yang ‘suci’ sebagai hasil kontemplasi penyair merespons segala realitas. Hal ini oleh kalangan umum disebut “spirit power” yang menggugah pembaca dan pendengar untuk larut dan tenggelam di dunia teks. Sehingga pembaca sastra (puisi) cenderung terpesona oleh tampilan kata dan makna yang khas dan mendalam yang dideskripsikan oleh penyair.

Membaca antologi puisi tunggal Hasta Indriyana yang berjudul Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta seakan-akan larut di dunia kata. Karena penyairnya telah berupaya untuk bermain-main dengan kata walaupun makna, rasa, dan kekuatan estetik dari puisi tersebut memantulkan sinar yang sedikit buram atau seperti pendar teplok yang kehabisan minyak. Ini sebuah antologi pertama penyair muda kita yang terburu-buru menerbitkan karyanya (meminjam bahasanya…

Andrea Hirata, Ingin ‘Sulap’ Tanah Kelahiran Jadi Desa Sastra Pertama

Endro Yuwanto, Neni Ridarineni
http://www.republika.co.id/

Penulis novel ‘Laskar Pelangi’, Andrea Hirata, ingin menjadikan Desa Linggang, di Pulau Belitung, yang merupakan tanah kelahirannya sebagai desa sastra pertama kali di Indonesia.

”Sampai sejauh ini konsep Desa Sastra Linggang merupakan inisiatif pribadi saya saja. Konsep ini sudah lama ada dalam pikiran dan ide saya itu semakin menemukan jalan ketika saya dapat beasiswa sastra ikut International Writing Program (IWP) 2010 di University of Iowa, Amerika Serikat ini. Iowa city ini baru tahun lalu terpilih sebagai Unesco city of literature. Maka saya telah lihat sendiri bagaimana konsep sebuah kota literatur dan bagaimana pengelolaannya,” kata Andrea pada Republika, lewat surat elektroniknya yang dikirim Sabtu malam (24/10).

Menurut Andrea, untuk konsep desa sastra Linggang, pada tahap awal akan diletakkan pada tiga aktivitas pokok yaitu residensi, apresiasi, dan sebagai tempat untuk event sastra . ”Untuk program residensi ini sa…

Teknologi, Sprititualitas, dan Kesadaran

Munawir Aziz
http://www.suaramerdeka.com/

PERKEMBANGAN teknologi tak hanya berjejak dalam ruang eksperimen dan penelitian canggih. Gerak cepat kemajuan teknologi bukan semata-mata lahir dari observasi khidmat di laboratorium sunyi dengan perangkat mutakhir. Teknologi yang melesat cepat juga melewati rahim pemikiran, perenungan, dan proses imajinatif ilmuwan, pemikir, dan teknolog.

Di ruang kemajuan zaman, teknologi menempati traktat penting dalam memberikan alternatif fasilitas bagi manusia untuk menikmati hidup, mengendalikan alam, dan mengelola hasrat. Jadi, teknologi membantu manusia menemukan fasilitas kreatif yang mempermudah pekerjaan dan meringankan kesulitan hidup.

Akan tetapi sering kali kemajuan teknologi tak diimbangi keinsyafan manusia menemukan kebenaran dan hikmah yang menyembul di balik kreativitas. Dengan ketajaman intuisi, kecermatan observasi, dan kemampuan kreatif manusia, memungkinkan teknologi berkembang dan berlari kencang.

Pasca-Abad Pencerahan (Aufklarung), tek…

Template Afrizal Malna

Ribut Wijoto
Radar Surabaya (7/11/2010)

Dalam beberapa hal, saya adalah penggemar Afrizal Malna. Ketika suatu kali Afrizal bilang bahwa banyak penyair sekarang sebenarnya tidak punya alasan untuk menulis puisi, sungguh, saya terpesona.

Apakah pernyataan itu dilontarkan setelah melalui riset yang panjang, pertimbangan mendalam, atau sekadar ceplosan, saya tidak tahu pasti. Yang pasti, dalam beberapa hari bahkan bulan, pernyataan itu terus terngiang dalam benak saya. Dia seakan merasuk inheren pada otak saya, istilah Jawanya, saya terus kepikiran. Beruntung bagi saya, pernyataan Afrizal tidak sampai membetot mimpi saya. Mimpi saya tetap terisi persoalan-persoalan rumah tangga. Semisal percintaan saya dengan istri saya yang tidak pernah jenuh kami lakukan. Pernyataan Afrizal hanya berkelindan dalam pikiran ketika saya sepenuhnya sadar.

