Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2010

Sajak-Sajak Heri Latief

http://sastrapembebasan.wordpress.com/
Bisu

apa lagi yang mesti ditulis?
jika korupsi dianggap biasa
pemimpin cuma bisa nyanyi
di panggung tak ada suaranya
kerna bukan dia yang berkuasa

Amsterdam, 19/06/2010



Budak

uang panas membakar napsu
manusia jadi budaknya napsu

Amsterdam, 20/06/2010



Pengembara

setiap mengulang tahun
aku selalu ingat pesan ibu
bukalah mata hati jika pergi
jangan pulang kerna merindu
dunia pengembara siapa berani?

Amsterdam, 19 Juni 2010



Teks itu Bicara

jika keramaian kumpulan suara
tulislah sajak sebelum sarapan
refleksi diri bukan sekedar berpuisi
siraman rohani dari sebaris puisi?
silakan percaya pada layar kaca

Amsterdam, 19/06/2010



Jaraknya Mimpi

teknologi tinggi bikin hati kita makin dekat
jarak yang beribu kaki itu tinggal kenangan
waktu yang memberi tahu tentang rindu
duka dan bahagia selalu jalan bersama
pelabuhan mimpimu ada di dunia maya

Amsterdam, 18 Juni 2010

ORASI TERAKHIR

Denny Mizhar
http://www.sastra-indonesia.com/

Di suatu kota tinggal keluarga yang kata orang taat beragama. Mereka hidup tentram dan damai, mereka sekeluarga baik dan sopan pada tetangga. Bahkan para tetangga sering minta bantuan kepada mereka. Pemimpin keluarga tersebut sangat berpengaruh Pak Umar sebut banyak orang dan isterinya bernama Aisyah. Mereka berdua memiliki putra yang dikasih nama Yudi. Dia masih sekolah SMU didekat rumahnya. Yudi anak yang pandai karena dia selalu belajar kepada Ayahnya tentang agama dan banyak hal tentang kehidupan.

Suatu hari pak Umar menjadi pembicara pengkajian bulanan di daerah sekitar rumahnya. Sudah kebiasanya, menjadi penceramah disuatu pengajian keagamaan. Memang dia salah satu kyai yang disegani. Pak Umar berangkat dengan mengajak Yudi. Tiba saat Pak Umar mengisi pengajian, di dalam pidatonya Dia bilang “Melihat kondisi bangsa kita saat ini, kita harus banyak interopeksi diri, dan pemerintah harus segerah memberantas korupsi. Agar bangsa kita menja…

Puisi, Penyair, Penjahat

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

BARANGKALI ini serupa cerita misteri saja. Meski demikian, mungkin juga cerita ini justru bermaksud melampaui keberadaan manusia sebagai diri yang misterius. Sehingga boleh jadi tulisan ini sesungguhnya hendak menerobos sisi rohaniah—sebuah ruang yang tidak untuk diperdebatkan ada dan tiadanya, disoal keyakinan atau kadar ketidakpercayaan atasnya.

Inilah suatu gambaran, betapa apapun sama-sama diberi hak untuk disoal, sebagai pertanyaan atas dirinya sendiri. Karena itu boleh dikata inilah upaya menyingkap tabir alangkah sangat terbuka dan memungkinkan membedah wilayah ini. Bahkan amat mengundang gairah ketika manusia, siapapun, penyair, agamawan, orang biasa, juga penjahat berbicara dengan bahasanya masing-masing atas wilayah rohani tersebut—sepanjang tanpa meninggalkan watak misterinya.

Sebaliknya, justru sangat dapat dimengerti, dicurigai atau bila perlu dianggap makhluk asing di buminya sendiri manakala ada diantara kita manusia ini tak lagi mene…

Sepak Bola Klenik

Sunlie Thomas Alexander*
http://www.jawapos.com/

KEJANGNYA si gundul fenomenal Ronaldo menjelang final Piala Dunia 1998 di Prancis boleh jadi disebabkan faktor psikologis. Rasa gugup dan tegang dalam menghadapi partai penentuan adalah hal wajar. Apalagi beban dipikul oleh seorang bintang yang tengah bersinar terang seperti dirinya, tentu tak ringan.

Masalahnya, spekulasi kemudian berkembang. Salah satunya adalah isu bahwa Piala Dunia 1998 tak sepi dari praktik klenik. Kesebelasan Prancis pun dituduh telah menggunakan jasa seorang dukun terkenal dari Afrika Barat, Aguib Sosso. Seperti halnya ilmu teluh dari Banten yang konon sanggup melintasi lautan, seorang dukun Afrika -kata Adam Kone, paranormal Mali- memang tak mesti ada di stadion untuk melakukan sihirnya.

Apakah Ronaldo kejang-kejang karena santet juju hitam? Benarkah balutan di lengan para pemain Les Bleus -julukan timnas Prancis- adalah jimat buatan Sosso? Benarkah dia telah memandikan Zidane dalam sebuah ritual?

