Rabu, 28 Januari 2009

KRITERIA UNTUK MENILAI KARYA SASTRA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

(BAGIAN PERTAMA)
Ketika seorang pembaca berhadapan dengan karya sastra, apakah ia dapat lang-sung mengatakan bahwa karya itu baik atau tidak? Tentu saja penilaian dengan cara demi-kian ngawur dan tidak objektif . Pertama-tama yang harus dilakukan adalah membaca kar-ya itu dahulu. Jika sudah kita cermati benar, barulah kita dapat memberi penilaian atas karya yang bersangkutan. Tetapi persoalannya kemudian, bagaimana kita memberi penilai-an terhadapnya? Atas dasar apa pula karya itu dikatakan berhasil atau tidak? Apakah kita dapat mengatakan bahwa karya itu baik, bagus atau berhasil, karena kita menyukai tema-nya; kagum dan terpesona terhadap tokoh-tokoh yang digambarkannya atau karena kita mengagumi pengarangnya?

Guna menghasilkan penilaian yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan, ten-tu saja cara penilaian yang seperti itu tidaklah tepat. Bahkan terkesan sangat subjektif. Pe-nilaian demikian jelas sangat bergantung pada kesan dan sikap suka atau tidak suka. Ia akan menghasilkan penilaian yang relatif, karena sangat ditentukan oleh subjektivitas pem-baca. Jika demikian, dasar apa yang dapat kita gunakan untuk menentukan sebuah karya sastra dikatakan baik atau buruk, berhasil atau tidak? Kriteria apa yang kita gunakan untuk menentukannya, sehingga ada genre sastra garda depan (avant garde), sastra serius, dan sastra populer.

Ketika ada orang bertanya, mengapa dan atas dasar apa sebuah karya dikatakan populer atau serius, tentu saja kita tidak dapat menjawab dan menghubungkannya dengan nama pengarangnya. Hal yang sama juga berlaku untuk karya-karya Pramoedya Ananta Toer atau para pengarang lainnya. Kita hanya dapat memberi penilaian terhadap karya-karyanya jika kita sudah membaca karya pengarang bersangkutan.

Sebagai contoh, sebutlah, misalnya, nama Motinggo Busje. Apakah semua karya-nya termasuk karya pornografi atau populer? Sejumlah novelnya yang dihasilkan tahun 1970-an, memang dapat dimasukkan sebagai novel populer. Tetapi, karya-karya awalnya, seperti dramanya Malam Jahanam atau sebagian besar cerpennya, tidak dapat dikatakan populer. Demikian juga novel terakhirnya, Sanu Infinita Kembar (1985) dikatakan H.B. Jassin sebagai “novel mistik--falsafi yang mencapai kedalaman yang belum pernah kita saksikan dalam roman-romannya terdahulu. Satu buku yang memerlukan kesadaran total untuk memahamina.”

Demikianlah untuk menentukan sebuah karya berhasil atau tidak, kita mesti memi-sahkannya dahulu dari nama pengarangnya. Oleh karena itu, kita mesti menjawabnya ber-dasarkan karyanya itu sendiri dan bukan karena pengarangnya atau latar belakang diri pengarang bersangkutan. Untuk menghasilkan penilaian yang objektif dan dapat dipertang-gungjawabkan, pusat perhatian kita mesti jatuh pada karya itu sendiri. Inilah yang disebut ergosentrisme, yaitu penilaian yang berangkat dan berpusat pada karyanya itu sendiri, dan bukan pada pengarangnya, temanya atau tokoh-tokoh yang digambarkannya. Itulah pula sebabnya, kita perlu mengetahui kriteria-kriteria apa saja yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan baik-buruknya, berhasil-tidaknya atau populer tidaknya karya sastra yang bersangkutan.

Adapun kriteria yang dapat digunakan untuk membuat penilaian terhadap keber-hasilan atau kegagalan sebuah karya sastra, dapat dilakukan dengan mencermati sedikitnya enam kriteria, yaitu kriteria kebaruan (inovasi), kepaduan (koherensi), kompleksitas (keru-mitan), orisinalitas (keaslian), kematangan (berwawasan atau intelektualitas), dan keda-laman (eksploratif).
***

Kriteria pertama adalah apakah karya sastra yang bersangkutan itu memperlihatkan adanya kebaruan (inovasi). Dalam hal ini, acuan yang dapat dijadikan sebagai dasar kriteria adalah kenyataan bahwa sastra selalu berada dalam ketegangan antara konvensi dan inovasi. Artinya, bahwa dalam kesusastraan modern, apakah kebebasan berkreasi sebagai hak “istimewa” pengarang, telah dimanfaatkan pengarang untuk memajukan mutu dunia sastra atau menggunakan hak istimewa itu hanya sebagai usaha untuk menghasilkan karya sastra yang biasa-biasa saja, atau bahkan untuk sekadar “main-main” agar kelihatan sebagai karya avant garde?

Untuk melihat adanya kebaruan atau inovasi dalam karya yang bersangkutan, tidak dapat lain, kita mesti mencermati semua unsur intrinsik yang melekat dalam karya tersebut.

Dalam hal ini, acuan untuk menentukannya bukan pada tema karya bersangkutan, melain-kan pada semua unsur intrinsik yang terdapat pada karya-karya yang terbit sebelumnya. Sebagai contoh, apakah tema novel Sitti Nurbaya (1922) atau Salah Asuhan (1928) mem-perlihatkan kebaruannya atau tidak? Untuk memperoleh jawabannya, maka kita harus me-lihat dahulu karya yang terbit sebelumnya; Azab dan Sengsara (1920) misalnya.

Lalu dalam hal apa kebaruannya? Dalam Azab dan Sengsara, adat dan peranan kaum lelaki memperoleh kemenangan, sedangkan dalam Sitti Nurbaya, adat dan peranan kaum lelaki sama-sama kalah, meskipun Sitti Nurbaya juga mengalami nasib yang sama. Tetapi, dalam Salah Asuhan, kaum lelaki (Hanafi) kalah, karena yang dihadapi adalah perkawinan antarbangsa (Hanafi, Padang dan Corrie, Indo-Perancis).

Contoh lain yang lebih jelas dapat kita lihat dalam puisi-puisi Chairil Anwar. Bagai-mana bahasa sehari-hari yang dalam zaman Pujangga Baru tidak digunakan, dimanfaatkan Chairil Anwar dengan sangat mengagumkan; bagaimana pula pola bait yang dalam puisi sebelumnya masih sangat mendominasi, tidak begitu dipentingkan lagi. Ringkasnya, makna puisi bagi Chairil Anwar tidak ditentukan oleh bait, melainkan oleh kata-kata itu sendiri, dan pemanfaatan hanya digunakan jika makna puisi itu sendiri memang memerlukannya.

Itulah beberapa contoh karya sastra yang memperlihatkan adanya kebaruan. Jika demikian, dari aspek kebaruannya, karya itu boleh dikatakan berhasil!

Kriteria berikutnya yang dapat kita gunakan untuk membuat penilaian adalah masa-lah yang menyangkut aspek kepaduan (koherensi). Pada karya-karya Chairil Anwar, kepaduan itu terlihat dari pilihan kata (diksi) yang digunakannya dalam setiap larik puisi. Dan keseluruh-annya membangun sebuah tema. Puisi Chairil yang berjudul “1943” atau “Aku”, misalnya, mengapa larik-lariknya tidak dibangun oleh bait-bait (“1943”), mengapa pula satu baitnya kadang kala hanya terdiri dari satu kata (“Aku”)? Perhatikan beberapa larik puisi “1943” berikut ini:
...
Jalan kaku-lurus. Putus
Candu
Tumbang
Tanganku menadah patah
Luluh Terbenam
Hilang
Lumpuh,
...
Rata
Rata
Rata
Dunia
Kau
Aku
Terpaku.

Timbul Pertanyaan: di manakah letak kepaduannya? Kepaduan dalam puisi “1943” justru tampak lantaran makna keseluruhan puisi itu memang tak memerlukan adanya pemisahan makna lewat bait-bait. Dengan cara demikian, larik yang dibangun oleh satu atau dua kata itu, justru tampak padat dan lugas yang mengesankan kegelisahan dan penderitaan luar biasa si aku lirik. Penghilangan bait memperlihatkan kepaduannya karena ia benar-benar fungsional mendukung tema.

Contoh lain dapat kita lihat pada novel Hamka, Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939). Dari segi tema, novel ini masih mengangkat persoalan adat. Tetapi ada ke-baruannya dalam novel ini, yaitu adat yang dibenturkan dengan masalah keturunan dan orang dagang (perantau). Tema ini digambarkan tidak berdiri sendiri atau lepas dari unsur lainnya. Latar tempat (Minangkabau), latar sosial (lingkungan keluarga dan status sosial tokoh-tokohnya) serta karakter tokoh-tokohnya, menciptakan peristiwa demi peristiwa yang penuh dengan tegangan. Demikian juga bentuk surat-menyurat yang digunakan to-koh-tokohnya (Zainuddin dan Hayati), tidak hanya menciptakan serangkaian peristiwa yang berkelanjutan, tetapi juga membina tegangan demi tegangan dari satu peristiwa ke peristiwa berikutnya. Tampak di sini, tema, tokoh, latar, dan alur, saling mendukung dan menciptakan kepaduan dalam keseluruhan cerita novel itu.

Perhatikan juga fragmen berikut ini:

Fredy sempoyongan. Langkahnya berat menapaki gang kumuh yang menuju ru-mahnya. Kakinya kadang kala tak kuasa menahan beban tubuhnya. Sesekali ia ambruk. Di antara ocehannya yang tak keruan, lelehan lendirnya menetes menjijikkan. Tangannya erat memegang botol minuman keras.

Sampai di kamarnya, Fredy langsung melemparkan tubuhnya ke tempat tidurnya yang tertata rapi. Di dinding tergantung sebuah kaligrafi. Kamar itu tampak nyaman.

Fragmen di atas jelas tidak memperlihatkan kepaduannya, karena ada dua hal yang bertolak belakang. Tokoh Fredy yang mabuk, ternyata menempati sebuah kamar yang tidak sesuai dengan tingkah lakunya. Kepaduan akan tampak jika kamar itu digambarkan kotor, dengan puntung rokok berserakan; dinding penuh coretan grafiti; lalu tempat tidur tampak berantakan, kumal, dan menjijikkan.


(BAGIAN KEDUA)
Kriteria lainnya adalah kompleksitas (kerumitan). Puisi Chairil Anwar “1943”, mi-salnya, memberi gambaran dan pencitraan yang sangat kompleks, rumit, dan problematik yang dihadapi aku lirik yang gelisah dan meradang. Persoalan yang dihadapi tokoh Siti Nurbaya, Hanafi, atau Zainuddin, juga bukanlah persoalan yang sederhana. Mereka harus berhadapan dengan masalah sosio-kultural yang tentu hanya mungkin dapat diselesaikan melalui proses penyadaran yang juga menyangkut masalah sosio-kultural.

Dilihat dari sudut pengarang, kompleksitas itu juga sangat bergantung pada pema-haman sastrawan bersangkutan mengenai masalah budaya yang melingkarinya. Pemahaman kultural itulah yang kemudian disajikan dan berusaha diselesaikan pengarang, juga melalui pendekatan budaya. Dengan begitu, penyelesaiannya juga tentu saja tidak sederhana, dan tidak mungkin dapat dilakukan secara hitam putih.

Kriteria kompleksitas atau kerumitan ini akan lebih jelas jika kita membandingkan-nya dengan novel populer. Di dalam novel populer, semua persoalan akan diselesaikan se-cara gampangan, hitam-putih. Dalam novel Ali Topan Anak Jalanan, misalnya, dengan mudah saja Ali Topan membawa kabur kekasihnya, tanpa proses yang rumit yang melibat-kan konflik batin atau problem kultural. Kemudian, orang tua kekasihnya yang semula ti-dak merestui hubungan anaknya dengan Ali Topan, dengan mudah saja terpaksa merestui hubungan itu. Mereka pun akhirnya menikah. Selesai, happy ending!

Dalam Sitti Nurbaya, sesungguhnya bisa saja pengarang tidak mematikan Sitti Nurbaya dan Samsul Bahri. Bisa juga dalam duel antara Datuk Meringgih dan Samsul Bahri, yang mati Datuk Meringgih. Dengan cara demikian, maka terbukalah peluang bagi Samsul Bahri untuk menikahi pujaan hatinya, Sitti Nurbaya. Tetapi ternyata penyelesaian-nya tidak demikian. Ketiga tokoh itu, semuanya akhirnya mati. Dengan cara penggambaran seperti itu, pembaca secara langsung diajak untuk ikut berpikir memaknai akhir cerita yang tragis itu. Dan secara tidak langsung pula, pembaca “digiring” untuk berpihak; simpati atau antipati kepada tokoh-tokoh tersebut.

Dalam hal kriteria kompleksitas ini, seperti telah disinggung, pembaca diajak juga untuk merefleksikan atau ikut memikirkan persoalan yang dihadapi tokoh-tokoh dalam novel bersangkutan. Jadi, bisa saja masalahnya sederhana, tetapi penyajiannya begitu rumit yang menyangkut masalah sosial budaya yang pada akhirnya bermuara pada masalah ma-nusia dan kemanusiaan secara universal.

Kriteria berikutnya menyangkut orisinalitas (keaslian). Kriteria ini tentu saja tidak harus didasarkan pada keseluruhan unsurnya yang memperlihatkan keaslian atau orisinali-tasnya. Bagaimanapun juga tidak ada satu pun karya yang 100 persen memperlihatkan orisinalitasnya. Selalu saja ada persamaannya dengan karya-karya yang terbit sebelumnya Oleh karena itu pula, untuk menentukan orisinalitas karya yang bersangkutan, kita harus juga melihat karya-karya yang terbit sebelumnya. Mengingat kriteria orisinalitas sangat di-tentukan oleh keberadaan karya-karya yang terbit sebelumnya, maka di dalam pelaksana-annya kriteria orisinalitas kadang kala bertumpang tindih dengan kriteria kebaruan.

Banyak aspek yang dapat digunakan untuk menilai orisinalitas karya sastra. Perta-ma, dilihat dari salah satu unsurnya yang membangun karya sastra yang bersangkutan; tema, latar, tokoh, alur, atau sudut pandang (jika novel); bait, larik, diksi, atau majas (jika puisi), atau tokoh, tema, latar, alur, bentuk dialog atau petunjuk pemanggungan (jika drama). Kedua, dilihat dari cara penyajiannya; bagaimana pengarang menyampaikan kisah-annya (novel), citraannya (puisi) atau dialog dan petunjuk pemanggungannya (drama)

Sebagai contoh, perhatikan puisi “1943” karya Chairil Anwar itu. Meskipun ia menggunakan bahasa Indonesia seperti juga para penyair sebelumnya, keaslian atau orisi-nalitas puisi Chairil --salah satunya-- terletak pada pemakaian bahasa Indonesia sehari-hari yang oleh para penyair sebelumnya tidak digunakan. Demikian juga, bentuk larik yang digunakan Chairil, merupakan sesuatu yang khas dan orisinal karya Chairil. Contoh yang lebih ekstrem lagi dapat kita lihat pada beberapa puisi Sutardji Calzoum Bachri seperti “Tragedi Winka & Sihka”, “Q”, “Luka” yang hanya berisi satu larik: ha ha atau puisi “Kalian” yang juga berisi satu larik yan lebih pendek lagi: pun.

Ketika kita membaca puisi-puisi Sutardji seperti tersebut di atas, maka komentar yang sering kali muncul adalah pernyataan berikut: “Ah, jika itu puisi, maka kita juga dapat membuat puisi yang seperti itu.” Tetapi, apakah pernyataan yang sama itu akan muncul sebelum kita tahu ada puisi yang demikian? Dalam hal ini, orisinalitas terletak pada orsinalitas gagasannya yang justru pada waktu itu tidak terpikirkan oleh penyair lain. Jadi, apakah karya yang seperti itu sebelumnya telah ada? Jika ada, apakah polanya persis sama? Dalam hal tersebut, selalu saja kita akan menemukan sesuatu yang baru, yang orsinil.

Satu contoh lagi dapat disebutkan di sini sebuah puisi karya Agus R. Sardjono yang berjudul “Sajak Palsu”. Bagaimana penyair ini memotret kehidupan masyarakat bang-sa ini yang penuh kepura-puraan dan kepalsuan. Bahwa kehidupan seperti itu setiap saat kita saksikan, lalu siapa yang kemudian merefleksikan peristiwa itu ke dalam sebuah puisi yang lalu diberi judul “Sajak Palsu”? Gagasan tentang kehidupan yang penuh kepalsuan dan kemudian mengungkapkannya lewat sebuah puisi dengan penyajian yang ringan, terkesan berseloroh, tetapi justru mengangkat sebuah persoalan besar yang menyangkut kehidupan sebuah bangsa. Dalam hal inilah “Sajak Palsu” memperlihatkan orisinalitasnya yang khas lahir dari gagasan penyairnya.

Kriteria berikutnya menyangkut pertanyaan: apakah karya itu memperlihatkan ke-matangan pengarangnya menyajikan dan menyelesaikan persoalannya atau tidak. Ringkas-nya, kriteria ini berkaitan dengan bagaimana pengarang mengolah kenyataan faktual, baik peristiwa besar atau biasa, menjadi sesuatu yang memukau, mempesona dan sekaligus juga merangsang emosi pembaca, meskipun pengarangnya sendiri mungkin tidak mempunyai pretensi untuk itu.

“Sajak Palsu” karya Agus R. Sarjono, jelas merupakan karya yang berhasil. Perha-tikan beberapa larik terakhir puisi itu: ... Lalu orang-orang palsu/meneriakkan kegembira-an palsu dan mendebatkan/gagasan-gagasan palsu di tengah seminar/dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya/demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring/dan palsu.

Dalam hal ini, puisi itu cenderung mengangkat potret sosial. Dengan gaya penyajian seperti itu, Agus hendak menertawakan kehidupan sosial kita yang serba palsu dan penuh kepura-puraan. Mengingat potret sosial itu disajikan secara berseloroh dan apa adanya, maka re-fleksi evaluatif atas peristiwa itu sendiri tidak muncul sebagai keprihatinan yang dapat merangsang emosi pembaca.

Bandingkanlah dengan cara penyajian yang dilakukan Taufiq Ismail dalam salah satu puisinya, “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”. Perhatikan bait terakhir puisi itu:
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak
...
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia

Baik Agus Sarjono maupun Taufiq Ismail, secara tematis mengangkat persoalan yang sama yang menimpa moral bangsa Indonesia. Tetapi ada kedalaman yang dapat kita tangkap dari puisi Taufiq Ismail, yaitu refleksi evaluasinya tentang masalah yang melanda bangsanya. Larik terakhir: Malu aku jadi orang Indonesia merupakan ungkapan yang menggambarkan kepedihan mendalam atas berantakannya akhlak bangsa ini. Dengan cara begitu, meskipun Taufiq juga sekadar memotret problem sosial kita, secara langsung kita (pembaca) disentuh hati nuraninya; dirangsang emosi kebangsaannya; masih patutkah kita mengaku sebagai bangsa yang beradab, jika kehancuran akhlak terjadi di mana-mana?

Demikianlah, kriteria kematangan (wawasan dan intelektualitas) ini dapat kita gunakan sebagai salah satu alat untuk melihat kematangan seorang pengarang dalam menangkap dan menyajikan sebuah persoalan. Satu persoalan yang sama akan dimaknai secara bereda oleh para penyair, bergantung pada tingkat kematangan masing-masing. Per-hatikan juga sebait puisi Sapardi Djoko Damono, berjudul “Layang-Layang” berikut ini:

Layang-layang barulah layang-layang jika ada angin
memainkannya. Sementara terikat pada benang panjang,
ia tak boleh diam --menggeleng ke kiri ke kanan, menukik,
menyambar, atau menghindar dari layang-layang lain.

Puisi di atas jelas temanya berbeda dengan puisi karya Agus Sarjono dan Taufiq Ismail. Demikian juga cara penyajiannya. Terkesan puisi itu begitu sederhana. Namun, di balik kesederhaannya itu, ada kedalaman yang tersembunyi. Bahasanya yang jernih itu, justru sangat kuat menampilkan serangkaian citraan. Dalam hal inilah, emosi pembaca di-bawa hanyut dalam keterpesonaan pada citraan-citraannya.

