Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2008

SIHIR YOUJIN: MENULIS DENGAN HATI

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Youjin, Air Ajaib yang Merana, Alihbahasa: Wilson Tjandinegara. Jakarta: Perhimpunan Penulis Yin-Hua (Tionghoa—Indonesia), 2007, xii + 231 halaman.

Ketika bahasa –bahkan apa pun—diperlakukan dengan sentuhan cinta, maka yang memancar dari pengejawantahannya, tidak lain adalah aroma cinta itu sendiri. Tanpa sadar, ia menyelusup, menggoda hati, dan kita akan selalu gagal menolak pesonanya. Ketika cinta dan suasana hati dirangkaikan dalam larik kata-kata, dikemas dalam kalimat metaforis, yang muncul adalah bangunan teks yang menyihir. Suasana itulah yang begitu terasa saat menelusuri esai-esai Youjin, Air Ajaib yang Merana. Gaya bertuturnya kalem dan sejuk. Kita dibawa pada berbagai kisah biasa yang disajikan secara luar biasa.

Penulis prolifik Singapura yang telah menghasilkan 127 judul buku ini memang seperti hendak mewartakan serangkaian pengalamannya yang unik saat menjelajahi lebih dari 80 negara. Ia mengungkapkan sisi lain saat berhadapan …

Anand Krishna: Menulis Ibarat Melahirkan

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Berawal dari penerbitan rekaman ceramah-ceramahnya tentang meditasi dalam bentuk buku pada tahun 1990, Anand Krishna lalu menjadi penulis buku yang sangat produktif. Hingga tahun ini telah 57 judul buku karya Anand dicetak, selain 7 judul buku audio dan 3 judul dalam bentuk VCD. Apabila dipukul rata selama 14 tahun, berarti setiap tahun ia dapat menulis sekitar empat judul buku! Meski demikian, ada tahun-tahun yang memperlihatkan ia memang sangat produktif seperti pada tahun 1999. Menurut Anand, tahun itu ia mampu menghasilkan 15 buku cetak dan audio.

Bagaimana hal itu dapat terjadi? Lelaki pengagum Soekarno itu menyebutkan bahwa hal ini dikarenakan oleh apa yang akan ditulisnya itu memang sudah lama menempel di kepalanya. Seluruh isi kepala yang menumpuk itu adalah buah dari ratusan buku yang telah dibaca sebelumnya dan tinggal dikeluarkan saja. "Kalau sedang menulis, rasa-rasanya seperti perempuan hendak melahirkan, tidak bisa ditahan-…

Puisi-Puisi Gita Pratama

http://www.kompas.com/
Pondok Bambu

Ada yang menggeletar di lembah lembah duka
Kisah tentang cinta di sebuah rumah bambu
Dengan hiasan dinding kayu
Pondok kecil di tengah hutan
Dekat dengan sungai yang lupa hulu

Kisah ini hanya cerita kecil
Yang sebentar mampir lalu pergi
Sekedar mlipir di pinggir sungai

: Sepenggal luka beriak menggelitik

April 2008



Lukisan Sepi

Ada sebuah hiasan pada dinding rumah bambu
Ingatkan pada sepenggal ragu

Lukisan perempuan dengan selendang mendekap dada
Pelangi beraneka rupa warna ditunggangi
Bingkainya rapuh dengan plitur terkelupas

Ranum senyum pada bibir perempuan

: Tanpa sapa hanya gelak-gelak sepi

April 2008



Kenangan Sungai

Ia berdiam mengamati sungai
Alirnya memagut dalam mesra

Bagai kelok liuk perempuan
Berwajah pilu dan kuyu

Sapa kecil tanpa senyum
Lunglai basah daun putri malu

Ingatan kecil mengembara
Mencari cinta kisah-kisah lalu
Berpeluk dekap sepasang pemburu

