Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2009

Merayakan Pembacaan

Eka Kurniawan
http://www2.kompas.com/

”Aku menemukanmu dalam pelarian,” tulis Intan Paramaditha dalam pembukaan cerita pendek Mak Ipah dan Bunga-Bunga, (Sihir Perempuan, Kata Kita, 2005). Perhatikan dengan saksama kalimat pembuka itu. Siapa yang sedang dalam pelarian? Aku atau kamu, atau keduanya? Kalimat yang tak memberi kepastian apa pun seperti itu dengan mudah kita temukan dalam hampir setiap buku kumpulan cerpen atau novel yang datang dari para penulis generasi paling mutakhir.

Perhatikan pula satu cuplikan kalimat dari cerpen Cakra Punarbhawa Wayan Sunarta (Cakra Punarbhawa, Gramedia Pustaka Utama, 2005) ini: ”Suka bercengkerama dengan ikan, ombak, rasi biduk dan perahu.” Siapa yang suka bercengkerama dengan ikan, ombak, rasi biduk dan perahu? Guru bahasa kita yang baik di sekolah pasti akan mencoret kalimat seperti itu, sebagaimana mungkin akan dilakukan oleh editor-editor terbaik kita. Kalimat tanpa subyek dianggap bukan kalimat yang baik. Tapi, benarkah kalimat-kalimat tak lengk…

Rambut

Indrian Koto
http://www.sinarharapan.co.id/

Bagaimana mungkin rambut panjang bisa dihubungkan dengan cinta? Aku tak habis mengerti apa yang dipikirkan olehnya. Dia memintaku memotong rambut dan menghubung-hubungkannya pula dengan cintaku padanya. ”Aku tidak minta sesuatu yang berlebihan darimu. Kalau kau betul-betul mencintaiku, aku minta kau memotong rambutmu,” katanya sore itu.

”Aku mau, tapi jangan sekarang.”
”Selalu itu jawabmu. ‘Jangan sekarang...jangan sekarang’ dan aku sudah lama mendengar itu. Terlalu sulitkah permintaanku?”

”Sekadar memotongnya itu tidak sulit, hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja. Selesai. Tapi untuk memanjangkan rambut aku butuh waktu bertahun-tahun.”

Dia diam mendengar jawabanku. Begitulah selalu, hampir setiap percakapan kami –terakhir-terakhir ini, mengarah pada persoalan rambutku yang sedikit gondrong ini. Ada saja celah buatnya untuk masuk ke topik itu dan ujung-ujungnya dia memintaku memotongnya.

”Kalau kau memotong rambutmu sedikit saja, kamu terliha…

Generasi Baru Wanita Sastrawan Bali Modern

I Nyoman Darma Putra*
http://www.balipost.com/

DUNIA sastra Bali modern dewasa ini menyaksikan munculnya pengarang generasi baru. Pengarang generasi baru ini adalah penulis-penulis wanita. Mereka adalah Anak Agung Sagung Mas Ruscitadewi (Denpasar, lahir 1965), I Gusti Ayu Putu Mahindu Dewi Purbarini (Tabanan, lahir 1977), dan yang paling muda adalah Ni Kadek Widiasih (Karangasem, lahir 1984).

Trio penulis wanita ini mulai berkarya sejak awal dekade ini. Karya mereka dimuat di media massa berbahasa Bali seperti Buratwangi, Canang Sari dan Bali Orti yang merupakan suplemen Bali Post edisi Minggu. Kemunculan mereka sebagai generasi baru ditandai dengan terbitnya karya-karya mereka dalam bentuk buku pada tahun 2008.

Anak Agung Sagung Mas Ruscitadewi menerbitkan buku kumpulan cerpen “Luh Jalir” (Perempuan Nakal), I Gusti Ayu Putu Mahindu Dewi Purbarini kumpulan puisi “Taji” (Taji), dan Ni Kadek Widiasih kumpulan puisi “Gurit Pangawit” (Syair Pemula).