Kriteria terakhir menyangkut kedalaman makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra. Larik terakhir puisi Taufiq: Malu aku jadi orang Indonesia atau citraan yang ditampilkan Sapardi dalam puisi “Layang-Layang” sesungguhnya memantulkan kedalaman gagasan kedua penyair itu dalam mengangkat masalah yang dihadapi umat manusia. Apa yang dikatakan Taufiq, Malu aku jadi orang Indonesia, sungguh mewakili kedukaan luar biasa, kepedihan yang perih, sekaligus juga kegeramannya pada kebejatan moral. Di balik sikap itu, ia justru sangat peduli pada nasib masa depan bangsanya.

Yang disajikan Sapardi lain lagi. Dalam puisinya yang tampak sederhana itu, ada makna simbolik yang hendak ditawarkannya. Gambaran tentang layang-layang itu, sebe-narnya merupakan analogi kehidupan manusia. Manusia, baru jadi manusia jika ia mempu-nyai semangat, gairah, keinginan, elan yang membawanya hidup menjadi lebih bermakna. Semua itulah yang membentang serangkaian harapan. Dan ketika manusia berusaha meraih harapan-harapan itu, ia akan berhadapan dengan berbagai masalah yang harus dapat disele-saikannya. Termasuk konflik-konflik dengan pihak-pihak lain.

Demikianlah, kriteria kedalaman ini cenderung merupakan refleksi dari berbagai gejolak kegelisahan pengarang yang mengkristal dan kemudian diejawantahkan ke dalam larik-larik dalam puisi atau narasi dalam novel atau cerpen. Semakin karya itu memperli-hatkan kedalamannya, semakin terbuka peluang lahirnya berbagai tafsiran dan pemaknaan. Dengan demikian, karya sastra yang demikian, akan memberi tidak sekadar kenikmatan estetik, tetapi juga pencerahan batin dan pemerkayaan gagasan bagi pembacanya. Ia meng-eksplorasi serangkaian kegelisahan pengarangnya, dan sekaligus juga mengeksplorasi emo-si dan gagasan pembaca untuk mencoba memahami kedalaman makna karya bersangkutan.
***

Karya-karya agung biasanya mengandung keenam kriteria tersebut di atas. Lalu bagaimana jika ada karya sastra yang hanya mengandung beberapa dari kriteria tersebut? Apakah kemudian karya tersebut dapat dikatakan berhasil atau tidak? Keenam kriteria pe-nilaian ini sebenarnya hanyalah sekadar alat. Sebagai alat, ia dapat dimanfaatkan untuk menilai karya sastra secara objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Mungkin saja ada karya yang hanya mengandung dua atau tiga kriteria. Tetapi lalu tidak berarti karya itu ga-gal. Tiadanya salah satu kriteria, dapatlah kita anggap sebagai salah satu kelemahan karya bersangkutan. Tetapi secara keseluruhan, kita tetap dapat mengatakannya bahwa karya itu berhasil. Dalam hal apa keberhasilannya? Penjelasannya dapat dilakukan lewat kriteria-kriteia itu.

Pemahaman mengenai keenam kriteria itu, sangat mungkin akan memudahkan kita untuk menilai karya sastra. Bagaimanapun juga, dengan keenam kriteria itu, kita mempu-nyai ukuran, parameter, atau dasar objektivitas untuk menilai keberhasilan atau kelemahan karya yang bersangkutan. Paling tidak, penilaian kita terhadap karya sastra tertentu, mem-punyai landasan yang dapat dipertanggungjawabkan, objektif, dan beralasan.

*) Pengajar FSUI, Depok.

Dekrit

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Seorang bapak punya kesulitan besar ketika hendak mati. Ketiga anaknya ternyata tidak punya kesepakatan terhadap warisan. Yang pertama ingin menjual habis seluruhnya.

“Sawah, tegalan, kebun kelapa, hutan jati dan tambak lele sudah tidak cocok lagi dengan kita,”katanya. “Kita bukan petani lagi meskipun Bapak orang tani. Kami semua bukan tarzan tapi wiraswastawan. Kalau dipaksa bertani, kita akan bangkrut. Jual semua, kita perlu kapital untuk bersaing dalam era industri. Sekarang kita tidak hanya butuh makan, tapi hidup layak di atas garis kemiskinan!

“Tapi itu warisan leluhur, anakku!”

“Warisan adalah harta untuk menyambung nafas kita agar darah terus mengalir. Sawah dan tegalan itu hanya wujud, bisa digantikan dengan pabrik dan barang-barang lain yang lebih produktif. Bapak jangan memberhalakan barang. Kalau warisan diartikan sempit, anak-cucu kejepit. Kuper, tidak berkembang padahal zaman sudah berubah. Jangan mensakralkan warisan, itu hanya benda mati untuk menolong hidup, bukan tujuan yang harus dibela dengan hidup-mati”

Anak yang keuda mendebat.

“Tidak bisa! Warisan tidak boleh diganggu gugat. Warisan harus tetap sebagaimana aslinya. Siapa yang berani mengubah kuwalat. Satu senti pun tidak bisa digeser, sacuil pun tidak bisa ditambah atau dikurangi. Harus tetap persis mutlak sebagaimana aslinya. Warisan bukan benda tetapi sabda, di baliknya ada pesan moral yang menjelaskan kepribadian dan jati diri kita. Kalau sampai warisan diabrak-abrik, berarti bunuh diri. Kalau mau dibagi bukan warisannya yang dibelah-belah, tetapi kewajiban mengawalnya yang harus digilir dengan adil! Itu hakekat dari mewarisi adalah mempertahankan sampai tidik darah penghabisan!”

“Jadi kamu tidak mau dibagi?”

“Jangan salah! Mau sekali! Tapi bukan berbagai hak, kita berbagi kewajiban mengawal!”

Anak ketiga tidak peduli.

“Warisan dijual supaya bisa kulakan atau dipertahankan sampai titik darah penghabisan, sama saja. Yang penting warisan harus bisa membuat hidup kita lebih sempurna. Kalau tidak, itu namanya bukan warisan tapi penindasan. Segala sesuatu yang menindas, apa pun namanya, tidak perlu diwarisi tapi dihabisi. Sebaliknya, segala sesuatu yang bisa mengangkat derajat kehidupan lebih baik, apa pun namanya, dari mana pun datangnya, harus diwarisi.”

Perbedaan yang meningkat jadi pertentangan itu, membuat Pak Tua tidak jadi mati. Nafsu hidupnya jauh lebih besar dari kewajiban untuk mati yang pada dasarnya datang dari hasrat memberikan kesempatan anak-anak berkembang. Lalu dia bertapa. Seperti Arjuna yang pergi ke gunung Indrakila ketika mencari panah Pasupati setelah dapat job membunuh Niwatakawaca.

Bukan hanya tujuh tetapi tujuh juta bidadari datang menggoda imannya. Mereka merayu dengan segala macam cara.

“Apa salahnya membagi warisan menjadi tiga, supaya semua anak-anak senang, bukankah sepertiga masih luas dan sama-sama punya potensi untuk menghidupi? Apa salahnya membiarkan anak-anak memilih masa depan mereka sendiri. Orang tua tidak boleh selamanya menggondeli!”

“Apa artinya kamu gembar-gembor negeri ini sudah merdeka kalau kehendakmu yang tua bangka masih terus hidup menyiksa keturunanmu sehingga mereka tak punya kebebasan untuk memaknakan kemerdekaan sendiri. Itu zalim. Penjajahan yang dilakukan oleh bangsa sendiri, lebih mengerikan dari penjajahan bangsa asing, karena disertai keinginan untuk memusnahkan! Kamu tak mencintai putramu, kamu mencintai dirimu sendiri!”

Orang tua itu marah sekali. Ia kontan buka mata dan membentak.

“Diam! Warisan itu bukan milikku dan tidak pernah akan jadi milik siapa pun. Mewarisi itu bukan memiliki, tapi memikul tugas suci untuk mempertahankan, mengembangkan dan meneruskan. Kalau warisan ini dibagi tiga, satu generasi lagi harus dibagi lima, dan limapuluh generasi lagi akan dibagi 250 juta. Tanah yang luas dan kaya raya ini akan menjadi kepingan uang receh yang sepele sehingga hanya akan jadi kutu yang dengan seenaknya diinjak-injak oleh raksasa-rakasasa yang sekarang sudah jelalatan mau menelan kita kembali!”

Serta-merta tapanya gagal. Orang tua itu kembali ke rumah dengann tangan kosong. Naun ia sudah punya tekad bulat. Lalu anak-anaknya dipanggil.

“Kalian semua sudah besar. Sudah waktunya untuk mandiri. Kalian tidak perlu warisan, cari sendiri kehidupanmu. Warisan ini tidak jadi diwariskan, karena ini bukan kue, ini bukan barang tetapi cita-cita. Boleh tidak setuju, boleh marah bahkan boleh menentang, aku akan mempertahankannya. Boleh menyerang, itu berarti kita akan berperang! Tetapi aku tidak akan berkelahi dengan senjata, di dalam usiaku yang sudah tua bangka ini. Tenaga, suara dan urat-uratku sudah lapuk, aku hanya punya kesetiaan dan keteguhan jiwa membela cita-cita! Kalau kamu berani serang aku!”

Orang tua itu menunggu siap untuk dilanda oleh putranya sendiri. Tetapi ajaib. Walau pun putra-putranya semula begitu galak, mendengar suara orang tuanya yang lemah tetapi yakin, tak ada yang beranjak. Dan ketika orang tua itu roboh karena janjinya sudah sampai, ketiga putra itu dengan sigap serentak menyambut. Mereka bahu-membahu mengangkat tubuh almarhum dan memulyakan warisan yang diamanatkan oleh alamrahum sebagai cita-cita.

“Ayah,” bisik salah seorang mewakili yang lain,.”hasrat kami untuk membagi warisan, bukanlah pertanda pengkhianatan kepada cita-cita, sebagaimana yang dituduhkan orang. Itu fitnah. Sebaliknya dari ketidaksetiaan, ulah kami adalah upaya agar engkau memberikan kami suara yang tegas dan bulat. Karena keraguanmu mempertimbangkan terlalu lama keadilan dan kebenaran, bisa menjadi bayang-bayang kegelapan yang menyebabkan setan menggoda. Kita tidak perlu kebijakan dan kelayakan kita memerlukan kecepatan, keberanian dan ketepatan agar tidak mampus. Sekarang kami akan memulyakan hajatmu menyelamatkan warisan cita-cita ini!”

Kini lebih dari setengah abad berlalu. Warisan cita-cita itu terus berkibar dalam gelap dan terang, dalam badai dan taufan. Terus berkibar walau warnanya sudah belel dan compang-camping. Tetapi ketiga putra-putra itu menjadi tua bangka, sementara anak-cicitnya, duaratus duapuluh juta kembali ingin berbagi rizki, berteriak-teriak mau mencacah warisan dipreteli menurut kenyamanan masing-masing. Kembali terjadi keos.

Apa daya? Tidak ada gunung lagi yang layak untuk bertapa. Semuanya sedang meletus. Panah Pasupati pun tidak cukup handal, karena yang diperlukan sekarang adalah duit, hukum dan wibawa. Ada kubu-kubu untuk berlindung tetapi milik kelompok yang cover chargenya mencekek di belakang. Apa daya?

Seruan jangan memperlakukan warisan sebagai kue tart yang boleh dibagi, tetapi sebagai cita-cita, juga sudah terlalu klise. Ketiga putra putra itu pun sudah capek mendukung, mereka juga ingin menikmati sebelum terlanjur uzur. Apa daya?

Masihkah keberanian, kecepatan dan ketepatan lebih berharga dari kebijakan dam kelayakan?

Almarhum tiba-tiba hadir di depan kita dan berkata:

“Keberanian, ketepatan dan ketepatan itulah kebijakan dan kelayakan?”

MEMETIK METAFOR MENULIS EKA BUDIANTA*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Sungguh saya terbelalak dengan metafor menulis yang diungkapkan Eka Budianta! Tulisan itu seperti bom, cinta. Sebuah sisi lain pengalaman menulis yang menggetarkan. Bagaimana tidak? Bom dan cinta seperti dua hal yang jauh tetapi didekatkan dalam satu makna. Bom simbol teror yang membuat orang ngeri. Tetapi bom dalam konteks pandangan Eka Budianto tentu menyaran pada bagaimana tulisan mampu melemparkan teror mental. Jargon ini sebangun dengan apa yang diungkapkan Putu Wijaya. Karena karya sastranya sering dikenal dengan sastra teror. Sedangkan cinta, mengingatkan ruh hakikat tertinggi hubungan antarmanusia atau dengan khaliq adalah cinta, mahabbah. Cinta yang meluap, kata Abdul Hadi, akan alir dalam beragam bentuk yang menggerakkan.

“Mengajar menulis memerlukan lebih dari merangkai kata-kata!” tulis Eka Budianta dalam pengantar bukunya yang berjudul Senyum untuk Calon Penulis (Alvabeta, 2005). Implisit ungkapan ini adalah kita perlu bermain, bertamasya, berempati, bermeditasi, dst. Sebab, ketika kita menulis (mengarang) kita juga berimajinasi, berbagi pengalaman, berangan-angan, berkomunikasi. Bukankah kita dengan berpikir, berimajinasi, berenung hakikatnya belajar mengarang itu sendiri?

Dia menuturkan pengalamannya mengikuti lokakarya mengarang yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan Australia. Uniknya, selama dua hari sama sekali tidak diajari merangkai kalimat. Tetapi hanya dilatih untuk bertanya dan menjawab! Sampai-sampai seorang yang sangat terpelajar kecewa kemudian meninggalkan latihan, “Saya ingin tahu bagaimana memilih topik, menyusun kalimat, dan alinea. Bukan berkhayal dan memecahkan persoalan yang mengada-ada begini.”

Belajar dari kasus “manusia sok terpelajar” ini adalah bukankah awal dari semua tulisan adalah imajinasi. Latihan imajinasi ini penting. Einstein bahkan mengatakan imajinasi itu lebih penting dari ilmu pengetahuan. Masalahnya adalah realita sosial masyarakat alergi dengan ini. Untuk itu, meletakkan kebiasaan imajinasi secara tepat dan bermanfaat adalah pintu bidang apa pun yang menarik untuk dipahami.

Di sinilah, maka yang terpenting modal penulis adalah: berpikir, berkhayal, berimajinasi, berempati, berenung, bertamasya, berpetualang, berselancar, bermeditasi, berandai-andai. Apa yang akan ditulis jika serangkai alat itu tidak terpunyai?

Dalam banyak kasus imajinasi adalah ikhwal utama yang mendorong seseorang terpanting dream kehidupannya. Tanpa imajinasi kehidupan akan kerontang seperti hutan di musim kemarau. Karena itu, jika imajinasi seseorang subur maka ibaratnya seperti hutan yang rimbun. Hutan rimbun akan memberikan ruang kehidupan akan segala satwa. Metafor satwa itu dengan sendirinya adalah orok-orok (ide) kepenulisan cemerlang.

Imajinasi yang benar akan teriringi oleh keyakinan mendalam. Sebuah basis penting dalam merengkuh ekspresi batin. Imajinasi dan keyakinan inilah kemudian yang memberikan motivasi tersendiri sehingga melahirkan tulisan (wujud ekspresi) yang seringkali serupa teror. Belajar dari bahasa teror Putu Wijaya, dalam akuannya, dia menulis alir saja. Yang terpenting baginya adalah imajinasi itu sendiri. Imajinasi yang bagaimana? Melompat. Karena itu, drama dan novel Putu Wijaya, sebagian pembaca akan menilai terpotong-potong. Tetapi, itu sesungguhnya ibarat musaik estetik yang kelindan dalam lompatan komunikasi.

Di sinilah, jika dasar utama kepenulisan adalah cinta, maka imajinasi yang terbangun adalah gerak cinta yang meluap pada realita. Cinta secara umum seringkali berkaitan dengan (a) cinta sesama manusia, (b) cinta lawan jenis, (c) cinta tanah air, dan (d) cinta keilahian. Dengan begitu cinta dalam konteks ini akan alirkan keberlibatan emosi, keterlibatan emosi akan membangun humanitas, dan humanitas akan lahirkan keharmonisan. Tulisan-tulisan yang bermakna paling tidak penting bermuara pada hal demikian.

Untuk itu, jika Anda ingin berkarya tentunya pemahaman akan makna cinta ini menjadi yang pertama untuk disematkan di dalam sanubari. Kenakalan pikir yang melahirkan teror-teror itu akan menjadi fondasi dan dinding bangunan. Sedangkan imajinasi akan menjadi atap dan langit bangunan itu sehingga memberikan keyamanan. Sebuah metafor unik yang dalam pandangan antropologis mengingatkan akan pentingnya kontekstualitas budaya di mana tulisan itu ber-sanad.

Mungkinkah kita yang baru memasuki pintu kepenulisan mampu melakukannya? Sangat mungkin. Bukankah cinta dan imajinasi adalah kodrat yang melekat? Persoalannya barangkali bagaimana menyemai dan menyuburkan keduanya di taman-taman kehidupan dan bagaimana merawatnya menjadi tumbuhan indah yang menghidupi?

Karena itu, latihan imajinasi sebagaimana dialami Eka Budianta ketika mengikuti pelatihan kepenulisan di Australia menarik untuk dikondisikan dalam praksis kehidupan kita. Mengapa? Untuk menyuburkan imajinasi sehingga berbuah cinta yang meneror. Bagaimana? Jika Anda kesulitan memahami ungkapan-ungkapan metaforik Eka Budianta ini barangkali menarik membaca tulisan serupa tentang ruh cinta dalam pengalaman Abdul Hadi di bagian kedua.
Ia akan menjadi jangkar dan jaring emosi yang menggerakkan!
***

*) Pernah dimuat di Ponorogo Pos.

Pameran Makam

A Rodhi Murtadho
http://rodhi-murtadho.blogspot.com/

Gundukan tanah. Nisan berjajar rapi menghadap arah yang sama. Kematian. Banyak orang tenggelam dalam tanah. Terbujur kaku. Entah hancur atau entah masih utuh tubuhnya. Yang pasti makhluk dalam tanah bersama mereka. Pengurai menguraikan jasad berkeping-keping. Menghancurkan tulang sampai tak ada beda dengan tanah. Sama. Layaknya humus yang terbentuk dari daun dan kotoran. Jasad manusia juga menjadi penyubur tanah. Tak heran kalau tumbuhan di tanah kuburan gemuk-gemuk dan subur.

Pandangan mata Beni semakin memfokus. Pertanda ia memikirkan sesuatu atau mungkin hanya menghayal. Tapi pandangannya tertuju pada tanah kuburan. Entah apa yang dipikirkannya.

“Pameran makam!” terceletuk lembut dari bibir Beni.

Kontan aku merasa kaget. Pikiranku mulai melayang ke mana-mana. Bahkan sempat singgah di rumah sakit jiwa. Berjalan di trotoar dan tertawa sendiri. Terdiam dalam ruang sepi dan terpasung.

“Gila kau Ben, mana ada pameran makam,” sanggahku.

“Coba kau pikirkan Bud, sebuah pameran makam terangker di kota metropolitan.”

“Memangnya mengapa, Ben?” semakin penasarann aku dibuatnya.

“Di tengah gemerlap kota metropolitan, orang mencari harta, ketenaran, kekayaan, kesenangan. Dan begini, Bud, pameran ini akan banyak dihadiri kalangan artis, orang kaya, orang miskin, bahkan kalangan pendatang dari daerah. Dengan harapan, mereka akan mendapatkan keinginan-keinginannya hanya dengan menghadiri pameran ini.”

Semakin heran aku dibuatnya. Bisa-bisanya Beni berpikir macam itu. Entah setan apa yang merasuki pikirannya. Ia kukenal alim. Setiap kali aku pulang kampung dengannya, ia selalu berziarah ke makam keluarga.

Di seberang jalan kompleks makam yang tak lepas dari pandangan mata Beni, di sebuah warung peyot pinggir jalan, aku dan Beni terus nyeruput kopi dan menghisap rokok kretek. Semakin pekat gelap malam. Semakin luas kesunyian. Semakin fokus pandangan mata Beni pada kompleks makam.

