Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2009

ANALITIK ANATOMI KESADARAN

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Gagasan kata ibarat ruang dan esensi kedalaman kalimah bagi masanya. Sama dengan penciptaan insan dalam rahim, yang terjadi segumpal daging lalu disusul tertiupnya ruh. Maka kesadaran awal dari sebuah gagasan ialah kata, bermakna tempat serta sadar ruangan.

Pengisian-pengisian ruang menggunakan masa, mencipta ruh manfaat atas kebertemuan ruang-waktu atau penciptaan yang bergerak masanya. Tubuh-tubuh, fenomena, peredaran, tampakan dari perubahan embrio menuju gagasan gemilang.

Semacam ide takkan lahir sebelum datangnya pandangan suatu hal. Kabut pengalaman, terik dan dingin perjalanan, menentukan watak penciptaan sebuah benua lebih tinggi; drajat ide.

Posisi terbangun dari kesadaran ruangan, diteruskan dalam logika rasa, lalu menjelma muatan ruh manfaat, sebagai padanan langit-bumi selalu mencari pembicaraan alam rasa kehidupan.

Sekilat tampak pandangan di atas tidak bersesuaian dengan awal pencipaan yang berangkat dari anganan ci…

Mencari Cinta di Mesir

Anitya Wahdini
http://jurnalnasional.com/

Ketika Cinta Bertasbih mencoba memuat setiap detail cerita dan karakter yang ada dalam novel ke layar lebar.
Judul Film : Ketika Cinta Bertasbih
Genre : Drama
Sutradara : Chaerul Umam
Penulis : Imam Tantowi
Pemain : Kholidi Asadil Alam, Oki Setiana Dewi, Alice Norin
Produksi : Sinemart Pictures
Durasi : 120 menit
Di dunia perfilman nasional, nama Habiburrahman El Shirazy mulai dikenal setelah sutradara Hanung Bramantyo memfilmkan novel Ayat-ayat Cinta, yang merupakan salah satu karya best seller-nya. Film yang dibintangi Fedi Nuril, Rianty Cartwright, dan Carissa Putri tersebut meraih sukses dan diklaim sebagai salah satu film terlaris karena ditonton jutaan penonton.

Tak heran jika kemudian masyarakat menaruh harapan besar saat setahun lalu dikabarkan novel best seller lainnya milik Kang Abik—sapaan akrab novelis itu—kembali dilayarlebarkan. Bahkan, audisi untuk para pemeran utamanya telah digelar hingga ke sembilan kota besar di Indonesia. Sebuah proye…

SUDAMALA, SENI, DAN BEDA: KE ARAH TAFSIR LAIN TENTANG KEINDAHAN

Goenawan Mohamad
http://terpelanting.wordpress.com

Sebentar lagi kita akan menyaksikan sebuah pertunjukan Slamet Gundono, yang kebetulan pernah saya tonton beberapa waktu yang lalu: Sudamala, atau Uma, Nyanyi Sendon Keloloran.

Dalam kesempatan ini, saya akan bertolak dari lakon itu untuk membicarakan setidaknya dua anggapan, atau salah anggapan, yang dewasa ini acap kita jumpai ketika orang berbicara tentang kesenian. Pada hemat saya, diskusi mengenai hal itu penting sekarang. Kita hidup di sebuah masa yang ditandai oleh tuntutan yang berlebihan kepada manusia – baik melalui kekuatan dalam pasar, maupun kekuatan dalam masyarakat, yang makin mengasingkan dunia kehidupan dari kesempatan untuk bebas, mengalir, dan berbeda.

Dalam kondisi itu, kesenian adalah bagian dari dunia kehidupan yang masih vital, betapapun terkucil. Tak mengherankan bahwa ketiga anggapan yang akan saya uraiakan ini sangat kuat berakar.

Pertama, kesenian umumnya serta merta dikaitkan dengan keindahan, tanpa orang berpiki…

Dunia Puisi dan Iman

Mashuri*
http://mashurii.blogspot.com/

“Tapi aku tidak bisa menulis puisi kalau engkau menjamu tuhan dengan membunuh yang lain”

Afrizal Malna, dalam puisi Taman Bahasa

Puisi jelas berbeda dengan iman, tapi kadang juga bertemu dalam sebuah perjumpaan mesra. Tapi jangan andaikan pertemuan itu seperti sendok dan garpu di sebuah piring di meja makan, karena pertemuan itu kadang bisa berupa ngengat dan kertas, paku dan kayu, bahkan bisa serupa minyak dan air. Meski bisa pula bertemu seperti sepasang kekasih di ranjang pengantin. Tentu semua itu terkendali dalam ruang kemanusiaan. Tertemali oleh perspektif: kita ingin memanfaatkan puisi atau ingin membebaskannya dari pesan iman. Atau, kita ingin berpuisi dalam tudung iman. Kiranya, di situlah akar masalahnya ketika kita berhasrat memahami puisi-puisi modern yang berkumpar dan berpusat pada manusia.

