Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2008

Antara Dover dan Calais

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Dalam tempo enam tahun pelabuhan ferry Dover di pantai berbukit batu itu mengalami kemajuan pesat. Pada bulan Februari tahun 1987, sepekan sebelum tenggelamnya ferry di selat Inggris yang menghebohkan dunia itu, aku juga menyeberang dari Dover. Sudah malam, yang kutahu adalah bangunan berupa rumah minum dan penjual makanan. Bus antar negara yang kutumpangi dari London menuju Amsterdam berhenti di pelataran ini, kemudian dari pengeras suara kami dipanggil untuk naik ke dalam bus, puluhan bus dan mobil ditelan tempat parkir ferry itu di lantai dasar. Sekarang, bus langsung masuk ke pelataran luas, dan kami diminta turun melapor ke bagian imigrasi, membawa dokumen yang diperlukan.

Sopir bus, lelaki setengah baya itu banyak canda, sejak melaju dari Victoria Coach Station di London lantaran bus itu hanya dilayani oleh satu orang: mau minum ya maju sendiri ke dekat tempat duduk sopir dan melayani sendiri dari termos kopi, sementara kala…

Halloween, Saksi Keteledoran dan Keserakaan “Russell”

Judul Novel : Cincin Monster
Judul Asli : Russell Troy; The Monster’s Ring
Penulis : Bruce Coville
Penerjemah : Venti
Penerbit : Matahati, Jakarta
Cetakan : 1 (pertama), 2007
Tebal : 114 halaman
Peresensi : Sungatno
http://cawanaksara.blogspot.com/

Dewasa ini, kasus-kasus kerusuhan yang timbul akibat kenakalan remaja (anak muda-mudi) dari tahun ketahun semakin menunjukkan geliat yang meresahkan masyarakat. Remaja yang seharusnya belajar giat dan menyiapkan bekal khusus untuk menyongsong kehidupan masa depan yang lebih cerah, terjebak dalam kubangan keinginan-keinginan untuk meraih kepuasan yang sifatnya sementara dan tidak menghasilkan kemanfaatan yang cukup berarti.

Inilah salah satu alasan yang mendasari novelis Bruce Coville untuk turut mengapresiasi merebaknya kenakalan-kenalakan anak muda yang menyulut keresahan tersendiri bagi masyarakat. Dalam konteks ini, Bruce mengajak para kaula muda untuk mempertahankan potensi positif yang telah dimiliki dan mengajak bagi mereka yang sudah terlanjur…

Pemberdayaan Sastra Indonesia

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Sastra dalam pelajaran kesusastraan ketika saya masih belajar di sekolah menengah, didefiniskan lewat padan katanya. Karena sastra berarti tulisan, maka kesusatraan adalah segala tulisan yang indah. Yang kemudian langsung menjadi khazanah sastra adalah buku-buku karya fiksi dan puisi.

Tetapi sampai kepada istilah sastra lisan, pengertian tersebut menjadi sedikit bingung. Secara harfiah, sastra lisan berarti tulisan yang diucapkan. Mesti ada wujud tulisannya dulu, agar bisa diucapkan. Namun pada prakteknya sastra lisan sejak lahir sudah merupakan tutur yang bukan perpanjangan dari tulisan. Kemudian memang tutur itu ditranskripsikan ketika mulai diposisikan sebagai kekayaan budaya. Namun ketika ekspresi lisan itu dibekukan dalam bentuk tulisan, kenikmatannya berbeda. Ia tak menjangkau seluruh eksistensinya ketika masih lisan.

Sebagai seorang penulis, saya tak memandang sastra sebagai hanya tulisan, tetapi sebagai pengertian, sehingga ia bisa disa…

TENTANG KRITIK AKADEMIS

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Belakangan ini, di kalangan sastrawan muda ada kecenderungan untuk menyoroti dan mencoba memberi penjelasan tentang kritik akademis secara keliru. Kritik akademis dipahami sebagai kegiatan yang hanya terjadi di lingkungan sebuah lembaga yang bernama perguruan tinggi. Di sana, kritik sastra dianggap sekadar berujud sebuah makalah ilmiah, penelitian atau karya ilmiah yang berupa skripsi, tesis atau disertasi.