“Kok bisa, padahal kau lihat sendiri. Angker, sunyi, gelap, dan serba tak enak suasana di makam,” aku berusaha menyadarkannya.

“Benar sekali, itu modal kita. Dengan keadaan angker, orang akan mentuankan kompleks makam itu. Dengan petunjuk kita, akan banyak orang berdoa di sana. Dengan keadaan sunyi, orang akan bebas mengucapkan doanya. Dengan keadaan gelap, orang tak perlu malu berada di sana. Dengan keadaan serba tak enak akan buat wartawan enggan masuk ke sana. Jadi, orang tak perlu takut wajahnya akan diekspose ke media massa. Dan semua ketenangan itu menjadi fasilitas agar harapan dan keinginan mereka terkabul.”

Gila! Pikiranku semakin melayang jauh menerawang dan terbang mengembara. Semakin jelas tawa Beni di rumah sakit jiwa. Semakin jelas wajah kucel, pakaian compang-camping, bicara sendiri di trotoar. Semakin jelas diri Beni berada dalam ruang sepi. Terpasung dan sendiri.

Aku tertawa dan cekikikan. Hal inilah yangg membuat Beni merasa tak nyaman. Sebagai sahabat kental, ia berusaha meyakinkanku, megutarakan penjelasan dan alasan yang bertele-tele layaknya orang pemerintahan. Tak biasanya ia bisa berkata lancar. Seperti guru saja.

“Sudah malam Ben. Ayo pulang. Besok kerja,” ajakku.

“Kau pulang duluan. Mungkin aku agak lama di sini.”

Beni memang terlahir dari keluarga sederhana. Namun kebutuhannya tercukupi dengan baik. Hanya kemewahan saja yang tak ia rasakan ketika berada di desa. Sama seperti aku. Mungkin hal ini yang membuat kami akrab. Tapi entahlah, Beni banyak berubah di kota ini. Terutama pola pikirnya.

Semenjak kami bekerja di kota. Kami terpaksa melakoni kerja yang berat. Pabrik kayu. Pekerjaan yang banyak mengandalkan otot dan menguras tenaga. Apalagi kami buruh tidak tetap. Semua itu terpaksa kami jalani untuk menghindar dari gunjingan warga desa. Mereka selalu mengatakan pemuda yang tidak bekerja ke kota akan dicap sebagai penganggur, sampah masyarakat. Lebih parah lagi, mereka akan menjauhkan anak gadisnya dari pemuda semacam itu.

“Memangnya kau akan bertekad membuat dan mewujudkan pameran makam itu, Ben?”

“Ya!”

Tekad Beni memang kuat. Kami pergi ke kota metropolis ini dan bekerja di pabrik memang bermula dari tekad dan ajakan Beni. Sungguh luar biasa. Aku merasakan semangatnya yang membara jika keinginan sudah dikatakannya.

“Sudahlah Ben, ayo pulang!” ajakku pelan.

“Tidak. Saya tetap di sini dan esok atau lusa pameran itu akan terselenggara.”

“Memangnya apa yang akan kau lakukan?”

“Seperti mengadakan pameran yang telah aku pelajari di Karang Taruna Desa. Pertama, aku akan mencari kuburan yang sangat angker, terus mempublikasikan, terus semua orang bisa datang. Tanpa aku menghias atau merapikan makam. Otomatis tak butuh modal banyak. Kau mau ikut atau tidak? Keuntungan bisa kita bagi dua.”

Tawaran yang sangat menggiurkan, membuat aku berpikir dua kali. Kegilaan dan memikirkan keuntungan. Namun, yang terpikirkan oleh buruh yang upahnya sangat kecil hanya kenekatan. Menggiring aku menaklukkan pikiran gila dan meninggikan keuntungan.

“Lantas apa yang harus aku lakukan Ben?”

“Kau tak usah berbuat apa-apa, hanya membantu aku ketika pameran nanti. Sekarang, pulanglah dan besok bekerja. Aku tidak masuk kerja besok.”

“Kalau begitu saya pulang, Ben.”

Aku melangkahkan kaki menyusuri trotoar dengan memikirkan keuntungan yang nanti bakal kuraih bersama Beni. Kemewahan dan harta yang melimpah. Spontan aku tertawa. Lampu kerlap-kerlip di simpang jalan membentuk tulisan ‘Rumah Sakit Jiwa’, menarik perhatian pandangan mataku. Kulihat diriku dan Beni berada di sana. Di antara kaca yang terpampang besar di depannya. Sampai aku di kamar kos. Sendiri tanpa Beni. Sunyi di antara gelap malam. Pun aku tertawa sendirian memikirkan kegilan Beni. Sungguh nekad. Kok bisa-bisanya.

Seminggu berlalu. Tak ada kabar dari Beni. Aku terus menantinya pulang ke kos. Rutinitas yang kujalani tetap sama. Berjalan ke Pabrik untuk bekerja, pulang ke Kos untuk istrirahat, dan cangkruk di warung untuk makan, sekadar nyruput kopi, dan menghisap rokok kretek.

Banyak kudengar dari radio dan cerita kawan-kawanku, selain dari surat kabar lokal yang tersedia di warung, banyak pejabat pemerintah yang hilang. Banyak aktivis yang hilang. Banyak orang hilang. Entah minggat atau diculik. Tak ada kejelasan sama sekali. Hanya mengabarkan hilang. Kota semakin gempar dan dicekam ketakutan. Mereka menandai diri. Memasang semacam alat pelacak di tubuh. Mereka ingin mudah ditemukan kalau diri mereka sewaktu-waktu hilang.

Hari ini kulakukan aktivitas seperti biasa. Ke pabrik, pulang ke kos dan nongkrong di warung. Seperti biasa pula, kuserubut kopi dan kuhisap rokok kretek sendiri, tanpa Beni. Kubolak-balik koran yang acak-acakan. Aku heran dengan berita tentang makam baru tetapi nisannya tak bernama. Kubaca pelan-pelan. Ternyata orang itu ditemukan sudah menjadi mayat di kompleks makam para pejabat. Konon kabarnya, para pejabat yang dikubur di kompleks makam itu adalah tukang-tukang korupsi. Orang itu mati dengan telanjang bulat, kepala hancur, tubuh penuh luka, dan sangat sulit dikenali. Tak ada tanda pengenal atau alat pelacak untuk menunjukkan identitasnya. Banyak orang mengira-ngira bahwa orang itu adalah keluarga mereka, teman, atau musuh yang hilang. Mayat itu terpaksa cepat-cepat dikubur karena banyak sekali orang yang mengaku sebagai keluarga atau temannya. Daripada berebut, lebih enak dikubur.

Sungguh aneh berita yang aku baca. Tapi tunggu dulu, kompleks itu berada tepat di tengah kota. Tak jauh dari tempatku duduk kini. Mungkin hanya berjarak dua kilometer. Dan itu terjadi kemarin ketika aku sedang berada di pabrik. Aku teringat kembali pada Beni. Di mana sekarang dia? Sudahkah menemukan makam yang tepat untuk dijadikan pameran. Mungkin kompleks makam tersebut menjadi tempat yang strategis. Tetapi sekarang sudah terlalu ramai dikunjungi dan diberitakan wartawan.

Aku melanjutkan membaca koran yang masih ada di tangan. Diberitakan kalau pemilik warung dekat dengan kompleks makam tempat kejadian perkara sempat ngorol dengan orang itu sebelum meninggal ketika pemilik warung ditanya wartawan. Orang yang mati itu pernah ngopi di warungnya. Pemilik warung juga mengatakan bahwa orang itu akan mengadakan pameran dekat makam karena tema yang diangkat sesuai dengan keadaan makam. Angker, sunyi, misteri dibalik tubuh hancur karena banyak dosa.

“Benar Mas, konon pejabat-pejabat yang dikubur di sana banyak melakukan korupsi. Kalau diberitakan antar mulut saja atau di koran, Mas bisa terkenal,” pemilik warung mengulang perkataannya untuk orang tersebut kepada wartawan, “tetapi orang itu pergi dengan tersenyum setelah ia membayar kopi dan rokok kreteknya,” pemilik warung melanjutkan ceritanya.

Dikabarkan juga, pemakaman orang tanpa identitas dihadiri para pejabat, mahasiswa, dan banyak orang yang mengaku punya hubungan dengan orang tersebut. Nisan tanpa nama itu disepakati karena banyak orang yang berebut ingin nama anggota keluarga atau teman mereka yang hilang terukir di sana. Dikabarkan pula, sampai hari ini pun, masih banyak orang yang berdoa menziarahi kompleks makam pejabat kota di makam yang bernisan tanpa nama.

Aku bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah itu Beni sahabatku? Melakukan pameran makam di kompleks makam tengah kota. Mengapa mesti dirinya sendiri yang dipamerkan?

Surabaya, 18 November 2005 (01:42)

Senin, 26 Januari 2009

Ihwal Regenerasi Sastra Riau (II)

Marhalim Zaini
http://www.riaupos.com/

(Bagian Kedua/Habis)
Lalu di manakah Saidul Tombang menghilang? Sebenarnya ia tak benar-benar menghilang. Meski cuma sesekali muncul dengan cerpennya di Riau Pos, rupanya ia diam-diam menulis novel. Sebuah manuskrip 200-an halaman yang datang pada saya beberapa waktu silam (akhir 2007) adalah sebuah novel berjudul Lawa karya Saidul Tombang. Saya kira, ini semangat baru. Sebab novel butuh energi besar. Soal isinya, tunggu saja bukunya terbit. Cukup romantis. Dan Saidul agaknya hendak membuktikan bahwa kerja jurnalistik tak membuat dia berhenti menulis karya kreatif. Dan barangkali semangat yang sama juga masih dimiliki oleh Fitrimayani. Sebuah novelnya Kugapai Rembulan dengan Cinta, yang masuk nominasi Ganti Award 2004, dapat menegaskannya. Karya cerpennya pun dapat dibaca di ruang budaya koran Riau Mandiri, tempat dia bekerja. Lalu di mana penyair perempuan Kunni Masrohanti kini? Apakah dunia jurnalistik atau dunia domestik mengganggu produktivitasnya? Hemat saya, puisi-puisinya yang potensial itu, yang memperlihatkan bakat besarnya sebagai penggubah sajak, adalah harapan bagi dunia kepenyairan “perempuan” di Riau. Mari apresiasi sebait terkahir sajaknya berjudul Gigil Bunga Mungil ini: “bunga yang masih menggigil dalam genggamanmu/adalah puisi yang berderit/di atas alis mata dunia.”

Selain nama-nama itu, Musa Ismail adalah penulis yang cukup terjaga produktivitasnya. Selain cerpen, ia juga menulis esai sastra dan budaya. Buku cerpennya adalah Sebuah Kesaksian (2002), dan buku esainya terbit tahun 2007, Membela Marwah Melayu, yang lebih menunjukkan pemikiran-pemikiran kritisnya tentang kebudayaan, dan upaya mengisi kekosongan dunia “kritik sastra” kita dengan mengulas sejumlah buku sastra pengarang Riau. Sebagai seorang guru bahasa dan sastra pada salah satu SMA di Bengkalis, agaknya Musa merasa memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk bagaimana “menularkan” energi kreatif menulisnya pada anak didiknya di bangku sekolah. Terbukti, cukup banyak siswanya yang mulai menulis, dan beberapa di antaranya kerap dimuat di Majalah Budaya Sagang. Saya kira, perlu lebih banyak lagi guru-guru bahasa dan sastra kita macam Musa ini. Sehingga regenerasi sastra Riau terus dapat terjaga dengan baik.

Penulis prosa (novel dan cerpen) Riau terkini yang tak kalah penting untuk dicatat adalah Hary B Kori’un dan Olyrinson. Keduanya cukup rajin bertarung dalam berbagai sayembara penulisan novel. Novel Jejak Hujan karya Hary B Kori’un adalah salah satu pemenang dalam sebuah Sayembara Menulis Novel Remaja tahun 2005 yang diselenggarakan Radio Belanda dan Penerbit Grasindo. Selain novel Malam, Hujan yang juga masuk nominasi Ganti Award 2005, di tahun sebelumnya novel Nyanyi Sunyi dari Indragiri bahkan meraih Penghargaan Utama Ganti Award. Saya kira, Hary memang telah memilih jalan kepenulisannya lewat novel dan menempuh publikasinya di media-media sebagai cerita bersambung (cerbung) sebelum diterbitkan menjadi buku. Misalnya Di Antara Rumput dan Angin (Mingguan Penalti, 2001), Nyanyian Sunyi (Mingguan Mentari, 2002), Nyanyian Kemarau (Riau Pos, 2004), dan Nyanyian Batanghari (Republika, 2000 yang diterbitkan menjadi buku pada 2005) .

Sementara Olyrinson, hemat saya, adalah penulis Riau yang paling rajin ikut lomba, dan paling sering pula memenangkannya, terutama yang digelar oleh Dewan Kesenian Riau, Dewan Kesenian Bengkalis, Majalah Sagang, Majalah Femina, CWI, Forum Lingkar Pena, Ganti Award, Krakatau Award, dll. Karya-karyanya yang realis dengan bahasa yang jernih, dan kebanyakan berisi tentang tema-tema pergulatan sosial yang dialami oleh tokoh anak-anak (pun remaja), membuat dapat dengan cukup mudah diterima di sejumlah media macam Majalah Hai, Anita Cemerlang, Kawanku, Aneka, dll. Sejumlah novelnya yang telah terbit adalah Sinembela Dua Digit (2003), Gadis Kunang-kunang (2005), dan Jembatan (2006).

Generasi Baru Sastra Riau

Kini sampailah kita menengok konstelasi pergerakan sastra generasi berikutnya, generasi terbaru, generasi yang kini tengah terus berjuang untuk menemukan eksistensinya dalam sejarah panjang dunia sastra (di) Riau. Saya kira, mereka datang bukan karena hendak menanggungkan “beban” sejarah sastra Riau itu, tapi datang dari berbagai kegelisahan individual. Meski masih butuh demikian banyak waktu untuk memasuki proses menemukan dirinya dalam kematangan karya-karyanya, akan tetapi paling tidak, ada harapan untuk menuju ke sana. Kita cukup bahagia ketika nama M Badri lewat cerpennya “Loktong” memenangkan sayembara CWI Jakarta dan tahun 2007 menerbitkan buku cerpennya yang pertama berjudul Malam Api. Ia juga rajin menulis esai-esai kritis untuk sastra Riau. Meski nampaknya karya-karya Badri masih belum dapat menjangkau publikasi yang lebih luas, dan produktivitasnya yang masih harus terus ditingkatkan. Lalu ada nama Sobirin Zaini dan Saiful Bahri yang kerap memenangkan Laman Cipta Sastra Dewan Kesenian Riau dan cukup sering muncul karyanya di sejumlah media massa, terutama di Riau. Problemnya memang masih sama, keterjangkauan publikasi karya, dan eksplorasi atau penggalian yang serius terhadap capaian estetika karyanya, dan mestinya terus berupaya menemukan karakter “bahasa ucap” mereka sendiri. Produktivitasnya yang kini masih terjaga, tentu menjadi satu poin penting yang mesti mereka pertahankan untuk dapat masuk ke wilayah capaian estetika. Dan bahwa nama Sobirin Zaini kini cukup menonjol, terlebih karena dia cukup terlihat bersungguh-sungguh “berjuang” di dunia sastra, terutama dengan penyerangan media tak hanya di Riau, tapi di Sumatera (Padang dan Medan).

Selain itu ada nama Joni Lis Effendi, dari Forum Lingkar Pena. Joni penulis yang cukup produktif. Usaha-usaha menyerang media yang dilakukan Joni dengan berbagai genre penulisan (dalam sejumlah bidang) agaknya merupakan proses yang baik ditempuh untuk dapat terus menaiki jenjang yang lebih tinggi. Gaya penulisan “ala FLP” yang agak “meremaja” mungkin adalah “beban” jika tak pandai-pandai mengelolanya dalam eksplorasi tematik, pun stilistika. Dan akan jadi kekuatan jika ia mampu keluar dari mainstream tersebut, dan menciptakan jalur sendiri, dengan pilihan-pilihan yang lebih luas. Lalu ada Jefry Al Malay, penulis yang kehadirannya cukup baru dalam konstelasi sastra “muda” Riau. Karya-karyanya (terutama puisi, dan belakangan sesekali menulis cerpen), memang masih “gelap” dalam konteks permainan bahasa. Sehingga kemudian pun dapat pula tersesat dalam berbagai tumpukan gaya bahasa, diksi, dan tafsir makna yang berlapis, meski tak selalu itu buruk. Warna lokal, dengan kekuatan “lidah Melayunya” adalah kekuatan Jefry jika ia mampu untuk tidak terlalu bernafsu mendesakkan diksi-diksi arkaik, pun kolokial, serta mampu untuk lebih mengurainya dalam narasi-narasi yang jernih dan sublime.

Agaknya kita boleh berharap terhadap tiga nama perempuan penulis “muda” ini (untuk menyebut beberapa nama): Dien Zhurindah, Aliela, dan Budy Utamy, terutama untuk mengisi kekosongan penulis perempuan di Riau. Produktivitas mereka memang belum memadai untuk dapat kita katakan sebagai yang paling menonjol dalam masa-masa belakangan ini, meski cukup dapat mewakili di generasi mereka. Nama lain, ada juga DM Ningsih, Dessy Wahyuni, Novi Yanti, yang masih kita tunggu karya-karyanya yang lain, yang terbaru, untuk dapat melihat keseriusannya dalam menempuh proses di dunia menulis. Sajak-sajak Dien Zhurindah hemat saya cukup kuat bermain suasana dalam narasi-narasi yang bersahaja dan lembut, serta cenderung prosaik. Meski masih ditemukan berbagai kelemahan diksi, namun kerap tertutupi oleh keberhasilannya memainkan imaji. Semoga Dien tak berhenti menulis, dan terus menggapai “puncak sajak”.

Nama Aliela muncul agak belakangan dengan sejumlah cerpen di Riau Pos. Penulis perempuan ini memang bukan asli Riau, tapi nampaknya ia mulai berproses menulis ketika ia bermastautin di Pekanbaru. Cerpen-cerpennya memang menunjukkan upaya eksplorasi bahasa dan tematik, meski masih belum tampak kokoh sebagai sebuah bangunan peristiwa. Terkadang upayanya untuk menggali khazanah kebudayaan Melayu, sebagai yang bukan ia kenali benar karakternya, membuat di sejumlah tempat dalam cerpennya terkesan rumpang. Sementara Budy Utamy, terutama dalam sajak, menempuh ruang-ruang imaji yang cukup liar. Ia lebih banyak bermain di wilayah kesunyian yang hilang dan datang padanya bagai musim yang pasti. Meski kadang ia romantis, tapi kadang juga ia garang. Budy Utamy, harus pula terus menggali kesunyiannya itu lebih dalam, agar dapat ia serap ketajaman imajinya. Hingga “keliarannya” dapat menghadirkan energi positif. Coba kita simak sebait sajaknya berjudul “The Journey” ini: “ada yang hilang di hari-hari depan/ sesuatu yang kucuri dan sembunyikan/ pada bulan kesiangan.” Buku kumpulan puisinya, Rumah Hujan (Maret 2008) seperti bercerita seperti apa perjalanan kreatifnya.

Satu nama di generasi terbaru ini yang mungkin paling muda adalah Fariz Ihsan Putra. Sejak masih di bangku SMA dia sudah menulis cerpen. Sebagaimana yang pernah saya sebut dalam pembahasan sejumlah cerpennya beberapa waktu lalu di Riau Pos, bahwa tokoh-tokoh dalam cerpen-cerpen Fariz cenderung mengidap skizofrenia. Ada upaya untuk membebaskan tokoh-tokohnya dalam berbagai peristiwa yang bergerak dengan liar dan tumpang-tindih. Meski tentu saja Fariz masih punya jalan panjang untuk menemukan berbagai kemungkinan style pengucapan maupun tematik, meningkatkan produktivitas, dan lebih ligat alias gigih lagi menembus media massa. Selain itu ada nama Pandapotan MT Siallagan, Binoto H Balian dan Ellyzan Katan yang dulu menempuh proses bersastra ketika di Riau, dan kini telah kembali ke kampungnya. Ketiganya cukup produktif. Pandapotan dan Ellyzan Katan sampai kini karya-karya masih muncul di media Riau, sementara Binoto jarang dapat ditemui lagi. Ada yang menurun dari Pandapotan ketika ia mulai masuk ke dunia jurnalistik. Gairah eksplorasi masih banyak saya temukan dalam cerpen-cerpennya maupun sajak-sajaknya terdahulu, dibanding sekarang. Sementara Ellyzan masih nampak punya ambisi untuk mencari bentuk-bentuk baru dalam karyanya. Ini positif, jika dia kemudian lebih memilih untuk sedikit kontemplatif. Kekuatan lokalitas Melayunya, boleh jadi akan kian terkuak ketika mulai ia temukan kenikmatan bertuturnya yang sesungguhnya.