Sebetulnya, selain ketiga penulis wanita ini…

PUISI, ANTARA SIMFONI DAN CAHAYA

Atas Abdul Hadi W.M., Wislawa Szymborska dan Suryanto Sastroatmodjo

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=651

Awalnya ini tidak disengajakan memprosesi kreativitas penulisan puisi, tapi setelah terjadi, kehendak itu hadir. Di saat-saat saya seolah penyair, padahal baru dua kumpulan puisi yang terbit; Antologi Puisi Persembahan “Sarang Ruh (1999),” dan “Balada-Balada Takdir Terlalu Dini (2001).” Maka dapat dikategorikan sebagai bentuk proses kreatif awal. Dan tulisan ini pernah mengantari diskusi di kampus Unisda Lamongan, akhir tahun 2001.

Marilah mencoba, mengukur kedalaman lautan atau ketinggiannya; bentangan samudra perasaan dengan kerisauan yang berpegangan, antara bimbang serta ketakutan berkarya.

Sebenarnya saya nol putul tentang jenis lautan, ombak, karang, pegunungan atau pun langitan. Yang terasakan itu, jiwa menjangkau harapan dengan tidak pernah bertemu di kaki-tubuh lahiriah. Jiwa hanya membangun definisi dari kesakitan mendalam, ketersiksaan seluas jagad melepa…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu –yang diajukan siswa– kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah ters…

Pentas Teater Mandiri Zero Pertempuran di Balik Kain

F Dewi Ria Utari
http://www.korantempo.com/26 Feb2004

Putu Wijaya mementaskan Zero. Kisah ditata seperti campuran mimpi dengan kenyataan, untuk menggugah rasa.

Pertunjukan perdana Putu Wijaya tahun ini dibuka dengan kehadiran Chen Xiao, seorang aktor teater asal Taiwan. Ia mengawali pementasan Zero dengan menarik seutas tali tambang yang terikat di sebuah tiang. Chen Xiao yang bertubuh gempal dan berkepala botak itu menarik kuat-kuat tali itu ke tengah panggung, menuju semacam gumpalan kain berwarna putih.

Peran Chen Xiao di nomor Zero ini cukup penting. Karena ia menjadi satu-satunya aktor yang muncul utuh sebagai manusia dan berbicara--juga sebagai manusia. Ini merupakan penghormatan tersendiri bagi Chen Xiao di tengah para aktor senior Teater Mandiri yang bermain bersamanya di Teater Utan Kayu, Jumat (20/2) dan Sabtu (21/2).

Keberadaan Chen Xiao dilatarbelakangi pementasan Zero di Taiwan pada acara Asia Meet Asia tahun lalu. Dari pertunjukan itulah, Putu Wijaya mengajak Chen Xiao untuk …

Karya Sastra dan Pencerahan

S Yoga
http://www.suarakarya-online.com/

Pada beberapa Ahad yang lalu, ada dua buah tulisan yang cukup menarik dan saling bersinggungan, yakni tulisan Hudan Hidayat (HH) "Nabi tanpa Wahyu" di Jawa Pos dan Viddy AD Daery "Gerakan Sastra Anti Neoliberalisme" di Republika.. Kedua tulisan itu merupakan polemik sastra yang hangat saat ini. Masing-masing bersikukuh atas "pledoinya".

Sekedar mengingat kembali tulisan HH adalah balasan tulisan Taufiq Ismail (TI) yang menanggapi tulisan HH sebelumnya "HH dan Gerakan Syahwat Merdeka", Jawa Pos, 17/6/2007, yang merupakan respon. TI atas tulisan HH yakni, "Sastra yang Hendak Menjauh dari Tuhannya", Jawa Pos, 6/5/2007, yang menyinggung pidato kebudayaan TI di TIM yang sok moralis, dalam rangka "membasmi" gerakan sastra syahwat merdeka, yang kemudian oleh TI disebut sebagai sastra SMS (Sastra Mazhab Selangkangan) atau sastra FAK (Fiksi Alat Kelamin).