Dalam konteks pemikiran modern, berpuisi adalah laku subyektif terhadap dunia, sebagaimana iman yang laku subyektif terhadap Tuhan. Keduanya adalah r…

Budaya Antikritik: Memadamkan Cahaya Pengetahuan

(Tanggapan terhadap Tulisan Orang-Orang yang Berbudaya Antikritik)

Mahmud Jauhari Ali
www.radarbanjarmasin.com/
http://www.mahmud-bahasasastra.co.cc/

”salam kenal
saya selalu membaca tulisan-tulusan Anda saya salut dengan tulisan Anda, tetapi akhir-akhir ini saya kecewa dengan tulisan Anda yang seakan-akan selalu memojokkan pusat bahasa,dan balai bahasa,apalagi pada tulisan Anda pada hari minggu tanggal 8 Febuari seakan Anda sok pintar dan sok mengurui. Padahal sepengetahuan Saya Anda dulu pada tulisan-tulisan Anda selalu mengaku sebagai peneliti pusat bahasa, tetapi kenapa akhir-akhir ini Anda selalu memojokan pusat bahasa, Apakah Anda orang yang frustasi atau tidak punya kerjaan, sehingga kerjaanya hanya menjelekkan orang saja dan sok pintar. Cepatlah bercermin siapa diri Anda.”

Tulisan di atas adalah isi dari salah satu pos-el yang ditujukan kepada saya pada tanggal 11 Februari 2009. Ya, tanggal sebelas. Tanggal yang mengingatkan saya dengan runtuhnya gedung kembar di Amerika Serikat. Da…

Sastrawan Sunda dan Perempuan

Atep Kurnia
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

Bagaimana perempuan digambarkan atau direpresentasikan oleh sastrawan Sunda? Novel Sunda sebelum Perang Dunia II, umumnya menggambarkan tokoh-tokoh perempuan yang malang.

Novel Sunda pertama yang memulainya. Ya, Baruang ka nu Ngarora (1914) karya D.K. Ardiwinata menampilkan Rapiah. Ia digambarkan sebagai perempuan tidak teguh pendirian. Ia berupaya mengikatkan dirinya pada laki-laki berstatus menak, Aom Kusman. Yang ekstrem, bahkan ia rela diperlakukan sewenang-wenang oleh suaminya yang bergelar raden itu.

Wawacan Rusiah nu Geulis (1921) karya R. Candapraja pun demikian. Tokoh Raden Ayu Lasmana, akhirnya, digambarkan bunuh diri karena tidak kuat berumah tangga dengan saudagar Arab, Sayid Abu Bakar bin Ma`ruf, yang tidak membolehkannya keluar rumah.

Novel karya Yuhana pun menggambarkan perempuan. Pertama, Eulis Acih (1925): Eulis Acih jatuh cinta kepada Arsad. Mereka melarikan diri, tetapi setelah harta bawaan Eulis Acih habis, ia diusir oleh…

Wanita dalam Panggung Sastra Indonesia

Atih Ardiansyah*
http://www.pikiran-rakyat.com/

Dalam “belenggu” tradisi Jawa, Kartini dipingit. Namun, ia tidak kehabisan akal dengan hal itu. Ia lalu sering menulis surat dalam bahasa Belanda lalu mengirimkannya kepada sahabat-sahabatnya di Belanda. Keluarga Abendanon menjadi salah satu sahabat penanya. Kartini menuliskan pandangan-pandangannya mengenai dunia wanita dan pentingnya berbuat sesuatu untuk memajukan kaumnya. Ia pun terkenal dengan motonya “Aku mau…” (Annida edisi No.8/XVI/ 15 April-15 Mei2007, hlm.16)

APA yang dilakukan Kartini sampai sekarang masih diingat bangsa kita. Apa yang membuat kiprah Kartini masih membekas sampai sekarang? Apa pula yang kemudian menyebabkan berdirinya sekolah Kartini? Jawabannya adalah, karena Kartini menuliskan pemikiran-pemikirannya, walau melalui surat-surat, bahwa betapa penting peranan kaum wanita. Bayangkan jika saat itu Kartini hanya mengatakan unek-uneknya. Mungkin akan lain ceritanya.

Walau tidak dikenal sebagai sastrawan, bolehlah dikata…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com