Lalu bagaimana kelak perjalanan sastra Riau masa depan? Sastra Riau yang berjalan dalam sejumlah problem “kemiskinan” yang belum dapat dientaskan: miskin komunitas sastra, miskin kritikus sastra, miskin media sastra, miskin forum diskusi sastra yang menyebabkan miskinnya polemik sastra, miskin iven-iven sastra, miskin peminat, penikmat, dan pembaca sastra, miskin semangat untuk menembus media sastra di luar Riau, dan juga miskin penulis sastra yang produktif-inovatif, berdedikasi alias tunak, dan sejumlah kemiskinan yang lain? Mari kita jawab bersama.***

Ihwal Regenerasi Sastra Riau (I)

Marhalim Zaini
http://www.riaupos.com/

(Bagian Pertama)
Bahwa Riau memiliki sejarah kesusastraan yang cukup panjang dan monumental, adalah sebuah fakta yang tak dapat dinafikan. Entah itu tersebab soal bahasa Melayu yang potensial sekaligus strategis posisinya dalam pembentukan arus komunikasi sosio-kultural maupun politik bangsa ini, ataukah memang karena kekuatan tradisi lisan sebagai sumber alami yang merangkai serta mengungkai narasi-narasi dalam berbagai hikayat dan syair, yang lahir dan tumbuh bersamaan dengan lahir dan tumbuhnya kebudayaan Melayu itu sendiri, ataukah sebab-sebab yang lain. Yang pasti, berbagai nama dari berbagai tingkatan generasi sejak abad ke 16 dan 17, terus saja lahir. Sebut saja nama-nama macam Raja Haji Ahmad, Raja Ali Haji, Raja Zaleha, Raja Haji Hasan, dan sejumlah nama lain, yang banyak menulis syair dalam lingkungan kerajaan. Ada pula sebuah “komunitas” yang bergerak dalam koridor “perlawanan” kebudayaan bernama Rusydiah Klub di penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang melahirkan Raja Ali Kelana, Hitam Khalid, dkk. Hasan Junus, saya kira benar, bahwa para penulis tersebut, dari generasi ke generasi, seolah-olah hendak menegaskan bahwa “segala sesuatu bertolak dari bahasa, semua tercermin dalam bahasa; kesetiaan dan pembangkangan, begitu juga rindu dan benci terungkap di dalamnya. Pada bahasalah martabat dipertahankan sekuat dapat” (2002).

Sampailah pula pada masa-masa berikutnya. Masa-masa di mana apa yang populer disebut sebagai “sastra modern” mulai tumbuh dan berkembang. Penulis/pegarang Riau terus membuka peta-peta baru dalam wilayah kesusastraan (di) Nusantara dengan segala dinamikanya. Soeman Hs (1904), tonggak yang ditancapkan demikian jelas dan tegas, genre cerita pendek (bahkan mini), dengan gaya detektif, humor, dan kental lokalitas ke-Melayuannya. Meski, seturut dengan catatan UU Hamidy (1994), ada masa tenggang di mana dari tahun 1940-an sampai 1960-an (sekitar 30 tahun) Riau tidak mencatat munculnya para penulis (khususnya penyair), walau kegiatan sastra tak serta merta menjadi tiada. Tahun 1970-an, sederet nama pun kemudian menandaskan kiprahnya yang lebih luas. Sosok Sutardji Calzoum Bachri (SCB—meski telah bergerak aktif menulis sejak masih mahasiswa Universitas Padjadjaran Bandung di tahun 1960-an, dengan menjadi redaktur Indonesia Ekspress dan Duta Masyarakat) mencuat terutama ketika kredo kepenyairannya (1973) yang menghadirkan “pembongkaran” dan inkonvensionalisasi di bidang puisi (dapat ditengok dalam buku kumpulan sajak O Amuk Kapak). Sosok lain adalah Hasan Junus (HJ), yang juga di tahun 1960 kuliah di universitas yang sama dengan Sutardji, yang giat menggali dan memperdalam berbagai bahasa Eropa. Sehingga karya-karya Hasan Junus, seperti bergerak eksploratif dalam “wilayah sunyi” kebudayaan Melayu dan keluar dengan semangat “kontemporer” yang “liar”. Bacaannya yang luas terhadap karya-karya asing, membuat esai-esainya dapat membuka bilik-bilik baru bagi pemahaman kita terhadap universalitas sekaligus kompleksitas dunia sastra. Dua sosok ini (SCB dan HJ) hemat saya, telah menegakkan tonggak-tonggak generasi sastra Riau yang kokoh.

Nama-nama lain, dengan kecenderungan dan kekuatan yang berbeda, ada Ibrahim Sattah, Idrus Tintin, Ediruslan Pe Amanriza, BM Syam, Iskandar Leo (Rida K Liamsi), Rustam S Abrus, Sudarno Mahyudin, Syamsul Bahri Judin, Tien Marni dan Taufik Efefndi Aria (sekedar menyebut sejumlah nama). Generasi berikutnya muncul Dasry Al Mubary, Al Azhar, Taufik Ikram Jamil, Fakhrunnas MA Jabbar, Husnu Abadi, A Aris Abeba, Mostamir Thalib, Eddy Akhmad RM, Sutrianto, Kazzaini Ks, Abel Tasman, Syaukani Al Karim, Gde Agung Lontar, Nyoto, dan sejumlah nama lain.

Dalam perjalanan kerja kreatifnya, para penulis tersebut di atas, sebagaimana juga dalam dinamika kreativitas berkesenian di mana pun, tentu mengalami pasang surut. Ada sejumlah nama yang masih tetap mencoba untuk bertahan dengan terus melahirkan karya-karya kreatif, dan ada juga sebagian besar yang perlahan-lahan menjauh dari gerak konstelasi sastra di Riau. Ada banyak sebab tentunya, bagi yang memilih untuk “menjauh” selain faktor “seleksi alam.” Dan bagi penulis yang tetap bertahan, pasti juga punya berbagai motivasi, juga berbagai alasan. Kalau kita tarik dari generasi 1970-an, nama SCB dan HJ, masih terus bergaung. SCB dengan karya-karyanya (yang meski tak cukup banyak) tapi monumental. Buku kumpulan esainya yang ditulis sejak tahun 1980-an berjudul Isyarat, terbit di tahun 2007. Buku ini, bagi saya, adalah semacam penegasan tentang ‘pergolakan’ dimanika pemikiran sastra SCB dari dulu sampai kini, serta membuktikan bahwa dia memang sangat tunak di dunianya, bahkan dalam pilihan-pilihan hidupnya sekalipun. Tak ada ambisi dalam hidupnya untuk memilih yang lain, selain menjadi penulis, menjadi sastrawan. Demikian pula HJ, selain karya kreatif, sampai hari ini pun dapat terus kita baca pemikiran-pemikirannya baik dalam kolom “Rampai” setiap Ahad di Harian Riau Pos, maupun dalam kerja pengabdiannya mengelola Majalah Budaya Sagang. Sebuah pengabdian yang panjang, yang tak gampang untuk dapat bertahan, jika kita bandingkan dengan generasi-generasi setelahnya.

Generasi berikutnya yang masih dapat kita nikmati karya-karyanya dan turut menyempal dalam gairah penciptaan generasi terkini, adalah Rida K Liamsi, selain Sudarno Mahyudin. Rida, setelah buku kumpulan puisi Tempuling-nya terbit di tahun 2005, semangatnya untuk terus melahirkan karya dibuktikan dengan kembali menerbitkan sebuh novel berjudul Bulang Cahaya (2007). Menjadi pengusaha, agaknya cukup memberi pengaruh terhadap produktivitas Rida dalam berkarya, meski kemudian dapat tergantikan dengan perhatian besarnya terhadap kehidupan dan perkembangan kebudayaan (terutama sastra) di Riau. Sementara Sudarno Mahyudin, tampak cukup kuat bertahan dengan menghasilkan sejumlah karya berupa skenario film dan novel. Cinta dalam Sekam adalah roman sejarahnya yang terbit tahun 2005. Selain itu, ada nama Husnu Abadi yang sempat menerbitkan buku di tahun 2000-an, di antaranya adalah Lautan Zikir (kumpulan puisi). Di antara itu pula, sesungguhnya Riau punya satu nama yang buku cerpennya terakhir diterbitkan oleh Yayasan Sagang berjudul Sebuah Perjalanan, yakni Syamsul Bahri Judin.

Ditarik lebih dekat, ada Taufik Ikram Jamil dengan karyanya terakhir adalah Hikayat Batu-batu (kumpulan cerpen). Belakangan karya-karyanya sulit ditemukan. Saya kira, publik sastra, rasa-rasanya masih terus merindukan karya-karya Taufik, yang cukup menonjol dalam konstelasi sastra Indonesia. Namanya kerap dicatat dalam berbagai pembahasan tentang karya-karya sastra yang bernafaskan lokalitas. Selain karya-karyanya memang banyak meraih penghargaan, juga karena di masa awal kepenulisannya, Taufik sangat aktif menyerang media massa. Selain Taufik, yang masih tampak mengayuh dan berupaya membongkar semangat lama adalah Fakhrunnas MA Jabbar. Kumpulan cerpennya Sebatang Ceri di Serambi, sempat masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award 2007. Karya sebelumnya ada kumpulan sajak Airmata Barzanji (2005) dan Jazirah Layeela (kumpulan cerpen). Artinya, Fakhrunnas masih terus menulis, meski dengan kadar produktivitas yang menurun, dengan sekali dua dimuat di sejumlah media nasional, macam Kompas, Media Indonesia, dan Jawa Pos. Hemat saya, kedua sosok ini, Taufik Ikram Jamil dan Fakhrunnas MA Jabbar, adalah wakil dari generasi mereka yang gaung namanya masih cukup “mengganggu” signal gerak penciptaan sastra generasi terkini. Pergaulan sastra mereka cukup luas, terutama (sekali lagi) karena mereka dulu memang tekun menyerang media massa, yang kemudian membuat nama mereka dapat tempat dalam konstelasi sastra Indonesia. Soal kualitas, agaknya kita serahkan saja pada yang “berwajib”, alias kritikus sastra.

Sementara itu, saya kira, sastra Riau juga cukup banyak berterima kasih kepada Abel Tasman, misalnya, karya-karyanya yang unik (seperti dalam Republik Jangkrik), juga (pernah) cukup dapat tempat dalam dunia sastra di Riau maupun di Indonesia. Cerpen-cerpennya kerap menghiasi rubrik budaya Kompas beberapa waktu lampau. Khusus dalam genre cerita anak, hemat saya, Abel Tasman telah menancapkan prestasinya dengan baik di tingkat nasional. Selain Abel, ada Gde Agung Lontar, yang sampai kini karya-karyanya sesekali nampak masih terus mengisi ruang budaya di Riau Pos. Ada pula sebuah nama penulis perempuan kita, Herlela Ningsih, yang di awal tahun 2000-an cukup bersemangat untuk menerbitkan sejumlah buku antologi bersama, berjudul Musim Berganti, Musim Bermula, Kemilau Musim, dan Pesona Gemilang Musim. Hemat saya, penting bagi kita untuk mencatat perjuangan Herlela ini. Penting karena, selain buku-buku ini akan jadi salah satu referensi dunia sastra kita, juga penting untuk menengok perkembangan para penulis perempuan kita (meski belum cukup representatif), terutama di Riau yang sangat sedikit jumlahnya. Sayangnya, kenapa karya-karya Herlela kini sulit ditemukan, juga karya-karya sebagian besar penulis perempuan yang terangkum dalam antologi tersebut. Entahlah.

Saya kira, publik sastra Riau juga agaknya merindukan kiprah para sastrawan angkatan 1980-an, yang kini stagnan, dan pernah melahirkan karya-karya terbaiknya di masa lalu, seperti A Aris Abeba dalam Ombak Karimun, Syaukani Al Karim dalam Hikayat Perjalanan Lumpur, atau kembali mengayuh karya antologi bersama dalam Blak Blak Duka (1983), Rerama (1987), Jalan Bersama (1992), Menggantang Warta Nasib (1992), Teh Hangat Sumirah (1992), dll.

Generasi Sastra Riau Mutakhir

Menderetkan kembali nama-nama di atas, bagi generasi sastra Riau terkini, termasuk saya sendiri (terutama angkatan 1990-2000-an), adalah untuk membaca dengan cermat, membuat catatan-catatan, membolak balik hasil karya kerja kreatif para sastrawan generasi terdahulu, terutama dalam konteks mempelajari fenomena pasang surut dinamikanya. Dengan begitu, akan dapat dengan sedikit mudah untuk mengira-ngira di mana posisi generasi sastra Riau terkini, terutama dalam hal capaian-capaian prestasi karya, baik dalam pergaulan sastra maupun soal capaian estetika.

Dalam pengamatan dan catatan saya, generasi sastra Riau kini masih terus bergairah. Meski tentu saja akan berbeda kadarnya serta paradigmanya dengan gairah yang terjadi pada generasi angkatan sebelumnya. Gairah itu dapat ditengok dari bagaimana karya sastra terus saja diciptakan dan terus saja bermunculan, terutama di media massa, dan juga dalam bentuk penerbitan buku-buku sastra. Fokus saya dalam tulisan ini adalah melihat perkembangan produktivitas para penulis Riau terkini, lewat karya-karya yang muncul tersebut. Selain juga hendak memaparkan sejumlah analisa tentang problematika yang dihadapi, dan dinamika konstelasinya secara umum.
Kita harus memulai menyebut beberapa nama penulis Riau yang karya-karyanya hadir lebih awal, meski tak dapat pula diketahui secara pasti kapan mereka mulai memublikasikan karya-karyanya. Ada nama Hang Kafrawi, Murparsaulian, Griven H Putra, Hary B Kori’un, Olyrinson, Musa Ismail, Saidul Tombang, dan Fitrimayani (untuk menyebut sejumlah nama). Nama saya sendiri, sesungguhnya masuk dalam deretan nama tersebut. Namun untuk lebih menjaga obyektivitas, dan agar tak bias pembacaan saya, dan tak terkesan narsis, maka saya memilih untuk tidak menyebutnya dan memasukkannya dalam tulisan ini. Sejumlah nama di atas, hemat saya, sampai kini masih dapat kita baca pergerakan gairah kreatif menulisnya, meski tentu dengan kadar potensi yang berbeda-beda dan jangkauan keterbacaan yang berbeda-beda pula. Rata-rata mereka juga memilih media massa cetak (koran dan majalah) sebagai media publikasi karya-karyanya.

Hang Kafrawi, karya-karyanya berupa puisi, cerpen, dan naskah drama dapat kita apresiasi dalam sejumlah buku, baik tunggal maupun antologi bersama. Di antaranya ada Orang-orang Kalah (2002), dan terakhir buku kumpulan sajak Membaca Riau (2003). Kegelisahan besar yang dimiliki oleh Kafrawi untuk terus menulis (sebagaimana yang kerap ia ceritakan pada saya), sesungguhnya dapat membawanya ke dalam pergaulan sastra yang lebih luas, terutama jika dilihat dari proses kreatif menulisnya yang telah cukup lama, dengan sejumlah fase perkembangan yang telah dilampauinya. Sehingga bisa sangat mungkin karya-karyanya juga dapat tersebar ke berbagai media. Teriakan-teriakan kepediahan, pun hentakan-hentakan kemarahan yang berkejaran dalam narasi-narasi tentang Riau, yang dibangun Kafrawi dalam sajak-sajaknya, adalah kekuatan sekaligus kelemahan yang kerap tak bisa ia bendung pelepasan emosionalnya. Tapi bahwa ia pernah menyusun sebuah buku kecil yang berisi cerita-cerita khayal Yong Dolah, dengan semangat dekonstruksi, dan Melayu yang panjang akal, adalah sebuah “jalan lempang” menuju eksistensi. Tinggal bagaimana kemudian menetapkan dan memantapkan diri.

Pada Murparsaulian, saya justru melihat ada semangat yang terpendam, yang tak padam. Mur masih menulis puisi dan cerpen, juga mencoba merangkai novel (sebagaimana juga yang pernah ia perlihatkan pada saya), di tengah kesibukannya bekerja di dunia jurnalisme televisi (kalau ini bisa dijadikan sebuah alasan). Bahwa buku tunggalnya belum juga lahir, saya kira itu soal kesempatan saja. Akan tetapi, bahwa karya-karyanya (yang tersimpan di laptop) itu harus tersebar dan dibaca penikmat sastra, itu menjadi penting. Ketika cerpennya sempat dimuat di Majalah Sastra Horison beberapa waktu lalu, saya menaruh harapan besar bahwa ia akan bangkit untuk terus menyerang media dengan karya-karya terbarunya. Namun, agaknya Riau menawarkan godaan-godaan yang lain, dengan berbagai pilihan yang menyibukkan. Selain Murparsaulian, nama Griven H Putra sesungguhnya telah lebih dulu hadir dengan cerpen-cerpennya. Terutama ketika dulu cerpennya sempat dimuat di media Jakarta. Selain terangkum dalam sejumlah antologi bersama, cerpen-cerpen Griven dapat dibaca dalam buku tunggalnya berjudul Tenggelam (Telindo, 2005). Agaknya, di buku ini dapatlah kita telusuri perjalanan kreatifnya dalam penciptaan dunia cerpen sejak awal. Kekuatan bertuturnya, dengan mengusung tema-tema lokal (Melayu), membuat cerpen-cerpen Griven berkarakter. Bahwa kini, cukup sulit menemukan cerpen-cerpen terbaru Griven dalam berbagai media publikasi sastra (selain sebuah cerpen dalam antologi bersama Loktong), adalah satu soal yang patut dipertanyakan. Tapi, bahwa Griven masih terus menyimpan risau untuk tetap terus berkarya (sebagaimana juga yang pernah ia katakan langsung pada saya), adalah satu soal yang patut kita sokong. (Bersambung)

Minggu, 25 Januari 2009

Perjalanan Sastrawan Dwinegara

Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/

Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China, kiranya benar pepatah itu adanya. Karena dari negeri panda tersebut, banyak ilmu pengetahuan yang bisa diserap. Misalnya saja pepatah yang sarat akan arti dan makna. Belum lagi nilai sastra yang dibuat oleh para pujangga terdahulu.

Karya-karya sastra Indonesia-Tionghoa dianggap oleh salah satu kritikus sastra, Maman S Mahayana sebagai perintis dalam perkembangan sastra modern di Indonesia. Dosen Fakultas Sastra Universitas Pakuan, Bogor ini mengungkapkan pula percetakan dan penerbitan yang awalnya dikuasai sepihak oleh pemerintah Belanda menjadi salah satu bentuk penyebaran sastra-sastra keturunan ini.

“Mereka menerbitkan novel-novel secara berkala dan membuat para pembacanya berlangganan. Dengan cara inilah mereka mampu melebur ke dalam dunia sastra di Indonesia,” tambah pria kelahiran Cirebon, 18 Agustus 1957 itu.

Sejarah pertumbuhan sastra peranakan Tionghoa tidak dapat dipisahkan dari bisnis penerbitan dan percetakan di Hindia Belanda. Hal ini terlihat dari catatan sejarah yang diungkapkan oleh Maman, sejak tahun 1800-an, mereka memiliki kesadaran pentingnya berbahasa Belanda dan Melayu untuk membaca berita berkala demi kebutuhan bisnis bagi mereka yang mayoritas sebagai pedagang.