Kita tidak tahu. Mi…

Menyelami Dunia Aksara Keraton

Cahyo Junaedy
http://www.ruangbaca.com/

Koleksi naskah kuno Pakualaman dibukukan. Sebuah upaya mendokumentasikan masa lalu melalui aksara.
Ruangan itu kusam. Lampu neon yang menjadi pelita utama di ruang berukuran 3 x 4 meter pun sudah temaram. Penglihatan sedikit tertolong lantaran cahaya mentari yang menerobos masuk melalui kisi-kisi jendela. Di dalam, hampir seluruh permukaan dinding tertutup rak-rak buku sederhana. Tingginya seukuran orang dewasa. Dalam perut rak, berjajar ratusan buku beragam jenis dan ukuran.

Kondisinya sekusam ruangan. Debu dan sunyi memang telah lama menjadi sahabat di sana. Tak aneh hanya segelintir orang yang mau menjejakkan kakinya di ruangan ini. Selain kondisi ruang yang tidak menarik, hampir semau koleksi buku yang tersimpan berbahasa Jawa. Sebagian lainnya malah mematahkan semangat baca karena berbahasa Belanda.

Berada di dalamnya, waktu seakan beku. Satu-satunya makhluk hidup di ruang itu adalah sosok lelaki tua yang duduk tepat di depan pintu. Dengan kacam…

Pasar Sastra

Bandung Mawardi
http://www.suarakarya-online.com/

Nasib sastra di negeri ini masuk dalam pasar dengan pelbagai sensasi dan ironi. Keluhan buku sastra tidak laku mulai dihajar dengan politik best seller atau mega best seller. Kuantitas penjualan menjadi pamrih. Konsekuensi dari model ini adalah perebutan konsumen dan jerat loyalitas. Gairah pasar sastra dibentuk untuk mengesahkan sirkulasi modal. Pamrih atas sebaran makna kualitatif kerap direalisasikan sebagai sampingan karena pasar ramai oleh ekstase artifisial dan kesemuan.

Iklan buku sastra gencar untuk ikut meramaikan politik dagang dalam penciptaan selera. Tampilan iklan di lembaran koran dan majalah atau poster dikemas dengan kekuatan pikat untuk menyebarkan gairah membeli (mengonsumsi), memiliki, dan membaca.

Transaksi pembelian buku diarahkan sebagai jaminan dari keberlangsungan pasar. Iklan buku sastra memang menganut pada konstruksi dan kontrol selera agar ada pembenaran atas makna kehadiran sastra. Marketing sastra pun mulai ja…

STA, Perangkum Semua Kebudayaan

Aulia A Muhammad
http://suaramerdeka.com/

INDONESIA hari ini, juga Indonesia akan datang, tidak dibangun dalam satu hari, juga tidak oleh satu orang. Meski, untuk peletak dasar kebudayaan, ada satu orang yang namanya tak mungkin dihapuskan. Dialah Sutan Takdir Alisjahbana, yang namanya biasa disingkat STA.

Takdirlah yang dengan serius memikirkan kebudayaan Indonesia. Tak hanya melalui Polemik Kebudayaan –yang sampai kini masih acap dibicarakan- dan Majalah Pujangga Baru yang semua dia garap dengan sangat serius, tapi juga upayanya menjadikan bahasa Indonesia menjadi sebuah bahasa modern.

Bagi Takdir, bahasa bukanlah semata alat untuk berpikir. Bahasa adalah pikiran itu sendiri.

Dan modernisasi adalah kunci dari pemikiran Takdir, yang sering diidentikkan orang dengan pembaratan. Padahal, Takdir memaksudkan itu sebagai adopsi rasionalitas. Dan itulah yang terus ia pertahankan mulai Polemik Kebudayaan, sampai di akhir masa hidupnya.

“Perdebatan ketika itu adalah mengenai perbedaan antara yang …

Membaca Jawa lewat Raffles

Judul buku: The History of Java
Penulis: Thomas Stamford Raffles
Alih bahasa: Eko Prasetyaningrum, Nuryati Agustin, Idda Qoryati Mahbubah
Penerbit: Penerbit Narasi, Yogyakarta
Cetakan: I, 2008
Halaman: XXXVI + 904 halaman
Peresensi: Ahmad Musthofa Haroen*
http://www.ruangbaca.com/

Ketika meninggalkan Indonesia (tepatnya di Bengkulu) pada 1823, sambil menyeka air mata, Raffles membawa pulang 30 ton naskah tentang Jawa.