Pemahaman kritik sastra secara demikian, juga lantaran banyak di antara sastrawan yang tidak mau membaca, bahkan tidak mau tahu dengan kritik-kritik akademis itu. Secara apriori, mereka beranggapan bahwa kritik akademis hanya diperlukan untuk kalangan akademi dan tidak untuk sastrawan. Akibatnya, mereka buta terhadap fungsi dan hakikat kritik tersebut.

Selain itu, kesalahpahaman mereka itu juga disebabkan oleh adanya anggapan bahwa kritik sastra sebagai bentuk kesewenang-wenangan akademis. Dengan dasar ilmiah, karya sastra diperlakukan se…

Sepupu untuk Wina

B. Nawangga Putra
http://www.lampungpost.com/

AKU seharusnya menjadi sepupu yang baik, Win.

Saat Tante Hesti meneleponku, menanyakan keberadaanmu, aku memang menjawab tak tahu. Itu jawaban yang jujur Win, karena memang saat itu aku tak tahu di mana kau berada. Dan saat dia memintaku mencarimu, aku pun menyanggupinya, untuk dua alasan. Satu, karena aroma rumahku ini makin hari makin terasa tak sedap. Ayah yang sudah berbulan tak pulang, berjaga di perbatasan, membuat senewen ibuku. Dan karena sosok yang menjadi sumber kekesalannya itu tak ada, ia pun meluberkan unek-uneknya ke semua orang, termasuk diriku. Ke luar rumah--setidaknya untuk sementara waktu--kurasa dapat mengurangi penat yang ada di dalam kepala. Yang kedua, itu karena sepertinya aku tahu ke mana akan mencarimu. Marlinda, kakakmu, dia adik tingkatku di kampus, sama-sama bergabung di satu unit kegiatan mahasiswa yang keberadaannya sempat digugat karena dianggap terlalu militeristik. Dari dialah aku tahu banyak tentang kamu, kh…

Sajak-Sajak Sayyid Madany Syani

http://www.lampungpost.com/
Perempuan Ilalang
;Dian Hartati

masih terjagakah kau wahai perempuan ilalang
menempa kesetiaan pada keriut angin musim berkabut
dini hari yang membawakan lilin ke hadapanmu
menghembuskan rasa sayang
di pelipis dan ubun-ubunmu
perempuan yang dihembus garis waktu
menepi ke dalam bilik dan bersemedi
hingga waktu tidak lagi dingin terhadapnya
perempuan ilalang, meruap
hingga ke rusuk zaman

Rumah Cinta, Juni 2008



Perempuan Ilalang
;nta

;semisal sepi yang menempuh angan
berkelindan mencapai waktu dengan
kekosongan
laut merah tembaga
menyepuh yang terkelupas dalam hati
dengan kesendiriannya
siapa menjemput siapa!
senyum yang legit, ditiriskan melalui ilalang
rimbun memenuhi pagar
hanya perempuan dalam kenestapaan
menunggu waktu
menunggu, sang kekasih
di pintu pantai yang menggebu
sementara debu masih menderu
dedaun dan ranting-ranting kering
mendesau
melelahkan ilalang dalam pertapaannya
siapa menemu siapa!
perempuan terbujur di atas dipan
menempa kesengsaraan
merajut kesetiaan
dalam dada, dalam hati…

Tembok Bolong

Aris Kurniawan
http://www.lampungpost.com/

SEORANG lagi hilang ditelan tembok bolong. Kali ini yang jadi korban Wujil, pria yang sehari-hari berjualan ketoprak. Dia tak pernah kembali setelah menerobos masuk tembok bolong itu, meninggalkan gerobak ketopraknya yang diparkir di sisi jalan. Dua orang pembeli ketopraknya mengira Wujil sehabis kencing langsung beli rokok di warung sebelah sekalian menukar uang untuk kembalian.

Tapi tunggu punya tunggu Wujil tak muncul-muncul juga. Karena kesal menunggu, dua orang pembeli ketoprak itu akhirnya meninggalkan gerobak ketoprak Wujil. Mereka pikir biar nanti siang atau besok saja menemui Wujil di mulut perempatan tempat biasa dia mangkal untuk meminta uang kembalian.