Karena pada waktu itu, berita berkala memuat pula jadwal pemberangkatan dan kedatangan kapal, daftar harga komoditas pertanian sampai ke pengumuman lelang berikut daftar harga barang dan iklan. Percetakan swasta kemudian mengembangkannya dengan menerbitkan suratkabar (courant).

Hegemoni Belanda

Pada masa kolonial, pemerintah Belanda dengan hegemoninya seolah-olah menjadi barometer kesusastraan Indonesia. Bahkan secara sepihak sastra peranakan Tionghoa tidak diperhitungkan sebagai salah satu bentuk warna di khasanah sastra Indonesia. Perbedaan tingkatan bahasa Melayu dijadikan patokan dalam citra sastra, dan sastra peranakan menjadi termaginalkan karena menggunakan bahasa Melayu rendahan. Bahkan Maman pun mengatakan, Balai Pustaka dilahirkan untuk membendung pengaruh nasionalisme yang ditiupkan para penerbit-penerbit swasta yang didominasi peranakan Tionghoa.

Tan Lioe Ie, penyair asal Bali juga menilai dengan bahasa Melayu kasar yang digunakan membuat karya sastra peranakan dianggap sebagai ‘bacaan liar’ . Padahal itu bisa saja merupakan pilihan bahasa untuk kemudahan sosialisasi. Sementara bila diukur estetikanya, menjadi relatif, mengingat karya-karya yang diunggulkan tidak menggunakan bahasa pasar.

Maman memetakan tiga jenis tema yang diangkat para sastrawan peranakan Tionghoa dalam berkarya. Pertama, tema yang berorientasi pada tanah leluhurnya, seperti terjemahan karya sastra asli dari Tiongkok (Sam Kok). Yang kedua adalah tema yang melingkupi seputar daerah tempat tinggalnya, maka karyanya menggambarkan semangat pembauran yang terjadi di kota-kota di Indonesia, seperti karya novel Boenga Roos dari Tjikembang (1927) oleh Kwee Tek Hoay yang piawai menggambarkan hubungan cinta mendalam seorang pria Tionghoa dengan perempuan Sunda yang tidak lazim di masa itu.

Dan tema ketiga adalah semangat perjuangan yang ditularkan oleh sastrawan melalui tulisannya yang mengkritisi arogansi pemerintah kolonial yang hanya berani dikumandangkan penerbit swasta. Digambarkan Maman melalui novel Lo Fen Koei (1903) karya Gouw Peng Liang, yang menceritakan tentang seorang pemegang hak monopoli candu (patcher opium) kaya-raya bernama Lo Fen Koei. Lo Fen Koei yang jahat dan penuh ambisi merencanakan sebuah pembunuhan karena ingin mempersunting gadis cantik dari sebuah keluarga pribumi miskin. “Novel karya peranakan berbeda dengan terbitan Balai Pustaka yang hanya mengangkat tema heroik dan tidak pernah mengkritik feodalisme,” ujar editor lepas beberapa buku sastra ini.

Pengaruh yang cukup jelas dari tanah leluhur tertoreh dengan merebaknya cerita silat hasil terjemahan. Menurut Maman, bahkan cerita rakyat Panji asal Jawa pun tercium embusan orientalnya.

Aktivitas pengarang sastrawan peranakan tidak pernah mati, bahkan mereka tetap hidup hingga kini. Banyak di antaranya tidak tercium oleh publik bahwa mereka adalah keturunan Tionghoa karena telah berganti nama, seperti Abdul Hadi W.M., Marga T(joa), Mira W(ong), Eka Budianta, N. Riantiarno, Basoeki Soedjatmiko, Wilson Tjandinegara, The Eng Gie, Veven Sp. Wardhana, F.X. Rudy Gunawan, Soeria Dinata, Stefani Hid, dan Agnes Jessica. Di samping mereka, ada juga penulis lain yang lebih memfokuskan perhatian pada dunia kritik sastra, yaitu Arief Budiman (Soe Hok Djin) dan Ariel Heryanto.

Asimilasi Sastra

Lebih lanjut Maman mengungkapkan bahwa sesudah peristiwa G30S 1965, tekanan terhadap kaum peranakan Tionghoa untuk berasimilasi dengan masyarakat pribumi semakin besar. Akibatnya, para sastrawan peranakan pun berusaha mengidentifikasikan diri dengan sastra Indonesia. Acapkali karya mereka, baik dilihat dari segi bahasa, bentuk, maupun tema, tidak bisa dibedakan lagi dengan karya para pengarang pribumi.

Hal ini amat disayangkan oleh Tan Lioe Ie yang menyatakan saat rezim Soeharto berkuasa, xenophobia terhadap kultur Tionghoa membuat kegiatan bersastra makin tabu, sehingga masyarakat keturunan diarahkan sebagai pedagang. “Terjadi semacam garis putus dalam perkembangan sastra modern waktu itu, yang mengakibatkan kita kehilangan satu lintasan generasi,” ujar penyair yang menetap di Bali ini.

Lahirnya sastrawan-sastrawan peranakan generasi terkini seperti Sapardi Djoko Damono, Oey Sien Tjwan, Wendoko, Adri Darmaji di antaranya dianggap Tan Lioe Ie patut diperhitungkan sebagai bagian dari warna kekayaan multikultural sastra Indonesia. Meski tak banyak namun hal ini dinilai wajar oleh Tan Lioe Ie karena kultur ini sempat tak mendapat tempatnya.

“Seperti mencari aktivis yang berasal dari keturunan saja, mungkin ada tapi tidaklah banyak,” ujar penyair yang banyak mengeksplorasi ritual dan mitologi Tionghoa untuk puisi berbahasa Indonesia yang ditulisnya. Bahkan Maman juga berpendapat, Indonesia ikut berpengaruh terhadap diaspora kebudayaan Tionghoa di negara-negara Asia lainnya, seperti Singapura, Malaysia, China, Hongkong, dan lain sebagainya.

Secara kualitatif, kedua sastrawan ini memandang karya sastra peranakan sebanding bila disejajarkan dengan nama-nama sastrawan besar Indonesia. Bahkan Maman secara gamblang mengatakan novel Lo Fen Koei tak kalah dengan roman Siti Nurbaya karangan Marah Rusli.

Mengkritisi Kritik Sastra

Sjifa Amori
http://jurnalnasional.com/

Harus terus digairahkan, di antara menderasnya karya-karya sastra Indonesia yang bermunculan.

Suatu kali, HB Jassin pernah berkata, "Seorang kritikus adalah manusia biasa." Kalimat yang dilontarkan kritikus sastra terkemuka ini dituliskan kembali dalam Resume Mata Kuliah Kajian Puisi: Sajak Mengundang Asosiasi, Bukan Interpretasi, pada blog komunitas anak sastra.

Apa kiranya yang membuat HB Jassin mengutarakan pernyataan ini? Apakah karena tuntutan terhadap seorang kritikus, terutama sastra, begitu beratnya sehingga membuat kritikus merasa terbebani. Seperti kata Kris Budiman, kritikus toh bukan nabi yang membawa pesan dari Tuhan untuk manusia. Jadi, bagaimana bisa kritikus diminta menjawab semua persoalan sastra. Meski dalam prakteknya, pengkritik haruslah orang yang memiliki wawasan jauh lebih luas daripada orang awam ataupun sastrawannya sendiri.

"Syarat mutlaknya jelas wawasan yang luas. Dia juga harus mampu berpikir interdisipliner," kata sastrawan dan dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Ibnu Wahyudi. Ini menjadi wajib ketika kritik sastra diharapkan memberi kontribusi kepada perkembangan sastra itu sendiri.

Tentunya syarat ini juga untuk mencegah adanya kritik sastra yang tidak memadai. Yaitu yang diistilahkan Nensi Suherman dalam www.kartunet.com tergolong kritik sastra memprihatinkan. Karena kritikus yang menulis kritik sastra tidak mendalami bidangnya secara sungguh-sungguh. Belum lagi isi kritik sastra yang kurang ilmiah, dan lontaran berupa kritik sastra yang obyektif, intuitif, serta pesan-pesan, lebih banyak menceritakan isi karya sastra tanpa ulasan yang harusnya menjadi faktor utama.

Padahal, ada masanya ketika kritik sastra bahkan mampu mengungkap keaslian sebuah karya. Karena sejak zaman dulu, banyak fenomena di mana karya yang dihasilkan sebenarnya merupakan sebuah bentuk penceritaan kembali dari satu karya yang telah hadir lebih dulu (already told). Dalam hal ini, kritik sastra berfungsi sebagai penengah antara karya asli dan kebudayaan pendukungnya. Hal ini dikemukakan dalam rosiadha.wordpress.com yang menulis Perkembangan Kedudukan Kritik Sastra dalam "Criticism as a Secondary Art" karya Murray Krieger.

Kritik seni, menurut Saut Situmorang yang memperluas definisi kritiknya kritikus Amerika MH Abrams, dinyatakan sebagai studi analisis bersifat interpretatif-evaluatif atas karya seni ataupun seorang seniman.

JJ.Kusni, menulis di Paris pada Februari 2004, seperti dimuat dalam www.freelists.org, mengenai kritik modern. Khususnya metode retrospektif Denis Diderot, penulis dan pemikir besar Perancis abad XVIII. Dengan metode tersebut, diharapkan kritik tidak terlalu jauh dari kenyataan. Boleh jadi dengan metode ini, kata JJ. Kusni, kita bisa membaca isi ide yang disampaikan penulis "sebelum" dan "sesudah karya itu ditulis".

Boleh jadi, karena adanya kaidah-kaidah tertentu yang tak tertulis dalam mengkritisi karya sastra dan ukuran kategori dalam kritik sastra, maka kritik sastra jadi tidak begitu diminati. Malah, Saut dengan sangat prihatin menyatakan tentang ketiadaan kritik sastra, apalagi sebuah tradisi kritik sastra, yang mendampingi perjalanan sejarah sastra berbahasa Indonesia. Benarkah sudah sekritis ini kondisi kritik sastra Indonesia?

Bekal Pengetahuan

"Saya tidak bersepakat dengan Saut Situmorang yang menyatakan kritik sastra telah mati. Kita memiliki tokoh-tokoh semacam Kris Budiman, Hudan Hidayat, Arif B Prasetyo, Maman S Mahayana, Nirwan Dewanto, dan lain-lain. Kesemuanya terus menulis untuk mewujudkan kritik sastra yang sehat. Berusaha memasuki teks sastra untuk diapresiasi. Ditafsirkan. Lihat saja tulisan Kris Budiman yang membahas puisi Mashuri dan Iyut Fitra. Tulisan tersebut cukup mampu menelaah dan memposisikan puisi dalam kerangka struktural. Dan setelah melalui penelaahan, baru diketahui, puisi Mashuri dan Iyut Fitra masih lemah dalam menjalin logika tekstual," kata kritikus sastra Ribut Wijoto.

Kris Budiman sendiri memilih untuk tidak memusingkan perkara siapa yang mampu, bisa dan boleh, serta akan mengkritik karya seni. Baginya, kritikus adalah juga pembaca. "Siapa saja yang pernah belajar kritik sastra silahkan menulis kritik sastra. Yang penting punya bekal keterampilan pengetahuan untuk membuat itu." Artinya, bagi Kris, tidak masalah apakah sang kritikus adalah jebolan Fakultas Sastra atau justru pelaku sastranya sendiri.

Secara jumlah, kritik sastra yang ditulis kalangan akademisi jauh lebih banyak. Sayang, kritik sastra yang akademik ini dianggap tidak banyak memberikan pencerahan terhadap pembaca sastra dan terhadap kesustraannya sendiri.

"Ada betulnya memang anggapan itu. Terutama kalau tolak ukurnya adalah media massa cetak, seperti koran, majalah, dan jurnal khusus seperti Horison. Karena yang muncul di media ini kan pasti lebih banyak praktisi. Yaitu sastrawan yang juga melakukan kritik. Situasi ini sebenarnya tidak ideal. Karena bagaimanapun ada unsur subyektif yang kemudian tak mampu lagi dibedakan apakah dia sedang mengkritik atau sedang memuji teman komplotannya atau sedang melakukan studi sastra. Karena kalau bicara mengenai kritik kan sebenarnya berbicara mengenai sebuah disiplin. Keilmuan yang berkembang kan di perguruan tinggi. Masalahnya tidak banyak orang di perguruan tinggi yang menerapkan kritik itu mendapatkan publisitas dari media massa cetak umum," kata Ibnu Wahyudi pada Jurnal Nasional.

Permasalahan makin kompleks ketika akademisi sastra yang semestinya menjadi pihak "ideal" dalam mengkritisi sastra karena dianggap kuat secara teori dan bebas keberpihakan justru tak pernah mengkritik dengan sungguh-sungguh.

Mayoritas Sampah

Seperti yang digambarkan oleh kritikus sastra Ribut Wijoto bahwa sampai saat ini, belum ada skripsi yang mampu mempresentasikan kritik sastra secara jernih dan argumentatif. "Mayoritas adalah sampah. Karena kesadaran mahasiswa sastra terhadap kritik sastra amat rendah. Mereka menyikapi skripsi sebagai tugas. Hal lain adalah kemampuan dosen. Banyak dosen sastra Indonesia yang hanya sibuk sebagai pegawai negeri. Mereka enggan mendatangi forum-forum sastra. Keilmuan mereka juga tidak beranjak. Baca buku teorinya hanya ketika masih kuliah. Artinya, dosen tidak mampu membimbing mahasiswa untuk menciptakan karya kritik yang cemerlang. Tapi tidak bisa dipungkiri, pasti ada satu atau dua skripsi yang memiliki kekuatan kritik sastra. Persoalannya, apakah pihak penerbit mau susah payah menyisir ke kampus-kampus."

Belum lagi miskinnya buku teori kritik sastra. Dalam literatur Kritik "Sakit' Sastra Indonesia dalam Jurnal Kebudayaan The Sandour edisi III 2008 di situs www.sastra-indonesia.com, Liza Wahyuninto menjelaskan bahwa hingga saat ini, kesusastraan Indonesia dapat dikatakan terus saja miskin buku-buku teori kritik sastra. Buku-buku teori yang ada, kebanyakan buku terbitan lama dengan pembicaraan yang tidak lagi mutakhir. Buku-buku terbitan lama itu pun sulit didapat karena jumlahnya sedikit dan dimiliki oleh kalangan terbatas.

Di sinilah Ibnu Wahyudi melihat adanya ketimpangan antara kritik sastra oleh pelaku sastra dan oleh sarjana sastra. Yaitu bahwa banyak dari kalangan sarjana sastra tidak punya sikap melihat sastra sebagai bagian kehidupan intelektual mereka.

"Banyak faktor yang menyebabkan kritik sastra ditinggalkan jauh di belakang oleh karya sastranya. Mungkin saja karena media untuk kritik sastra terbatas. Atau karena pendidikan sastra kurang baik. Dan faktor-faktor ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu sistem. Atau ada kondisi lain seperti persoalan ekonomi yang membuat kritik tidak ditulis orang. Jadi jangan menyalahkan akademisi atau sastrawan yang mengkritik. Boleh aja sastrawan menulis kritik seperti pelukis mengomentari pelukis lain. Kalau masalah subjektivitas, memang apa sih yang obyektif?" kata Kris Budiman yang tulisan-tulisannya, terutama mengenai sastra, gender, dan media, dipublikasikan di beberapa surat kabar, majalah, jurnal, dan buku bunga rampai.

Karena keterkaitan yang disampaikan oleh Kris ini, jadi terlihat bahwa tidak sesederhana itu menyimpulkan mengenai perkembangan kritik sastra di dunia perguruan tinggi. Faktanya, Ribut bersama teman-teman di Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) termasuk dari salah satu produk akademik yang mayoritas adalah bekas mahasiswa Sastra Indonesia Unair Surabaya. "Tapi proses kreatif kami lebih banyak berada di luar kampus. Itu artinya, tidak ada keterkaitan langsung antara proses pengajaran dengan proses kreatif. Kami harus menciptakan sendiri forum-forum diskusi sastra. Tapi apakah kami ada kalau tidak ada Fakultas Sastra. Hal ini masih perlu diperdebatkan lagi."

Ketika kritik sastra akademik ternyata perlu ditambahi juga oleh proses kreatif yang seringkali malah membuat sang sarjana sastra mencemplungkan diri dalam pembuatan karya sastra. Itu artinya batas antara kritik sastra akademik dan non-akademik menjadi kabur. Mungkin ini merupakan bagian dinamika dari kritik sastra di Indonesia. Sebagaimana dinamika di mana sebuah kritik lama-lama menjelma menjadi karya sastra itu sendiri, seperti yang diungkapkan Ibnu.

Mencari Kritik Argumentatif

Tapi rupanya dinamika semacam ini terjadi juga di negara-negara Barat. Atau, lebih tepatnya, apa yang terjadi pada kritik sastra di Indonesia memang segala sesuatu yang terjadi di luar negeri. Bahkan, teori-teori yang dipakai dalam sebuah kritik sastra adalah teori yang berasal dari Barat. Biar bagaimana pun, budaya kritik sendiri memang bukan kepunyaan bangsa ini. Wajar kalau banyak dari kontennya memang mengacu ke Barat.

Pada pertengahan sampai akhir dasawarsa 1980-an, pernah ramai dibincangkan kemungkinan dilahirkannya kritik sastra Indonesia yang khas bercirikan keindonesiaan.

Beberapa istilah pun kemudian bermunculan. Satyagraha Hoerip, misalnya, melontarkan gagasannya dengan mengusung istilah Teori dan Kritik Sastra PDN (produksi dalam negeri). Yang lain menyebutnya dengan teori dan kritik sastra yang khas Indonesia. Apa pun istilahnya, kata Maman Mahayana dalam http://mahayana-mahadewa.com, telah ada perbincangan yang membahas perlunya dirumuskan teori dan kritik sastra yang tak lagi berkiblat ke Barat. Maman mengakui kalau teori dan kritik sastra Barat tidak dapat terhindarkan.

"Kalau kita baca karya Danarto dengan pendekatan luar negeri ya nggak cocok. Cuma metode kritik kita pinjam. Tapi, saya kira, meskipun pada tahun 70-an ada perdebatan antara kritik sastra aliran Rawamangun yang diusung dosen sastra UI, M.S. Hutagalung, M. Saleh Saad, dan J.U. Nasution, dan kritik Ganzheit dari Goenawan Mohamad dan Arief Budiman, para pengkritik sekarang juga sudah lupa. Teori ini jarang dipakai waktu mengkritik. Terutama kritik sastra di media massa cetak. Paling di jurnal khusus, tapi itu jarang," kata Ibnu lagi.

Meski begitu, di mata Ribut yang esai sastranya pernah jadi pemenang pertama pilihan Pusat Bahasa Depdiksnas, percobaan apresiasi karya sastra tetap penting. "Semakin banyak apresiasi tentu akan membuat situasi sastra bertambah ramai. Kondusif. Kita memang membutuhkan perspektif dan eksplorasi baru. Itu karena usia sastra modern Indonesia juga belum terlalu tua. Kita bisa menuliskan kritik sastra secara argumentatif dan mendalam saja sudah bagus. Jadi keinginan untuk menelorkan teori sastra sendiri adalah keinginan yang terlalu berlebihan."

Filsafat Organisme dan Kearifan Ekologis

Afthonul Afif
http://www.korantempo.com/

Setiap kali musim hujan tiba, hampir bisa dipastikan bencana alam pun melanda. Banjir dan tanah longsor di beberapa daerah menjadi penanda bagi datangnya musim hujan tahun ini. Saya sepenuhnya tidak yakin bencana yang telah menjadi rutinitas tahunan itu semata-mata fenomena alam tanpa campur tangan manusia. Saya memastikan bahwa ada yang salah dalam sikap mental kita dalam berinteraksi dengan alam sekitar. Kita harus berani jujur bahwa kita tak lagi memiliki kesadaran ekologis. Atas nama ilmu pengetahuan dan pertumbuhan ekonomi, kita dengan jumawa menempatkan alam sebagai entitas yang bisa ditundukkan dan penyuplai sumber daya yang seolah-olah tanpa batas.