Pernah suatu kali saya iseng menanyakan kepada Afrizal, apakah puisi-puisi yang termuat di media itu bisa dijadikan standar kualitas puisi di Indonesia. D…

Kebudayaan dalam Dua Wajah

Donny Anggoro
http://oase.kompas.com/

Sebagai salah satu wilayah negara berkembang di Asia Tenggara, Indonesia terlibat dalam proses mencari kesepakatan untuk mengembangkan kemungkinan-kemungkinan yang mereka punya. Adapun kemungkinan-kemungkinan tersebut adalah warisan berbagai bentuk yang diterima sebagai identitasnya.

Susunan pemerintahan lokal misalnya tata cara keraton Yogyakarta dan Solo, bahasa, nilai-nilai kepercayaan, dan berbagai bentuk ekspresi seni budaya di berbagai tempat dipertahankan sebagai bagian dari warisan sejarah itu.

Proses perkembangan dan modernisasi dengan menunjukkan pergeseran masyarakat agraris-feodal menjadi masyarakat yang lebih bersifat perkotaan dalam beberapa kasus tertentu menunjukkan perkembangan berarti. Tataran nilai-nilai konvensional dalam kebudayaan tradisi pelan-pelan didobrak sehingga dalam perkara kesenian, hasil-hasil seni yang dihasilkan relatif lebih kontekstual agar terlihat gesit mengikuti perkembangan zaman.

Tapi di tengah-tengah perke…

Komunitas Sastra di Indonesia: Tumbuh Bak Cendawan, Sirna Laksana Asap

Iwan Gunadi
http://riaupos.com/

Sejumlah kecil komunitas sastra membatasi anggotanya dengan “persyaratan” yang lebih khusus, sehingga hanya orang tertentu yang dapat menjadi anggotanya. Ada yang membatasinya dengan semangat gender, seperti Forum Sastra Wanita Merah Hitam Kuning (Tamening) di Padang (Sumatra Barat) dan Komunitas Sastra Dewi Sartika di Bandung, Jawa Barat. Ada pula yang hanya menerima buruh sebagai anggotanya, seperti Roda-Roda Budaya dan Budaya Buruh Tangerang, Banten. Ada pula komunitas yang anggotanya berlatar “profesi” yang sama, yakni pengamen jalanan, seperti Kompi. Institut Pramoedya di Bandung, Jawa Barat, dihuni para pembaca setia karya-karya sastra Pramoedya Ananta Toer. Ada pula komunitas sastra yang para anggotanya adalah penggandrung novel serial Harry Potter besutan JK Rowling. Tapi, karena minat mereka juga tak hanya satu, sebagian dari mereka, tetap menjadi anggota, pengurus, atau bahkan pendiri komunitas sastra yang lain.

Komunitas-komunitas sastra yang…

Ristata Siradt, Pengarang Sumut, Pengabdi Sastra Indonesia

Sugeng Satya Dharma
http://waspadamedan.com/

Kerap berpeci, semasa hidupnya pria tua bertubuh kecil ini adalah figur lelaki dengan kesetiaan yang luar biasa. Bertahun-tahun menjadi guru bahasa di SMP Negeri IV Tebing Tinggi Sumatera Utara, lelaki ini adalah potret seorang pengabdi sejati sastra Indonesia.

Murid, tetangga dan teman-temannya menaruh rasa hormat yang sangat besar kepadanya. Tutur katanya lemah lembut, nyaris tak pernah bernada emosi. Ketaatannya sebagai hamba Allah pun ia wujudkan dalam khusyuk sholat yang nyaris tak pernah alpa.

Ristata Siradt, dialah salah seorang sastrawan besar Sumut yang sunyi dari publikasi. Sampai wafatnya pun, kecuali segelintir teman dekatnya sesama seniman, nyaris tak ada orang yang memberi penghargaan lebih pada apa yang dikerjakannya.