April 2008



Inilah Kisah Lelaki yang Keras Kepala

Berenanglah ia tanpa pelampung, memanggul ombak
Berkoar kasar memang…

Untuk Emakku

Weni Suryandari
http://www.kompas.com/

Surti menatap nanar setiap kendaraan yang lewat. Sesekali ia melambaikan tangannya pada setiap sopir, namun malam itu tak satupun sopir kendaraan berhenti. Ia sudah lelah dan mengantuk. Uang di sakunya hanya tinggal beberapa puluh ribu lagi, berarti ia harus mencari uang lagi untuk melunasi hutang biaya rumah sakit perawatan emaknya yang meninggal 1 bulan yang lalu dan harus ia tanggung sendirian sebagai anak satu-satunya yang tersisa dari dua bersaudara.

Di pinggiran jalan itu, kampung Gabus, sedikit agak ke arah ujung perempatan menuju jalur Pantura, adalah lokasi gerai wanita malam yang berdiri berjajar menanti pesanan para lelaki hidung belang. Warung remang-remang adalah tempat bagi mereka yang sudah lama bekerja menjadi wanita malam. Namun bagi Surti yang baru beberapa hari berada di situ, warung-warung itu asing baginya. Ia tak berani memasukinya. Kadangkala beberapa wanita berlenggak lenggok dengan sengaja jika terlihat ada sorot lampu mob…

Sastrawan Minang Maju Karena Watak "Pemberontak"

Yurnaldi
http://kompas.co.id/

JAKARTA,-- Peta sastra Indonesia dari dulu dikuasai orang Minang, karena ada yang membedakannya dengan etnik lain di Indonesia, yaitu watak "pemberontak" dan berpikir merdeka. Begitu juga tokoh-tokoh intelektual asal Minang, mereka memiliki watak yang kukuh dan terang-terangan mengatakan tak setuju dengan penguasa.

Sastrawan dan Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat Dr Harris Effendi Thahar mengemukakan hal itu pada seminar Menumbuhkembangkan Bakat dan Kemauan Menulis Karya Sastra di Minangkabau, dalam rangkaian Pameran Buku Nasional, di Jakarta Convention Centre, Sabtu (15/11).

"Pada masa awal perkembangan sastra Indonesia modern, penulis-penulis sastra terkemuka, tanpa menafikan kehadiran penulis-penulis dari etnis lain-- adalah putra-putra Minangkabau, seperti Sutan Takdir Alisjabana, Hamka, Asrul Sani, dan Chairil Anwar," katanya

Harris menjelaskan, menurut sejarah sastra Indonesia permulaan sastra modern Indonesia ditandai oleh terbitn…

POLITIK DALAM SASTRA ZAMAN BALAI PUSTAKA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Membandingkan novel Sitti Nurbaya dengan karya sastra yang terbit melampaui zamannya dari belahan bumi mana pun, tentu saja dibolehkan. Begitu juga tak ada undang-undang yang melarang mencantelkan tema atau konteks novel itu dengan kondisi sosio-budaya yang terjadi pada masa kini. Bukankah kita –masyarakat sastra—meyakini, bahwa begitu karya itu terbit dan kemudian menyebar ke khalayak pembaca, seketika pula ia bebas dimacam-macami. Pembaca punya hak penuh memperlakukannya sekehendak hati, termasuk dalam hal memaknainya.

Resepsi sastra memberi kunci pemaknaan pembaca atas karya sastra: pada zamannya (sinkronis) atau yang berkembang dari zaman ke zaman (diakronis). Dulu, pada awalnya, tema Sitti Nurbaya sering dikaitkan dengan persoalan adat dan kawin paksa. Tetapi, belakangan, tema itu dianggap sudah kuno, kedaluwarsa, dan tak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Maka dicarilah relevansinya dengan persoalan pendidikan, nasionalisme, bahk…