Sayangnya, mempersoalkan sikap mental yang eksploitatif itu acap kali dianggap sebagai tindakan yang sia-sia di negeri ini. Padahal, tanpa berusaha mencari tahu sebab mendasar di balik sikap mental itu, pemecahan masalah terkait dengan pemulihan kerusakan ekologis dan penanganan dampak bencana alam tidak mungkin berdampak komprehensif. Dalam konteks ini, menghadirkan gagasan filosofis, terkait dengan bagaimana kita harus berinteraksi dengan alam, saya pikir tetap relevan untuk disuarkan. Dampaknya mungkin tidak bersifat praktis-fungsional, namun saya pikir tetap penting bagi upaya-upaya untuk menumbuhkan kesadaran bersama betapa urgen dan mendesaknya agenda-agenda penyelamatan ekologi kita agar kelestariannya tidak semakin terancam.

Filsafat organisme

Filsafat organisme barangkali dapat disebut sebagai satu-satunya sistem pengetahuan yang paling radikal mengkritik paradigma sains modern yang materialistis-reduksionistis. Meskipun sistem berpikir ini lahir di awal abad yang lalu, saya pikir tetap relevan untuk dibahas dalam kondisi dunia yang mengkhawatirkan seperti saat ini. Filsafat yang dirintis Alfred North Whitehead ini mencoba melakukan revitalisasi terhadap tradisi ontologi yang dianggap mengalami kebangkrutan, seiring semakin dominannya paradigma keilmuan modern yang semata bertumpu pada ontologi materialisme.

Whitehead yakin bahwa materialisme ilmiahlah yang telah menjadi cikal-bakal lahirnya dominasi manusia atas alam semesta. Watak eksploitatifnya bersifat imanen dalam dirinya, karena melihat dunia hanya sebagai gugusan materi yang statis sehingga dapat dikalkulasi secara eksak. Sebagai reaksi dan tawaran alternatif terhadap materialisme ilmiah yang menghegemoni pikiran dan sains modern ini, Whitehead mencanangkan sebuah aliran filsafat yang ia sebut "filsafat organisme". Filsafat organisme mengedepankan keutuhan, integrasi, di antara jejaring-jejaring realitas dalam bingkai pemikiran sistemik. Dalam Process and Reality (1978), dia mengatakan bahwa tujuan dari filsafat organisme adalah mencanangkan kosmologi baru yang berbasis pada sistem, di mana unsur-unsur pembentuk sistem tersebut bersinergi menciptakan keteraturan yang padu. Artinya, ada kesalingterkaitan di antara unsur-unsur tersebut menciptakan entitas utuh yang tidak sekadar penjumlahan dari unsur-unsur pembentuknya (the whole is not equivalent to the sum of its parts).

Setiap entitas di dunia ini--Whitehead menyebutnya sebagai satuan aktual--memiliki nilai-nilai intrinsiknya sendiri-sendiri, tak terkecuali manusia. Bila manusia hanyalah bagian kecil dari benda-benda dunia, maka tidak otentik lagi mengatakan manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta (antroposentrisme). Manusia hanyalah satuan aktual di antara satuan-satuan aktual lainnya. Dunia, dalam konteks ini, adalah rajutan dari satuan-satuan aktual itu, di mana ia eksis karena dalam dirinya terkandung spirit--yang oleh Whitehead disebut sebagai solidaritas (solidarity). Artinya, meskipun setiap satuan aktual dalam dirinya sendiri merupakan suatu proses penciptaan (self-creation), proses itu bukan merupakan aktivitas yang terpisah dari yang lain.

Pengandaian ontologis tersebut selanjutnya melahirkan pengandaian moral tertentu. Karena manusia hanyalah salah satu penyangga tegaknya dunia, dalam dirinya selalu terkandung kesadaran purba, kesadaran pra-eksistensi, tentang rasa kesatuan dengan satuan aktual lainnya. Dengan demikian, unsur paling awal dan utama yang membentuk kesadaran moral manusia adalah simpati, yang oleh Whitehead dimaknai sebagai perasaan yang sama dengan yang lain. Hal ini dimaksudkan untuk menyingkirkan kecenderungan kesadaran kita untuk melihat diri kita sebagai yang terpotong dari dunia.

Diri ekologis

Refleksi mendalam atas posisi manusia sebagai sub-entitas dari keagungan alam semesta diharapkan akan mampu membangkitkan kesadaran kritis untuk kemudian menunda terlebih dulu setiap klaim atas sentralitas posisi manusia sebagai penentu perkembangan alam semesta. Whitehead menyebut tahapan kesadaran manusia ketika mampu melampaui kekerdilan persepsinya atas semesta, dan kemudian mampu menemukan cara pandang yang utuh dengan seluruh realitas ekologisnya sebagai "diri ekologis". Diri ekologis adalah "diri" yang mempunyai tanggung jawab untuk melestarikan dan menciptakan keselarasan hubungan dengan satuan-satuan aktual lainnya.

Jika dicermati lebih jauh, pemikiran ekologi Whitehead juga merupakan bentuk kritik ganda terhadap tradisi Barat, yaitu terhadap pandangan materialisme ilmiah dan konsep kosmologi agama-agama Semit yang berwatak antroposentris, terutama Yahudi. Letak kritik Whitehead terhadap konsep ekologi Yahudi didasarkan pada anggapan bahwa alam semesta ini dihadiahkan Tuhan kepada bangsa Yahudi untuk ditaklukkan dan dimanfaatkan secara penuh. Manusia bebas berkehendak dalam memperlakukan alam semesta. Pandangan dunia seperti inilah yang menjadi cikal-bakal eksploitasi manusia terhadap alam semesta. Manusia tidak merasa bersalah karena telah mendapatkan legitimasi teologis.

Meskipun banyak kritik dialamatkan pada pemikirannya yang spekulatif itu, terutama dari para filsuf penganut materialisme, tidak bisa diingkari bahwa Whitehead adalah filsuf Barat paling penting yang berkontribusi bagi eksisnya gagasan holistik dalam melihat dunia. Banyak pemikir Barat sesudahnya yang terpengaruh oleh cara berfilsafatnya, sebut saja Arne Naess (penggagas paradigma ekologi-dalam), Fritjof Capra (fisikawan yang mempopulerkan paradigma holistik dalam sains modern), dan David Ray Griffin (penggagas teologi holistik).

Terlepas dari segala kritik yang dialamatkan kepadanya, pemikiran Whitehead telah memberikan sumbangan besar dan warna lain dalam pemikiran filosofis--atau semacam kunci untuk membuka gembok penjara filsafat Barat yang notabene berwatak materialistik-positivistik.

*)Penekun filsafat, tinggal di Yogyakarta.

Kamis, 22 Januari 2009

KENANGAN

S Yoga
Jurnal Cerpen Indonesia Nomor 2, Juni 2002
http://syoga.blogspot.com/

I
Aku benar-benar bahagia hidup di kampung. Aku ingat betul bagaimana bentuk kampung, seluruh kampung seperti barak-barak yang dibangun kaum gelandangan, agak kumuh, tak teratur, dengan bangkai-bangkai perahu di samping rumah, jala membentang di pelataran, seolah kampung kami diselimuti labirin-labirin putih. Sebuah kepompong membungkus kampung. Semua rumah membelakangi laut dan menghadap matahari terbit, setiap pagi seakan ada fajar baru yang menyongsong kehidupan. Rumah-rumah dibangun dari gedek -anyaman bambu, kayu jati, tanah liat, kapur, atau semen merah, dengan atap dahan-dahan kelapa, rumbia, ijuk, hanya sedikit yang mengunakan genting. Semua nampak panas dan menjengkelkan, meski di luar nampak semilir dihembus angin laut. Angin hanya terbang membawa debu, pasir, aroma amis ikan di kerajang, bau busuk bangkai ikan yang terbuang, butiran lembut garam menyelimuti tubuh, terasa pliket dan asin. Hanya pohon-pohon mangga, kepuh, kelapa, kaktus dan siwalan yang tumbuh. Di mana-mana nampak bentangan-bentangan jala, nampan besar dipenuhi ikan tongkol, layur, pe, dorang, tuna, pindang, sardin, bau tai terbakar untuk mengasap ikan, perahu-perahu di pinggir pantai bergoyangan seperti nasib kami, disapu ombak, naik turun berulang kali tak bosan-bosan. Juga, bau arus keringkat orang-orang menyebar di segenap penjuru. Kulit kami hitam legam-lengas, berminyak, rahang menonjol, mata cekung, badan kekar, rambut ikal, dan bertelapak kaki lebar bagai manusia purba.

Jalan menuju kampung masih berpasir dan berkapur, jalan berkelok tajam sebelum Bukit Matahari adalah tanda memasuki wilayah kampung. Begitu memasuki kampung, anjing-anjing mulai menyambut dengan gonggongan, badannya kurus kering, matanya tajam mengancam lawan, giginya siap membetot daging mentah yang akan dikunyah dalam sekejab. Karena banyaknya anjing seringkali kampung kami juga disebut kampung anjing. Anjing-anjing kami adalah anjing penjaga-anjing penjaga yang baik dan berbudi luhur, hingga kampung aman dari segala maling yang datang dari luar. Namun kalau ada maling yang datang dari dalam dan memanfaatkan kesempatan, tak ada yang bisa menjamin pelakunya dapat tertangkap, maling itu hapal dan lihai di daerah sendiri yang begitu ia kenal dan akrabi saban hari. Di gerbang masuk nampak bangunan gapura menjulang berornamen buaya seolah berhala dari masa lalu, entah kenapa buaya menjadi simbol kampung. Padahal di daerah kami tidak ada buaya. Mungkin diambil dari dongeng nenek moyang yang berkembang, dipercaya orang-orang kampung berasal dari buaya. Dulu hamparan tanah kami yang membentang dari semenanjung Perak Laut adalah rawa-rawa yang banyak dihuni para buaya, ikan suro dan burung cucak rawa. Pada suatu hari ada seorang gadis cantik sedang mandi di tepi rawa, sepak terjang gadis yang sedang mandi terlihat jelas oleh seorang perjaka yang sedang berburu buaya, dengan perlahan dan pasti sang perjaka mulai mendekati gadis yang sedang mandi, sampannya ia kayuh perlahan sekali sehingga air rawa tidak beriak dan angin enggan berbisik. Sejarak sepuluh kayuh dayung, gadis yang sedang mandi tersadar dari incaran mata jalang perjaka tampan, dan menjerit-melolong minta tolong, saat itu juga muncul buaya putih yang menghadang gelak langkah sampan sang perjaka, terjadilah perkelahaian hebat, karena buaya putih bukan buaya sembarangan dan sang perjaka juga bukan perjaka sembarangan, perkelahian memakan waktu tujuh hari tujuh malam, tak seorang pun yang memenangkan, bahkan ketika sang perjaka telah dibantu oleh sabahat lamanya, seorang manusia yang menjelma menjadi ikan suro, maka ketika sang perjaka istirahat, ikan suro menggantikan kedudukan sang perjaka melawan buaya putih, perkelahian tak seimbang karena tenaga buaya putih terus terkuras sedang ikan suro dan sang perjaka saling bergantian menyerang, sehingga terdesaklah buaya putih ke arah sungai di semenanjung Galuh, perkelahaian terus berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, antara ikan suro dan buaya putih, -sehingga muncul pendapat dari para ahli mitologi bahwa salah satu takdir kami adalah saling bertikai dan saling membunuh hingga keturunan kami musnah, sedang sang perjaka karena melihat musuhnya tidak lagi melindungi gadis cantik maka gadis cantik itu diterkamnya, hingga beberapa bulan kemudian lahirlah jabang bayi, dan tahun bertambah tahun gadis cantik itu semakin banyak melahirkan anak, maka keturunan dari keturunan dari keturunan dari keturunan mereka adalah para sesepuh kampung kami, begitu cerita kuno itu, namun aku merasa yang buaya, tak lain dan tak bukan adalah sang perjaka, jadi sangat masuk akal monumen buaya itu didirikan dan bukan seekor anjing. Di pinggir pantai ada mercu suar yang dibangun penduduk untuk sinyal kapal dan perahu yang akan melintas di wilayah perairan. Dan ditengah kampung dibangun pilar menjulang untuk dipasang jam dinding maha besar -konon jam ini didatangkan langsung dari Swiss oleh Gubernur Distrik Kota Raja, sebagai penunjuk waktu. Waktu memang akhirnya menjadi bukti bahwa segala yang hidup di dunia terbatasi, fana dan sebentar. Mungkin kalau waktu tak pernah ada dunia akan menjadi surga dan manusia akan bahagia.

Setiap senja datang dan matahari membakar lautan di ufuk barat, seperti mata iblis yang dipercaya penduduk sedang berangkat tidur, tak seorang pun nelayan berani berlayar; para nelayan akan segera pulang atau menghentikan menangkap ikan. Anak-anak berlarian di pinggir pantai menyaksikan mata iblis mengedip sambil melarungkan sesaji: kembang mawar, kenanga, kamboja, daun siwalan, tuak, ikan busuk, kemenyan -begitu yang kami percaya dalam imajinasi kanak-kanak, kami persembahkan buat iblis laut agar segera terlelap tidur tidak murka dan membawa malapetaka. Di saat itu para orangtua hanya duduk-duduk diberanda memandang kosong seakan ada yang hilang terbawa senja, mungkin masa lalu yang mereka sesali, wajahnya bersedih seolah tak mau beranjak tua yang sebentar lagi akan mati. Sungguh kasihan. Sambil sesekali tangan kanannya menuangkan tuak ke gelas bambu, di mana tuak adalah kebanggaan minuman kami, tak ada yang lebih terkenal dari arak tuak buatan kampung kami, tuak dari mancung pohon siwalan dideres hingga mengeluarkan air, diendapkan dan disimpan berminggu-minggu di dalam tanah, uapnya beralkohol tinggi baunya sedap dan tidak lekas bacin.

Kampung kami memang sangat terasing dari dunia luar meski letak kampung berada di pinggir laut, tepatnya di sebuah semenanjung. Umumnya kampung-kampung di pinggir laut yang telah banyak mengalami perjumpaan dengan orang lain yang datang dan pergi, sebagaimana biasanya kampung nelayan terbuka dan bersahabat, namun kampungku justru sebaliknya tertutup rapat seperti perempuan pinangan, hingga orang-orang dengan gampang bertindak kasar bila sedikit saja mendengar kasak-kusuk yang merugikan mereka, tindakan brutal dan kejam saat itu juga akan terlaksana. Pernah suatu kali ayah melabrak Tuan Cuak Kuak yang wajahnya mirip luak dikabarkan menjahili ibu ketika ibu berkunjung ketempatnya. Waktu itu ibu ingin pinjam panci, piring, sendok dan garpu untuk masak dan makan malam, karena tiba-tiba entah hilang atau dicuri orang, panci, piring, sendok dan garpu di rumah lenyap semua seolah menguap. Oh, sungguh kejadian yang menakjubkan. Suatu ketika pernah terjadi sebuah rumah tiba-tiba muncul di kerumunan semak belukar dengan seluruh isi dan perabotnya. Tapi seminggu kemudian rumah itu lenyap pula tak berbekas. Kata orang rumah itu rumah hantu. Apa mungkin saat itu ibu sempat masuk ke rumah hantu dan mengambil panci, piring, sendok dan garpu, yang akhirnya lenyap pula. Waktu aku tanyakan pada ayah, apa benar barang-barang itu milik para hantu, karena suatu ketika aku lihat, panci, piring, sendok dan garpu saat malam hari terbang melayang-layang di kamar makan, gemerincing sendiri seakan memanggil tuan-tuannya agar segera makan malam, hidangan telah siap sedia. Ayah hanya melotot sambil menarik nafas berat, akhirnya aku tak berani menanyakan hal itu lagi, apalagi sama ibu. Menurut ibu saat akan meminjam peralatan, Tuan Cuak Kuak tinggal sendirian di rumah, rumah sepi, merayu ibu di dapur, mencoba meraba paksa payudara ibu, meremas-rempon dengan nafsu gila yang meledak, hendak melepas seluruh baju ibu seolah menguliti pisang dan ingin menelannya bulat-bulat. Ibu memberontak-gertak dan menendang kontol Tuan Cuak Kuak. Lari keluar. Sampai di rumah ibu menangis sambil menunjukkan baju robek di dekat pusar. Ayah gusar dan marah, keluar, menenteng parang, membuka baju, ototnya saling berpacu ingin meledak, berderit-derit seperti gelembung air mendidih. Sewaktu dicari di dalam rumah Tuan Cuak Kuak tidak ada, ditemukan sedang berak di kakus belakang, dua puluh langkah dari dapur. Tuan Cuak Kuak cuek saja atas permintaan ayah agar cepat keluar. Ia berak. Dengan tenang ayah mendekati kakus, dari belakang mengayunkan parang ke leher Tuan Cuak Kuak yang sedang asyik jongkok. Tuan Cuak Kuak terjerembab ke dalam liang kakus dan tak bangun lagi untuk selamanya. Selamat tinggal. Mayatnya bergelepotan tai, seminggu dirubung belatung, kutis dan kalajengking. Akhirnya dikubur di kakus karena pihak keluarga tak mau mengambil, bahkan untuk melihat pun tak berani, takut terkena imbas, mereka tahu sepak terjang si pembunuh. Ayah tak diberi sangsi apa pun, ayah kepala kampung, punya kuasa, wilayah dan aturan. Orang kampung percaya, ayah saat itu sedang mempertahkan martabat keluarga, harga diri, yang akan mempengarhui kelangsungan hidup selanjutnya. Kami percaya siapa yang makin kuat merekalah yang akan menang dan bertahan, yang lemah lebih baik disingkirkan, tak ada tempat bagi mereka, karena tak mampu mengarungi kehidupan, karena sesudahnya hidup akan lebih berat dan keras lagi, hanya akan membebani keluarga, dan akhirnya orang kampung juga yang harus memikirkan, lebih baik tetap menegakkan hukum rimba. Siapa kalah tamat dan lewat.

Suatu hari, kami bertiga: aku, Roh Cicem, dan kakakku, suatu hari pernah memburu kura-kura di tepi pantai. Waktu itu gerimis datang perlahan, kami membawa tombak pohon ara. Kami telah berjanji banyak-banyakan membunuh kura-kura. Kami berlarian kecil sambil hujan-hujanan, menulusri pematang sawah yang kilatan-kilatan petir saling menghujam bumi di kaki langit sebelah selatan dan terlihat gunung-gunung yang menyala terang terkena kilatan petir. Dan sesekali kami menjumputi kepiting gembur di pinggir tanggul sawah yang kulitnya hendak berganti sehingga seluruh tubuhnya lunak-muda dan enak, segera setelah kami bersihkan kami makan perlahan dengan terlebih dahulu membuang kaki-kakinya, sebuah makanan enak yang sudah tersedia di alam, sering kali pula ikan-ikan sawah mentah pun kami lahap demi kesehatan dan mukjijat yang tak terkira. Kami terus berlari menelusuri rawa-rawa dan sampailah pada pantai terakhir yang ada dihadapan. Kami berjalan perlahan ketika hendak memasuki sarang kura-kura. Sampai di sarang kura-kura, hari telah menjelang sore. Suasana remang-remang menyelimuti pesisir. Kami perlahan memasuki hutan dekat pantai. Di situlah kura-kura berada, berserakan di bawah pohon-pohon bakau yang berada di daratan, pohon-pohon kepuh, beringin, dan di bawah rumpun bambu. Tiba-tiba kakiku menginjak binatang sebesar kucing yang bersisik ular dan dengan kecepatan kilat menggulung kedua kakiku sehingga aku terjatuh berguling masuk ke semak belukar, dengan kecepatan kilat pula mengingat datangnya marabahaya segera aku keluarkan pisau yang terselip di dalam celana dalam, bintang itu segera aku hujani pisau berkali-kali sehingga cengkeraman kuatnya terlepas dengan mengeluarkan simbahan darah, rupanya setelah aku perhatikan dengan seksama binatang itu tidak lain dan tidak bukan adalah trenggiling. Kami masuki medan perburuan dengan kehati-hatian penuh. Karena malam segera datang, kami semakin tertantang, bagaimana harus membunuhi kura-kura dalam kegelapan. Dengan melawan malam gelap gulita dan bulan entah sembunyi di mana, yang bisa kami lakukan adalah jurus membabi buta menombaki kura-kura yang berseliweran di sekitar kaki. Hanya mengandalkan insting berburu dan membunuh saja yang terus kami asah. Dengan ketepatan yang luar bisa satu persatu kura-kura yang merayap perlahan dekat kaki kami terhujani tombak tajam. Ketika tak ada getaran kura-kura berjalan segera kami rebahkan telinga ke tanah maka terdengarlah gerak langkah kura-kura yang mendekat maupun menjauh. Kami lalu bangkit dan menuju sasaran masing-masing. Betapa bahagianya kami waktu itu. Pulang kami menyeret berpuluh kura-kura yang kami ikat memanjang ke belakang, hingga nampak kura-kura masih hidup dan berjalan berbaris di belakang kami seperti deretan gerbong kereta api hitam meliuk-liku di sepanjang rel kereta. Karena gelap malam, Roh mengalami luka tombak di lambung. Entah tombak siapa yang menghujam. Sebuah kecelakaan yang tak disengaja. Dan hal ini sudah biasa bagi hidup kami. Hal itu pun tak pernah menyurutkan kebahagiaan kami seolah kecelakaan tak pernah terjadi, Roh juga tak mengalami luka berarti. Lambungnya hanya berlubang sedalam jari telunjuk.