Namun sampai besok dan besoknya lagi gerobak ketoprak Wujil masih terparkir di sisi jalan tak jauh dari tembok bolong itu karena memang Wujil tidak pernah kembali. Hari berikutnya petugas kebersihan menyingkirkan gerobak Wujil dari sana dan menganggap Wujil benar-benar hilang ditelan te…

estetika "tanah api"

MENGGAGAS TOKOH IDE, MEMBEBASKAN DARI TRAGEDI DIRI

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

"Jadilah tokoh di situ digagas menyerupai tokoh ide, sepasukan pekerja yang memikul beban gagasan di pundak masing-masing. Bahkan tidak jarang tokoh-tokoh itu diperlakukan tidak sebagai layaknya manusia. Memang dia bukan manusia, melainkan cuma sepenggal korban. Tampak sekali pemahamannya perlu bergeser menjadi” bahwa ide lebih penting ketimbang tokoh."

TULISAN ini tanpa mengurangi rasa hormat kawan-kawan, penikmat, pembaca, pendengar yang turut merayakan karya sastra. Sengaja penulis menggunakan idiom “merayakan” karena yakin sama-sama punya harapan besar dengan bersastra, semoga sanggup mewarnai khazanah negeri yang sering disebut dunia ketiga ini, demi menjadi warga sastra dunia.

Harapan ini bukan omong kosong, bukan impian dan bukan pula tanpa alasan. Apalagi bila dengan penuh kesadaran telah siap gagasan estetis maupun artistik pada setiap karya para pengarang, meskipun menyadari hal i…

Sajak-Sajak Mashuri

http://mashurii.blogspot.com/
Doa Buat Pelacur yang Terbakar Semalam

sebuah pagi menghardikku dengan sepi
aku pun menghadirkan koran pagi, sepotong ubi
juga secangkir kopi
di halaman depan, anjing dan kucing berlari-lari
di halaman depan koran, tertulis: ‘pelacur mampus
hangus dilalap api’

aku ingat kebakaran semalam di layar televisi sialan
---api dengan jalang mengamuk rumah bordil
para perempuan hibuk berlari sambil bugil
tapi ada yang seperti Sita, diam terpanggang
kini, jiwaku pun menggigil
aku raih gorengan ubi, tapi ia jelma potongan tubuh tak rapi
aku angkat kopi, ia pun jadi darah hitam dan mendidih

karena ular di perutku kelewat lapar, aku tak ambil peduli
aku lahap tubuh hangus itu, juga darah beku
aku terus saja memamahnya seperti seekor kambing
yang tak lelah menggerakkan gerahamnya

dan kesepian pagi itu pun pecah di perutku;
ada kucing dan anjing berlari-lari di ususku, aku juga mencium
bau tubuh pelacur hangus di usus buntu…
aku lalu berdoa, “semoga pelacur yang terkubur bersama cinta itu
mas…

Reposisi Sastra Indonesia

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Posisi sastra Indonesia kini sudah sedemikian terpuruk menjadi barang yang tidak relevan dalam konteks pendidikan. Sastra Indonesia sudah pailit. Anak-anak sekolah Indonesia hampir tak mendapat pelajaran sastra lagi. Dalam sebuah penyidikan informal, sastrawan Taufiq Ismail menemukan bahwa pelajar Indonesia membaca 0 (nol) buku di dalam kurun 3 tahun, sementara pelajar dari berbagai negara mencatat 10 sampai 30 buku. Dan malangnya keadaan yang amat papa itu masih dianggap sudah lumayan, karena sastra toh masih ditempelkan pada pelajaran bahasa sebagai asesoris. Seakan dengan mempelajari bahasa Indonesia, sudah dengan sendirinya menguasai sastra Indonesia. Walhasil pelajaran sastra Indonesia adalah embel-embel dari pelajaran bahasa dan memang tidak perlu diberikan “otonomi daerah”.

Dalam posisi yang “hina” dan “sepele” tersebut, memberdayakan sastra Indonesia, sebagai potensi untuk membangun Indonesia baru, menjadi absurd. Kecuali kalau kita me…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com