Bahkan pemerintah setempat (Pemkot Tebing Tinggi, Sumut), tak cukup peduli terhadap keberadaannya. Padahal, selain sebagai sastrawan yang produktif, Ristata Siradt adalah dokumentator sastra satu-satunya di kota…

Kritik Sastra dalam Perspektif Feminisme

Gunoto Saparie
http://www.suarakarya-online.com/

DEWASA ini di berbagai belahan dunia, perempuan mulai bangkit mempertanyakan dan menggugat dominasi dan ketidakadilan yang terjadi dalam sistem patriarkhi. Perempuan selama ini memang telah mengalami subordinasi, represi, dan marjinalisasi di dalam sistem tersebut, di berbagai bidang, termasuk di bidang sastra. Dalam sejarah kesusastraan di berbagai wilayah, kita akan melihat berbagai keadaan yang memiliki persamaan sehubungan dengan keberadaan perempuan di bidang ini, yakni tersubordinasi dan termarjinalisasinya keberadaan mereka, baik pada tataran proses kreatif, kesejarahan, maupun sosial.

Di Indonesia, seperti pernah dikatakan Nenden Lilis A, keterpojokan perempuan di dunia sastra juga terjadi, meski tak seseksis di Amerika. Sejarah kesusastraan kita sempat mencatat nama-nama dan karya-karya perempuan. Tetapi dalam penilaian terhadap karya-karya mereka banyak terjadi pengabaian. Kritik kesusastraan lebih banyak difokuskan pada karya…

Sebuah Pertemuan dan Kegelisahan

Judul: Pelacur Para Dewa
Penulis: Pranita Dewi
Tebal: i-xi, 94 halaman
Penerbit: Komunitas Bambu
Terbit: Agustus 2006
Peresensi: Gde Artawa
http://www.balipost.co.id/

PERJALANAN kreativitas sastra, khususnya di Bali, selalu diwarnai kejutan. Umbu Landu Paranggi “sang penjaga gawang” apresiasi sastra Bali Post mencatat, selalu saja ada yang menarik pada tiap babak perjalanan kreativitas sastra, khususnya puisi. Di belantara perjalanan anak sekolahan, pada kekuatan anak-anak muda, terekam jelas dalam memori Umbu sebagai tonggak historis sebuah perjalanan yang tentu sangat memerlukan kesetiaan. Kesetiaan itu akan teruji secara normatif oleh sang waktu menyangkut kemampuan bertahan atau menyerah untuk berkarya.

Dewan juri lomba penulisan puisi yang digelar Balai Bahasa tahun 2004 dikejutkan dengan kehadiran 603 puisi dari 240 penulis. Di samping kejutan secara kuantitatif, juri dipertemukan dengan anak muda bernama Pranita Dewi. Puisinya berjudul “Tuhan Langit Begitu Kosong” berhasil meya…

Demokratisasi Sastra Pasca-Kongres KSI

Dad Murniah *
http://www.infoanda.com/Republika

Kongres Komunitas Sastra Indonesia (KSI) 2008 di Kudus Jawa Tengah selama tiga hari (19-21 Januari 2008) baru saja usai. Penyair dan redaktur sastra Republika, Ahmadun Yosi Herfanda, terpilih sebagai Ketua KSI yang baru. Para peserta, dari berbagai penjuru Tanah Air, telah kembali ke kota masing-masing, kembali ke ‘ruang sunyi’ dunia penciptaan mereka sendiri yang penuh tantangan kreativitas.

Tentu, banyak hal bisa didapatkan dari kongres itu. Kongres telah menjadi ajang silaturahmi, saling tukar informasi, menambah jaringan dan teman di kalangan sastrawan seluruh Indonesia. Tetapi, selain hal-hal itu, rekomendasi Kongres KSI yang dibacakan ‘ibu penyair’ Diah Hadaning cukup menarik untuk dicermati.

Butir pertama dari rekomendasi itu, misalnya. Dalam butir ini diingatkan mengenai pentingnya nilai-nilai kebangsaan atau nasionalisme, misalnya kemandiriaan dan kenusantaraan dalam karya, sangat penting untuk kembali dibumikan di Tanah Air. Da…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com