Kisah lain yang membuat kami bertiga bagai tiga sekawan di masa lalu, adalah berlayar dengan rakit berhari-hari. Rakit kami susun dari batang-batang bambu yang kami tebangi dari ladang kakek Roh yang terpencil di ujung kampung. Seluruh rencana telah kami susun dengan matang. Kami berlayar di pagi hari. Sengaja pula tidak membawa bekal makanan. Kami sudah sepakat mencari makan dengan cara memancing. Berhari-hari kami terkatung-katung di tengah samudra luas. Kedinginan. Kepanasan. Kami makan ikan mentah dan minum air asin yang terasa akan mencekik pekik leher. Di tengah samudra luas kami merasa terpencil. Di siang hari aku lihat kedalaman laut sangat jauh dan sunyi. Di malam hari kami memandang bintang di langit, begitu tinggi dan tak mungkin teraih. Begitu luas jagad raya. Tubuhku berdesir memikirkan semua itu. Pada akhirnya kami tidak tahu sendiri kenapa tiba-tiba pelayaran kami berakhir juga di kampung halaman. Tepatnya seminggu setelah kami berlayar. Padahal kami merasa tak pernah membalikkan arah kemudi untuk kembali. Tiba-tiba seluruh keluarga sudah menyambut di tepi pantai. Apakah artinya semua ini. Kami benar-benar tidak tahu, seolah dalam mimpi saja. Apakah pepatah lama: sejauh-jauh bangau terbang akhirnya kekubangan juga. Dan apakah kampung kami adalah kubangan hidup yang paling kotor di dunia? Yang membuat kami dalam silang sengkarut kehidupan yang tak beraturan dan tak pasti. Seolah nyawa tak berarti dan anak-anak jadah terus lahir dari perut perempuan-perempuan sundal yang kelaminnya dijangkiti penyakit menahun, yang tak pernah cebok sehabis berak di tengah ladang. Entahlah. Namun kami selalu percaya akan adanya keajaiban dan kekuatan yang tak terpahami dari kampung kami. Kami percaya kampung kamilah yang menyedot kami kembali. Seolah pusat pusaran hidup ada di tanah kami. Sebuah tanah harapan. Tak heran begitu fanatiknya orang-orang di daerah kami akan kampung halaman. Bagaimanapun caranya tanah kelahiran harus dibela hingga mati, hingga tumpah darah penghabisan meski dengan cara yang paling naïf sekali pun.

Aku masih ingat pula satu hal yang paling mengasyikan. Sebuah perbuatan konyol dan bengal, pernah aku lakukan ketika usiaku sepuluh tahun. Bagaimana tidak, sebuah tindakan sangat berani telah aku lakukan sendiri. Waktu itu ayah sehari penuh telah bekerja menjemur ikan hasil tangkapan, ibu mengasap ikan-ikan agar awet, aku hanya bermain-main dengan camar, dan gagak yang melayap tenang di perairan mencari mangsa. Entah kenapa gagak juga ikut-ikutan berkeliaran di pinggir pantai, apa sudah tidak ada bangkai lagi di daratan. Sejak itu pula aku begitu jatuh cinta pada gagak hitam-kelam berparuh kelam yang begitu agung dan mengagumkan. Betapa jinak ia padaku. Kami berkejaran di tepi pantai setiap senja datang. Kami berlarian sambil saling menggoda. Sering gagak hitam tiba-tiba menyerang dari belakang, dengan sigap aku menghindar dengan jalan merebahkan diri di atas pasir, bangkit, lalu aku lempar gagak yang terbang merendah dengan gumpalan pasir yang segera berhamburan tertiup angin yang datang dari arah laut dengan hembusan kecang dan menjadi butiran-butiran pasir kembali. Dari pasir kembali ke pasir. Dari debu kembali ke debu. Sedang angin pun tak bisa menjaring. Matahari juga hanya bisa menatap dengan mata merah-sipit dari ufuk barat, yang sebentar lagi akan tenggelam dan esok pagi akan terbit lagi. Begitu seluruh kehidupan berulang. Rutinitas yang membosankan. Kesia-siaan yang abadi.

Melihat perbuatanku yang setiap hari hanya bermain-main dengan gagak, rupanya menjadi begitu asing bagi ayah. Suatu senja segera ayah mengambil parang dan mendekat. Aku sedang asyik memberi makan dengan sisa nasi dan bangkai ayam. Ayah makin mendekat dan dengan satu sabetan yang begitu kebat-cepat-tepat, parang menghujam leher burung gagak di sampingku, kepalanya mencelat menancap di atas pasir. Saat itu pula aku tendang pantat ayah. Aku ngamuk membabi buta, tidak terima atas perlakuan keji ayah terhadap sahabat baruku. Hari itu aku benar-benar murka. Dunia seakan kiamat. Ingin aku lari ke surga. Tanpa rasa dengki dan dendam. Malam-malam, aku mengendap-endap mendekati ayah yang tertidur di dipan depan pintu. Dengan kehati-hatian luar biasa, segera aku keluarkan sebuah pisau lipat yang telah terasah begitu tajam. Dengan perlahan namun pasti, segera aku gunduli kepala ayah hingga mengkilap. Sebenarnya pekerjaanku sangat sempurna sekali, seandainya saja tangan ini tidak begitu bernafsu untuk membuktikan bahwa darah bisa mengucur seperti air mancur dari kepala gundul ayah, yang begitu mengiurkan untuk segera dibacok agar darahnya muncrat, dan menampilkan keindahan tersendiri, maka dengan tekanan yang agak sembrono, pisau lipat serta-merta mengaruki, dan melukai beberapa bagian kepala ayah. Tentu saja karena kepedihan yang luar biasa ayah terbangun. Mendapati kepalanya telah gundul, ayah langsung menggampari seluruh tubuhku hingga memar-memar. Dan akhirnya aku dilempar ke luar rumah, semalaman tidak dibukakan pintu, terpaksa tidur di gudang pengasapan ikan, asin, gatal, apak dan baunya sangat memusingkan. Tapi aku bahagia bisa mencelakai ayah, tega mempermalukan di hadapan nasib hidupnya. Maka mulai hari itu pula, ayah adalah musuh besarku, kebencianku tak akan menguap sebelum melihat ayah terkubur di dalam tanah.

Satu lagi kejadian yang menarik. Kejadiannya sebenarnya ingin aku lupakan seumur hidup, tapi bila mengingat kakek, bagaimanapun juga aku tak mungkin melepaskan kejadian-kejadian yang menyertai kehidupannya. Memang siapa yang tidak jengkel melihat orang tua yang bisanya cuma minta bantuan dan sama sekali tidak bisa hidup mandiri. Apalagi segala tingkah-laku kakek bukannya malah membuat sebuah keluarga menjadi baik, membantu keluarga, tapi justru membuat kehidupan keluarga menjadi berantakan, kacau, hancur, dan menimbulkan amarah pada diri kita. Dan kakeklah yang berbuat semua itu. Karena kakek selama akhir hidupnya terjebak dalam kenangan masa lalu. Mengalami kepikunan bertumpuk-tumpuk. Setiap hari dia hanya membayangkan hidup di daerah pengunungan, sehingga segala tingkah laku justru berlawanan dengan kehidupan yang seharusnya ia lakukan di kampung nelayan. Siang malam ia pakai jaket tebal. Siang hari seharian di kebun merawat buah apel. Padahal bukan buah apel yang ditanam namun buah cerme. Tapi kakek tetap bersikeras bahwa itu buah apel. "Suatu hari buahnya akan besar-besar dan kamu akan terheran-heran," begitu kata kakek suatu pagi. Kakek tak pernah putus asa, setiap hari ia selalu berharap dan menanti kapan buah itu menjadi besar. Sebuah tindakan yang tak berguna dan buang-buang waktu. Betapa bebal ia kalau aku pikir-pikir. Belum lagi, setiap sehabis makan, ia selalu minta makan lagi, katanya, belum diberi makan dan teriak-teriak minta disuapi.

Tengah malam aku mendengar suara gemericik air dari kamar mandi dengan diselingi dehem-dehem dan nyanyian asing yang tak pernah aku dengar, aku tahu pasti kakek sedang mandi. Aku lekas beranjak dari tidur dan mengintip kakek mandi, ia masih membersihkan badan dengan handuk yang tersedia di kamar mandi, namun aku lihat batal guling yang mestinya ada di kamar kakek kini ada di bak mandi. Aku bergegas semunyi ke balik almari tengah tempat barang-barang pecah belah disimpan, kakek segera keluar dengan bertelanjang, semua kulit telah keriput, berjalan ke keranjang tempat pakaian kotor, waktu itu ibu dan ayah belum pulang dari menghadiri perkawinan anak sahabatnya yang ada di balik bukit, sedang kakak masih keluyuran, dengan kepikunan yang abadi kakek memakai celana dalam milik ibu berwana merah jambu yang belum dicuci, sebelumnya sempat kakek kenakan di kepala sebagai penutup, seolah ia seorang koki ahli masak dan menari-nari di depan cermin, dengan enteng pula ia mencomot rok dan baju ibu yang semalam telah dipakai, warnanya putih kotak-kotak hitam seperti medan permainan catur, kakek terus bernyanyi dan nampak begitu bahagia malam itu. Aku tertawa tertahan dan segera kembali masuk kamar sebelum ayah-ibu pulang.

Aku tahu sesudah itu di tengah malam kakek akan berangkat kerja, padahal hanya duduk-duduk di teras, seolah ruang kerja. Kakek akan selalu duduk di kusri goyang yang ada di pojok teras, lalu dengan geram, gaya otoriter memerintah bawahan, supaya mengambilkan beberapa arsip yang harus ia tanda tangani. Tak seorang pun yang berani duduk di kursi goyang kakek, karena kakek akan marah tidak kepalang dan menghancurkan seisi rumah bahkan pernah kakek hampir membakar rumah bila saja ayah tidak cepat menangkap tangan kakek yang memegang kain yang sudah terbakar dan hendak dilemparkan ke atas genting. Maka kursi goyang kakek sangat keramat tak seorang pun diperbolehkan mendekati apalagi menduduki. Arsip-arsip yang diperintahkan kakek, ibulah yang selalu menjadi kacung, ibulah yang mondar-mandir melayani, seolah sekertarisnya. Tubuh ibu menjadi lebih tua dari usianya, kulit mulai berkeriput, tangan halusnya menjadi amplas yang bisa menggores wajahku, namun wajah ibu masih menampakkan kecantikan, hal ini bisa dilihat dari garis-garis raut mukanya, dan raut wajah ibu tak beda jauh dari wajah ayah. Mungkin benar juga kata orang bahwa bila ada orang yang berpacaran dan memiliki wajah hampir sama, sudah bisa dipastikan bahwa mereka memang sudah dijodohkan sejak di dalam rahim. Kelakuan kakek yang suka aneh-aneh, jelas menunjukkan ia terkena sebuah sidrom masa lalu akan kekuasaan dan tak mungkin ia hapus karena di situlah ia mendapatkan puncak kejayaan. Padahal dulu kakek hanyalah seorang kepala kampung dan bekas prajurit rendahan.

Suatu saat ketika kami sedang makam malam, kami berenam duduk melingkari meja, tiba-tiba kakek menghampiri, menanyakan perempuan yang duduk di ujung meja.
“Ah, kamu tahu siapa yang duduk di ujung meja, dengan baju merah dengan garis-garis putih yang direnda. Betapa cantik ia. Siapa namanya. Tolong sampaikan samputangan ini untuknya. Salam hangat dariku. Dan jangan lupa tanyakan di mana rumahnya. Bolehkah malam minggu aku datang. Tolong ke sana anak ganteng nanti aku belikan gula-gula paling manis.”

Aku pun ke sana menghampiri gadis pujaan kakek. Seisi rumah karena tahu keadaan kakek selalu mengikuti saja apa keinginan kakek. Belum sempat aku medekati kursi nenek, tiba-tiba nenek berdiri dan sangat marah.

“Hentikan sandiwara ini. Tua bangka tak tahu diri. Ngaca. Nyebut. Sebentar lagi masuk liang kubur.”
“Oh , maafkan nona, memang itu semua salahku. Tapi sesungguhnya aku telah jantuh cinta kepadamu, sejak pandangan peertama,” begitu rayu kakek.
“Terkutuk kau kakek tua. Ayo kembali makan. Atau makan malammu akan bersama anjing kudisan di luar sana!” bentak nenek sambil menyuruhku memapah kakek kembali ke kursi.

Suatu kali ketika kakek teringat masa muda saat menjadi prajurit, memang kakek dulu pernah jadi parjurit namun hanya lima tahun, dipecat dengan tidak hormat karena berbaku tembak dengan teman sejawat, ketika mabuk di kedai kopi sehabis upacara bendera. Malam itu tak ada yang bisa tidur. Sejak sore kakek sudah berseragam selempang senjata, untuk itu di rumah ada satu stel pakaian seragam prajurit, seperangkat mainan perang-perangan untuk persiapan bila kakek kumat. Kakek memberi hormat pada siapa pun yang lewat di ruang tamu. Dan bernyanyi sendiri sambil menghentak-hentakkan kaki di lantai seperti sedang baris-berbaris. Diselingi dengan teriakan angkat senjata, tembak, dan tiarap. Ayah, ibu, nenek, kakak, dan aku tak mampu membuat kakek menghentikan kegilaan. Terpaksa kami tidur semua dan membiarkan kakek berbuat sesuka hati di ruang tamu. Ketika pukul duabelas malam kakek berteriak-teriak sambil menggedor-gedor kamar, meminta kami segera bangun dan menyiapkan senjata, karena pasukan akan segera berangkat ke medan laga. Siapa yang belum keluar, pintu kamar akan terus digedor-gedor dan dimaki-maki. Saat itu pula ayah marah dan membawa kakek ke dalam kamar mandi, menyiram dan memandikan. Karena kedinginan kakek mulai meluruhkan perilaku aneh dan sebentar kemudian tertidur di lantai kamar. Seperti mati dalam hidup.

Tingkah laku ibu yang selalu memperhatikan kakek seringkali menjadi malapetakan bagi hubungan ayah dan ibu, ayah merasa hidupnya hanya dibiarkan saja, tidak diurus, maka ayah-ibu diam seribu bahasa tidak saling menyapa tanpa alas an yang jelas dan tidur selalu berpisah, bahkan membuat kopi saja ibu tak mau, dan ayah juga memasak sendiri, sikap saling diam seperti bias berlangsung berbulan-bulan, meski mereka duduk di satu ruang mereka tak mau menyapa maupun saling menatap mata, tanpa sebab yang jelas pula tiba-tiba mereka sudah tidur satu ranjang dan saling bicara, mereka nampak rukun, tanpa sebab yang jelas lagi, mereka akan saling diam dan saling ancam, saling intai, pernah berhari-hari ayah terus memata-matai ibu, saat ibu di kebun belekang ayah mengitip dari jendela, saat ibu keluar rumah, ayah mengikuti dari belakang dengan jarak yang sangat terjaga, meperhatikan tindak tanduk ibu sedetail-detailnya, sehingga seluruh hidup ibu seolah terus dimonitor, dijaga, sehingga tidak berkutik untuk berbuat apa pun, seolah kebebasan sebagai manusia telah terampas, semua memang gara-gara kakek, ayah rupanya sering cemburu atas perilaku ibu terhadap kakek yang sangat istimewa.

Pada suatu hari, ketika ayah sedang mengepaki ikan-ikan yang sudah digantang. Kakek duduk di gudang pengasapan sambil tangannya menunjuk-nunjuk ayah dan mulutnya berteriak-teriak memerintah sana-sini. Waktu itu aku masih ingat benar. Wajah kakek sudah keriput, matanya sangat cekung, sinar matanya kejam dengan bola mata besar, persis sinar mata ayah, giginya ompong, jalannya miring-miring karena kaki kanannya terkena reumatik, rambutnya putih, perutnya buncit, bicaranya keras seperti gelegar geludug. Dan ayah masih sangat muda, hitam, hidung besar agak merah, bulu rambut di sekujur tubuh sangat lebat mirip kera, dengan tangan kasar dan besar. Kakek terus-terusan bicara sambil marah-marah, dan betapa ketusnya kakek memerintah ayah. Katanya semua arsip-arsipnya harus segera dibawa ke meja kakek. Kalau tidak semua pegawai akan ia pecat semua. Kakek jelas sedang mengenang saat-saat ia sebagai kepala kampung. Waktu itu tengah hari, matahari begitu terik memancarkan sinar. Angin berhenti berhembus, memberi kesempatan kakek mengeluarkan semua sumpah serapah. Sumpah serapah dari orang tua yang kelewat pikun. Maka kakek dengan penuh semangat semakin mencaci maki ayah yang bekerja semakin salah tingkah. Pada saat tengah hari dan matahari memancarkan panasnya yang paling kejam, ayah bangkit lalu mencuci tangan kotor di jambang bening hingga air menjadi keruh. Aku melihat dengan pasti, karena aku duduk tidak begitu jauh dari tempat duduk kakek. Perlahan ayah mendekati kakek, mukanya tersenyum ramah. Meminta kakek segera turun dari kursi goyang yang selalu dibawa ke mana pun ia pergi. Kakek menurut, tapi mulutnya terus nerocos membentak-bentak dengan kata-kata kotor, "Anjing semua! Diancuk kalian! Babi ngepet! Bangsat! Dasar keluarga keparat!" Di dekat bara api pengasapan, ayah menghentikan kakek, lalu menelikung tangannya. Dengan sekejab pula yah menyeret kakek ke bawah pohon mangga, kedua kaki kakek lalu dipasung. Aku tidak ingat untuk berapa hari kaki kakek harus dipasung. Aku hanya ingat ketika kaki kakek dilepas, bicaranya sudah mendingan, tidak ngaltur lagi.

Juga menurut ibu, pertama kali penyakit kakek kambuh, kakek masih berusia 20 tahun. Waktu itu sepulang dari hutan kesadaran kakek hilang (kesurupan), ia merasa menjadi seekor anjing dan makan daging mentah. Melolong-lolong tiap malam. Kata orang pintar ia kemasukan roh jahat yang ingin menguasai jiwanya. Karena orang-orang pintar tak bisa mengobati, jalan satu-satunya ia harus dipasung. Maka ia dipasung berhari-hari dibawah pohon beringin, tanpa diberi makan apa pun. Hal itu dimaksudkan untuk mengusir kebiasaan roh jahat yang suka rakus makan apa saja. Berhari-hari kemudian kakek menunjukkan kejinakan. Tidak liar seperti saat pertama kerasukan. Oleh ibunya ia dilepaskan. Saat diberi makan ia menunjukkan kerakusan kembali. Seluruh makanan yang dihidangkan: nasi dua panci, sayur bening satu baskom, tempe goreng satu piring, krupuk udang satu blek, ia lahap hingga tandas. Satu ceret tuak ia gelontorkan ke dalam perut. Lantas ia teriak-teriak lagi, minta makanan yang lebih enak. Ia lari ke dapur. Ia kejar ayam yang sedang mengeram. Telor-telor ayam yang hampir menetas ia sikat langsung. Darah mengalir deras dari mulut. Belum puas. Ia mengejar-ngejar ayam. Sabit yang terselip di dinding ia sambar dengan cepat, ia ayunkan pada ayam yang sedang terbang rendah di hadapannya. Tubuh ayam terbelah. Dengan gegas ia mamah paha ayam dengan rakus. Ibunya menjerit-jerit minta tolong. Tetangga-tetangga datang membawa parang. Merasa terancam kakek nggeblas menjebol jendela. Memanjat pohon kelapa di halaman. Berhari-hari ia tak turun-turun. Bila ada yang mencoba untuk menolong, justru ia siap untuk terjun bebas. Akhirnya tak ada yang bisa membujuk. Ayah-ibunya hanya bisa membangun tumpukan jerami di bawah pohon kelapa. Khawatir anaknya terjun bebas dan tubuhnya hancur di tanah. Kakek sendiri masih dikuasai roh jahat yang membuatnya sangat kuat dan tak pernah merasa sakit. Berhari-hari ia tak makan. Pada suatu malam ibunya mendengar gedebum kelapa jatuh. Tak lain dan tak bukan adalah Kakek yang terjatuh dari pohon kelapa. Anehnya kesadaran sebagai orang waras muncul kembali. Dan tersiarlah keajaiban dan keampuhan kakek, penduduk percaya kakek mewarisi kekuatan luar biasa, dititiskan roh jahat yang pernah menguasai dirinya. Maka semua orang desa hormat, takut, segan, dan ketika kakek mencalonkan menjadi kepala kampung, tanpa kesulitan ia pun memenangkan.