Puisi-Puisi Dian Hartati

http://www.kompas.com/
Lelaki Hujan

tibatiba kau menjemputku dalam perjalanan pulang
ketika sore berubah mendung
dan jalanan hanya menyisakan bayangan pohonpohon cemara

langkahku masih saja tersaruk
mendapati mimpi yang jadi nyata
kau dan rupamu menjelma sore itu
jadi hujan yang dikirim tuhan
mendatangi aku yang selalu berjalan sendiri

kau membawa angin imaji
yang luruhkan semua rinduku
bagi lelaki yang selalu datang dan pergi
kau hadir dengan ribuan cerita
tentang anakanak hujan yang membasahi tubuhku
gigil sore yang menghangatkan

lalu kita berjalan bersama
bercerita tentang perjalanan air
muaramuara tempat singgah
dan ceruk rahasia yang telah kita buat

kau lelaki hujan
datang memberikan warna di hatiku
setelah abadabad muram
tanpa gemuruh dan menyisakan kenangan biru yang ranum

datang menjelma hujan di soreku yang sibuk

SudutBumi, November 2007



Melamin

kuiringkan langkah menuju sebuah ruang
sedang keraguan terus membidai
kutelusuri makna lantai
apakah yang akan kutemui
degup jantung ini terus tak menentu

aku pera…

Ideologi Sastra Remaja: ”Gue Banget!”

S Prana Dharmasta
http://www.sinarharapan.co.id/

Apa yang tengah diperbincangkan banyak kalangan dunia sastra belakangan ini? Tak lain, menonjolnya penjualan karya-karya sastra remaja. Atau yang lebih sering disebut dengan chicklit atau teenlit. Kenapa? Karena, karya sastra yang ditulis oleh (dan untuk) remaja tersebut, melampaui penjualan karya sastra yang lain. Penjualan karya sastra remaja tersebut jauh di atas sastrawan yang terkenal sekalipun. Sungguh, hal yang sangat membanggakan, tentunya.

Analoginya, banyak penulis remaja bisa dikatakan sebagai sastrawan. Penyebutan ini sudah tentu akan menganggu eksistensi para sastrawan atau pemikir sastra yang telah mapan sebelumnya. Lantaran, ternyata mudah mengantongi predikat sastrawan. Sekalipun itu, hanya untuk ukuran karya sastra remaja. Perjalanan yang serbasingkat, namun membuahkan hasil yang menakjubkan. Ini, faktanya.

Jalan panjang menuju Roma! Seorang Sapardi Djoko Damono, yang sastrawan itu memang mengisahkan, karier bersastranya cu…

Puisi-Puisi Cinta Chairil yang Menggetarkan

Tjahjono Widarmanto
http://www.sinarharapan.co.id/

Memperbincangkan kesusastraan Indonesia, mustahil tanpa menyebut sosok Chairil Anwar. Namanya menjadi bagian tak terpisahkan bagi terbentuknya identitas kesusastraan Indonesia, khususnya identitas sastra puisi Indonesia. Sampai sekarang namanya menjadi mitos dan paling banyak diperbincangkan dalam khazanah sastra Indonesia.

Ialah yang dianggap meletakkan dasar perpuisian modern Indonesia, yang mengembangkan estetika Indonesia modern dengan bentuk yang ekspresif, liar, berani, dan tak beraturan.

Membicarakan puisi-puisi Chairil Anwar, orang akan mempertautkan dengan vitalitas, ego, dan spirit individualis dalam diri Chairil yang memang tersirat dalam banyak sajaknya (bahkan cara hidupnya). Hal itu memang telah menjadi pilihan konsep estetika Chairil, seperti yang diteriakkannya dalam pidatonya:

…Vitalitas adalah sesuatu yang tak bisa dielakkan dalam mencapai suatu keindahan. Dalam seni; vitalitas itu Chaotischvoorstadium, keindahan kosmich …

Napak Tilas Perdamaian dari Jogja

Bernando J Sujibto
http://darisebuahsudut.blogspot.com/

Tidak salah jika hidup memburu kedamaian. Meskipun sesulit apapun bentuknya, damai selalu menjadi tujuan hidup terakhir kita. Namun sejalan dengan itu pula, damai seolah menjadi utopis, sebuah konstruksi yang tidak pernah tercapai. Entah dimana kelak kita menemukan nilai damai (peace) itu?

