Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2009

RINDU-INGATAN DUNIA PUITIS

Untuk sebuah nama, Kavellania

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Rindu merupakan bentuk anganan yang kedalamannya ada kerja penggalian, mengeruk memori demi dihasilkan kepada tataran pengorganisasian ingatan. Atau rindu berdaya magnetik yang jangkauannya halus nun jauh sejenis gravitasi.

Namun kerinduan itu tidak dapat dibuat-buat serupa penciptaan magnit buatan, sebab dirinya berangkat dari daya gugah. Dan ingatan rindu sebagai pembentuk kesadaran akan hasrat menguasai. Yang lama-kelamaan bertambah hingga yang dirindukan menjadi realitas tersendiri, mendapati logika pengayaannya di kala menyampaikan tujuan.

Sangat logis setiap tanda dimaknai sebagai tahap tingkatan proses hayati, yang jabarannya sedari pengembangan asal terindukan. Ingatan sebagai sarana memasuki, sedangkan rindu melogikakan setiap lelapisan rasa, yang melahirkan sosok penentu logika.

Rindu ialah fitroh yang terbentuk melewati pendekatan paling halus, memiliki ikatan emosi di dalam merasai realit…

Membangkitkan Kembali Sastra Profetik

David Krisna Alka
http://www.sinarharapan.co.id/

Dalam membaca karya sastra khususnya puisi, mayoritas penikmat sastra mendambakan nuansa keindahan setelah membaca karya sastra. Oleh karena itu, banyak penyair berusaha menuangkan harmoni kata yang indah dalam setiap karya puisi mereka, walau maksud dari puisi tersebut adalah kegetiran kata yang tak tampak pada kasatmata.

Sastra yang bermukim pada wilayah teologi Islam merupakan bibit dari munculnya kesusastraan Melayu. Sastra keagamaan yang merujuk pada Islam itu dapat dibagi menjadi tiga cabang; ilmu tasawuf, ilmu kalam, dan ilmu fikih. Di antara ketiga cabang ilmu dalam kajian Islam itu, ilmu tasawuf yang paling dekat dengan sastra, khususnya sastra Islam. Mengapa ilmu tasawuf disebut sebagai bibit dari corak sastra Islam?

Ilmu tasawuf menjelaskan tentang wilayah esoteris manusia dengan Sang Pencipta. Setelah melewati persinggahan-persinggahan (maqamat) dalam rasa kebatinan yang begitu dalam, banyak tokoh tasawuf (sufi) berharap untuk d…

Mengusir Kejenuhan, Melawan Tirani

Buku : Mengusir Matahari. Fabel-Fabel Politik
Pengarang : Kuntowijoyo
Penerbit : Pustaka Hidayah, Bandung
Tebal : 301 halaman
Peresensi : Odhy`s
http://arsip.pontianakpost.com/

Mengusir matahari adalah nama buku kumpulan fabel-fabel politik Kuntowijoyo yang sebelumnya pernah muncul saban minggu di majalah Ummat. Dalam definisi yang umum –misalnya yang tertulis pada Kamus Istilah Sastra karya Panuti Sudjiman– fabel atau cerita binatang adalah merupakan cerita yang pendek dan sederhana, biasanya dengan tokoh binatang atau benda yang berkelakuan seperti manusia, serta mengandung suatu ibarat, hikmah atau ajaran budi pekerti.

Delapan puluh sembilan kisah pendek dalam buku ini sangat menarik lantaran dengan “lucu” para binatang ikut memanusiakan diri (bahkan ada jenis binatang tertentu yang berkesan lebih manusiawi?). Bagai yang biasa terjadi di kalangan masyarakat Melayu dan Jawa, para binatang itu memang tak sekedar makhluk yang bodoh dan tak kreatif. Namun sesungguhnya dengan sangat karakteris…

Jadilah Bunga Wangi, Bukan Onak Berduri

Muhyidin*
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/

Maulana Wahiduddin Khan (diterjemahkan oleh Samson Rahman), Islam Anti Kekerasan, Pustaka Al-Kautsar, Maret 2000, 180 halaman

MAULANA Ashraf ‘Ali Thanawi, seorang sufi yang sangat terkenal di India, suatu saat bangun dan akan mengambil wudhu. Seorang muridnya membawakan kepadanya seember air.

Ia kemudian duduk di suatu tempat dan mulai akan mengambil air wudhu, namun ia bangkit kembali dan pergi ke tempat lain sambil menjinjing ember berisi air. Ketika ia mulai akan mengambil wudhu, ia bangkit dan pindah lagi. Baru pada tempat ketiga ia mengambil wudhunya.

Muridnya merasa heran terhadap tingkah-laku sang guru, lalu dengan sangat hati-hati bertanya, “Guru, engkau melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan, ini aneh. Dua kali engkau duduk di tempat berbeda untuk mengambil air wudhu, namun kemudian engkau bangkit dari kedua tempat itu dan ke tempat lain, hingga akhirnya engkau mengambil wudhu di tempat ketiga. Ada apakah gerangan wahai gu…

Periode Keemasan Kedua Cerpen Indonesia

Agus Noor
http://www2.kompas.com/

Dalam esai Mencari Tradisi Cerpen Indonesia yang ditulis tahun 1975, Jakob Sumardjo menyatakan, “Tradisi penulisan cerpen mencapai masa suburnya pada dekade 50-an yang merupakan zaman emas produksi cerita pendek dalam sejarah sastra Indonesia.”