Sedang yang termasuk dalam kubu ini menurut…

Nabi Tanpa Wahyu

Hudan Hidayat
http://www.jawapos.com/

Dalam upayanya meredam filsafat dan ideologi penciptaan yang saya ajukan, yakni keyakinan saya bahwa penceritaan ketelanjangan dibolehkan oleh Kitab Suci, dan Kitab Suci pun telah mendemonstrasikan melalui kisahnya sendiri (“pornografi” Adam dan Hawa), Taufiq Ismail melancarkan serangan balik dengan menggesernya ke dalam upaya stigma akan tendensi sastra: sastra SMS – Sastra Mazhab Selangkangan – atau sastra FAK – Fiksi Alat Kelamin – (Jawa Pos, 17 Juni 2007). Inilah upaya yang mengingatkan saya akan cara-cara Lekra menggempur lawan-lawannya dulu, dengan menyebut mereka "Manikebu".

Terasa bagi saya serangan balik Taufiq sangat mematikan. Dengan semangat anti-dialog dan anti-wacana, Taufiq seolah petinju yang memukul lawannya dengan tinju "kalang-kabut". Atau seolah banjir bandang yang menyerbu permukiman manusia tanpa nurani – nurani sastra. Dalam SMS-nya pada saya, Taufiq menyebut tentang "kebakaran budaya", yang peny…

Sajak-Sajak Mashuri

http://mashurii.blogspot.com/
Menanam Darah

di penghujung millenia
aku baca seraut wajah penuh nestapa
menenun waktu; tampak burung gagak, anak-anak retak
dan segala senapang
menghunus jantung dan harapan
siap mencipta merih nan panjang

aku lihat ibu turun ke huma
mencabut rumput, menyisakan beberapa tangkai jagung
katanya: ‘pakailah sandal, juga kerudung
karena segala jagung selalu bersarung’

tapi rumput selalu tumbuh di tanah
sesering babi hutan tumbuh di darah
kadang ia menyelinap pelan, berderap, menjelma siluman
mengoyak anak-anak yang terlelap di kalbu
sedangkan seluruh jagung telah kehilangan
sarung dan tongkolnya
lalu terdengar suara: ‘cangkul, cangkul, cangkul
yang dalam….”*

aku pun bisa menebak, telapak bakal meninggalkan jejak
ke segala arah
dengan darah
yang tak henti membercak

Surabaya, 2009
*) nyanyian kanak



Koordinat Kosong

terdengar suara bergetar di suatu siang:
bahwa dewa-dewa, apapun namanya, telah mencabut titah
---gelas telah pecah

ada yang bersorak di pinggir kutub
ada yang lara di sebuah pert…

Baudrillard dan Iklan Politik

A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Pengamat politik dan komunikasi yang lagi giat-giatnya beradu analisis di ambang pelaksanaan pemilihan legislatif maupun pilpres 2009 ini, patut tak melupakan kekuatan yang bermuasal dari iklan politik media.

Kendati tampak baru, iklan politik menjadi peranti melambungkan pengaruh popularitas yang tergolong praktis. Di tengah-tengah ditengarainya masyarakat melek media, di mana Mc Luhan menesiskan global village (desa global,--sebuah hamparan ruang masyarakat yang gampang dimasuki segala informasi) sebagai penggambaran keadaan itu. Sehingga, “desa” kami kini sudah tak ada sekat lagi. Yang ada hanya berhamburannya teks-teks kepentingan yang ditunggangi penguasa. Bahkan, bisa-bisa teks tersebut senantiasa represif hingga menekan kami. Ya, kami hanya bisa bergumam saja, bukan?.

Kendati media di sisi lain telah berjasa besar bagi kemajuan suatu bangsa, media pun tak luput dari dosa yang niscaya diembannya. Misalnya, dalam buku Menembus Fakta…