Setiap tanggal 21 September, sejak Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2001 melalui resolusi 55/282, ditetapkanlah Hari Perdamaian Internasional. Ini adalah salah satu upaya demi menuai kedamaian hidup bersama di muka bumi. Jalan menuju perdamaian pun ramai diserukan oleh semua orang kahir-akhir ini, lebih-lebih oleh badan internasional sekelas PBB. Perdamaian seperti suatu idealita kehidupan yang didamba-dambakan bersama. Namun, di tengah gejolak konflik perang yang berkepanjangan dan ancaman inkonsistensi terhadap sistem dunia khususnya negara-negara adikuasa, perdamaian seperti sebuah utopia! Ia pun menjadi proyek sarat kepenting…

GEDUNG KESENIAN, DKL, DAN KOSTELA DALAM BAYANG-BAYANG MODERNITAS

Imamuddin SA
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Dapat dibilang, nasib Dewan Kesenian Lamongan dewasa ini masih sangat memperihatinkan. Bagaimana tidak, menjelang pesta kesenian yang kerap dikenal dengan istilah Lamongan Art yang kesekian kalinya ini masih saja seperti kemarin-kemarin. Ia masih belum memiliki gedung kesenian secara independen. Padahal, sudah berapa tahun janji itu diujarkan, tapi masih belum terealisasikan juga.

Dosa pada Masyarakat Literer

A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Rubrik Bentara Kompas awal bulan Juni 2008 silam menayangkan tulisan polemik seputar plagiarisme. Muasal tulisan itu diturunkan pada Bentara Kompas lantaran ulah dosen UI menulis di media nasional tentang sejarah fotografi secara plagiat. Dengan begitu, prilaku dosen UI yang tak kerkeadaban di lapangan dunia tulis-menulis itu ditanggapi oleh oknum yang mengaku penggubah naskah asli sejarah fotografi tersebut. Al-hasil, aksi tuntut-menuntut pun terjadi. Dilayangkanlah tulisan ke surat pembaca Kompas oleh si penggugat guna menggugat aksi plagiat kepada plagiator yang sekaligus dosen UI. Disinilah titik runyam jagat kepengarangan kita diuji. Mirisnya, di Indonesia belum ada sebentuk lembaga peradilan yang menangani khusus kasus plagiat. Padahal di Barat tindak plagiarisme disikapi secara serius.

Dalam helat panggung tulis-menulis, si empu (penulis) dituntut memiliki jiwa integrasi. Tulisan oplosan dari orang lain sama sekali tak diperkenan…

NGALOR-NGIDUL TENTANG KEBUDAYAAN

(Bukan berarti kita tidak perlu mampir ke Barat atau Timur)
Haris del Hakim
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Corak budaya satu warna yang bertaraf nasional yang mengiringi kekuasaan Orde Baru ternyata mempunyai imbas yang signifikan terhadap tradisi dan budaya yang bercorak kedaerahan. Kisah-kisah, kearifan, ataupun dongeng asal-usul suatu daerah menjadi tertepiskan oleh jargon-jargon yang mendukung pembangunan nasional, sebagaimana dicanangkan oleh masa pemerintahan Presiden Soeharto. Contoh paling gampang adalah pudarnya kekuatan baureksa sebagai penguasa di suatu daerah.

Kondisi tersebut mengakibatkan generasi yang lahir setelah itu “kehilangan” akar tradisi. Duapuluh tahun setelah berdirinya Orde Baru muncul fenomena generasi muda yang tidak memperhatikan nilai-nilai kearifan lokal, sehingga sering terdengar istilah “malin kundang si anak hilang yang durhaka terhadap ibunda kampung halaman”. Gelombang reformasi yang turut menghembuskan otonomi daerah seakan menyentak kesadar…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com