Salah satu faktor yang mendukung “periode keemasan” itu antara lain munculnya majalah seperti Kisah, Tjerita, serta Prosa, yang menjadi ruang pertumbuhan cerpen pada saat itu.

Di samping, memang, situasi sosiologis yang dianggap oleh Nugroho Notosusanto tidak menguntungkan bagi para pengarang pada waktu itu untuk menulis roman atau novel. Setelah pada periode sebelumnya roman menjadi “tolak ukur” pertumbuhan sastra, pada dekade 50-an itu cerpen menjadi semacam episentrum penjelajahan estetik.

Pada masa itulah muncul nama-nama seperti Riyono Pratikto, Subagyo Sastrowardoyo, Sukanto SA, Nh Dini, Bokor Hutasuhut, Mahbud Djunaedi, AA Navis, dan sederet nama lain yang, menurut sastrawan dan kritikus sastra Ajip Rosidi da…

Satu Akar, Dua Pohon

Hawe Setiawan*
http://majalah.tempointeraktif.com/

Sama-sama berakar Melayu, sastra Indonesia dan sastra Malaysia berkembang secara terpisah. Buku ini membandingkan sistem sastra dan ideologi politik kedua negara pada tahun 1950-an.

AKAR MELAYU: SISTEM SASTRA & KONFLIK IDEOLOGI DI INDONESIA DAN MALAYSIA Pengarang : Maman S. Mahayana Penerbit : Indonesia Tera, Magelang Tebal : xiv + 302 halaman Cetakan pertama : April 2001 AKARNYA sama: bahasa dan tradisi sastra Melayu. Sama-sama bermoyangkan Raja Ali Haji dan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Namun, pohonnya berbeda, dan karena itu cabang, ranting, dan buah kreativitas kesusastraan Indonesia dan Malaysia tidaklah sama.

Tapi kenapa bisa sebuah akar menumbuhkan dua pohon, begitulah Maman S. Mahayana bertanya-tanya. Dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu lalu tertarik menulis tesis tentang perbedaan tersebut. Tesis itu kemudian diterbitkan sebagai buku.

Yang kemudian diperbandingkan oleh Maman adalah lebih dalam hal sistem sastrany…

“Gelar Sajak Suryatati”

Berpihak pada Persoalan Masyarakat

John Js
http://www.sinarharapan.co.id/

“Saya kagum dengan konsistensi dan kepedulian (Walikota Tanjungpinang) Suryatati sebagai wanita yang menulis puisi. Lagi pula saya senang mendapat kesempatan membaca sajak-sajak Melayu. Sajak-sajak Melayu Jemputan (karya Suryatati) sangat menyentuh. Membaca puisi adalah sesuatu yang bisa menghilangkan kegalauan, seperti seni peran,” ungkap Tamara Bleszyinski yang terpilih membaca karya sajak Suryatati berjudul “Nyanyian Rakyat Kecil” di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, minggu lalu. Lain lagi pendapat violinis Idris Sardi, yang memainkan nomor lagu khusus untuk pembuka pergelaran “Gelar Sajak Suryatati”. Ia menyebut seni tradisi begitu mulia. “Saya merasa bersyukur bisa bersatu rasa.

Saya heran kalau musik dangdut bisa disukai sekali, padahal seni Melayu lebih hebat. Kita harus mensyukuri keberadaan seni tradisi Melayu,” sanjung Idris Sardi.

Memandang Suryatati yang berjabatan Walikota namun masih tetap meneruskan …

Geliat “Kritis” Cerpenis Malaysia

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Aku saksikan wajahnya yang dipajang berbagai koran, biasanya di halaman sosial; atau aku melihat sekilas mobil suaminya yang diparkir di luar salah satu hotel – mobil dengan pelat bernomor satu digit (orang kaya jadah) yang mudah diingat. Namun, aku tak pernah bertemu Alissa….

Barisan kalimat di atas adalah bagian dari salah satu cerpen “Yang Terkasih”, dari antologi cerpen berjudul Pahlawan dan Cerita Lainnya karya Karim Raslan, sastrawan Malaysia yang melaunching bukunya di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta (4/9).

Dialihbahasakan oleh Naning Pranoto dan A Rahman Abu, halaman 5 dari buku terbitan Yayasan Obor Indonesia ini hanyalah salah satu ungkapan emotif dari tokoh di cerpen-cerpennya terhadap strafikasi sosial di negeri jiran. Cerpen “Yang Terkasih” mengungkapkan kisah tokoh utama bernama Shukor, seorang wartawan yang ditelepon mantan pacarnya saat menjadi korban penganiayaan suaminya yang tak lain seorang bangsawan Me…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com