Seingatku, kami bertiga juga pernah dihukum sebulan lamanya tidak diberi makan, hanya minum segelas air laut tiap hari; kami dimasukkan dalam gudang tertutup rapat beratap seng; kaki dan tangan kami diikat dengan rantai. Padahal kesalahan kami yang terakhir hanya sepele. Malam itu, kami berjalan dari rumah Roh hendak mancing di pantai. Kami berjalan menyusuri jalan setapak. Aku dan Roh membawa oncor, sedang kakakku membawa pancing serta kepis -tempat ikan. Kami berjalan sambil beriangan, bersiul dan bernyanyi. Saat melewati rumah nenek sihir, aku lihat tak ada orang satu pun yang ada di dalam. Sunyi. Dan juga tak ada bunyi. Begitu merasa sunyi perasaanku blingsatan, tak karuan. Karena aku benci sepi maka tanpa ampun kubakar sepi. Aku lemparkan oncor ke atas atap yang terbuat dari rumbia. Api berkobar. Sepi terpanggang. Kami terus ngluyur. Tiba di pantai, kami lemparkan kail. Malam nampak gelap. Namun di kampung terasa terang. Kami lihat perkampungan riuh dan bercahaya. Orang-orang ramai di sekitar rumah nenek sihir. Aku lihat kobaran api terus membumbung ke langit, memecahkan kepekatan malam. Seakan ada cahaya menerangi kampung. Kami terus memancing. Tiba-tiba dari arah kampung berjajar puluhan oncor. Mendekat. Merapat. Mengepung. Menangkap. Kami ditelanjangi. Dipukul. Dikepruk. Kami diam. Digiring berkeliling menelusuri jalan kampung. Di balai kampung kami diinterogasi. Ayah sebagai kepala kampung tak bisa berbuat banyak. Karena penduduk sangat marah. Murka. Bahkan hendak menghajar siapa saja yang berani membela kami.

Ketika kami ditanyai, "Kenapa membakar surau?"
Kami semua bungkam. Mulut kami ditampar-tampar. Merah memar.
Aku bilang, “Karena rumah sepi, pasti dihuni roh jahat, dan aku percaya Tuhan tak akan pernah tinggal di tempat itu. Tak ada yang membakar surau, aku hanya benci nenek sihir. Kenapa kalian malah melindungi tukang santet, sudah sepantasnyalah ia dibakar hidup-hidup.”

“Kamu memang tolol anak durhaka rumah nenek kan berdekatan dengan surau!” bentak lelaki kekar bermata ular.

Mulut kami dihajar lagi, tapi tak terasa sakit. Kami malah tersenyum berpandangan. Pertanyaan-pertanyaan berikutnya, tak ada yang mau menjawab. Kami bungkam. Serta merta mereka hendak membakar kami hidup-hidup. Tapi ayah mencegah dan mengusulkan agar kami diusir dari kampung.

Setelah dihukum satu bulan, kami diusir dari kampung. Kami bertiga dianggap biang keladi atas kekacuan-kekacuan yang terjadi. Ketika itu usiaku baru 15 tahun. Waktu itu pula tak seorang pun merasa sedih, bahkan orangtua kami merasa bersyukur atas diputuskannya tali ikatan sedarah. Begitu dalam pikiranku, meski aku tahu ayah dan ibu berlinangan air mata ketika melepas kami. Memang ayah-ibu, hanya punya anak kami berdua. Kami pun tak pernah merasa bersedih dan berhutang budi pada orangtua yang telah melahirkan. Kami percaya orangtua kami tidak bersungguh-sungguh ingin melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, begitu dalam hati kecil kami. Mereka hanya iseng saja ketika membuat kami, tanpa pernah merasa apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang sakral. Bila sedang ngentot mereka tak pernah mengucapkan mantra atau doa; begitu nafsu mereka meledak, istrinya segera diglebakkan di sembarang tempat. Suatu kali saat senja angslup dan kelelawar mulai berterbangan, aku dan kakakku melihat ayah-ibu ngentot di atas keranjang penuh ikan, kami melihat pelir ayah menggelantung bagai telor bebek dicelup dalam gemuk, jembutnya berkibaran bagai buntut celeng hitam pekat. Terlihat leleran pejuh hijau-keputihan mengalir dari turuk ibu ke silit hitamnya. Kontol ayah keluar dengan letih tak berdaya, seperti pohon tumbang. Kelakuan-kelakuan orangtua kami menjadi atraksi mendebarkan bagi batin kami, kami merasa ada surga di balik bokong ibu.

II
Di perjalanan, pikiranku berkecamuk pada Dedes dan keluarganya yang aku tinggalkan begitu saja. Aku bertemu dengan Dedes di jembatan yang menghubungkan Pidienda dengan wilayah Ceruk Hitam, jembatan itu bernama jembatan Merabu Merah, sebuah jembatan bercat merah dan memiliki lengkungan sangat menarik, melenting tinggi seolah bukit yang runcing, di sisi-sisi jembatan dihiasai ornamen-ornamen aneh: wajah kelelawar, burung gagak, harimau, buaya, dan di gapura masuk dihiasi dua patung raksasa berambut terbakar membawa senjata godam dan perisai besi. Waktu itu Dedes mengenakan baju warna-warni bermotif ular. Menurut pengakuannya ia hendak bunuh diri loncat dari jembatan, karena putus asa telah diperkosa sorang serdadu yang tak mau bertanggung jawab. Dan kini ia telah hamil tiga bulan. Aku katakan, tak ada alasannya kalau cuma diperkosa hingga tega bunuh diri. “Itu cara yang paling mudah untuk mati dan tak ada tantangan apa-apa kalau hal itu sebagai ujung kehidupan karena kehidupan masih panjang dan nasib orang bisa berubah secepat membalikkan telapak tangan bila ada kesempatan emas datang.” Aku tidak tahu pasti, kenapa Dedes tiba-tiba tercengang mendengar keteranganku yang sekenanya, dan perkataanku mampu meluruhkan hatinya yang hampir buta. Ia lantas memintaku untuk mengantarkan pulang.

Rumahnya cukup jauh dari jembatan. Setengah hari kami jalan kaki, baru sampai di rumahnya, dekat perbatasan Kota Raja. Rumahnya tidak begitu bagus, tapi cukup rapih, dindingnya terbuat dari kayu jati pilihan, lantainya masih semen kasar. Di halaman tersebar bunga melati, kamboja, mawar, flamboyan, kertas, dan pohon-pohon kersen berjajar menjadi pagar rumah. Dan di pekarangan nampak pohon kinetu, durian, rambutan, salak, diatur rapih. Betapa semaraknya harum bunga yang semerbak mengelayuti sekitar rumah. Aku menduga betapa romantisnya orang-orang yang tinggal di rumah ini. Di rumah hanya ada Dedes beserta ibu dan ayahnya yang sudah sakit bertahun-tahun tak tersembuhkan seperti sebuah penyakit yang diakibatkan dari karma keluarga. Kata ibunya, suaminya sakit karena terserang penyakit aneh yang tidak bisa dideteksi dokter maupun para dukun sakti mana pun. Menurut Dedes, ayahnya sakit karena diguna-gunai orang jahat yang tidak suka akan keberhasilan ayahnya menjadi pedagang tembakau yang sukses. Pada suatu hari, di pelataran rumah, ibunya menemukkan gundukan tanah baru, begitu dibongkar nampak bangkai ayam cemani dan burung hantu yang sudah terbakar. Mulai hari itu, ayahnya sakit hingga kini, seluruh tubuhnya lumpuh total hanya mata cekungnya yang mencoba bertahan dari rasa sakit yang tak terkira dan menampakkan kengerian yang dalam.

Sebenarnya aku tidak ingin tinggal lebih lama lagi seandainya tidak muncul debar-debar di dada dan desiran darah yang begitu mencekam dan menderas seakan ada yang memompa. Saat itu aku duduk di sebongkah batu hitam sebesar badak menunggu Dedes mandi di sungai yang mengalir tenang. Mataku sulit berpaling dari pualam hidup yang berkecibakan di air bening. Ketika senja meremang, aku datangi Dedes, aku memintanya berdiri di hadapanku. Dedes menurut dan hanya menutupi tubuhnya dengan selendang tipis sehingga puting susunya mencuat mencolok mataku yang rakus dan hampir buta. Aku pandangi matanya yang kelabu seperti mata ikan yang tengah terpanggang sinar panas. Tubuhku mendidih seperti bara api yang baru menyala, tak mungkin dapat di padamkan kecuali dengan air dingin. Ketika itu pula aku ingin memadamkan bara api di dalam tubuh, sekelebat itu pula aku lihat sekujur tubuh Dedes masih basah oleh air, maka kudekap dan kutumpahkan seluruh tubuh di atas tubuhku, biar api ini segera padam. Apiku segera padam setelah beberapa detik meluap pada tubuh Dedes yang basah lalu hangat. Kami pulang dengan mata jalang dan kenangan yang merasuk. Tak peduli pada apa yang telah terjadi.

Malamnya aku ikut menemani ibu Dedes menunggui suaminya yang hampir sekarat. Aku tahu nafasnya sudah tak beraturan, instingku mengatakan ia tak akan bertahan hingga fajar. Malam semakin dingin, aku tutupi tubuh ibu Dedes dengan jaket yang aku kenakan, wajahnya begitu haru melihatku berbuat baik padanya. Wajah ibu Dedes memang masih muda, aku tahu persis dari kulit tangannya ketika aku sentuh perlahan. Dedes, mungkin karena kecapaian, tertidur di kursi. Ibu Dedes segera memintaku untuk tidur di kamar sebelah. Aku katakan ingin menemani hingga pagi hari. Suaminya tertidur dengan nafas tersenggal-senggal. Entah kenapa dari sore aku hanya memandangi wajah ibu Dedes, tanpa merasa peduli dengan suaminya. Kembali lagi aku rasakan ada desir aneh merambat di pembulu darah mendesak menuju kepala dan mengetarkan seluruh tubuh, seakan semua organku hidup sendiri-sendiri. Kontolku ngaceng. Renjana menyerang. Terpaksa aku dekap erat tubuh ibu Dedes dengan cengkeraman tak beraturan dan kurum-rum payudaranya yang megah dan kenyal, ia menggelinjang-gelinjang tersenyum nakal dan menunggu perbuatanku selanjutnya. Aku tatap mata beningnya yang menatap begitu dalam ke mataku, seakan sudah begitu lama ia menanti saat-saat seperti ini. Kami rebahan perlahan di lantai, dan sesekali bergulingan dalam badai cakram tangan-kaki tak terkendali hingga lantai basah dan licin penuh kekudusan, tengah malam karena lelah kami teridur hingga pagi. Sebelum mereka bangun aku telah bangun duluan. Aku perhatikan ayah Dedes sudah tak bernafas lagi. Mati. Lantas aku bergegas pergi. Aku tidak ingin merusak perasaan hatinya dan merusak peristiwa yang begitu indah yang telah aku lakukan bersama keluaraga Dedes. Biarlah mereka mengenang kenangan dengan sesuatu yang indah-indah saja, tak perlu ada perpisahan yang akan mengharukan dan menyedihkan hati. Biarlah mereka ketika bangun pagi hari seolah malamnya telah bermipi indah. Biarlah mereka merasa hidup adalah tumpukan mimpi. Sebuah ilusi dari impian kita.

III
Kepergian kami dari kampung akhirnya memaksa kami untuk tinggal di sebuah kota. Kami bertiga bekerja di pabrik. Kota dikelilingi benteng-benteng setinggi tiga tombak, bangunan dari batu bata dan tanah liat, untuk menahan gempuran musuh. Pohon-pohon pinus yang ribuan jumlahnya mengelilingi benteng. Sehingga kota seperti di tengah hutan. Kota dalam hutan. Di tengah-tengah kota berdiri tugu kemerdekaan, begitu orang-orang menyebutnya. Sebuah lingga hitam dan kekar yang maha besar menghujam bumi, sebesar tubuh gajah dewasa. Entah kenapa patung kemerdekaan berupa lingga. Mungkin mengandung arti kekuasaan yang tak terbatas, mutlak dan abadi. Atau justru lambang kehidupan dimulai dan akan dilestarikan. Bukankah awal mula kehidupan adalah tertanamnya kelamin, lingga, -air kehidupan, ke dalam rahim.

Suatu malam aku merasa ingin bersenang-senang. Tanpa memikirkan apa yang harus aku pikirkan. Aku ingin menelusuri kehidupan malam. Sekali-sekali memang hidup perlu mampir sejenak ke pelacuran. Bukan untuk mencari dosa tapi hanya sekedar singgah dan membuktikan adanya kenikmatan surga di dunia. Malam hari aku berjalan di lorong-lorong kota. Sesekali berhenti untuk menulis puisi. Aku suka sekali membuat catatan harian dengan sebuah puisi. Karena kecapaian aku ingin sekali dipijit oleh seorang pelacur yang terampil dan menyenangkan. Aku masuk rumah bordil. Aku minta pelayanan yang paling istimewa. Aku ingin nginap semalam suntuk. Aku pilih kamar bagus. Memang terlihat rumah bordil ini sangat istimewa. Megah dan abadi sebagai lambang lembah hitam. Pasti banyak orang penting yang sesekali dalam hidupnya pernah mampir ke sini. Bau wewangian menyerbak di seluruh ruang. Gadis-gadis memandangku dengan ganjil. Mungkin karena melihat mukaku dipenuhi bopeng-bopeng dan bintik-bintik hitam, terserang cacar ganas yang tak terobati waktu kecil. Waktu itu ibu justru saban pagi mengencingi mukaku, katanya untuk obat cacar. Begitu aku bangun tidur, aku didudukkan di tanah, seweknya segera ia cincingkan, dan ia tarik mukaku ke selangkangan, ia kempit dengan kedua paha. Dunia begitu gelap. Tiba-tiba aku mendengar suara gemerojok. Air bah menerjang mukaku. Begitu asin dan pesing. Di sore hari ibu memandikan aku dengan rendaman daun johar, dicampur air bekas menjerang ayam yang hendak dicabuti bulunya setelah disembelih. Walhasil, kesemuanya justru memperparah cacarku, karena setelah dewasa aku tahu, penyakit cacar tidak boleh terkena air dan angin. Mukaku dan sekujur tubuhku inilah korbannya. Dan kini menjadi ejekan gadis-gadis bordil yang tersenyum pahit-getir tapi nakal dan jahil. Aku masuk kamar di tingkat dua. Aku tiduran di kasur empuk. Betapa nyamannya hidup dalam dunia seperti ini. Aku menanti wanita yang dijanjikan germo pemilik bordil. Aku lepas baju. Berbaring. Terdengar suara ribut di luar. Orang bertengkar tentang harga semalam yang terlalu mahal. Tiba-tiba pintu diketuk. Aku persilakan masuk. Ia masuk dan menutup pintu kembali. Betapa terkejutnya aku ketika aku tengok, rupanya Dedes, gadis yang aku tinggalkan beberapa waktu lalu. Kenapa kini ia memutuskan jadi pelacur. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku persilakan duduk. Dia pun diam. Aku lihat perutnya sudah kempes. Apa dia sudah melahirkan. Apa mungkin…….

“Ya, aku telah menggugurkan kandungan dibantu dukun bayi. Matamu tak usah meyelidik lagi!”
“Maafkan aku.”
“Tak apa. Apa sih yang bisa dipercaya dari laki-laki.”
“Maksudku……”
“Cangkemmu. Diam!”
“Maksudku……”
“Tak apa! Tak apa! Sekarang apa yang harus aku lakukan. Kita selesaikan tugas masing-masing, cepat. Kita terikat kontrak. Tak usah pakai perasaan lagi. Kamu pembelinya dan aku barangnya. Barang sudah siap silahkan lahap.”
“Aku hanya ingin ditemani.”
“Dasar pengecut!”
“Tidak. Benar-benar aku hanya ingin ditemani saja. Tidurlah. Aku ingin menyelesaikan tulisanku dulu.”

Lama aku termenung di hadapan meja yang seolah sedang mengadiliku atas perilakuku terhadap Dedes di masa lalu. Di luar hujan mulai turun. Aku keluarkan pensil dan selembar kertas. Rasanya aku ingin menulis sesuatu yang tak pernah aku bayangkan. Dengan sigap tanganku hendak menarikan pensil hitam di atas sehelai kertas putih yang belum pernah terjamah, namun tanganku hanya berhenti pada kertas kosong, benar-benar kosong perasaanku, mungkin juga jiwaku.

Tengah malam aku tinggalkan Dedes yang masih tertidur pulas. Aku masukkan uang yang menjadi haknya ke dalam saku secara perlahan. Aku merasa tak perlu mengucapkan kata perpisahan sedikit pun. Segalanya telah termaafkan kukira. Dan aku ingin melupakan segala perihal tentang masa lalu. Aku ingin menatap masa depan tanpa menengok ke belakang. Masa lalu adalah racun bagi perjalanan hidup.

Saat fajar tiba aku berjalan meninggalkan kota. Aku lemparkan mata pada datangnya fajar, fajar terakhir yang akan aku lihat di sini. Aku berjalan lamban menelusuri semak-semak, melewati taman jalan setapak bercecabang. Burung-burung berkicau menyambut pagi. Suara jangkrik di kejauhan masih mengerik dan perlahan-lahan hilang tertiup angin. Udara dingin. Butir embun masih berjuntaian di gigir dahan, berkilauan bagai berlian. Pagi masih basah. Sinar mataku meraup buas apa pun keindahan kota untuk terakhir kali. Ada kabut musim kemarau yang menyelimuti jalan-jalan, burung-burung kuntul melintasi perbukitan. Ada pilar-pilar kuil tua, masjid, candi berelief naga-naga, jembatan penuh ornamen kelelawar, puri, air mancur, villa, patung-patung raksasa dengan payung-payung purba, menara menantang langit, gerbang kota berukir para pahlawan yang mati di medan laga. Surga nampak nyata, neraka penuh siksaan, mendetail berlebihan memenuhi dinding-dinding gereja katedral, sebuah lukisan yang disentuh tangan-tangan terampil. Segalanya menjadi berlebihan. Semuanya nampak megah, indah, menjulang, vertikal, lancip, riuh, ramai, menyeruak bagai sulur-sulur akar pohon beringin yang membelit-belit. Sungai-sungai berbinar di tepi kota. Segalanya, ya segalanya bagai gerak alam menuju spiritual tertinggi, melingkar-lingkar, semburat, bercerlangan bagai mutiara tak beraturan, gemerlapan menuju satu titik keabadian yang entah di mana letaknya. Aku terus berjalan. Aku terus melamun. Tak terasa, di belakang, kota telah tertinggal jauh, tersaput kabut tebal. Kesunyian merasuk kalbu. Hampa.
***

Surabaya-Purworejo-Ponorogo
29 Juni 1999 – 10 September 2002

Pengikut