Kira-kira tujuh tahun sebelumnya ia menerbitkan buku legendaris yang hingga kini terus diperbincangkan. Untuk keperluan penulisan, menurut Anthony Forge (1994), Sang Gubernur, yang juga memprakarsai kelahiran Singapura, tak hanya mengumpulkan banyak statistik, obyek-obyek material pun ia sertakan –mulai lukisan, ukiran kayu dan logam, baju adat, alat musik, hingga spesimen tumbuhan, rangka binatang dan sekaligus kulitnya. Ditambah sokongan data surat kabar The Java Gouvernment Gazette, lengkap sudah perbendaharaan Raffles untuk menulis mahakaryanya ini, History of Java –judul yan…

”Simpan Golokmu, Asah Penamu”

Sukar
http://www.radarbanten.com/

Toto ST Radik tak hendak berpuisi. Tapi, rangkaian kata-kata itu ia jadikan simbol gerakan membangun budaya literasi di Banten. Kini telah lahir penulis-penulis muda dengan segudang karya dan prestasi. Kebangkitan budaya literasi di Banten?
***

Budaya literasi di Banten sebenarnya memiliki sejarah panjang. Di era Kesultanan Banten, Desa Kasunyatan pernah menjadi pusat pengajian (sekaligus pengkajian) bagi para ulama dalam membedah kitab-kitab agama. Dan puncak kejayaan budaya literasi di ranah Banten terlihat dari produktivitas Syekh Nawawi Tanara yang menghasilkan ratusan kitab, yang hingga kini menjadi rujukan kaum santri, pelajar, dan mahasiswa di berbagai negara.

Di era 80-an, budaya literasi di Banten ditandai dengan munculnya penulis-penulis muda dari Banten, seperti Gola Gong (fiksi), Toto St Radik (puisi), almarhum Rys Revolta (puisi), dan Wowok Hesti Prabowo (puisi). Tulisan tiga serangkai itu banyak menghiasi majalah-majalah remaja nasional.

Di er…

Sepak Bola (Seharusnya) Adalah Puisi

Tulus Wijanarko*
http://www.korantempo.com/

Zinedine Yazid Zidane boleh saja menjadi pujaan penggemar sepak bola dunia. Tetapi bagi sebagian penulis biografi, Zidane mungkin bukan obyek favorit penulisan. Kenapa? Tentu saja bukan karena kisah hidup gelandang legendaris Prancis ini tak berwarna. Tidak pula disebabkan Zizou–demikian sapaannya–tak memiliki karisma. Untuk dua hal itu, Zidane lebih dari sekadar memenuhi syarat–perbawanya bahkan tak luntur setelah insiden tandukan kepalanya atas Marco Materazzi.

Sebabnya adalah Zidane agak miskin dengan pernyataan-pernyataan filosofis yang menjadi kegemaran para penulis. Dalam sebuah wawancara di televisi, misalnya, sang penanya gagal mendapatkan jawaban yang diharapkan quote-able untuk pertanyaan berikut: Apakah sewaktu kecil Anda bermimpi menjadi pemain nasional Prancis?

Zidane menjawab singkat: Tidak. Waktu kecil, “Saya hanya menginginkan bola kulit dan sebuah sepeda,” katanya. Sederhana dan telak. Masa kecilnya yang sengsara memang tak memu…

Ludwig Tieck (1773-1853)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=476

WAKTU
Ludwig Tieck

Dia ngembara dalam lingkaran abadi dan sama,
Sang waktu, menurut caranya yang lama,
Atas perjalanannya, tuli dan buta;
Anak manusia yang tak malu-malu
Mengharap dari saat yang datang senantiasa
Bahagia yang tak terduga dan aneh-baru,
Matahari pergi dan kembali lagi,
Bulan datang dan malam pun turun,
Jam-jam bermuara di minggu-minggu,
Minggu-minggu membawa musim-musim.
Dari luar tak ada yang membarui diri,
Dalam dirimu kaupikul waktu yang berganti-ganti,
Hanya dalam dirimu peristiwa dan bahagia.

[Dari buku Malam Biru Di Berlin, terjemahan Berthold Damshäuser dan Ramadhan K.H. 1989]. Kini izinkan kumulai menafsirkan baris-perbaris puisi di atas:

Yang selalu menempa hari-hari seakan pengembaraan abadi menguliti kelopakan takdir nyawa. Mengelupas lapisan cahaya, lembar demi lembar tiada akhir selalu terpesona. Rasa sakit pun kecewa tak dirasa, di sana mengenyam nikmat tidak terkira. Mengumpar dalam putaran sama, tetapi mengecil atau mem…

Akar dan Fungsi Sosial Dunia Sastra

Leon Trotsky (1923)
Sumber: The Social Roots and the Social Function of Literature. Trotsky Internet Archive
Penerjemah: Dewey Setiawan (April 2003)
http://www.marxists.org/

Perdebatan mengenai “seni murni” dan seni bertendens sering terjadi diantara kaum liberal dan kaum “populis”. Permasalahan tersebut bukanlah persoalan kita. Dialektika materialis berdiri di atas ini; dari cara pandang proses historis yang obyektif, seni selalu merupakan pelayan sosial dan berdasarkan sejarah selalu bersifat utilitarian. Seni memberikan alunan kata yang dibutuhkan bagi suasana hati yang samar dan kelam, mendekatkan atau mengkontraskan pikiran dan perasaan, memperkaya pengalaman spiritual individu dan masyarakat, memurnikan perasaan, menjadikannya lebih fleksibel, lebih responsif, memperbesar volume pemikiran sebelumnya dan bukan melalui metode personal yang berdasar pada pengalaman yang terakumulasi, mendidik individu, kelompok sosial, kelas dan bangsa. Dan apa yang disumbangkannya tersebut tidak dipen…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com